Mengesakan, Fihi ma Fihi #24


Bersama dengan Tuhan,
tak ada tempat untuk dua ego.
Engkau menyatakan: Aku
dan Dia menyatakan: Aku.

Agar dualitas ini hilang, engkau harus mati bagi-Nya,
atau Dia mati bagimu.

Akan tetapi, tidak lah mungkin Dia yang mati
--baik secara fenomenal atau pun konseptual--
karena, "Dia lah yang senantiasa Hidup
dan takkan pernah mati."


Sesungguhnya, Dia sedemikian pemurah,
sehingga--jika mungkin--Dia akan mati bagimu
agar dualitas itu lenyap.

Karena Dia tak mungkin mati,
maka engkau lah yang harus mati,
agar Dia dapat memanifestasi kepadamu,

sehingga dualitas itu hilang.



Catatan:
Sebagai seorang Guru Sejati pada masanya dan bagi kaumnya, disini Mawlana Rumi membahas tentang aspek penting bagi pencarian kesejatian para murid, yaitu soal "membunuh diri" (rendah) agar terjadi tranformasi dalam diri para murid menuju ke tataran-tataran yang lebih tinggi, dan selanjutnya menunu ke kesejatian diri.
Ini sebuah soal sentral di semua thariqah dan merujuk kepada al-Qur'an, antara lain:

"Dan sesungguhnya jika Kami perintahkan kepada mereka, 'Bunuhlah diri-dirimu atau keluar lah  kalian dari kampung halamanmu,'  niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka ..."
(QS an Nisaa' [4]: 66)


Disini, "anfusakum" = jiwa (jamak). Jiwa adalah hakikat insan. Jiwa itu aspek yang berada di dalam jasmani seorang insan.  Maka yang harus mengalami kematian (demi kematian) adalah sang jiwa; karena dengan itu lah jiwa dimurnikan kembali. Sebuah proses panjang yang hanya dapat dilakukan dalam pendidikan seorang Guru Sejati.

Jadi bukan aspek jasmani dari insan yang dibunuh, karena itu bertentangan dengan syariah yang merupakan pagar pengaman dari thariqah.

Dalam The Rumi Collection (1998)Kabir Helminski--penggali kekayaan khazanah Rumi zaman ini dari Amerika Utara--mencantumkan beberapa baris dari Matsnavi-nya Rumi mengiringi bagian Fihi ma Fihi #24 di atas.

Berikut terjemahannya:


Menjelajah lah,
dan renungkan keajaiban-Nya,
sampai lenyap engkau
dalam ketakjuban akan keagungan-Nya.


Ketika sang penyaksi keajaiban Tuhan
tanggal kesombongan dan bangga-diri-nya
--ketika merenungkan penciptaan-Nya--
akan diketahuinya dengan haqq
kedudukan dirinya,
sehingga bisu dia tentang Dia.


Sampai dari dalam jiwanya akan terlontar,
"tak mampu aku memuji-Mu dengan haqq"
karena mengenai Dzaat-Mu itu suatu soal
diluar pengertian dan pembatasan.
(Rumi: Matsnavi IV: 3708 - 10)

Sumber:
Rumi: Fihi ma Fihi #24
Terjemahan Kabir Helminski.