Jumat, 02 September 2011

Dalam Dekapan Sang Kekasih

Akhirnya,
berangkat engkau,
bertolak ke alam tak-kasat mata.
Sungguh mengagumkan,
caramu tinggalkan alam-dunia.

Kau kibaskan sayap dan bulumu,
kau lepaskan diri dari sangkarmu.
Mengangkasa engkau ke langit,
kau capai alam jiwa.

Pernah engkau bagai elang ningrat,
dikurung seorang wanita tua.         [1]
Lalu kau dengar genderang penyeru, [2]
dan melesatlah engkau
lintasi ruang dan waktu.

Sebagai burung bulbul yang merindu,
pernah kau terbang bersama para burung hantu. [3]
Ketika harum semerbak berhembus
dari taman mawar,
segera engkau bertolak,
menjemput Sang Mawar.

Anggur dari alam fana ini, [4]
terkadang membuat pening kepalamu.
Akhirnya, kau masuki Kedai Keabadian.
Bagaikan sebatang panah [5]
melesat engkau dari busur,
tepat menghunjam ke inti kebahagiaan.

Alam bayangan ini
memberimu bermacam isyarat palsu.
Tapi telah berpaling engkau dari maya,
dan melangkah ke hadirat kesejatian.

Kini, engkaulah Sang Matahari, [6]
tak lagi kau perlukan mahkota.
Kau telah lenyap dari alam-dunia ini,
tak lagi kau perlukan jubah.

Kini, tak perlu lagi
kau menatap ke arah jiwamu,
karena telah beranjak engkau
menuju Jiwa Sejati.

Wahai qalb,
engkau bagai burung indah nan langka,
dalam jelajahmu menuju Yang Maha Rahman,
kau kibaskan sayapmu bagai perisai: [7]
patahlah tombak musuh-musuhmu.

Engkau bukanlah bunga biasa,
tak kau takuti datangya musim gugur.
Engkaulah mawar pemberani, [8]
yang memekar di tengah bekunya musim dingin.

Mengucur deras bagai hujan dari langit, [9]
tetesanmu mengguyur atap alam-dunia ini.
Lalu menyebar engkau ke berbagai jurusan,
kemudian menghilang melalui saluran air.

Kini, saatnya hening:
telah usai masamu
perih berlisan ragawi. [10]

Tak perlu lagi tertidur,
sepenuh-penuh diri kini engkau
berada dalam dekapan Sang Kekasih.


Catatan:
[1] Periksa "Kisah Elang Sang Raja,"
  
http://ngrumi.blogspot.com/2011/07/kisah-elang-sang-raja.html


[2] Suara panggilan dari Sang Raja.

[3] Jati-diri sang pencari kesejatian takkan dikenali
para pencinta dunia.

[4] Fenomena alam-dunia itu bayangan buram dari realitas
sebenarnya yang tersembunyi. "Kedai Keabadian," wilayah
Yang Tercinta.

[5] "Anak-panah," melambangkan "jiwa" sementara
"busur" adalah raga.

[6] "Matahari," Sang Ruh yang tersembunyi dalam diri
sang hamba.

[7] Sepasang sayap, "takut" dan "harap."

[8] "Mawar," melambangkan Akal Sejati, perangkat untuk
memahami ilmu dan hikmah.

[9] "Air" disini melambangkan ilmu yang dibawa turun ke alam
dunia ini oleh Insan Ilahiah.

[10] Kata selalu gagal menyampaikan realitas sebenarnya.


Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, Ghazal 3051
Ode no 48 pada Nicholson: Divan-e Shams-e Tabriz.
IBEX Publishers, Inc, 2001 (cetak-ulang, peringatan
100 tahun karya perintis terjemahan Divan Rumi oleh Nicholson).

Juga dari Arberry: Mystical Poems of Rumi 2.
The University of Chicago Press, 1991.

Juga dari Jonathan Star: In The Arms of the Beloved,
Jeremy P. Tarcher/Putnam, New York 1997.

6 komentar:

ngrumi mengatakan...

Terjemahan sederhana ini didedikasikan kepada ayahanda tercinta. Dengan sungkem, dalam rasa sedih bercampur bahagia dan takjub.

Anonim mengatakan...

Terima Kasih mas Herman ..

Anonim mengatakan...

Subhanallah... indah. Ditunggu...

hening mengatakan...

Membuat tercekat. Menggetarkan. Terima kasih.

teguh hariyanto mengatakan...

MengHarukan, izin membagikan juga tulisan" yang lain, terima kasih mas, salam.

KISAH SUKSES IBU HERAWATI mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.