Minggu, 22 Maret 2009

Kisah Pencari Harta Karun

Dia sedang tenggelam dalam permohonannya,
ketika sebuah suara terdengar kepadanya,
dan kesulitannya Tuhan selesaikan.

(Suara itu berkata): "Engkau memang telah disuruh
menaruh 
anak panak ke busurnya, tetapi  
kapankah engkau diminta menarik kuat-kuat busur itu?

Petunjuk itu bukan untuk menarik busur itu kuat-kuat:

engkau disuruh menaruh anak panah ke busurnya,
bukannya melepaskannya sekuat tenagamu.

Dengan kesombonganmu, telah kau rentangkan busurmu

tinggi-tinggi, dan kau pamerkan ketrampilanmu
dalam seni memanah.

Lepaskanlah ketrampilanmu dalam merentang busur:

taruhlah anak panah ke busur itu, namun
janganlah engkau menariknya sekuat tenagamu.

Di tempat panah jatuh, gali dan carilah:

tanggalkanlah kekuatan,
dan carilah emas itu dengan permohonan yang menghiba."

Yang
haqq itu lebih dekat daripada urat-lehermu,
sedangkan anak panah pikiranmu
engkau lesatkan menjauh.

Wahai manusia yang telah melengkapi dirimu
dengan busur dan anak panah: mangsa itu dekat;
tetapi engkau membidik ke sasaran yang jauh. 



Sang filsuf membunuh jiwanya sendiri
dengan pemikirannya: 
biarkanlah dia berlari menjauh
dalam kesia-siaan,

sebab dia memunggungi harta-karun.

Biarkanlah dia berlari:
semakin dia berlari,
semakin dia menjauh dari dambaan hatinya.


Sang Raja telah bersabda:
"mereka yang berjihad dalam Kami;"
Dia tidak berkata: "mereka yang berjihad menjauh dari Kami,"
wahai manusia yang gelisah,                                                         [2]

Demikianlah yang terjadi dengan
Kana'an,
yang dalam kebenciannya kepada Nuh,
pergi mendaki puncak pegunungan itu.

Semakin dia mencari keselamatan dengan berpaling

kepada gunung itu, semakin dia berjarak dari
tempat berlindung.

Seperti itulah si murid,
yang demi harta-karun dan tambang kekayaan,
menarik busurnya setiap pagi,



Dan setiap kali dia kuat-kuat menggenggam busurnya,
semakin buruk peruntungannya
dalam menemukan harta-karun 
dan mengenai sasaran.

Inilah perumpamaan yang sangat berharga
bagi jiwa di alam dunia ini:
jiwa yang jahil memang pantas menderita.

Sesuai dengan kebenciannya terhadap gurunya,

si jahil menggelar suatu ajaran baru tersendiri.

Wahai engkau yang penuh kebanggaan-diri
dan senyatanya-palsu bagaikan lukisan:
ajaran baru, yang menyaingi gurumu itu
berbau busuk dan penuh kalajengking serta ular.

Cepatlah engkau tinggalkan ajaran itu dan kembalilah

kepada kehijauan dan pokok-mawar, serta oase;

Janganlah seperti
Kanaan, 
yang karena kebanggaan dan kejahilan,
menganggap perlindungan gunung 
suatu bahtera keselamatan.            [3]

Pengetahuan seni-memanah si murid

menjadi hijab baginya,
padahal sejak awal dambaan hatinya 
tersimpan di dalam dadanya.

Wahai, alangkah seringnya pengetahuan 

dan tajamnya kecerdasan serta pengertian
menjadi begitu mematikan:
bagaikan hantu
atau penyamun bagi para pencari!

Kebanyakan dari ahli
al-Jannah itu 

mereka yang sederhana, sehingga mereka
dapat lolos dari tipuan filsafat.

Tanggalkan dari dirimu pelajaran yang tak berguna
dan kesombongan, sehingga Rahmat Ilahiah
berkenan turun kepadamu, setiap saat.

Kepintaran adalah kebalikan dari merendah 

dan permohonan: tinggalkanlah kepintaran
dan tetaplah memandang dirimu bodoh.

Ketahuilah, kepintaran itu suatu jebakan
agar tampak diperoleh kemenangan,
padahal hanya ambisi yang terlampiaskan;
dan bagaikan orang-orangan di sawah

yang memperkuti burung saja:
mengapakah sang pengabdi 
sejati
ingin tampak pandai?

Mereka yang pandai puas dengan alat yang canggih;

mereka yang sederhana bercerai dengan alat buatan
dan berserah kepada Sang Pelaku.

Layaknya bayi: ketika waktu sarapan tiba 

sang ibu akan membaringkannya di pangkuannya.





Catatan:
[1]   Jika para Guru berbicara mengenai emas-harta karun,
maka yang sedang dibicarakan adalah hal paling berharga
dari insan, yaitu amanah yang ditaruh Sang Pencipta di inti 
qalb mereka. Amanah itu lebih berharga daripada emas-intan 
permata seberat Bumi ini. 


[2]   Dari QS [29]: "Mereka yang berjihad dalam Kami ..."


[3]   Dari QS [11]: 43: Di sini Kana'an putra Nuh yang berlindung
dengan menaiki gunung merupakan gambaran dari upaya 
menyelamatkanjiwa dengan menggunakan kepandaian fikiran; 
disandingkan dengan peran wahyu yang dipersonifikasikan
oleh ayahnyaKetika tiba banjir: tenggelamnya unsur bumi (raga), 
misalnya ketika tiba ajal, fikiran yang memang diberi kuasa sebagai 
kekuatan tertinggi di alam dunia--dan sejatinya melekat 
kepada raga--sudah habis masa tugasnya, dan tidak dapat 
berfungsi sebagai penyelamat diri manusia. 




Sumber: Rumi: Matsnavi, VI no 2347 - 2375, 
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

2 komentar:

bobo mengatakan...

alhamdulillahirabbil alamiin...trimaksih mas..sdh mengingatkan diriku lewat sang mawlana....

ngrumi mengatakan...

Alhamdulillahir-rabbil-alamiin, yang telah mengajari dengan kata-kata haqq lewat lisan sang mawlana.

Ketika mendapati realisasi puisi ini dalam kehidupan saya sendiri, sungguh saya mendapati bahwa tanpa Allah ajari, manusia itu sedikitpun tidak tahu apa-apa mengenai yang haqq, sekalipun itu berlangsung pada dirinya sendiri.

Mari sama-sama berdo'a agar senantiasa Dia tambahkan pengetahuan yang sejati.

Salaam.