Rabu, 22 Juni 2011

Sang Khalilullah Menyembelih Bebek, Unggas Pertama Pengganggu Perjalanan

Mereka yang waspada pendengarannya
memperoleh cahaya,
sedangkan para pecinta kegelapan itu
bagaikan gerombolan tikus.
Mereka yang lemah penglihatan bagai kelelawar
—bagaimanakah mereka dapat berputar
di sekeliling Lingkaran Keyakinan?
Perbedaan-pendapat
dalam hal cabang-ranting yang rumit
adalah rantai-pengikat yang memperbudak tabiat,
yang kemudian menjadi gelap-buta
kepada Agama yang Haqq.
Sepanjang manusia semacam ini,
hanya mengandalkan geraman dan gonggongan
dari kepandaian-jasmaniahnya sendiri,
maka dia tidak dapat membuka mata qalb-nya
kepada Sang Matahari.
Dia tidak akan membentangkan cabang-cabangnya
ke angkasa—seperti yang dilakukan pohon kurma:
malahan—bagaikan tikus—dia menggali lubang
ke dalam tanah.
Manusia semacam ini mempunyai empat penyakit
yang menjajah hati: ke empat hal ini telah membentuk
tiang-gantungan bagi Akal.
Wahai engkau
—yang akal qalb-nya menyala bagai Matahari—
engkaulah Sang Khalil zaman ini:
bunuhlah ke empat unggas
yang mengganggu Perjalanan, [1]
Karena ke empatnya, bagaikan gagak,
telah mencungkil mata-akal dari kecerdasan.
Ke empat penyakit hati jasmaniah itu
bagaikan unggas Sang Khalil: penyembelihan mereka
dengan bismillah membuka jalan bagi kebangkitan jiwa.
Wahai Sang Khalil,
untuk membebaskan yang baik dari yang buruk,
potonglah leher mereka,
sehingga kaki orang-orang ini dapat terlepas
dari pagar yang mengurung mereka.
Engkau adalah ‘yang-menyeluruh’,
dan mereka adalah bagian-bagian dari engkau:
bukalah penjara, karena kaki mereka adalah kakimu.
Berkat engkau, seluruh alam disusun
menjadi sebuah tempat yang berlimpah dengan ruh:
suatu kekesatriaan yang menjadi landasan
bagi seratus bala-tentara.
Sepanjang jasmani menjadi sangkar
dari empat penyakit ini, maka mereka disebut
empat unggas penyebab kerusakan.

Jika engkau menghendaki
kehidupan abadi bagi orang-orang ini,
potonglah leher ke empat unggas kotor dan jahat itu,

Dan kemudian,
kembalikan mereka dalam bentuk yang lain,
sehingga setelah itu,
tidak ada keburukan
yang akan mereka lakukan.
Ke empat unggas tak-tampak yang mengganggu Jalan,
telah menjadikan hati para manusia
sebagai sarang mereka.
Karena dalam kisah ini,
engkaulah, wahai Khalifah Allah,
yang menjadi pemuka dari para pemilik qalb yang benar,
Sembelihllah hidup-hidup kepala ke empat unggas:
abadikanlah makhluk-makhluk yang sesaat hidupnya itu.
Mereka adalah bebek, merak, gagak dan ayam-jantan;
ini adalah ibarat dari penyakit-penyakit
dalam jiwa manusia.
Bebek itu lambang dari kerakusan;
ayam-jantan melambangkan syahwat;
merak melambangkan hasrat-kemasyhuran;
sementara gagak melambangkan cinta-dunia.
Burung gagak, sang cinta-dunia,
berhasratkan angan-angan
dan berharap keabadian atau umur-panjang.
Bebek itu lambang kerakusan,
karena paruhnya selalu di tanah,
mencari-cari apa-apa yang tersembunyi
di tempat basah dan kering.
Tenggorokannya tak pernah jeda sedikitpun:
tiada ketentuan Ilahiah yang dijalankannya,
kecuali perintah, “makanlah, engkau!”
Dia bagaikan perampok yang menggangsir rumah,
dan cepat-cepat mengisi kantungnya,
Tanpa pilih-pilih,
diisinya kantungnya dengan barang yang baik
maupun yang buruk, batu-permata dan biji-kacang,

Dijejalkannya yang basah
dan yang kering ke dalam kantungnya,
sebab dia takut ada musuh yang segera tiba.
Waktu mendesak, kesempatan terbatas,
dia ketakutan: tanpa tunggu lagi,
dibawanya semuanya secepat mungkin.

