Postingan

Menampilkan postingan dengan label Musa

Menyusui Bayi Musa

Gambar
Wahai Ibunda Musa, susuilah dia. Lalu lepaskanlah ke sungai. Jangan kau khawatirkan tentang ujiannya selama menempuh alam dunia. Barangsiapa telah meminum susu sejati di alam sebelum-kelahiran, akan dapat memilih ilmu yang haqq di alam ini; seperti bayi Musa mengenal susu ibunya. Sumber: Rumi: Matsnavi   II: 2969-2970. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Camille dan Kabir Helminski. Dimuat dalam "Rumi: Daylight" Threshold Books, 1994. Terjemahan ke Bahasa Inggris dari Bahasa Persia oleh Yahyá Monastra. Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh ngrumi. Catatan: "Sesungguhnya telah kami wahyukan kepada ibundamu, wahai Musa."  "(Yaitu) Letakkanlah dalam tabut, kemudian lemparkanlah dia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu akan membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir'aun) musuh-Ku dan musuhnya. Dan telah Ku-limpahkan kepadamu kasih-sayang dari-Ku, dan supaya engkau diasuh dibawah pengawasan-Ku." ...

Kebajikan Air

Gambar
Diturunkan air berbentuk hujan dari langit penuh bintang,           [1] agar ia membersihkan kotoran dan ketidak-murnian. Pandang lah bagaimana air membasuh ketidak-sucian; dan bagaimana Allah Maha Tinggi memurnikan air itu sendiri dan ketidak-murniannya. Tak diragukan lagi, Allah Maha Tinggi itu paling Murni dan Suci. Ketika air memerangi ketidak-murnian dan menjadi kotor - sedemikian rupa         [2] sehingga tak bisa lagi ia membersihkan - Allah Maha Penyayang membawanya ke Samudera Kebenaran: disana Hakikat Air memurnikannya kembali.       [3] Tahun berikutnya, dia akan datang kembali, memakai jubah yang bersih,         [4] panjang menjuntai. Bertanya Bumi kepadanya, "Kemana saja engkau pergi?" Dan dia menjawab, "Ke dalam Samudera Kebaikan yang manis. Kotor aku ketika bertolak dari tempat ini, Lalu aku dimurnikan. Dipakaikan padaku jubah kehormatan....

Bersama dengan-Mu

Gambar
Bersama dengan-Mu adalah satu-satunya sumber kebahagiaanku. Karena semua selain Engkau adalah bentuk, tapi hanya Engkau yang sungguh  Haqq . Jangan pernah pisahkan aku dari-Mu, karena tak mungkin sebuah kapal berlayar tanpa air. Aku sebuah kitab yang cacat, tapi ketika Engkau yang membaca, Kau pulihkan aku. Yusuf selamat                    [1] walau dikepung seratus serigala ketika Engkau yang menjadi gembala. Setiap kali Engkau bertanya, "Bagaimana kabarmu?" wajahku memucat dan air-mataku bercucuran. Ke dua hal itu hanya lah tanda bagi mereka yang kasar dan rendah; apa lah artinya tanda-tanda bagi-Mu, yang tak memerlukan satu pun tanda. Kau dengar bisikan tak terucapkan, Kau baca niat tak tertulis. Kau perlihatkan visi di luar tidur; tanpa air Kau perjalankan kapal. Wahai diriku: diam lah, karena dari ketiadaan telah ti...

Pagelaran Hal-hal yang Berlawanan

Sudah menjadi Kehendak dan Keputusan Dia, sang Maha Pengampun, untuk memperkenalkan dan menyingkapkan Diri-Nya. Tetapi takkan sesuatu dikenali kecuali jika ada lawannya, dan Raja tak-Tertandingi itu tak terbandingkan. Maka diangkatnya seorang khalifah, seorang insan pemilik  qalb, agar menjadi cermin yang menampikan kedaulatan-Nya. Lalu dilimpahkan padanya kemurnian tak-terhingga, dan dari kebalikannya ditampilkan lawannya, yang berasal dari kegelapan. Berkibar dua panji berlawanan, putih dan hitam: yang pertama Adam; dan lainya  Syaithan,  sang penghalang jalan menuju kepada-Nya.                        [1] Diantara ke dua kubu ini, berlangsung pertentangan dan perang; dan melalui hal-hal itu terjadilah apa-apa yang harus terjadi. Demikianlah, pada generasi berikutnya tampillah Habil; sedangkan saudaranya, Khabil, menentang cahaya murninya.         ...

