Kamis, 27 Januari 2011

Mari Kita Berangkat

Wahai para pencinta, bangkitlah! [1]
Saatnya kita terbang ke langit,
cukup sudah kita tinggal di alam ini,
saatnya bertolak ke sana.

Sungguhpun indah sangat
ke dua taman ini, [2]
kita lewati saja,
bergerak menuju ke Sang Tukang Kebun.

Mari teguhkan ruku kita ke arah Laut, [3]

layaknya arus deras,
mari kita tunggang gelombang,
melaju di permukaan sang Laut.

Mari kita berangkat,

dari pemukiman penuh kesedihan ini, [4]
menuju pesta pernikahan;
mari ubah wajah kita,
dari pucat-pasi,
menjadi segar merona.

Hati kita keras berdegup,
gemetar bagai daun dan ranting kecil
yang takut jatuh tercampak; [5]
mari mencari suaka
di Wilayah Terlindung.

Tak mungkin mengelak dari kesakitan,
selama kita dalam pengungsian, [6]
tak mungkin mengelak dari debu,
selama kita tinggal di padang pasir.

Bagai burung surgawi bersayap hijau,
dan berparuh tajam, [7]
mari kita jadi pengumpul gula,
bercengkerama di kebun tebu.

Terkurung kita oleh bentuk-bentuk,
ciptaan Sang Pencipta tak-berbentuk,
Sudah puas kita dengan semua bentuk ini,
mari menuju Dia yang tanpa padanan. [8]

Bentuk-bentuk ini adalah tanda-tanda

dari Sang Pembentuk tanpa-tanda;
tersembunyi dari pandangan iblis,
mari, kita menuju kepada yang tak-bertanda.

Di jalan penuh ujian ini,

Cinta adalah sang pemandu,
menuntun gerak maju kita.

Bahkan jika ada seorang raja
[9]
menawarkan perlindungan,
lebih selamat kita menempuh jalan
dalam jama'ah.

Kita bagaikan air yang menetes
dari atap yang bocor,
mari kita memancar dari atap bocor itu
dan mengalir melalui saluran-air.

Kita melengkung bagai busur-panah,

karena tali-busur itu
berada di tenggorokan kita sendiri,
ketika kita telah menjadi lurus,
maka kita akan melesat,
bagai anak-panah terlepas dari busurnya. [10]

Meringkuk kita bagai tikus dalam lubang,

gemetar takut pada kucing;
jika kita anak-singa,
tentu kita menghampiri induk-singa. [11]

Mari berjuang

agar jiwa kita sejernih cermin
yang merindukan bayangan sesosok Yusuf;
mari menghampir kepada keindahan Yusuf
seraya membawa sebuah hadiah. [12]

Sekarang, mari kita diam,

agar Sang Pemberi Perkataan
yang mengatakan semua ini;
bersama sabda-Nya,
mari kita berangkat. [13]


Catatan:

[1] Yang diseru disini adalah jiwa (nafs) suci
para pecinta, sebagai warga alam malakut
atau "Langit" (as-sama'i).

[2]
"Ke dua taman:" ke dua kategori alam ciptaan-Nya,
yang memang sangat indah, yaitu alam lahiriah maupun
alam batiniah (alam yang tak-nampak oleh mata jasmaniah).

[3]
Tentang "Laut;" Fenomena yang dapat indera
kita persepsikan itu bagaikan gelombang laut
yang sampai ke tepi pantai (persepsi) kita.
Gelombang berderu karena tiupan angin (rih) ke
permukaan "Laut".
"Ruku ke arah Laut,"
ketundukan kepada maksud
dari penciptaan yang sampai kepada kita.

[4] "Pemukiman penuh kesedihan:" alam dunia.


[5]
"Takut" terpisah dari kehendak-Nya, lihat
QS [35]: 28.

[6]
Selama jiwa berada dalam raga di alam dunia.

[7]
Mengingatkan pada isi sebuah hadits Rasulullah SAW,
"... arwah para syuhada di sisi Allah pada Hari Kiamat
(berada) dalam rongga burung hijau yang memiliki
sarang-sarang yang bergantungan pada 'Arsy ..."
(Sunan Darimi no 2303, Sunan Tirmidzi no 1565).

[8]
"... tak dapat Dia dibandingkan dengan sesuatu..."
(QS [42]: 11).

