Jumat, 20 Desember 2013

Do'a Berwujud Penghambaan


Tanggalkan permohonan yang kering
dan hampa makna.

Tegaknya sebatang pohon,
mestilah karena bibit telah disebar.

Tapi bahkan jika tak kau miliki benih,
karena hampanya do'amu,
Tuhan akan anugerahi engkau
sebatang pohon kurma,
seraya bersabda, "Alangkah baiknya
penghambaannya!"


Lihatlah Maryam putri Imran
--kerinduannya sampai ke dasar hati,
tapi tak dimilikinya bibit:
maka Sang Maha Indah membuat
pokok kurma kering menghijau baginya.  [1]

Karena wanita mulia itu setia pada-Nya,
Tuhan berikan seratus kebaikan-Nya
tanpa suatu hasrat berdesir di hatinya.


Catatan:
[1]  Merujuk pada saat jelang lahirnya Isa ibn Maryam,
ketika dengan merendah Maryam berkata,
"... Wahai betapa baiknya jika aku mati sebelum ini
dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan
dan dilupakan."
 (QS Maryam [19]: 23)

Lalu:
"Maka dia (Jibril) berseru dari tempat yang rendah,
'jangan lah engkau bersedih hati, sesungguhnya Rabb-mu
telah jadikan anak sungai di bawahmu.

Dan goyangkan lah pangkal pokok kurma itu ke arahmu,
niscaya pohon itu akan gugurkan buah kurma masak
ke arahmu.' "   

(QS Maryam [19]: 24 - 25)


Sumber:
Rumi: Matsnavi V: 1188 - 1191
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Camille
dan Kabir Helminski.
Berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia
oleh Yahya Monastra.

Minggu, 15 Desember 2013

Lepaskan lah Beban

Lepaskan lah beban kehidupan ini,
agar dapat kukunjungi
taman kaum yang saleh.

Lalu, bagai ashabul-kahfi,
kutelusuri jalan penuh karunia
ketika tak lagi ku terjaga,
bukan pula ku tertidur.

Ku kan berbaring ke sebelah kanan,
atau ke sebelah kiri;
tak akan aku berguling bagai bola,
kecuali tak sengaja.

Seperti itu lah, wahai Al-Hakim,
Engkau membolak-balikkan aku
kadang ke kanan, kadang ke kiri.  [1]

Ratusan ribu tahun aku melayang
kesana-kemari, bak debu di udara.  [2]

Telah kulupakan keadaan saat itu,
tapi ketika jiwaku tengah lebur,
dibawa aku kembali kesana,
dan perlahan ingatanku pulih.

Setiap malam kudamba kemerdekaan
dari salib bercabang empat ini,  [3]
dan melesat dari wadah sementara yang sesak ini,
menuju padang ruhaniyah nan lapang.

Bersama sang juru-rawatku: tidur yang lebur,
kuhirup kembali susu berupa pengetahuan
masa-masaku yang telah berlalu,
yaa Rabbi.

Semua makhluk melarikan diri 
dari kehendak-bebas
dan keberadaan diri mereka sendiri
menuju sisi ketidak-sadaran.

Agar sejenak mereka dapat rehat 
dari terbatasnya kesadaran mereka,
mereka gunakan bantuan minuman dan irama. [4]

Semua makhluk berakal paham,
keberadaan ini bisa memerangkap,
dan hilir-mudiknya pikiran dan ingatan
dapat menjadi sebuah neraka.

Wahai manusia yang berakhlak baik,
lihatlah mereka bergegas
tinggalkan keakuan diri
menuju ketiadaan ego;
dengan meleburkan-diri,
atau dengan amal yang berat.


Catatan:
[1]  Dari QS al-Kahfi [18]: 18, "... dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri..."

[2]  Ini tentang periode ketika jiwa belum dimasukkan ke dalam jasmani.
[3]  Lepasnya jiwa dari penjara jasmani (yang terbentuk dari 4 unsur).
[4]  "Minuman," kesegaran pengetahuan yang baru terpahami;
"irama," ritme jalannya kehidupan yang berpola selaras pengajaran-Nya.


Sumber:
Rumi: Matsnavi VI: 216 - 227
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.


Jumat, 01 November 2013

Ketika Malam Tiba

Telah kau dapatkan di dunia ini
pakaian indah dan kekayaan,
tapi ketika kau bertolak
tinggalkan dunia ini,
bagaimana kiranya keadaanmu?

Pelajari lah suatu perniagaan
yang akan memberimu ampunan.

Di semesta dibalik semesta ini,
terdapat pula jual-beli dan perniagaan.
Keuntungannya sedemikian rupa:
dunia ini bagaikan mainan 
dibandingkan dengannya.

Bagaikan kanak-kanak yang sedang berkhayal
berjual-beli di toko kembang-gula,
dunia ini sebuah permainan.

Ketika malam tiba,
si anak pulang ke rumah:
lapar,
sendirian.

Catatan:
"Lelaki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tak pula oleh jual-beli, dari mengingat Allah, dan dari menegakkan shalat, dan dari membayar zakat. Mereka takut kepada hari dimana berbolak-balik hati dan penglihatan." (QS An Nuur [24]: 37)


Sumber:
Rumi: Matsnavi  II: 2593 - 2599
Versi terjemahan Bahasa Inggris oleh Camille dan Kabir Helminski.
Transliterasi dari Bahasa Persia oleh Yahya Monastra.

Minggu, 27 Oktober 2013

Cadar Raga

Janganlah kau bosan bersamaku,
sungguh aku seorang saksi yang indah.
Sang Maha Pencemburu telah sembunyikanku
di balik sebuah cadar.

Pada hari kutanggalkan cadar raga ini,
akan kau saksikan bagaimana cemburunya
rembulan dan bintang-bintang padaku.

Basuhlah wajahmu
dan murnikan dirimu
sehingga kau bisa saksikan aku.
Atau menjauhlah engkau dariku,
karena aku adalah saksi bagi diriku sendiri.

Aku bukanlah saksi
yang esok akan pikun atau bungkuk karena tua.
Aku kan selalu muda, menyegarkan,
dan sedap dipandang.
Jika cadar raga ini melapuk,
sang saksi takkan beranjak menua;
masa pakai cadar kan berakhir,
tapi kami selamanya hidup.

Ketika Iblis melihat cadar raga Adam,
dia menolaknya.
Adam berkata padanya,
"Engkaulah yang tertolak, bukan aku."

Sementara para malaikat bersujud
dan berkata, "Kami telah temukan seorang saksi.

Dibalik cadarnya terdapat sesosok pujaan
yang sifat-sifatnya mempesona akal kami,
maka kami bersujud padanya.

Jika kecerdasan kami tak dapat membedakan
seorang saksi dengan para dukun yang berbau busuk,
maka kita telah memberontak pada Cinta Sang Kekasih.

Apakah kedudukan seorang saksi?
Ia bagaikan singa Tuhan--
kami pakai istilah kekanak-kanakan ini
karena kami sedang berbicara dengan anak-anak,
yang baru belajar membaca.                          [1]

Anak-anak gampang dibujuk
dengan kembang-gula atau manisan;
sebenarnya, apa urusan kami bicarakan soal jajanan?

Jika dalam perang di jalan Allah,
datang seorang nenek tua yang menyamar,
memakai baju zirah yang tertutup sampai kepala,
seraya dia berkata, "Aku lah Rustam;"
maka dari gerakannya semua orang akan tahu
dia sebenarnya seorang perempuan.

Demikianlah, kami teliti dan menjauh dari kesalahan,
kami bermandikan Nur Muhammad! "

Sang Nabi yang mulia berkata,
"Kaum yang beriman itu teliti;"              [2]
kini diamlah, karena tuntunan petunjuk itu
diturunkan dalam kesunyian.

Selanjutnya, dengarkanlah Syams at-Tabriz,
karena yang telah kami kisahkan
tak lebih dari sejumput kisah dari Raja itu.


Catatan:
[1]   Tingkatan akal manusia dibandingkan dengan para penghulu malaikat.

[2]   Bandingkan dengan "Wahai kaum beriman bertakwalah pada
Allah, niscaya dijadikan bagimu furqaan ..."
(QS Al Anfaal [8]: 29).

Salah satu arti furqaan adalah petunjuk untuk memilah/ membedakan.



Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal 1705
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh William A. Chittick
dalam The Sufi Path of Love,
SUNY Press, Albany, 1983.

Selasa, 03 September 2013

Merdeka Ketika Berserah Diri

Semula ingin kuceritakan padamu
kisah hidupku, tetapi
gelombang kepedihan tenggelamkan
suaraku.

Kucoba utarakan sesuatu,
tetapi pikiranku rawan dan remuk,
laksana kaca.

Bahkan kapal paling megah bisa karam
dalam gelombang-badai Laut Cinta
apalagi biduk rapuhku,
remuk berkeping-keping:
tinggalkan ku sendiri, hanyut,
hanya berpegangan ke sepotong papan.

Kecil dan tak berdaya
timbul tenggelam dalam terpaan ombak,
sampai tak kuketahui apakah aku ada
atau tiada.

Ketika menurutku aku ada,
kudapati diriku tak berharga.

Saat ku tiada,
kudapati nilai-nilai sejati diriku.

Seturut pasang-surut akalku,
tiap hari mati aku, dan dihidupkan lagi;
karenanya tak kuragukan sedikit pun
adanya Hari Kebangkitan.

Ketika telah lelah,
ku berburu cinta di alam dunia ini,
akhirnya di Lembah Cinta ku berserah-diri:
dan aku merdeka.



Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz,  ghazal 1419.
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh
Azima Melita Kolin dan Maryam Mafi,
dalam Rumi: Hidden Music,
HarperCollins Publishers Ltd, 2001.

Minggu, 01 September 2013

Apa yang Kan Terjadi?

Jika bercerai engkau,
dengan keruwetan pikiranmu,
walau hanya satu jam saja;
menurutmu, apa yang kan terjadi?

