Selasa, 07 Februari 2012

Pintu-pintu Menuju Taman-Mu


Wahai Kekasih,
manakah yang lebih mempesona,
Wajah-Mu atau al-Jannah-Mu ini, 
yang begini luas.

Bercahayalah, wahai rembulanku,
Engkaulah inspirasi,
bagi semua yang menatap langit malam.

Yang asam akan berubah jadi manis.
Prasangka diganti dengan Kebenaran.
Gerumbul duri diubah jadi mekar bunga.

Seratus tubuh akan bangkit hidup kembali,
dengan satu hembusan-Mu.

Kau taruh pintu demi pintu di langit
Kau taruh harapan dalam hati insan.

Kau cekam setiap kecerdasan,
Kau buat ke dua alam terpesona pada-Mu.

Wahai Kekasih,
pipimu memerah,
bagai mawar.

Wahai Kekasih,
Engkaulah pujaan alam ini,
dan alam berikutnya,
dan alam-alam berikutnya.

Kelopak-kelopak jagung,
berupaya keras,
mencoba meniru satu warna-Mu.

Semua jenis kebenaran
lebur jadi satu
dibawah injakan kaki-Mu.

Seluruh nada laguku
rindu menggemakan merdunya suara-Mu.

Tanpa Engkau,
pasar dan perniagaan sepi.
Taman dan kebun longsor
tersapu air bah.

Kau ajari pohon
menari seiring tiupan angin.
Kau ajari cabang-cabang basah 
menangis dalam hujan.

Daun dan buah mabuk,
rindu pada air-kehidupan-Mu.

Jika ada satu hal yang diinginkan
oleh taman luas ini,
mestilah itu musim semi abadi:
ketika dedaunan terus menari berputar
melayang dalam tiupan lembut-Mu.

Cahaya langit dan planet-planet 
yang berputar di taman ini,
tak memandang sebelah mata;
pada bintang manapun,
yang berani bernyala dalam galaksimu,
yang kau anggap sangatlah luasnya.

Sungguh dari-Mu ada janji yang besar:
Kau sajikan kabar gembira 
dan bukan sekedar pengisi perut,
kepada setiap diri 
yang menjadi tamu-Mu.

Kupergi kesana dan langsung kembali.
Dalam sekejap, bagai dalam khayal:
aku berada di awal dan di akhir;
Jiwa ini bagaikan seekor gajah
yang Kau taruh di padang rumput tak bertepi.

Semua yang kurencanakan,
tak satu pun membuahkan hasil.

Akhirnya hatiku mematahkan rantainya,
mencengkeram jiwaku,
dan menyeretnya ke hadirat-Mu.

Disana tak kulihat hal yang rendah,
tiada rasa-sakit.

Setiap saat suatu kehidupan muncul,
terlahir dari aliran kasih-sayang-Mu.

Wahai, alangkah kecilnya
gunung dibandingkan keagungan-Mu.

Dan hati ini tampak kumuh,
disandingkan dengan Cinta-Mu.

Kau bentangkan lebar-lebar semua pintu:
pintu-pintu pada besi,
pada gunung-gunung,
pada bebatuan.

Tapi hatiku merayap, berputar kesana kemari,
bagaikan seekor semut berusaha keras
mencari satu lubang sempit.

Nyanyianku bisa sampai akhir zaman,
berupaya menjelaskan keindahan wajah-Mu,
tapi selalu aku terdengar sumbang.

Tak ada insan yang waras bicaranya
ketika dia dimabuk cinta.

Tak ada orang yang lurus jalannya,
ketika dia tengah tenggelam
dalam lautan anggur-Mu.


Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal no 2138.
Berdasarkan terjemahan ke Bahasa Inggris oleh 
Jonathan Star dan Shahram Shiva, dalam 
A Garden Beyond Paradise: The Mystical Poetry of Rumi,
Bantam Books, 1992



2 komentar:

Hening mengatakan...

Gerumbul duri...berharap Dia mencabutnya satu persatu...

"Tak ada insan yang waras bicaranya
ketika dia dimabuk cinta."
...kecerdasan adalah mangsa bagi khamr...

Ah...merinding...merindu...

KISAH SUKSES IBU HERAWATI mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.