Di dalam hati mereka, para Nabi bertanya: “Sampai kapan kami terus menyeru dan menasehati si fulan dan si fulanah?
Sampai kapan kami harus membentuk sepotong besi dingin? Sampai kapan kami harus terus membisiki werangka yang kosong ini?”
Jiwa Pertama mendorong dan jiwa ke dua merespon: berubahnya bau ikan dimulai dari kepala, bukan dari ekornya.
Dan tidaklah engkau mengetahui, engkau itu termasuk golongan yang mana: karenanya teruslah berjuang selama masih perlu bagimu memilah siapa sesungguhnya dirimu.
Sebab engkau tidak tahu termasuk golongan yang mana dirimu itu—apakah yang kapalnya tenggelam di perjalanan ataukah yang selamat.
dalam pelayaran ini aku termasuk yang tenggelam atau selamat: singkapkan bagiku! akan termasuk golongan yang mana diriku ini;
tidaklah akan kumulai perjalanan ini dengan keraguan atau dalam harapan kosong seperti orang-orang lain”;
Maka tiada pergerakan yang akan engkau lakukan, karena rahasia dari ke dua kemungkinan itu masih di ranah tak-Terlihat.
Padahal, dia mengalami kerugian, karena pastilah terhindar darinya keberuntungan, dan dia terhinakan: hanya yang haus akan cahaya yang akan menemukan terang.
Ketika di pagi hari sang pedagang berangkat ke tokonya, dia bergegas dalam harapan dan kemungkinan memperoleh suatu penghidupan.
Jika engkau tidak memiliki kemungkinan mendapat suatu penghidupan, mengapakah engkau berangkat ke tokomu? Disana terdapat ketakutan akan kekecewaan: lalu bagaimana engkau bisa begitu yakin?
Untuk soal mendapatkan makanan, bagaimanakah ketakutan akan kekecewaan yang telah ditakdirkan sebelumnya, tidak membuatmu lemah dalam pencarianmu?
Engkau akan berkata: “Walaupun ketakutan akan kecewa menghadangku, aku akan lebih takut lagi jika berdiam-diri saja;
Ketika aku berupaya harapanku lebih-besar; jika aku diam-saja, resikoku lebih besar.”
Jika memang demikian, wahai manusia berdada-sempit, lalu mengapa takut-rugi menahan gerak langkahmu dalam soal agama?
Atau, tidakkah engkau melihat betapa menguntungkannya perniagaan yang dilakukan dalam pekan-raya ini, dimana para nabi dan wali bergiat,
Dan bagaimana berbagai harta-karun tampak kepada mereka dari keberangkatannya ke toko ini, dan bagaimana mereka mendapatkan untung besar dalam pasar ini?
Kepada Ibrahim a.s. api tunduk, bagaikan gelang-kaki; kepada Musa a.s laut tunduk dan digendongnya dia a.s di atas pundaknya;
Kepada Dawud a.s besi tunduk dan melunak bagai lilin; kepada Sulaiman a.s angin tunduk bagai budak.
Ketika kafilah berulang-alik berangkat dan tiba, mereka sepenuhnya tersembunyi: bagaimanakah mereka akan dikenali oleh para ahli-dunia?
Mereka memiliki berbagai kuasa di alam langit, akan tetapi tidak seorang pun melirik kedaulatan mereka walau sekejap.
Keajaiban mereka, bahkan diri mereka sendiri, berada dalam suaka Ilahiah: bahkan para Abdal tidak mengenal nama mereka.
Atau, apakah engkau terhijab dari khazanah Ilahiah yang memanggilmu untuk datang menghampir?
Seluruh semesta ini di ke enam arahnya penuh dengan khazanah-Nya: kemana pun wajahmu menghadap, wajah-Nya sedang menghadap kepadamu.
Ketika seseorang yang dirahmati-Nya mengundangmu masuk ke dalam api, masuklah dengan segera, dan jangan bertanya lagi, “Apakah aku akan sakit terbakar?”
(Nicholson, Matsnavi of Rumi, III: 3077 – 3109)
0 komentar:
Poskan Komentar