Jika kau biarkan dirimu tenggelam,
bagaikan seekor ikan
kedalam lautan cinta Kami;
menurutmu, apa yang kan terjadi?

Engkau hanyalah
sepotong jerami;
dan Kami
Nyala Abadi.

Jika  melompat 
engkau keluar,
dari gubugmu yang hina
untuk bersatu dengan nyala;

menurutmu, apa yang kan terjadi?

Telah ratusan kali
kau nyatakan janji
untuk berhenti membesar-besarkan diri,
untuk merendah bagaikan Bumi.

Jika sekali saja,
engkau patuhi janjimu sendiri;

menurutmu, apa yang kan terjadi?

Engkau bagaikan permata berharga,
terkubur, tersembunyi
di dalam kubangan lumpur.

Jika engkau basuh
semua ketidak-murnian dari wajahmu,
yang sejatinya sangat elok;
menurutmu, apa yang kan terjadi?

Jika sebentar saja
engkau tinggalkan
keakuan dan kerakusanmu,
kau pecahkan tamengmu sendiri,
bangkit dalam sebuah pencarian
untuk menyatu dengan yang Ilahiah;

menurutmu, apa yang kan terjadi?


Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal 844
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nader Khalili,
dalam Rumi: Fountain of Fire,
Cal-Earth Press, 1994.

Minggu, 11 Agustus 2013

Harapan telah Menyingsing

Wahai jiwaku, jangan berputus-asa,
harapan mulai mengejawantah;
apa yang dinanti setiap jiwa
telah menyingsing dari semesta gaib.

Jangan berputus-asa,
walau Siti Maryam telah meninggalkanmu,
tapi cahaya yang mengangkat Isa ke langit
telah muncul.

Jangan berputus-asa, wahai jiwaku,
dalam kegelapan penjaramu ini,
sang Raja yang membebaskan Jusuf-mu
telah tiba.

Ya'qub telah muncul dari balik hijab kebuntuan,
Yusuf yang kan menyibak hijab Zulaikha
telah tampil.

Wahai engkau,
yang sejak malam hingga fajar
memohonkan, "Yaa Rabb,"
Yang Maha Rahman mendengar rintihanmu,
dan telah datang.

Wahai sakit yang telah menua: sembuh lah,
obatmu telah sampai;
wahai gerbang kukuh: terbuka lah,
karena kuncimu telah ditemukan.

Wahai diri yang berpuasa, menahan-diri
dari hidangan di Meja Terhormat,
berbuka lah dengan gembira,
karena hari raya pertama telah dimulai.

Kini, hening lah, hening lah:
karena kebajikan dari perintah "kun," 
telah membuat hening ketakjuban
mengatasi semua pembicaraan.


Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal 631.
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A. J. Arberry

Sabtu, 10 Agustus 2013

Saksi Terkasih

Muhammad (saw) itu pemberi syafa'at
atas segala jenis aib,
karena tatapannya tak pernah teralihkan 
pada hal lain: senantiasa tertuju
pada wajah Rabb.

Di tengah kegelapan malam alam dunia ini,

dimana matahari al-Haqq terhijab,
dia menatap Rabb,
dan meletakkan harapannya kepada-Nya.

Pandangannya senantiasa disegarkan oleh makna

sejati "bukankah telah Kami lapangkan dadamu?"  [1]
dilihatnya hal-hal yang tak mampu Jibril tatap.

Sang yatim, yang kepadanya Rabb limpahkan

kesegaran pandangan,
menjadi mutiara yatim 
tunggal,
yang dianugerahi panduan Ilahiah.


Cemerlang cahayanya mengatasi mutiara lain,

karena yang dikehendakinya adalah
kehendak yang paling mulia.

Seluruh kedudukan ruhaniah para abdi Allah

jelas belaka bagi sang Nabi,
karenanya Rabb menggelarinya: sang Saksi.   [2]

Senjata sang Saksi adalah lisan yang tulus

dan pandangan yang tajam--
yang dari penjagaan malamnya--
tak ada rahasia yang dapat menghindar.

Walau pun ribuan saksi palsu 

mengangkat kepala mereka,
sang Hakim mengarahkan telinganya
kepada sang Saksi.

Ini lah yang dilakukan hakim

ketika menegakkan keadilan:
baginya saksi yang benar itu 
bagaikan sepasang mata yang jernih.

Pernyataan sang Saksi selaras

dengan penglihatannya yang jernih,
karena dia telah melihat rahasia kebenaran,
dengan mata yang tak tercemari
oleh kepentingan pribadi.

Saksi palsu telah melihatnya pula,

tapi tercemari kepentingan pribadi;
ini lah yang menjadi hijab,
yang menutupi mata-hati.

Adalah menjadi kehendak-Nya

agar engkau menjadi seorang asketik, zahid,
agar kau tanggalkan kepentingan pribadi
dan menjadi seorang Saksi, Syahid.

Aneka macam alasan dibalik kepentingan pribadi

menghijab mata, menghalangi penglihatan.

Orang yang penuh kepentingan pribadi

takkan dapat melihat keseluruhann sosok
persoalan: cinta pada ciptaan 
membuat buta dan tuli.

