Sabtu, 10 Agustus 2013

Saksi Terkasih

Muhammad (saw) itu pemberi syafa'at
atas segala jenis aib,
karena tatapannya tak pernah teralihkan 
pada hal lain: senantiasa tertuju
pada wajah Rabb.

Di tengah kegelapan malam alam dunia ini,

dimana matahari al-Haqq terhijab,
dia menatap Rabb,
dan meletakkan harapannya kepada-Nya.

Pandangannya senantiasa disegarkan oleh makna

sejati "bukankah telah Kami lapangkan dadamu?"  [1]
dilihatnya hal-hal yang tak mampu Jibril tatap.

Sang yatim, yang kepadanya Rabb limpahkan

kesegaran pandangan,
menjadi mutiara yatim 
tunggal,
yang dianugerahi panduan Ilahiah.


Cemerlang cahayanya mengatasi mutiara lain,

karena yang dikehendakinya adalah
kehendak yang paling mulia.

Seluruh kedudukan ruhaniah para abdi Allah

jelas belaka bagi sang Nabi,
karenanya Rabb menggelarinya: sang Saksi.   [2]

Senjata sang Saksi adalah lisan yang tulus

dan pandangan yang tajam--
yang dari penjagaan malamnya--
tak ada rahasia yang dapat menghindar.

Walau pun ribuan saksi palsu 

mengangkat kepala mereka,
sang Hakim mengarahkan telinganya
kepada sang Saksi.

Ini lah yang dilakukan hakim

ketika menegakkan keadilan:
baginya saksi yang benar itu 
bagaikan sepasang mata yang jernih.

Pernyataan sang Saksi selaras

dengan penglihatannya yang jernih,
karena dia telah melihat rahasia kebenaran,
dengan mata yang tak tercemari
oleh kepentingan pribadi.

Saksi palsu telah melihatnya pula,

tapi tercemari kepentingan pribadi;
ini lah yang menjadi hijab,
yang menutupi mata-hati.

Adalah menjadi kehendak-Nya

agar engkau menjadi seorang asketik, zahid,
agar kau tanggalkan kepentingan pribadi
dan menjadi seorang Saksi, Syahid.

Aneka macam alasan dibalik kepentingan pribadi

menghijab mata, menghalangi penglihatan.

Orang yang penuh kepentingan pribadi

takkan dapat melihat keseluruhann sosok
persoalan: cinta pada ciptaan 
membuat buta dan tuli.

Ketika Matahari Ilahiah menyematkan cahaya

di qalb sang Saksi, maka surut peran 
bintang-bintang baginya.

Sejak itu dia menatap rahasia-rahasia tanpa hijab

dilihatnya perjalanan jiwa kaum beriman
dan kaum kufur.

Tidak lah Tuhan mencipta,

di Bumi atau di Langit yang tinggi,
sesuatu yang lebih gaib
daripada ruh insan.

Telah Dia singkapkan rahasia segala sesuatu,

baik yang basah maupun yang kering,
namun Dia menutup rahasia ruh,
"katakanlah, ia termasuk urusan Tuhan-ku."     [1]

Karena penglihatan saksi yang mulia

melihat ruh itu, maka sia-sia lah 
tetap bersembunyi darinya.

Tuhan disebut Yang Maha Adil,

dan saksi itu milik-Nya: saksi yang adil
adalah mata Sang Kekasih.

Sasaran pandangan mata Tuhan 

di kedua dunia adalah kesucian hati:
tatapan Sang Raja tertuju
pada orang yang terkasih.

Rahasia cinta-kasih-Nya,

yang bermain-main dengan kekasih-Nya
adalah sumber dari seluruh tabir
yang telah Dia ciptakan.

Oleh karena itu Rabb Maha Pengasih

berfirman pada sang Nabi di malam mi'raj,
"Jika bukan karena engkau,
niscaya takkan Kuciptakan alam."



Catatan:
[1]  "Alam nasyhrah laka shadraka"
QS al-Insyirah [94]: 1

[2]  "... agar Rasul menjadi saksi atas dirimu,
dan agar kamu semua menjadi saksi atas
segenap manusia..." 

QS al-Hajj [22]: 78

[3]  "... qulir-rruuhu min amri rabbii ..."
QS al-Isra [17]: 85



Sumber:
Rumi: Matsnavi  VI: 2861 - 2884
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Tidak ada komentar: