Senin, 29 September 2008

Ketika Dibuat Paham

Ada seorang ibu, yang hamil setiap tahun, tapi tidak ada anaknya yang hidup lebih lama daripada enam bulan.

Ketika mencapai tiga atau empat bulan, mereka meninggal. Sehingga sang ibu menjerit, “Wahai Tuhan, Sembilan bulan lamanya, kutanggung beban kehamilan, tapi kemudian hanya tiga bulan lamanya hidupku senang: kebahagiaanku lebih singkat daripada terbentangnya pelangi.”

Perempuan itu, karena kesedihan yang amat sangat, mengeluhkan nasib malangnya kepada para lelaki milik Tuhan.

Karena telah dua puluh orang anaknya dikubur: bagaikan jilatan api cepatnya kehancuran hidup mereka.

Sampai suatu malam diperlihatkan kepadanya sebuah taman yang tak-terhingga, luas, hijau, indah, tanpa-cela sedikit pun.

Kusebut “Ganjaran Mutlak” sebuah taman, karena dia merupakan sumber semua ganjaran dan gabungan semua taman;

Jika tidak demikian, sebenarnya tiada mata pernah memandang tempat yang disebut taman itu. Sungguh pun begitu istilah taman dapat dipakaikan untuknya: Tuhan pun telah menyebut “Cahaya Kegaiban” sebuah lampu.

Tentu saja ini bukan suatu perbandingan yang tepat, hanya suatu perumpamaan, agar mereka yang terheran-heran dapat mencium suatu wewangian hakekat.

Demikianlah, sang ibu melihat ganjaran itu dan seketika lebur: pada singkapan itu, makhluk lemah itu lenyap dalam fana’.

Dilihatnya namanya sendiri tertulis pada sebuah istana: seraya dia merasa yakin bahwa istana itu adalah miliknya.

Setelah itu, ada suara terdengar olehnya, “Ganjaran ini adalah bagi lelaki yang tegak dengan istiqamah dan ikhlash dalam mengabdikan-diri.

Tentulah diperlukan banyak sekali pelayanan kepada Tuhan agar engkau boleh ambil bagian dalam perjamuan ini;

Karena engkau banyak absen dari menyendiri-bersama-Tuhan, maka, sebagai gantinya, Tuhan memberimu bala-bencana itu.”

“Wahai Tuhan,” perempuan itu menjerit, “berikan kepadaku bala-bencana seperti itu seratus tahun lagi, bahkan lebih dari itu! Jika Engkau kehendaki, tumpahkanlah darahku!”

Ketika dia memasuki taman itu, dijumpainya di situ semua anak-anaknya.

Perempuan itu berkata, “Mereka lenyap dari sisiku, tetapi tidak pernah mereka lenyap dari sisiMu.”

Tanpa memiliki sepasang mata yang memandang kepada yang-Tak-nampak, tidak bisa seseorang menjadi Lelaki pemilik visi.

Tidaklah darah keluar dari hidungmu, dan engkau alirkan darah yang kotor, kecuali agar dirimu terhindar dari demam.

Inti buah lebih enak daripada kulitnya: pandanglah tubuhmu sebagai kulit, dan jiwamu sebagai intinya.

Sesungguhnya, seorang Lelaki itu memiliki suatu inti yang baik: carilah hal itu, jika engkau termasuk Hembusan yang Maha-Rahman.



( Nicholson, Matsnavi of Rumi, III: 3399 - 3418)

2 komentar:

cqe3 mengatakan...

ketika dibuat paham...

jleb.

"...inti buah lebih enak daripada kulitnya..."

tapi ku belum paham kalimat terakhirnya,

"...Sesungguhnya, seorang Lelaki itu memiliki suatu inti yang baik: carilah hal itu, jika engkau termasuk Hembusan yang Maha-Rahman..."

maksudnya gimana ya?

ngrumi mengatakan...

Salaam.

Saya kirim e-mail melalui FaceBook.

Terimakasih atas perhatiannya.

Wassalaam.