Ketika Matahari Ilahiah menyematkan cahaya

di qalb sang Saksi, maka surut peran 
bintang-bintang baginya.

Sejak itu dia menatap rahasia-rahasia tanpa hijab

dilihatnya perjalanan jiwa kaum beriman
dan kaum kufur.

Tidak lah Tuhan mencipta,

di Bumi atau di Langit yang tinggi,
sesuatu yang lebih gaib
daripada ruh insan.

Telah Dia singkapkan rahasia segala sesuatu,

baik yang basah maupun yang kering,
namun Dia menutup rahasia ruh,
"katakanlah, ia termasuk urusan Tuhan-ku."     [1]

Karena penglihatan saksi yang mulia

melihat ruh itu, maka sia-sia lah 
tetap bersembunyi darinya.

Tuhan disebut Yang Maha Adil,

dan saksi itu milik-Nya: saksi yang adil
adalah mata Sang Kekasih.

Sasaran pandangan mata Tuhan 

di kedua dunia adalah kesucian hati:
tatapan Sang Raja tertuju
pada orang yang terkasih.

Rahasia cinta-kasih-Nya,

yang bermain-main dengan kekasih-Nya
adalah sumber dari seluruh tabir
yang telah Dia ciptakan.

Oleh karena itu Rabb Maha Pengasih

berfirman pada sang Nabi di malam mi'raj,
"Jika bukan karena engkau,
niscaya takkan Kuciptakan alam."



Catatan:
[1]  "Alam nasyhrah laka shadraka"
QS al-Insyirah [94]: 1

[2]  "... agar Rasul menjadi saksi atas dirimu,
dan agar kamu semua menjadi saksi atas
segenap manusia..." 

QS al-Hajj [22]: 78

[3]  "... qulir-rruuhu min amri rabbii ..."
QS al-Isra [17]: 85



Sumber:
Rumi: Matsnavi  VI: 2861 - 2884
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Kamis, 01 Agustus 2013

Hening lah di tengah Perdebatan


Kiprah ke tujuh-puluh dua golongan
akan tetap ada di alam dunia ini
sampai Hari Kebangkitan


Dunia ini alam yang berisikan
kegelapan dan pemberhalaan:
Bumi ini tempatnya bayang-bayang.


Ke tujuh-puluh dua golongan itu
akan tetap ada sampai Hari Kebangkitan:
bantahan dan alasan orang bid'ah
akan tetap keras.


Banyaknya kunci atas harta-simpanan
menunjukkan ketinggian nilainya.


Jalan yang berliku-liku,
lintasan curam pendakian gunung,
tebing-jurang di kanan-kiri,
banyaknya penyamun menghadang,
semuanya petunjuk agungnya
tujuan sang pencari.


Kebesaran Ka'bah dan tempat thawaf,
ditunjukkan oleh hadangan penyamun,
dan luasnya gurun yang harus dilintasi
ketika pergi berhaji.


Setiap ajaran palsu itu bagaikan
lintasan jalan di gunung:
curam, bertebing, berpenyamun.


Semua ajaran berhadapan,
dan menjadi lawan yang keras,
dari ajaran lainnya:
setiap pengikut masing-masing ajaran
menjadi bingung.


Karena dilihatnya semua lawan bersikukuh
pada doktrin masing-masing: setiap golongan
berbangga-diri akan kelompoknya.


Jika sudah tak punya jawaban lagi,
para pengikut akan berpegangan erat,
sampai Hari Kebangkitan,
kepada rumusan baku ini:
"para pemuka, leluhur golongan kami
tahu jawaban terhadap pertanyaanmu itu,
hanya itu masih belum kami pahami."


Hanya Cinta yang dapat menyelamatkanmu
dari keraguan;
tiada hal lain yang dapat menghentikanmu
dari godaan perberbantahan.


Jadilah seorang pencinta,
ringankan lah langkah pencarianmu,
bagai pemburu aliran air,
menjelajah dari sungai ke sungai.


Takkan pernah kau dapatkan
air pembasuh jiwamu,
dari pihak yang mengeringkannya darimu.


Takkan kau pahami kebenaran
dari pihak yang menyedot
pemahaman kebenaranmu.


Dalam Cinta yang agung dan berlimpah,
akan kau jumpai jenis-jenis kecerdasan,
yang berbeda dengan kecerdasan biasa.


Allah lah Pemilik berbagai kecerdasan,
yang berbeda dengan jenis kecerdasanmu;
kecerdasan yang mengatur
makhluk-makhluk di langit.


Kecerdasanmu itu hanya suatu jenis,
gunanya hanya untuk mencari penghidupan
di Bumi; 
(tak kau ketahui) terdapat jenis-jenis
kecerdasan lain,

suatu Akal Sejati,
yang membuat susunan Lelangit
bagaikan bentangan karpet di bawah kakimu.


Ketika engkau mengorbankan akalmu,
dalam cinta kepada Rabb,
Dia menggantinya sepuluh kali lipat,
atau tujuh-ratus kali.