Lemparkanlah Tongkatmu

Sang Raja nan Maha Indah dan Penyayang telah berkenan menerimaku. Dia Sang Saksi cahaya hati, Sang Penyejuk dan Sahabat jiwa, Ruh bagi segenap semesta. Kujumpai Dia yang telah menganugerahkan hikmah kepada para bijak-bestari, kemurnian kepada orang-orang suci. Dia yang dipuja rembulan dan bintang-bintang. Dia yang kepadanya menghormat sekalian wali. Seluruh sel pada diriku berseru: Alhamdulillah, Allahu Akbar. Ketika Musa melihat pohon yang menyala, [1] dia berkata: "setelah menemukan anugerah ini, tak lagi kubutuhkan sesuatu yang lain." Tuhan berkata, "Wahai Musa, penjelajahanmu telah selesai. Lemparkanlah tongkatmu." [2] Pada saat itu Musa mengenyahkan dari hatinya semua teman, saudara, dan kerabat. Inilah makna dari tanggalkan ke dua terompahmu: [3] Hilangkan dari hatimu hasrat akan sesuatu pun di kedua alam. Sejatinya, ruang qalb itu diperuntukkan bagi-Nya semata. Hanya akan kauketahui hal ini melalui pertolongan para nabi. Tuhan berka...

Tongkat Musa

Gambar
Pernah kuberada di taman-Mu, di bawah pohon, yang kabulkan semua keinginan. Sepenuh diriku terbakar, sehingga ku menari tanpa musik. Kini aku sesosok bayangan, kumenari seiring cahaya Matahari: kadang kuberbaring di tanah, kadang kuberdiri-terbalik, di atas kepalaku; kadang aku memanjang, kadang aku memendek. Bagai gerakan cahaya dan bayangan, melintas permukaan bumi, kujelajahi zaman. Aku lah pangeran Mesir, dan pemandu Bangsa Israil. Bagi para ulama, aku lah sang Pembawa Sabda. Terkadang aku jadi Kalam. Terkadang aku jadi tongkat di tangan Musa. Terkadang aku jadi naga, membelah jalanku menerobos gurun. Jangan pernah cari Cinta, dengan bersandar pada tongkat-kayu fikiran; guna tongkat-kayu itu, hanya untuk memandu jalan orang buta. Yang kudamba hanyalah isyarat-Mu: satu anggukan dari-Mu, maka jiwaku kan bebas. Tidaklah dari sini kuberasal, aku pengelana yang singgah sejenak. Tersaruk berjalan, buta, tak tentu arah. Mendamba uluran tangan-Mu, membimbingku, melangkah. Sumbe...

Harta Karun Dibawah Rumah

Gambar
Hancurkan rumahmu,    [1] karena seratus-ribu rumah bisa dibangun dari bebatuan murah ini. Harta-karun terletak di bawah rumah, [2] tiada jalan lain mencapainya: jangan ragu, hancurkan rumah, jangan berpangku-tangan saja. Sekali kau raih harta-karun itu,   mudah saja membangun ribuan rumah tanpa susah-payah. Ketika sakaratul-maut tiba, rumah ini akan hancur dengan sendirinya, dan harta-karun dibawahnya pastilah takkan terungkap, maka harta-karun itu tak pernah kau dapat; karena jiwamu mendapat anugerah Ilahiah  sebagai upah dari upayamu menghancurkan rumah. Tanpa amal itu, tiada ganjaran: Tiada sesuatu pun dijumpai manusia di akhirat kecuali balasan dari amalnya.   [3] Catatan: [1]  Di alam-dunia ini jiwa ditempatkan dalam raga, itulah rumahnya. Sehingga "menghancurkan rumah" itu  dapat dibaca: "menundukkan karsa raga dalam cahaya sunnah  Muhammad SAW." [2]  Mengingatkan salah satu kisah sangat terkenal, yang ...