[9]
Keselamatan bagi para pencari itu ada dalam
penyatuannya dengan para ahli-taubat. Bukan sembarang
berserikat, karena "kebanyakan dari orang-orang yang
berserikat itu saling menzalimi satu sama lain, kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh;
dan amat sedikitlah mereka ini." (QS[38]: 24)

[10] Dengan ibadah, raga dilatih agar menjadi "busur"

yang dapat melontarkan "anak-panah" (jiwa). Melesat
ketika ingat (dzikr) Allah, sampai lupa diri-sendiri.

[11] "Tikus" berburu remah-remah, yaitu ahli-dunia

yang mencari sasaran-sasaran duniawiah.
"Singa" adalah pemburu apa yang Allah kehendaki.

[12] Menjadi cermin, "berakhlak dengan akhlak Sang

Khalik," atau "akhlakul-karimah."

[13] Mari menapaki jalan menuju "mati dari diri sendiri,"

dengan cara berlatih lebur-musnah billah.


Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, Ghazal no 1713
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A. J. Arberry
Termuat dalam Mystical Poems of Rumi 2,
terbitan The University of Chicago Press, 1991

Kamis, 20 Januari 2011

Pintu-pintu Dunia Ditutup, agar Gerbang Jalan Terbuka

"Jika sungguh-sungguh engkau menempuh Jalan,
Jalan akan tersingkap padamu;
dan jika sungguh-sungguh engkau lebur-musnah,
al-Haqq akan menghampir kepadamu." [1]

"Dan jika sungguh-sungguh engkau berendah-hati,
dunia ini tak akan bisa mengurungmu;
lalu kepadamu akan diperlihatkan dirimu
bersama dengan Dirimu yang Sejati,
tanpa dirimu yang palsu." [2]


Walaupun semua pintu keluar
telah Zulaikha tutup,
Yusuf tetap menemukan jalan, 
ketika sungguh-sungguh berusaha.


Ketika Yusuf bersandar kepada-Nya,

kunci bergerak, pintu terbuka,
dan dia lolos.


Sungguhpun tampak tak ada pintu keluar

dari alam dunia,
mestilah seorang pencari sekuat-tenaga
berlari kesana-kemari;
bagaikan Yusuf.


Agar terbuka kunci dan tampak jelas gerbang,

dan alam tak-beruang menjadi kediamanmu.


Wahai makhluk yang malang,

engkau telah hadir di sini,
di alam dunia ini,
pernahkah kau lihat jalan
darimana engkau dahulu datang?


Engkau datang dari sebuah tempat,

sebuah semesta,
tahukah engkau jalan kedatanganmu?


Jika tak engkau ketahui,

simaklah nasehat tentang jalan buntu:
melalui jalan yang buntu inilah
kita semua akan wafat.


Ketika bermimpi,

dengan mudahnya engkau berjalan kesana-kemari:
tahukah engkau dimana jalan yang mengarah
ke wilayah itu?


Tutuplah mata-syahwatmu,

dan serahkan dirimu sepenuhnya:
akan kau dapati dirimu berada
di wilayah kuno tersebut. [3]

Tapi bagaimanakah engkau

akan menutup mata-syahwatmu,
sementara ke jurusan alam-dunia ini
kau tatapkan seratus penglihatan
yang melemahkanmu: keasyikanmu bersama
mereka menjadi penutup mata bagimu.

Begitu ingin engkau dikagumi orang,

engkau tatapkan ke dua pasang matamu, [4]
agar mendapat kemasyhuran dan kedudukan.

Ketika jatuh tertidur, akan kau lihat

seorang pembeli dalam mimpimu:
apakah yang diimpikan seekor burung-hantu,
si pembawa warta-buruk,
kecuali rimba-liar?


Setiap saat kau inginkan seorang pembeli

merangkak kepadamu: punyakah engkau
barang berharga untuk dijual?


Sedikit pun tidak!


Sedikit pun tidak!

Jika saja kedalam hatimu dapat masuk

sedikit santapan ruhaniah, [5]
tentu kosong ia,
akan kehendak mendapatkan pembeli
dari alam-dunia. [6]



Catatan:
[1] Terdapat pada bagian pendahuluan Matsnavi V no 1105,
yang diterjemahkan Nicholson. Ditengarai bersumber dari
separuh bagian sebuah kuatrin Persia kuno,pengarangnya tidak diketahui.