Ketika para perempuan ningrat Mesir saat itu,
mengorbankan akal mereka,
bergegas mereka ke harapan akan cinta Yusuf.

Cinta: juru-minuman kehidupan,
menghabisi akal mereka dalam sekali teguk;
lalu sepanjang hidup, mereka minum
bagian hikmah masing-masing

Keindahan Yang Maha Agung adalah sumber
dari seratus Yusuf,
wahai pejalan fakir abdikan hidupmu
pada keindahan itu.

Wahai jiwa,
hanya Cinta yang dapat mengakhiri sengketa,
hanya Cinta saja yang datang menghampirimu
ketika engkau menjerit minta tolong
agar diselamatkan dari tengah perdebatan.

Kefasihan membisu di hadapan Cinta:
takkan ia berani bertengkar.

Karena sang pencinta takut,
jika ia membantah,
maka mutiara mistiknya
akan terjatuh melalui mulutnya.

Ditutupnya mulutnya rapat-rapat
jangan sampai terpancing membantah,
dijaganya mutiara berharga itu
jangan sampai jatuh dan lalu hilang.

Ini seperti cerita para sahabat,
"Ketika sang Nabi membacakan ayat dari al-Qur'an,
maka dalam saat penuh rahmat itu,
Rasulullah  meminta kami memperhatikan
dengan penuh takzim."

 Itu seolah-olah ada seekor burung langka
hinggap di atas kepalamu, dan engkau gemetaran
--takut mengagetkannya.

Engkau tak berani bergerak, 
takut burung indah itu terbang.

Kau tahan nafasmu, kau tahan batukmu,
supaya burung itu tak pergi.

Apabila ada yang mengajakmu bicara,
kau letakkan jari di depan bibirmu,
artinya: "Hush, diam!"

Seperti itu lah ketakjuban:
ia membuatmu diam,
ia meletakkan tutup di atas cerek,
dan mengisimu dengan cinta yang menggelegak.



Sumber:
Rumi: Matsnavi  V: 3119 - 3250
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Rabu, 31 Juli 2013

Kegaduhan Sebelum Waktu Sahur


Seorang lelaki memukul-mukulkan tongkat
ke gerbang pagar, di depan sebuah rumah-gedung besar,
sambil berseru, "sahur, sahur..."

Sedang dia asyik menabuh besi pagar,
seorang tetangga berkata kepadanya:
"Wahai peminta-minta,
sekarang belum masuk waktu sahur,
jadi jangan gaduh;

Lagi pula, wahai fakir, perhatikan lah,
tiada orang menghuni rumah itu,
isinya cuma setan dan hantu,
percuma saja kegaduhanmu.

Tak ada disitu telinga,
yang dapat mendengar tabuhanmu;
tak ada disitu akal,
yang dapat mengerti tujuanmu."

Lelaki pembuat kegaduhan itu menjawab,
"Kudengar perkataanmu,
kini perkenankan kujawab,
agar engkau tak heran atau bingung.

Walaupun menurutmu kini masih tengah-malam,
tapi kulihat fajar segera merekah.

Kulihat segala kekalahan segera berubah
menjadi kemenangan,
di mataku, semua malam segera kan berubah
menjadi siang.

Bagimu air Sungai Nil memerah,
bagiku itu bukan darah, tapi air segar.

Menurutmu, pagar besi ini keras;
tapi di tangan Dawud, ia lunak dan mudah dibentuk. [1]

Menurutmu, gunung itu kokoh dan mati,
tapi bagi Dawud, ia pandai bernyanyi.            [2]

Menurutmu, butiran kerikil itu bisu,
tapi bagi Mustapha ia fasih ber-tahlil.            [3]

Menurutmu batang kurma itu mati,
tapi bagi Mustapha ia bagai seorang kekasih
yang patah hati.   [4]

Bagi mereka yang jahil,
benda-benda di seantero semesta ini tampak mati,
tapi di hadapan Sang Pencipta, mereka berilmu,
dan tunduk pada kehendak-Nya.

Sedangkan mengenai ucapanmu,
"mengapa aku ribut memukul pagar,
sedangkan gedung ini kosong,
dengarkanlah penjelasanku:

Mengapakah kaum Muslim menginfakkan
hartanya bagi Rabb mereka, untuk mendirikan
masjid dan lembaga pengajaran?

Dan bagai pencinta yang mabuk,
bersuka hati mempertaruhkan jiwa dan harta
menempuh perjalanan haji?


Apakah pernah mereka mengatakan,
Baytullah itu kosong?
Tidak! Mereka tahu,
Rabb pemilik bayt itu Ghayb.

Apakah mereka yang pergi berhaji itu
pernah berkata: kami terus melantunkan 'Labbayka,'
tapi mengapa tak pernah memperoleh jawaban?

Tidak, Rahmat Ilahiah yang menyebabkan mereka
melantunkan 'Labbayka'  itu,
sebenarnya adalah jawaban yang setiap saat datang
dari yang Maha Tunggal.

Dalam bashirah-ku gedung ini adalah sebuah tempat
perjamuan bagi jiwa, dan debunya adalah sebuah ramuan.

