Selasa, 23 Juni 2015

Berpuasa: Menanti Perjamuan-Nya




Ada yang terasa manis
tersembunyi di balik laparnya lambung

Insan itu tak ubahnya
sebatang seruling.
Ketika penuh isi lambung seruling,
tak ada desah: rendah atau tinggi
yang dihembuskannya.

Jika lambung dan kepalamu
terasa terbakar karena berpuasa,
apinya akan menghembuskan
rintihan dari dadamu.

Melalui api itu
akan terbakar seribu hijab dalam sekejap,
kau akan melesat naik seribu derajat
dalam Jalan dan cita-citamu.

Jaga lah agar lambungmu kosong.
Merintih lah bagai sebatang seruling
dan sampaikan keperluanmu kepada
Rabb.


Jaga lah agar lambungmu kosong
hingga dapat kau lantunkan bermacam rahasia
layaknya sebatang seruling.

Jika lambungmu selalu penuh
Setan yang akan menanti di kebangkitanmu
dan bukannya Akal Sejati-mu,
di rumah berhala dan bukannya di Ka'bah.

Ketika engkau berpuasa,
akhlak yang baik berkumpul di sekitarmu,
bagaikan pembantu, budak dan penjaga.

Teruskan lah berpuasa,
karena ia adalah segel Sulaiman.
Jangan serahkan segel itu kepada Setan,
yang dapat membuat kerajaanmu kacau.

Dan jika sempat kerajaan dan bala-tentaramu
tinggalkan dirimu,
mereka akan kembali,
jika kau tegakkan lagi panjimu
dengan berpuasa.

Hidangan dari langit, al-Maidah,
telah tiba bagi mereka yang berpuasa.
Isa ibn Maryam telah menurunkannya
dengan do'anya.

Tunggu lah Meja Perjamuan, al-Maidah,
dari Yang Maha Pemurah dengan puasamu:
sungguh tak pantas membandingkan
hidangan dari langit dengan sederhananya
sup sayuranmu.


Catatan:
"Al-Maidah" nama surat ke 5 dari al-Qur'an Suci, menyampaikan rujukan terkait bahasan di atas, pada ayat-ayat:

(112)   (Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: "Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan maidah dari langit kepada kami?". Isa menjawab: "Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman".

(113)   Mereka berkata: "Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu".

(114)   Isa putera Maryam berdoa: "Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu maidah dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rzekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama".

(115)   Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia".


Sumber:
Rumi: Divan-i Syams  ghazal 1739.
dari terjemahan ke Bahasa Inggris oleh William C. Chittick
dalam "The Sufi Path of Love"
SUNY Press, Albany, 1983.

dan dari terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A.J. Arberry
dalam "Mystical Poems of Rumi 2"
The University of Chicago Press, 1991.


Kamis, 18 Juni 2015

Rayakan lah




Ramadhan telah tiba:
Rayakan lah!

Perjalanan menyenangkan menuju Yang Esa, 

Dia lah yang menemani mereka yang sedang berpuasa.

Kupanjat atap, agar dapat kulihat Rembulan. 

Karena kurindukan berpuasa dengan hati dan jiwa.

Hilang akalku saat kutatap Rembulan. 

Sang Sultan, rajanya puasa, membuatku mabuk.

Wahai saudaraku kaum Muslim, 

aku telah mabuk sejak hari aku kehilangan akal.

Sungguh khasanah nan indah 

tersimpan di dalam puasa. 

Sungguh terdapat padanya 

kemenangan yang mencengangkan.

Ada Rembulan lain yang dirahasiakan 

selain rembulan yang ini. 

Ia tersembunyi di dalam tenda puasa 

bagaikan seorang Turki.

Siapa saja yang berkehendak 

mendapatkan panen puasa bulan ini, 
carilah jalan menuju Rembulan yang itu.

Yang wajahnya sampai pucat, bagaikan satin, 

memakai puasa sebagai pakaian sutranya.

Bulan ini do'a dikabulkan. 

Desah mereka yang berpuasa merobek langit.

Lelaki yang duduk dengan sabar 

di dasar sumur puasa, 
memenangkan cinta seluruh Mesir, 
dia lah Yusuf.

Ketika saat santap sahur tiba, diam lah: 

sehingga mereka yang kenal puasa 
menikmati berpuasa.

Datang lah, 

wahai Syamsudin yang pemberani, 
kebanggaan Tabriz, 
engkau lah panglima para prajurit,
para ahli berpuasa.



Catatan:
1)  Sebuah hadits tentang keutamaan puasa:
"Setiap amal bani Adam teruntuk baginya, kecuali puasa. Puasa itu bagi-Ku, dan Aku lah yang akan memberinya ganjaran dengannya. Dan puasa itu perisai. Apabila salah satu diantaramu berpuasa maka janganlah merusak puasamu dengan berbicara kotor (rafats) atau kasar. Apabila dihina atau diajak bertengkar, maka hendaklah dia berkata, 'saya sedang berpuasa.'  Demi Allah, yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat kelak, daripada wanginya kesturi. Dan bagi yang berpuasa ada dua kesenangan yang menggembirakannya: ketika dia berbuka dari puasanya, dia senang; dan ketika dia berjumpa Rabb-nya, dia senang karena puasanya."

(Muslim, bab Puasa, no 1944)

2)  Catatan belajar seorang rekan tentang puasa dalam ulasan Ibn al-'Arabi:
https://www.facebook.com/notes/bambang-setyadi-machmud/tentang-shaum-yang-tersembunyi-dibalik-dua-kegembiraan/10154457668865538?pnref=story


Sumber:
Rumi: Divan-i Kebir ghazal no 2344
Terjemahan ke bahasa Inggris dari bahasa Turki
oleh Nevit Ergin;
Terjemahan dari bahasa asli, Persia, ke bahasa Turki
oleh Golpinarli.
dalam "Mevlana Jelaleddin Rumi; Divan-i Kebir,"
Volume 18, 2002.