[2]
Manuskrip Matsnavi yang berbeda mencantumkan separuh
bagian yang ke dua dari kuatrin Persia kuno tersebut,
diterjemahkan oleh Ibrahim Gamard.


[3]
"Wilayah Kuno" daerah dimana jiwa semula lama berada
ketika dia belum dimasukkan ke dalam raga seorang manusia
(yaitu janin bayi ketika usianya 120 hari dalam rahim ibunya).
Alam tanpa raga, alam yang lebih sejati, lebih tinggi
tataran hakikat (realitas)-nya.

[4] Sepasang mata ragawi dan sepasang mata jiwa. Berupaya
lahiriah dan spiritual untuk mendapatkan ketenaran dan
kedudukan.

[5] Jika sedikit saja paham akan pengetahuan ruhaniah
atau kesejatian.


[6] Matsnavi bagian ini kembali terkait erat dengan
"Pembeli Sejati" (QS [9]: 121) yang diperlawankan dengan
"para pembeli dari alam-dunia;" yang kepada mereka umumnya
kita 
menawarkan hasrat-hasrat duniawi seperti kemasyhuran
dan
kedudukan agar mereka beli (direalisasikan di alam dunia ini).



Sumber:
Rumi, Matsnavi V: 1105-1118.
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.


Rabu, 19 Januari 2011

Apa yang Kau Bawa Untuk-Ku?

Pada Hari Kebangkitan, 
al-Haqq akan bertanya,
"Telah Kuberikan kesempatan untukmu, 
apa yang kau bawa untuk-Ku?
Dengan amal apakah kau jelang ajalmu?


Untuk keperluan apa,

makanan dan kekuatanmu dihabiskan?

Kilau dimatamu, kemanakah telah 

engkau redupkan?

Kemanakah dicurahkannya ke lima inderamu?


Telah engkau habiskan penglihatan, 

pendengaran, kecerdasan dan
daya ilahiah murni yang kau warisi;
apa yang telah kau peroleh dari bumi?

Telah Ku-beri engkau tangan dan kaki,

sebagai cangkul dan bajak untuk mengolah
lahan amal-shaleh. Tidaklah tangan 
dan kakimu itu mewujud sendiri."


Sumber:
Matsnavi III: 2149-2153
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Juga diterjemahkan Camille dan Kabir Helminski,
dalam Rumi: Jewels of Remembrance, Threshold Books, 1996,
berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia
oleh Yahya Monastra.



Selasa, 18 Januari 2011

Dia Sama Sekali Tak Mencari Untung


Apa yang menyita waktumu?
Untuk keperluan apa engkau berjual-beli?


Ibarat burung, 
dari jenis apakah engkau?
Apa makananmu?


Lintasi saja kedai para pembual,
dan carilah Kedai Kelimpahan, dimana
Allah sendiri yang menjadi Pembeli.  [1]


Disana, Sang Pengasih membeli barang usang, 
yang orang tak sudi lirik.


Bersama Sang Pembeli itu, 
tak dikenal dagangan yang terlalu buruk, 
karena dalam jual-beli ini,
Dia sama sekali tak mencari untung.


Catatan:
[1]  QS At-Taubah [9]: 111


Sumber:
Matsnavi VI: 1264 - 1267
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Juga diterjemahkan Camille dan Kabir Helminski,
dalam Rumi: Jewels of Remembrance, Threshold Books, 1996
Berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia
oleh Yahya Monastra

Senin, 17 Januari 2011

Yang Tersembunyi Dibalik Lisan


Sejatinya insan itu tersembunyi
di balik lisannya;
lisannya adalah hijab yang menutupi
pintu jiwanya.
Ketika angin datang berhembus
dan meniup hijab,
tersingkaplah rahasia yang tersembunyi 
di dalam rumah.


Kita lihat apakah dalam rumah itu
terdapat butiran mutiara atau biji gandum,
atau sekumpulan kala jengking dan ular;


Atau apakah disitu ada harta karun,
dan seekor naga yang waspada,
karena harta karun berharga
selalu ada penjaganya.


Sumber:
Rumi: Matsnavi II: 845 - 848
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Juga diterjemahkan Camille dan Kabir Helminski,
dalam Rumi: Daylight, Threshold Books, 1994;
berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia
oleh Yahya Monastra.