Akan terus kupukulkan tongkatku
untuk mengaduk ramuan itu;               [5]
Sehingga dengan caraku membangungkan sahur ini,
Lautan Rahmat Ilahiah akan pasang-naik
dan melontarkan mutiara,
serta menyingkapkan khazanah-nya.

Lelaki sejati mempertaruhkan jiwa mereka
di medan perang dan bertempur demi Sang Pencipta.

Seperti yang dicontohkan Ayyub dengan cobaannya,
atau seperti Ya'qub dengan kesabarannya.

Ribuan orang, di tengah lapar-haus dan
kesedihan mereka, sekuat-tenaga berupaya beramal
demi keridhaan Rabb.

Aku juga demikian, demi Rahmat Ilahiah
dan harap akan ridha-Nya, memukul-mukul gerbang
membangunkan orang bersahur."

Wahai yang masih memiliki hati,
jika engkau berniaga dan berharap pembelimu
membayar dengan emas,
maka tak ada pembeli yang lebih baik daripada Rabb.

Dia menerima barang daganganmu yang kumuh,
dan memberimu suatu cahaya batiniah
yang cemerlangnya berasal dari Cahaya-Nya.

Dia menerima amal tak seberapa dari raga rapuh ini,
dan memberimu sebuah kerajaan
yang khayalanmu tak mampu bayangkan.

Dia menerima beberapa butir air-matamu,
dan melimpahkan Telaga Kautsar,
yang sedemikian lezat,
sehingga gula cemburu pada kemanisannya.

Dia menerima desah kesedihan
serta asap kerisauanmu,
dan mengganti setiap desah
dengan seratus kebanggaan.

Karena desah kesedihan
yang meniup awan air-mata,
Dia telah menyebut al-Khalil, sang pendesah.  [6]

Segera lepaskan barang palsumu yang lusuh
di pasar riuh-rendah tak-terbandingkan ini,
dan terima lah suatu kerajaan asli sebagai pembayaran.

Jika engkau masih juga ragu atau curiga,
berpeganglah kepada mereka yang ahli
perniagaan ruhaniyah: para nabi.

Sang Raja Sejati tak henti-hentinya meningkatkan
peruntungan mereka, tak ada satu pun gunung
sanggup memikul barang dagangan mereka.
 

Catatan:
[1]  QS [21]: 80.

[2]  QS [38]: 18

[3]  Merujuk ke Matsnavi jilid I, bagian yang menceritakan
bagaimana butiran kerikil di dalam genggaman tangan Abu Jahal
--yang  dimaksudkannya untuk menguji Rasulullah, saw--
malahan melantunkan tahlil.

[4]  Merujuk ke Matsnavi jilid I, bagian yang menceritakan
bagaimana sebatang pohon kurma, yang biasa dipakai bersandar
Rasulullah, saw, ketika mengajar, merintih--ketika diketahuinya
para sahabat membuatkan mimbar untuk menggantikannya.

[5]  Akan sekuat tenaga beramal dengan memanfaatkan raga
agar meraih keberhasilan di jalan pertaubatan.

[6]  "... inna ibrahima la-awwahuun..." (QS [9]: 114).


Sumber:
Rumi: Matsnavi VI: 846 - 887
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Senin, 29 Juli 2013

Sang Pemilik Kasih Tersembunyi


Sungguh hikmah yang mencengangkan:
Dia, Sang Kekasih dambaan hati,
telah membuatku tinggalkan kampung-halaman,
bergegas aku berjalan,
tapi malah kehilangan arah,
sehingga semakin menjauh dari tujuan;
lalu, Rabb dalam kasih-sayang-Nya,
membuat tersesatnya aku itu,
sebuah sarana untuk menapaki jalan yang benar
dan menemukan khazanah sangat bernilai.

Dia membuat kehilangan arah
sebuah jalan untuk mencapai keyakinan sejati.

Dia membuat tersasarnya seseorang
sebuah ladang perjuangan,
agar panen kebajikan dapat dituai;
sehingga tak ada hambanya yang shaleh,
merasa gentar;
sehingga tak ada yang sedang mendzhalimi
dirinya sendiri, kehilangan harapan.

Sang Maha Kasih telah anugerahkan penawar racun,
sehingga mereka yang paham menyebutnya:
Rabb  sang pemilik Kasih Tersembunyi.




Sumber:
Rumi: Matsnavi  VI: 4339 - 4344
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Juga terdapat pada terjemahan versi
Camille dan Kabir Helminski
dalam Rumi: Jewels of Rememberance,
Threshold Books, 1996,
berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia
oleh Yahya Monastra.



  

Minggu, 28 Juli 2013

Tingkatkan Pencarianmu

Jika terus kau jaga harapanmu,
yang merindu pada Langit,
walau sampai gemetaran engkau
bagai daun diterpa angin,
maka air dan api ruhaniyah akan muncul,
dan meningkatkan kesejatianmu.

Tak diragukan lagi,
rindumu itu yang kan membawamu sampai ke sana.

