Selasa, 27 Januari 2015

Siapa kah Dia?

Siapakah Dia?
Yang memenuhi dada dengan kesedihan;
lalu ketika engkau mengeluh-mengaduh pada-Nya,
diubahnya kepahitanmu menjadi manis.

Awalnya Dia tampil layaknya pengawas nan teliti;

sampai akhirnya kau kan dapati Dia bagaikan
sebuah Gudang Mutiara.                                 [1]

Kekasih yang Maha Lembut:

Engkau lah yang dalam sekejap
mengubah keburukan menjadi kebaikan.    [2]

Walau awalnya jiwa si hamba serendah setan,

digubah-Nya jadi secantik bidadari.              [3]

Sebuah pemakaman dibuat-Nya

menjadi seindah pesta perkawinan.                [4]

Dan Dia lah yang membuat orang

yang mengetahui dan menguasai dunia
terbutakan dari saat dia segumpal janin
dalam rahim ibunya.                                           [5]

Dia yang mengubah kegelapan menjadi cahaya,

yang mengubah duri menjadi kelopak mawar;
Dia mencabut duri dari telapak tanganmu
dan menyediakan untukmu sebuah
pembaringan yang tersusun dari mawar.

Bagi Ibrahim, khalil-Nya, api dinyalakan-Nya,

dan diubah-Nya tanur Namrud menjadi
sesejuk bunga-bunga merekah.                       [6]

Dia limpahkan cahaya pada bintang-bintang,

dan ditolongnya mereka yang tak berdaya.
Dia mengganjar hamba-Nya,
bahkan memuji mereka.

Dia lah yang membuat dosa para pendosa

berserakan bagai dedaunan dilanda angin
bulan Desember;
ke telinga mereka yang menghujat-Nya
dilantunkan-Nya ayat bahwa Dia pengampun
bagi mereka yang bertaubat.

Dia berkata, "Wahai kaum yang beriman
maafkan lah orang yang tergelincir';                
[7]

ketika sang hamba menegakkan shalat,
Dia lah yang diam-diam mengaminkan.          

Adalah "Aamiin" dari-Nya yang membuat

sang hamba merasakan kebahagiaan
dalam shalatnya;
bagaikan buah tin, sisi lahiriah maupun batiniah
sang hamba menjadi manis dan menyenangkan.  [8]

Rasa bahagia yang teramat mendalam ini

yang menguatkan tangan dan kaki sang hamba,
ketika dia dilintaskan melewati kesenangan
dan kemalangan;
karena rasa bahagia itu memberi kekuatan
setara kedigdayaan seorang Rustam
kepada tubuh seorang hamba yang rapuh.

Dalam rasa bahagia Ilahiah,
sang hamba bagaikan seorang Rustam;              [9]
tanpa kehadirannya, bahkan seorang Rustam
terpuruk dalam liputan kepedihan;
dengan rasa bahagia ini lah jiwa diangkat
dan dikuatkan oleh Sang Wazir.                            [10]

Kukirimkan warta ini dengan sepenuh hatiku:
ia telah paham cara menempuh jalan dengan cepat--
membawa penjelasan tentang Syams ad-Diin
ke Tabriz-nya keimanan.                                       [11]


Catatan:
[1]  Terkait dengan pengertian tentang "Khazanah Tersembunyi,"
yang telah dibahas pada puisi-puisi yang lain.

[2]  "kecuali mereka yang bertaubat, beriman dan beramal
amal yang shalih, maka sayyiah mereka diganti Allah
dengan hasanah..."

(QS Al Furqaan [25]: 70)

[3]  Ketika tenggelam dalam kejahilan jiwa seseorang dapat
merosot serendah setan; dan sebaliknya ketika sungguh bertaubat
dia dapat kembali meraih keindahan jiwanya.

[4]  Suasana ketika seorang suci dimakamkan.
Ada beberapa terjemahan di blog ini dimana Mawlana Rumi
mengisyaratkan soal tersebut.

[5]  Hakikat insan adalah jiwanya.
Salah satu momen yang menakjubkan adalah saat
jiwa itu yang didatangkan-Nya ketika janin (atau calon jasadnya)
berusia 120 hari dalam rahim ibunya.
Didalam jiwa terkandung Ruh.

[6]  "... Wahai api, jadi lah sejuk dan jadi lah keselamatan
bagi Ibrahim."

(QS [21]: 69)


[7]  "... orang-orang yang menahan amarahnya
dan memaafkan..."

(QS [3]: 134)

[8]  Salah satu pesan Rasulullah saw, dalam kutbah haji perpisahan
bagi kaum beriman adalah agar orang lain terjaga dari tangan
dan lisan mereka.

[9]  Rustam: seorang pahlawan legendaris Persia kuno.

[10] Wazir atau penasehat bagi jiwa, Ruh al-Quds.

[11] Melukiskan ketakziman seorang Mawlana Rumi kepada
Syamsuddin  (Matahari Agama) at-Tabriz.
Interaksi sepasang Waliyullah ini bagaikan Matahari dan Rembulan,
atau Langit dan Bumi, dari sini dilahirkan bermacam pembelajaran
berharga bagi para penempuh jalan taubat.


Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal 528
Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh A.J. Arberyy
dalam "Mystical Poems of Rumi 1"
The University of Chicago Press, 1968.