Minggu, 16 Januari 2011

Pukulan dari Langit


Ketika sebuah pukulan dari Langit
menghantam dirimu,
bersiap-siaplah,
karena setelah itu
akan kau terima hadiah penghormatan.


Karena tak mungkin Sang Raja menamparmu,
tanpa memberimu sebuah mahkota
dan sebuah tahta untuk diduduki.


Seluruh alam-dunia hanya senilai 
sebelah sayap kutu,
tapi satu tamparan dapat memberimu
ganjaran tak terperi.


Cepatlah lepaskan lehermu
dari rantai emas,
yaitu dunia ini,
dan terimalah tamparan dari Rabb.


Para nabi telah menerima
pukulan seperti itu di leher mereka,
karenanya, kepala mereka tegak.


Karenanya, wahai pencari,
siapkan dirimu,
selalu penuh perhatian:
hadirkan dirimu,
agar Dia temukan engkau di tempatmu.


Jika tidak,
Dia akan ambil kembali
hadiah penghormatan itu,
seraya berkata, 
"tak Ku-temukan seorangpun disini."


Sumber:
Rumi, Matsnavi VI: 1638 - 1643
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Juga diterjemahkan Camille dan Kabir Helminski,
dalam Rumi: Jewels of Remembrance, Threshold Books, 1996,
sumber berbahasa Persia diterjemahkan oleh Yahya Monastra.

Jumat, 14 Januari 2011

Tanggalkan Jubah Takabur

Tanggalkan takabur dari tubuhmu:
tiada yang pantas dipakai seorang pencari
kecuali pakaian rendah-hati.

Ilmu umum bisa didapat dari menghafal,
untuk ketrampilan tangan bisa dilatih.

Jika engkau idamkan kefakiran spiritual,
engkau harus berguru: bukanlah itu soal
ketrampilam lidah atau tanganmu.

Jiwa belajar rendah-hati
dari jiwa yang lain;
bukan dari buku atau ucapan.

Rahasia-rahasia kefakiran spiritual 
memang tersimpan dalam qalb sang pencari;
tapi pengetahuan akan rahasia-rahasia itu
belum lagi dimilikinya.

Hal itu masih harus menunggu,
sampai dadanya lapang dan terisi Cahaya: 
Allah bersabda, "Bukankah Kami 
yang melapangkan dadamu?"; [1]
Karena jika Kami menaruh Cahaya di situ,
tentu Kami pula yang telah lapangkan dadanya.

Ketika engkau telah menjadi pancuran-susu,
tak perlu engkau memerah sumber-susu lain.
Pancuran-susu abadi ada dalam dirimu,
mengapa kesana-kemari engkau membawa pasu,
sibuk mencari susu.

Engkau bagai danau besar yang tersambung 
ke Laut, mestinya engkau malu mencari
air ke kolam.

"Bukankah Kami yang melapangkan?"
Jika telah diberi engkau kelapangan,
tak perlu engkau bertingkah bagai peminta-minta.

Renungkanlah tentang pelapangan dada,
sehingga tak perlu engkau diperingati 
dengan ayat, "Tidakkah engkau lihat..." [2]

Catatan:
[1] QS [94]: 1
[2] QS [51]: 21

Sumber:
Rumi, Matsnavi V: 1061 - 1072
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Juga diterjemahkan oleh Camille dan Kabir Helminski,
dalam Rumi: Jewels of Remembrance,
Threshold Books, 1996, yang berdasarkan
terjemahan dari Bahasa Persia oleh Yahya Monastra.

Jumat, 07 Januari 2011

Melekat pada Kepahitan

Jangan pandang,
aneka kepahitan hidup,
yang diungkap Sang Waktu.

Jangan hiraukan sederhananya makananmu 

dan terbatasnya nafkahmu.
Jangan pedulikan wabah,
ketakutan dan goncangan.


Renungkanlah: dengan semua kepahitannya,

tetap saja engkau erat-melekat tanpa malu,
pada dunia.

Pahamilah, 

perihnya ujian adalah sebuah Rahmat.

Ketahuilah, 
Kerajaan Marv dan Balkh adalah
sebuah hukuman.

Kejamnya Sang Waktu 

dan semua derita yang mewujud itu
lebih ringan daripada jarak 
kepada Rabb
dan pengingkaran.


Karena derita itu akan berlalu, tetapi 
tidak demikian dengan jarak kepada Rabb.