Jangan hiraukan kelemahanmu,
yang harus kau jaga itu kedalaman rindumu.

Sesungguhnya pencarian ini
adalah janji Tuhan dalam dirimu,
karena setiap pencari layak dapatkan
apa yang dicarinya.

Tingkatkan pencarianmu,
sampai qalb-mu merdeka dari penjara
--yaitu ragamu sendiri.

Biarkan saja orang awam mengatakan,
"sungguh malang nasibnya, dia telah mati,"
mereka tak mendengar jawabanmu,
"sesungguhnya aku hidup, wahai orang lalai,

Walaupun, seperti raga yang lain,
tubuhku telah dikuburkan,
ke delapan surga memekar dalam qalb-ku."


Ketika jiwa bercengkerama di taman
penuh berbagai bunga indah,
tak perlu dirisaukan raga yang berkalang tanah.

Bagi jiwa yang telah tersucikan,
sama sekali tidak menjadi soal jika raganya
dimakamkan di kuburan indah atau seadanya.

Malah sebenarnya, dari alam jiwa nan penuh-warna,
dia berseru, "... seandainya saja kaumku mengetahui."   [1]

Jika jiwa tak memiliki suatu kehidupan yang berbeda
dari raga, lalu untuk siapakah Langit disiapkan
sebagai istana bagi kehidupan abadi?

Jika jiwa tak memiliki suatu kehidupan yang berbeda
dari raga, kepada siapakah ditujukan janji,
"Dan di  Langit terdapat rezekimu."             [2] 

Catatan:
[1]  QS YaSin [36]: 26.

[2]  QS Adz-Dzariyat [51]: 22.


Sumber:
Rumi: Matsnavi  V: 1731 - 1742
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Juga terdapat pada terjemahan versi
Camille dan Kabir Helminski
dalam Rumi: Jewel of Rememberance
Threshold Books, 1996
yang bersumber terjemahan dari Bahasa Persia
oleh Yahya Monastra.

Obat bagi Sang Pencinta

Obat bagi segala kegalauan intelektual
hanya lah sekilas Wajah Sang Kekasih,
semua wajah yang mempesonamu
tak lain adalah hijab-Nya.

Wahai pengabdi Sang Kekasih,
hadapkan lah wajah pada wajahmu sendiri:
ketahuilah pencari yang bingung,
tak ada engkau berkerabat
selain dengan dirimu sendiri.

Sang pencari sejati menghadap kiblat
pada masjid di dalam qalb-nya sendiri:
tak ada sesuatu pun bagi insan
kecuali apa-apa yang teruntuk baginya.

Sebelum didengarnya jawaban atas do'anya,
telah bertahun dia berdo'a.

Dia biasa berdo'a dengan khusyu,
tanpa didapatinya suatu hasil;
tapi secara rahasia, dari sisi Rahmat-Nya
yang penuh kasih, didengarnya jawaban:
Labbayka, Aku disini.

Sejak itu hidupnya bagaikan sebuah tarian
selaras iringin musik tak terdengar:
dia fakir yang menggantungkan diri
pada pencukupan dari Sang Pencipta nan Agung.

Walau tak terdengar didekatnya suara dari langit
atau hadir sesosok pun utusan Ilahiah,
tapi telinga dari harapannya dipenuhi dengan,
Labbayka, Aku disini.

Harapannya selalu berseru--tanpa lisan:
Datang lah;
dan seruan itu membasuh bersih
semua keletihan dari dalam qalb-nya.


Sumber:
Rumi: Matsnavi  VI: 1982 - 1989
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson
dibandingkan dengan terjemahan versi
Camille dan Kabir Helminski
dalam Rumi: Jewels of Rememberance,
Threshold Books, 1996
berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia
oleh Yahya Monastra.

Jumat, 05 Juli 2013

Wafatnya Seorang Suci

Jiwamu kan terbang,
melesat tinggalkan penjara sempit,
menembus langit demi langit,
kau masuki suatu kehidupan baru,
tinggalkan hidup yang ini;
takkan pernah lagi kau merasa bosan.

Jika sebelumnya kau kenakan raga
yang bagaikan seragam seorang hamba-sahaya,
kini kau tampil sangat bergaya.

Bagimu kematian adalah kehidupan;
--yang jika dibandingkan dengannya--
kehidupan ini bagaikan kematian;
mereka yang terhijab takkan paham.

Semua jiwa yang tinggalkan raga,
tetaplah hidup,
namun tersembunyi;
jiwa yang tersucikan itu indah,
bagaikan malaikat.

Ketika raga menua dan ambruk,
janganlah engkau meratap.

Sadarilah, selama ini engkau terpenjara:
ketika kau temukan jalan untuk lolos,
dari sel di dasar sumur,
engkau tegak, gagah dan ningrat,
bagaikan seorang Jusuf.


Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz,  ghazal 3172
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Franklin D. Lewis,
dalam Rumi, Past and Present, East and West,
Oneworld Publications, Oxford, 2000.

Siapakah yang Tuli?

Yang berpanjang angan itu
seperti orang tuli:
sering didengarnya tentang kematian,
tapi itu tak membuatnya sadar
tentang kematiannya sendiri,
atau bersiap menghadapi ajalnya.

Tamak membuat orang buta:
kelemahan orang lain dicermati dengan teliti,
lalu disiarkan kemana-mana;
seraya sedikit pun tak menyadari
kelemahan dirinya sendiri.

Alangkah anehnya,
jika ada orang telanjang
tapi takut bajunya robek.

Pencinta dunia itu orang rudin dan ketakutan,
sejatinya tak sesuatu pun dimilikinya,
tapi dia takut hartanya disasar pencuri.

Orang lahir dengan polos
dan pergi dengan telanjang;
diantara dua kejadian itu,
kehidupan dunia dilaluinya dengan cemas,
takut hartanya hilang.

Saat saat ajal tiba,
ketika ratusan orang meratap,
jiwanya sendiri mentertawakan ketakutannya.

Ketika itu, pecinta dunia baru sadar:
tak sedikit pun dia miliki emas-permata;
demikian pula, seorang yang cerdik sekali pun,
tahu dia tak bisa menyiasati.

Amatilah anak kecil yang bermain uang-uangan
dari pecahan tembikar:
ketika pangkuannya penuh,
gemetaran dia karena girang-hati
seakan itu uang yang asli.

Jika kau ambil sepotong, dia merengek,
jika kau kembalikan, segera dia tertawa.

Anak kecil belum memiliki pengetahuan,
karenanya, rengekan atau derai tawanya
hampa makna.

Seperti itu lah pencinta dunia,
yang menyangka apa-apa yang dipinjamkan
sebagai miliknya sendiri:
dia gemetar, cemas, meratapi kekayaan palsu.

Dia bermimpi:
cemas, gemetaran.
disangkanya harta duniawi pinjaman
sebagai miliknya sendiri.

Ketika sang Maut menyentak keluar jiwanya,
membangunkannya dari tidur panjang,
didapatinya ketakutannya selama ini
sedikit pun tak berarti.

Gemetaran pula seorang yang terpelajar,

yang kuasai aneka ilmu dan paham banyak hal
tentang dunia ini.

Tentang kaum cendekiawan yang mapan

dalam ilmu-ilmu tentang dunia ini,
al-Qur'an menyatakan, "mereka tidak memahami."

Mereka selalu takut orang lain menyita waktunya;

mereka anggap telah menguasai ilmu yang banyak.

Sering mereka berkata,

"orang-orang itu menyita waktuku;"
padahal sejatinya, berlalunya waktu tak membawa
manfaat kebaikan bagi diri mereka sendiri.

Atau mereka katakan,

"orang banyak telah mengalihkanku dari pekerjaanku
yang sangat penting;"
(seraya tak disadarinya) jiwanya sendiri kaku,
tak mampu bergerak.

(Mereka bagaikan) orang yang telanjang

sambil ketakutan dan berkata, "aku memakai jubah
yang panjang, aku harus menghindari mereka
yang tak hentinya menarik-narik jubahku."

Mereka hafal rincian ratusan-ribu data,

yang terkait dengan aneka pengetahuan dunia;
tapi sejatinya bodoh,
karena tak mereka kenali jiwa mereka sendiri.

Mereka pahami kekhususan aneka macam dzat,

tapi mengenai hakekat  diri mereka sendiri,
mereka sama dungunya dengan seekor keledai.

Mereka nyatakan,

"aku tahu apa yang dibolehkan dan apa yang dilarang;"
tapi pengetahuannya tentang apa yang boleh,
dan apa yang dilarang bagi diri mereka sendiri,
hanya berdasarkan prasangka atau kebodohan semata.

Wahai yang merasa mengetahui

tentang mana yang halal dan mana yang haram;
sudahkah kau pertimbangkan baik-baik
mengenai dirimu sendiri--apakah termasuk yang halal,
ataukah yang haram?

Bukankah suatu kebodohan,

jika kau ketahui harga bermacam barang dagangan,
sementara nilai dirimu sendiri tak kau ketahui?

Engkau pahami pengetahuan tentang bintang-bintang:

mana yang membawa kabar keberuntungan,
dan mana pembawa kabar buruk;
tapi kau tak pernah berupaya menelisik,
sebenarnya engkau itu termasuk yang beruntung,
atau sebaliknya?
Jiwamu belum tersucikan
dan karenanya kau sering bernasib buruk.

Kusampaikan disini inti tujuan ilmu sejati:

agar kau ketahui siapa sesungguhnya dirimu
pada Hari Perhitungan.

Kau telah akrabi asal-usul ad-Diin,

kini saatnya kau tengok dan cermati jiwamu
yang berada di dalam dirimu sendiri--
apakah telah indah?

Wahai insan,  jiwa yang telah tersucikan

adalah modal dasar yang menjadi landasan,
dalam mengamalkan ke dua warisan Rasulullah;
sampai kau di-Rahmati dengan pengenalan
akan hakekat dirimu sendiri.


Sumber:
Rumi: Matsnavi  III: 2628 - 2635.
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.