Rabu, 18 Mei 2011

Bersandarlah kepada Rencana-Nya

Wahai sahabat yang berpagi-pagi bangkit,
siapakah yang ketika menanti fajar, [1]
bertemu kami sedang menari berputar
bagaikan atom?

Siapakah yang beruntung:
yang ketika mencari air ke bibir sungai,
malah mendapati bayangan Sang Rembulan
di permukaannya? [2]

Apakah ada yang bagaikan Ya’qub:
ketika rindu harumnya Yusuf,
mencium baju gamisnya; [3]
malahan menemukan cahaya matanya itu.

Atau bagaikan seorang Arab Badui yang haus,
menurunkan timba ke dalam sumur,
lalu ketika diangkatnya, mendapatkan sosok
yang sedemikian indahnya. [4]

Atau seperti Musa, ketika melihat api,
lalu menembus semak-belukar
untuk mendapatkan manfaat api itu,
tiba-tiba menemukan ratusan fajar
dan matahari terbit. [5]

Isa masuk kedalam rumah
untuk menghindari kejaran musuh;
tiba-tiba dari rumah itu didapatinya
sebuah lorong menuju ke langit. [6]

Atau seperti Sulaiman
yang membelah seekor ikan,
dan dalam perut ikan itu menemukan
cincin kekuasaannya. [7]

Bersenjatakan sebilah pedang,
seorang Umar mencari Sang Nabi;
tapi dia malah jatuh dalam jaring jebakan Rabb,
dan menemukan keberuntungan tak terhingga.

Atau bagaikan Ibrahim ibn Adham:
mengincar seekor kijang ketika berburu,
malahan dia menemukan korban yang lain.

Atau seperti seekor kerang yang haus,
membuka cangkangnya untuk minum seteguk air,
dan menemukan sebutir mutiara
didalam dirinya sendiri. [8]

Atau bagaikan seorang lelaki yang mengembara
ke daerah terpencil, dan disana menemukan
warta harta karun. [9]

Para pencari, buatlah legendamu sendiri,
sehingga para sahabatmu maupun orang asing
dapat menemukan makna dari
“bukankah telah Kami lapangkan dadamu,”
tanpa perlu dibantu penjelasanmu. [10]

Barangsiapa menghampir kepada Syams at-Tabriz,
dengan tulus sepenuh hati,
akan mendapatkan sepasang sayap [11]
hadiah dari Sang Kekasih.


Catatan:
[1] Mereka yang “... memohon ampun di waktu fajar” (QS [3]: 17).

[2] Ketika hidupnya "dikeringkan," lalu sang pencari terus mencari “air" ilmu-ilmu ketuhanan, maka beruntunglah jika sang pencari menemukan “Sang Rembulan," Theophany. Bandingkan dengan Tingkatkanlah Kehausanmu (http://ngrumi.blogspot.com/2011/05/tingkatkanlah-kehausanmu.html).

Mengingatkan kepada sebuah hadits (Bukhari no 539, juga terdapat, antara lain, pada no 521, 6884, 6070)

“Kami sedang bersama Nabi saw, saat Beliau melihat rembulan di malam purnama. Kemudian Beliau saw berkata: ‘Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. Dan kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihatnya. Maka jika kalian mampu untuk tidak terlewatkan melaksanakan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah.’ Kemudian Beliau membaca, ‘Maka bertasbihlah sambil memuji Rabb-mu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya’ (QS [50]: 39)”

[3] “... sesungguhnya aku mencium wangi Yusuf ...” (QS [12]: 94).

[4] Lihat QS [12]: 19.

[5] Lihat QS [20]: 9 - 10.

[6] Lihat QS [4]: 158.

[7] Raja Sulaiman a.s. pernah tertipu iblis dan kehilangan cincin kekuasaannya, sehingga dia terbuang dari istananya. Sebagai orang biasa dia bekerja sebagai nelayan. Sampai secara tak sengaja ditemukannya kembali cincin itu dalam perut ikan yang dijalanya.

[8] “Mutiara hakikat di dalam qalb” direfleksikan bayangannya sebagai mutiara dalam kerang yang hidup di dasar laut.

[9] Para pecinta dunia mengejar harta-karun emas, permata, berlian dari alam dunia ini; padahal itu hanya bayangan--walaupun seringkali dipakai sebagai 'umpan’ bagi pencari tingkat awal--dari harta-karun Sejati yang Sang Pencipta simpan di dalam qalb insan.

[10] Pengejawantahan dari QS [94]: 1 yang sangat terkenal itu.

[11] Sejatinya jiwa (nafs) itu warga alam malakut, seperti para malaikat. Jika jiwa telah kembali suci dan sungguh-sungguh berpengetahuan ketuhanan, maka dia jiwa mampu menjelajahi alam malakut untuk mencari pengetahuan lebih tinggi lagi. Ini adalah bagian dari mengikuti Milah Ibrahim, “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahiim, malakut lelangit dan bumi, agar ia termasuk orang-orang al-Muuqiinin” (QS [6]: 75).

Sumber:
Rumi, Kulliyat-e Shams, Ghazal no 598
Badi-uz Zaman Furuzanfar (ed.)
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A.J. Arberry
dalam Mystical Poems of Rumi, no 74

1 komentar:

KISAH SUKSES IBU HERAWATI mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.