Ibrahim tidak menghindar dari 

api dan diselamatkan;
Ibrahim yang lain menghindar dari 
kehormatan dunia dan menemukan 
jalan penyelamatan.

Yang pertama tidak terbakar,
[1]
yang satunya lagi terbakar habis. [2]

Betapa indahnya: 

didalam Jalan pencarian Dia,
semua jadi terbolak-balik!



Catatan:
[1] Ibrahim Khalilullah a.s; diselamatkan dari api,
lihat misalnya, QS [29]: 24, [21]: 69.

[2] Ibrahim ibn Adham, terbakar dalam api Cinta Ilahiah.
Sebelumnya dia adalah raja Merv dan Balkh, yang melepaskan
diri dari keterikatan dunia, menyerahkan tahtanya,
dan 
menjadi seorang pejalan.



Sumber:
Rumi, Matsnavi  VI: 1733 - 1738,
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Kamis, 06 Januari 2011

Terbanglah Pulang ke Sumber Asalmu

Sebuah suara
dari semesta sebelah-sana
menyeru jiwa kita
agar tak menunggu lagi
segera siap pulang
ke diri kita yang sejati.


Rumah sejatimu
tempat lahir sejatimu
disini di balik lelangit
lepaskan jiwamu, terbang
bagai burung phoenix yang gembira.


Selama ini engkau terpenjara
kakimu tenggelam di lumpur
tubuhmu terikat ke tiang
lepaskan ikatan-ikatanmu
bersiaplah untuk penerbangan puncak.


Tempuhlah perjalanan akhir
dari dunia yang asing ini
menjulanglah ke ketinggian
ke tempat dimana tiada lagi
pemisahan antara engkau dan rumahmu.


Rabb telah ciptakan sayapmu 
tidak hanya untuk dilipat
selama engkau masih hidup
seyogyanya engkau terus coba memakai sayapmu
itulah tandanya engkau hidup.


Sejatinya, sayap-sayapmu itu,
penuh dengan tantangan dan harapan
jika tak dipakai
sayap-sayapmu bisa rontok
sayap-sayapmu bisa lapuk.


Mungkin engkau tak suka
kejujuran ucapanku
selama ini engkau terjebak.
Kini tiada yang harus kau cari,
kecuali sumber-asalmu.



Sumber: 
Rumi, Ghazal 945 
Diterjemahkan oleh Nader Khalili,
Rumi, Fountain of Fire, Cal-Earth Press, 1994

Selasa, 04 Januari 2011

Pantulan Cahaya yang Mempesonamu

Sang hamba kecintaan makhluk,
yang dulu disanjung-puji dunia,
kini malah ditalaknya,
gerangan apa salahnya?


Itu karena dia memakai baju pinjaman,
dan lalu bersikap seolah memilikinya.


Kami mengambilnya kembali,
agar dia menjadi yakin,
bahwa semua khazanah itu milik Kami, 
dan mereka yang cantik-molek itu 
hanyalah para peminjam;


sehingga dia paham bahwa jubah-wujud itu
hanyalah sebuah pinjaman,
seberkas cahaya dari Matahari Wujud.


Semua keindahan, kuasa, kebajikan dan 
kesempurnaan yang hadir ditempat ini
bersumber dari Matahari Kesempurnaan.


Berkas-berkas cahaya Sang Matahari itu,
kini kembali pulang, 
bagaikan berputarnya bintang-bintang, 
meninggalkan dinding-dinding ragawi ini.


Ketika cahaya matahari telah surut,
semua dinding menjadi gelap menghitam.


Semua yang mempesonamu, 
pada wajah-wajah cantik,
adalah Cahaya Sang Matahari 
terpantul pada kaca prisma.


Beragam corak kaca 
membuat Cahaya tampil beraneka-warna.


Ketika prisma kaca beraneka-warna tak lagi ada,
barulah Cahaya tanpa-warna mempesonamu.


Bangunlah kebiasaan 
menatap Cahaya tanpa prisma kaca,
sehingga ketika prisma kaca itu remuk,
tak lagi engkau buta.


Sumber: 
Rumi,  Matsnavi  V: 981-991
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.


Juga terdapat pada Rumi: Jewels of Remembrance
Oleh Camille dan Kabir Helminski, Threshold Books, 1996
Bersumber dari terjemahan Persia - Inggris oleh Yahya Monastra