Kamis, 29 November 2012

Ke Arah Mana Hasratmu?


Sebagian kita betah berada di rumah,
sementara yang lainnya senang bepergian.

Hening menyepi di gunung,
nyaman bagi sebagian orang,
tapi membosankan buat yang lain.

Setiap kita diciptakan
untuk sebuah amal tertentu,
dan hasrat akan amal itu
ditaruh dalam hati kita.

Tak mungkin tangan dan kaki bekerja
tanpa digerakkan hasrat.

Jika kau dapati hasratmu mengarah ke Langit,
kepakkan sayapmu dan jangkaulah.

Tapi jika hasratmu mengarah pada sesuatu di bumi,
teruslah rintihkan permohonan ampun.

Orang bijak menangis, pada bagian awal jalan;
sementara orang bodoh menyesal pada bagian akhir.

Cermati baik-baik sejak awal,
akhir seperti apa yang kau hasrati,
sehingga tak ada penyesalan
pada Hari Perhitungan.


Sumber:
Rumi: Matsnavi  III: 1616 - 1619
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Minggu, 11 November 2012

Telah Disandingkan ash-Shabr dengan al-Haqq

Luqman mengunjungi Dawud,              [1]
dan didapatinya sang pemilik qalb murni,
sedang sibuk membuat cincin-cincin dari besi.

Lalu dilihatnya Sang Raja yang Mulia itu
menyatukan cincin-cincin itu satu sama lain.

Tak pernah sebelumnya dia lihat
karya sang penakluk besi,
dia takjub menyaksikan itu semua,
dan sangat ingin tahu.

"Benda apakah itu?
Akan kutanyakan kepadanya,
apa yang akan dibuatnya
dari cincin-cincin besi yang disatukan itu?"

Tapi dia menahan diri,
seraya berkata di dalam hati,
"lebih baik aku bersabar:
kesabaran adalah pemandu tercepat
menuju sasaran pencarian."

Jika engkau tak mengajukan pertanyaan,
rahasia terungkap padamu lebih cepat,
kesabaran itu bagaikan burung
yang paling cepat terbangnya.

Jika engkau memilih untuk bertanya,
lebih lambat sasaran tercapai,
apa yang semula mudah, jadi lebih sulit diraih,
karena ketergesaanmu.

Karena Luqman tetap berdiam-diri,
sang penakluk besi yang piawai
bekerja cepat tanpa halangan.

Lalu dibentangkannya di hadapan Luqman,
sang hamba yang sabar dan mulia,
selembar baju zirah tersusun dari cincin-cincin besi.

"Wahai anak muda," kata sang Raja,
"ini adalah baju pelindung yang bagus,
untuk menahan hantaman di medan tempur dan perang.""

Luqman berkata,
"Demikian pula manfaat kesabaran,
dia pelindung dan pertahanan yang baik
menghadapi berbagai jenis sakit."

Dia SWT telah sandingkan ash-shabr dengan al-haqq:
wahai pejalan bacalah dengan tartil
akhir surat Wa'l-ashr.               [2]

Dia telah ciptakan ribuan jenis ramuan obat,
tapi tak ada yang lebih manjur bagi manusia,
kecuali kesabaran.


Catatan:
[1]
   
Disini kesabaran ditokohkan oleh Luqman, seorang bijak dalam tampilan duniawi sebagai seorang budak. Luqman disini masih muda, pergi menjumpai  Dawud, sang pemegang kebenaran (haqq) zaman itu, yang adalah seorang khalifah di Bumi yang berkedudukan nabi,  yang diberi pedang, mahkota dan kitab.

Ketika dijumpainya,  sang nabi sedang mengerjakan sebuah baju zirah dari besi, sebuah cara bersyukur khusus bagi seorang Dawud a.s, 
"Dan Kami ajarkan pula kepada Dawud cara membuat baju besi untukmu, guna melindungimu dalam peperanganmu ..." (QS [21]: 80)

Di belakang hari Luqman dikenal sebagai seorang yang kepadanya dilimpahkan hikmah, dan kemuliannya dikenang sebagai nama surat ke 31 dalam al-Qur'an Suci. 


Nasehat melalui lisan beliau dalam QS [31]: 12 - 19, sangat terkenal. Terekam antara lain disitu,  "... dan bersabarlah atas apa yang menimpamu. Sesungguhnya itu termasuk urusan yang agung."  


[2]   Al-Ashr, QS 103. 



Sumber:
Rumi: Matsnavi  III: 1842 - 1854
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.


Jumat, 09 November 2012

Dihantarkan Perumpamaan


Manfaat perumpaan itu untuk menengahi,
untuk mengantarkan pengertian.

Tanpa sesuatu yang menengahi
takkan ada yang berani masuk ke dalam api
begitu saja, kecuali seekor salamander.

Air hangat yang dipakai mandi
adalah sebuah pengantar yang menengahi
sehingga badanmu segar oleh panasnya api.

Karena kau tak bisa langsung terjun ke dalam api,
--seperti Ibrahim sang Khalilullah--
maka tempat mandi air-panas bagaikan utusan bagimu,
dan air berperan sebagai pemandumu.

Rasa puas itu dari al-Haqq,
tapi agar mereka yang masih penuh dosa
dapat mencicipi rasa puas,
diperlukan pengantar berupa makanan.

Keindahan itu dari al-Haqq,
tapi mereka yang daya inderanya hanya jasmaniah
takkan merasakan pesona keindahan
tanpa ditengahi penghantar berupa Taman Surga.

Ketika penengah jasmaniah diangkat,
maka ia yang diangkat itu memahami tanpa hijab,
bagaikan Musa, cahaya seterang rembulan
memancar dari dadanya.


Penyaksian itu bagaikan
kebajikan yang disandang air jernih,
sisi dalamnya dipenuhi Rahmat Ilahiah.



Sumber:
Rumi: Matsnavi  V: 228 - 236
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.