Kisah Elang Sang Raja

Gambar
Alkisah, terbanglah seekor elang, meninggalkan istana Raja, sampai dia tersesat ke rumah seorang nenek tua; yang sedang mengaduk tepung, di lantai rumahnya. Si nenek sedang menyiapkan makanan bagi anak-anaknya, ketika dilihatnya elang ningrat yang anggun itu. Segera kaki elang itu diikatnya, dipangkasnya sayapnya, dipotongya cakarnya, dan diberinya jerami untuk makanan. “Pastilah orang salah merawatmu,” katanya, “sayapmu terlalu lebar, dan cakarmu panjang.” “Itulah sebabnya engkau sakit, dan kini aku akan merawatmu.” Ketahuilah sahabat, demikianlah cara orang bodoh memperlakukanmu: orang bodoh sesat jalan. Sang Raja mencari elangnya kesana kemari, sampai akhirnya dia sampai ke gubuk si nenek. Dilihatnya elangnya disitu, dibalik asap dan debu, keadaannya sangat menyedihkan. Sang Raja berkata, “ini adalah ganjaran dari perbuatanmu, engkau tidak teguh dalam bersetia kepadaku.” “Mengapakah engkau tinggalkan Tama...

Tentang Ketertarikan

Musa kalimullah a.s. menegur seseorang; yang sedang mabuk kepayang menyembah anak-sapi emas: “Kemana perginya keraguanmu? Biasanya engkau sangat kritis padaku. Laut Merah membelah. Manna dan salwa turun setiap hari, di gurun liar, selama 40 tahun. Sebuah mata-air memancar dari batu. Kau telah saksikan sendiri semua itu, tapi tetap kau tolak adanya kenabian. Lalu Samiri, si tukang sihir, melakukan satu tipuan yang membuat anak-sapi emas menguak, dan segera engkau membungkuk! Apa yang patung hampa itu perdengarkan? Apakah kau tangkap gema dari kehampaanmu sendiri?” Begitulah ketertarikan berlangsung: orang yang tak-kenal nilai terpesona pada hal yang tak-berharga. Orang yang tak-kenal makna atau tak tahu tujuan terpesona pada khayalan hampa. Setiap gerakan itu menuju kepada kaumnya sendiri. Tak akan seekor sapi menghampiri seekor singa. Seekor serigala takkan tertarik kepada Yusuf, kecuali untuk mencabiknya....

Bersandarlah kepada Rencana-Nya

Gambar
Madinah al-Munawarrah, fajar 5 Maret, 2024 Wahai sahabat yang berpagi-pagi bangkit, siapakah yang ketika menanti fajar, [1] bertemu kami sedang menari berputar bagaikan atom? Siapakah yang beruntung: yang ketika mencari air ke bibir sungai, malah mendapati bayangan Sang Rembulan di permukaannya? [2] Apakah ada yang bagaikan Ya’qub: ketika rindu harumnya Yusuf, mencium baju gamisnya; [3] malahan menemukan cahaya matanya itu. Atau bagaikan seorang Arab Badui yang haus, menurunkan timba ke dalam sumur, lalu ketika diangkatnya, mendapatkan sosok yang sedemikian indahnya. [4] Atau seperti Musa, ketika melihat api, lalu menembus semak-belukar untuk mendapatkan manfaat api itu, tiba-tiba menemukan ratusan fajar dan matahari terbit. [5] Isa masuk kedalam rumah untuk menghindari kejaran musuh; tiba-tiba dari rumah itu didapatinya sebuah lorong menuju ke langit. [6] Atau seperti Sulaiman yang membelah seekor ikan, dan dalam peru...