Tidak dimilikinya kepercayaan kepada Kemurahan-Nya,
dia tidak percaya bahwa tidak akan ada musuh
yang akan menghalanginya.

Sementara seorang beriman-sejati,
karena keyakinannya kepada Kehidupan Ilahiah,
begerak dengan perlahan dan berhati-hati.

Dia tidak takut kehilangan kesempatan
atau takut kepada musuh,
karena dikenalinya penguasaan Sang Raja
atas musuhnya.

Dia tidak takut hamba yang lain akan menjatuhkannya
dan memanfaatkan kelemahannya,

Karena dipahaminya,
Keadilan Sang Raja mencegah para pengikut-Nya
sehingga tiada yang satu melakukan kejahatan
kepada yang lain.

Itu sebabnya dia tidak tergesa-gesa
dan tenang-tenang saja:
dia tidak takut kehilangan bagian
yang telah diperuntukkan baginya.

Berlimpah padanya kehati-hatian,
kesabaran dan menahan-diri;
dia puas-hati,
tidak mementingkan diri sendiri
dan murni hatinya.

Berhati-hati adalah cahaya Ar-Rahmaan,
sementara tergesa-gesa adalah desakan Iblis.

Iblis mempertakuti manusia yang rakus
untuk lari dari kemiskinan
dan membunuh tunggangannya—yaitu kesabaran—
dengan menusuknya.

Dengarlah Al Qur’an, Iblis itu mengancam engkau
dengan mempertakutimu akan kemiskinan.

Sehingga dalam ketergesaanmu
engkau memakan dan mengambil barang yang buruk,
dan kehilangan dari dirimu kemurahan,
kehati-hatian dan hasanah yang diperoleh dari amal-shaleh.

Dapatlah dimengerti, si kafir mengambil makanan
yang dapat mengisi tujuh lambung:
perutnya gendut;
sementara agama dan jiwanya kurus-kering.


Catatan:
[1] Ibrahim Khalilullah a.s. sang Pemuka di jalan-Nya, menjadi tokoh sentral dalam puisi yang bersumber pada QS Al Baqarah [2]: 260, yang sangat indah dan penuh rahasia: "Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata, 'Yaa Rabb-ku perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.' Allah berfirman, 'Belum yakinkah engkau?' Ibrahim berkata, 'Aku telah meyakininya, akan tetapi agar mantap hatiku.' Allah berfirman, 'ambillah empat ekor unggas, lalu cincanglah semuanya olehmu. Lalu letakkan di atas tiap-tiap bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, lalu panggilah mereka, niscaya mereka datang padamu dengan segera.' Dan ketahuilah, Allah Maha Perkasa Maha Bijaksana."

Sumber:
Rumi: Matsnavi V  25 - 63
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

4 komentar:

Fillah mengatakan...

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Terima kasih pak Herman atas tulisan-tulisan nya. Saya sering membaca, dan baru bisa merasakan keindahannya, belum bisa memahaminya, mudahan suatu saat, saya akan Allah pahamkan, aamiin.

Fillah mengatakan...

Maaf pak Herman, di catatan tertulis:
QS Al Baqarah [2]: 160

Seharusnya:
QS Al Baqarah [2]: 260

Terima kasih.

ngrumi mengatakan...

Wa'alaikumsalam wr wb.

Terimakasih atas komentar dan koreksinya.

Kita sama-sama berusaha belajar, tentang pemahaman, anda benar, Allah yang membuat paham. Semoga anda dan saya diberi rezeki besar seperti itu.

KISAH SUKSES IBU HERAWATI mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.