Minggu, 27 Juni 2010

Pesona Kematian

Barangsiapa terpesona pada kematian,
dia bagaikan Jusuf, yang memberikan jiwanya demi tebusan;
sebaliknya, yang menganggapnya bagaikan serigala,
akan berpaling dari penyelamatan.
Anakku,

kematian seseorang itu sesuai dengan sifat dirinya:
bagi musuh Tuhan dia adalah musuh,
bagi waliullah dia itu sahabat.
Di mata orang Turkoman cermin tampak terang;

di mata orang Ethiopia cermin tampak gelap.
Sesungguhnya ketakutanmu terhadap maut
adalah ketakutanmu terhadap dirimu sendiri:
lihatlah dari siapa engkau sedang melarikan diri.
Itu adalah keburukan dirimu sendiri,
bukan wajah Sang maut: jiwamu bagaikan pohon,
dan maut laksana dedaunan.
Dia tumbuh darimu,
apakah dia menjadi baik atau buruk: semua pikiranmu
yang tersembunyi, jujur ataupun curang,
lahir dari dirimu sendiri.

Jika engkau dilukai onak-duri, engkaulah penanamnya;
jika engkau berpakaian satin-sutra,
engkau sendirilah pemintalnya.

Ketahuilah bahwa perbuatan itu tidak sama dengan hasilnya;
sebuah pelayanan tak selalu sama dengan upahnya.
Upah pekerja tidak sama dengan kerjanya:
yang disebut terakhir adalah sosok-sementara,
sedangkan yang disebut pertama adalah substansinya.
Yang disebut terakhir tadi adalah usaha dan kerja-keras

serta keringat, sedangkan yang pertama adalah
emas, perak, dan hidangan.
Jika pemuja disini nampak berlutut atau bersujud,

di alam baka akan menjadi Taman, al-Jannah.
Jika puja-puji terucap dari lisannya,

Tuan Sang Fajar akan mengubahnya
menjadi buah-buahan Surga.




Sumber:Rumi: Matsnavi III: 3438 - 3458
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.



3 komentar:

Anonim mengatakan...

Salaam mas her... mau dikit sharing mas... yg mana yg di maksud oleh kata "Yang disebut terakhir tadi adalah usaha dan kerja-keras
serta keringat, sedangkan yang pertama adalah
emas, perak, dan hidangan." ...
mohon penjelasan mas... txh b4 wasswrwb @ iqbal husain-makassar

Moch mengatakan...

wah euy...keren.. kenapa gak di posting ke fb nih....share ah...wassalam (syaban)

ngrumi mengatakan...

Salam.
Pertama-tama, maaf baru menjawab sekarang. Entah bagaimana komentar sahabat terlewat dibaca.

Pada dasarnya, puisi yang ini memberi semangat.

Yang tampil di alam ini sebagai suatu kerja suatu amal itu sesuatu yang sangat sementara sekali.
Dibandingkan dengan ganjaran yang disediakan-Nya disana.

Jadi karena Dia berkenan menganugerahkan ganjaran, maka diundang-Nya untuk memberikan sedikit penghambaan kepada-Nya di alam-dunia yang teramat singkat ini.

Wallahu'alam.