Postingan

Menampilkan postingan dengan label yakin

Jalan Keyakinan

Gambar
Ketika Kau tuntun aku menapaki Jalan keyakinan Kau taruh amanah di pundakku Agar ditegakkan hingga ajal. "Tak kuat aku," kadang ku menjerit, "Beban ini terlalu berat"; Bersama-Mu aku diperkuat, Agar mampu memikul tugas. Sumber: Rumi: Rubaiyat Terjemahan oleh A.J. Arberry, 1949.

Ku kan Berlari Cepat

Gambar
Ku kan berlari cepat, dan takkan ku berhenti, sampai aku bergabung dengan kafilahku.  [1] Ku kan lebur bagai udara dan musnah, hingga Sang Kekasih meraihku. Menyala gembira hatiku, bagai api yang memusnahkan rumahku, lalu berkelana aku ke gurun. Aku akan menjadi debu di tanah padang yang tandus sampai Kau buat aku menghijau teduh.  [2] Aku akan mengalir merendah bagaikan air bersujud sepanjang jalan menuju ke taman-mawar-Mu. Sejak aku jatuh dari langit             [3] gemetaran aku bagai butiran debu. Aku baru aman dan tenang           [4] jika kucapai Tujuan.                   Kudapati langit penuh hal mengerikan dan bumi tempat kehancuran; aku kan selamat dari ke dua bahaya ini ketika kuraih Sang Sultan.             [5] Di alam-dunia yang tersusun dari tanah dan air ini bercampur-baur kekufuran dan kehancuran, kulewati ...

Do'a Berwujud Penghambaan

Tanggalkan permohonan yang kering dan hampa makna. Tegaknya sebatang pohon, mestilah karena bibit telah disebar. Tapi bahkan jika tak kau miliki benih, karena hampanya do'amu, Tuhan akan anugerahi engkau sebatang pohon kurma, seraya bersabda,  "Alangkah baiknya penghambaannya!" Lihatlah Maryam putri Imran --kerinduannya sampai ke dasar hati, tapi tak dimilikinya bibit: maka Sang Maha Indah membuat pokok kurma kering menghijau baginya.  [1] Karena wanita mulia itu setia pada-Nya, Tuhan berikan seratus kebaikan-Nya tanpa suatu hasrat berdesir di hatinya. Catatan: [1]  Merujuk pada saat jelang lahirnya Isa ibn Maryam, ketika dengan merendah Maryam berkata, "... Wahai betapa baiknya jika aku mati sebelum ini dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan."  (QS Maryam [19]: 23) Lalu: "Maka dia (Jibril) berseru dari tempat yang rendah, 'jangan lah engkau bersedih hati, sesungguhnya Rabb-mu telah jadikan anak sunga...

Sang Pemilik Kasih Tersembunyi

Sungguh hikmah yang mencengangkan: Dia, Sang Kekasih dambaan hati, telah membuatku tinggalkan kampung-halaman, bergegas aku berjalan, tapi malah kehilangan arah, sehingga semakin menjauh dari tujuan; lalu,  Rabb  dalam kasih-sayang-Nya, membuat tersesatnya aku itu, sebuah sarana untuk menapaki jalan yang benar dan menemukan  khazanah  sangat bernilai. Dia membuat kehilangan arah sebuah jalan untuk mencapai keyakinan sejati. Dia membuat tersasarnya seseorang sebuah ladang perjuangan, agar panen kebajikan dapat dituai; sehingga tak ada hambanya yang shaleh, merasa gentar; sehingga tak ada yang sedang men dzhalimi dirinya sendiri, kehilangan harapan. Sang Maha Kasih telah anugerahkan penawar racun, sehingga mereka yang paham menyebutnya: Rabb   sang pemilik Kasih Tersembunyi. Sumber: Rumi:   Matsnavi   VI: 4339 - 4344 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson. Juga terdapat pada terjemahan versi Camille dan Kabir...

Berlapis Makna

Gambar
Ketika  al-Qur'an  diturunkan, ramai kaum tak beriman mencemoohkan. (Mereka mengatakan): "Itu hanya kisah dan cerita masa lalu; bukan penelitian yang baru, bukan pemikiran yang canggih; Bahkan anak kecil pun bisa memahaminya: hanya tentang hal-hal yang diperintahkan dan hal-hal yang dilarang. Kisah tentang Yusuf-- tentang betapa tampannya dia, kisah ayahnya Ya'qub, Zulaikha dan gairahnya. Naskah biasa saja, semua orang dapat memahami maknanya: tidak terdapat bagian yang membingungkan akal." Dia berkata: "Jika menurutmu mudah, buatlah satu surat saja yang semisal                    [1] dan semudah al-Qur'an ini. Kerahkanlah jin, manusia dan cerdik-pandai diantaramu, menandingi dengan satu ayat yang semisal." Ketahuilah,  kalimah  dalam al-Qur'an itu memiliki pengertian literal dan makna-dalam yang sangat agung. Dan dibalik makna-dalam itu, terdapat lapisan makna ketiga yang didalamnya se...

Kembalilah ke Sumber Dirimu Sendiri

Sampai kapan engkau berjalan mundur? Jangan hampiri kemusyrikan dan kekufuran, berpeganglah kepada diin yang haqq . Lihatlah gula dalam racun dan menghampirlah kepada racun. [1] Kembalilah engkau pada Sumber hakikat dirimu. Walaupun sosok jasmanimu tersusun dari tanah, hakikat dirimu adalah buhul halus ruhaniah yang dibentuk dari inti Keyakinan. Engkau adalah penjaga terpercaya Cahaya Ilahiah. Kembalilah engkau pada Sumber hakikat dirimu. Ketahuilah, ketika kau ikatkan dirimu pada keberserahan-diri, akan terbebas engkau dari kemelekatan kepada dirimu-sendiri. Dan, akan terlepas engkau, dari ribuan jebakan. Kembalilah engkau pada Sumber hakikat dirimu. Engkau terlahir sebagai keturunan Adam, khalifah yang diangkat, tapi malah kau belalakkan matamu pada alam-dunia rendah ini. Sungguh menyedihkan, melihat engkau berpuas diri pada kedudukan serendah sekarang. Kembalilah engkau pada Sumber hakikat dirimu. Catatan: [1] Guncangan, ujian; karena al-Jannah itu dikelilingi kesulitan, se...

Sang Khalilullah Menyembelih Bebek, Unggas Pertama Pengganggu Perjalanan

Gambar
Mereka yang waspada pendengarannya memperoleh cahaya, sedangkan para pencinta kegelapan itu bagaikan gerombolan tikus. Mereka yang lemah penglihatan bagai kelelawar —bagaimanakah mereka dapat berputar di sekeliling Lingkaran Keyakinan? Perbedaan-pendapat dalam hal cabang-ranting yang rumit adalah rantai-pengikat yang memperbudak tabiat, yang kemudian menjadi gelap-buta kepada Agama yang Haqq . Sepanjang manusia semacam ini, hanya mengandalkan geraman dan gonggongan dari kepandaian-jasmaniahnya sendiri, maka dia tidak dapat membuka mata qalb -nya kepada Sang Matahari. Dia tidak akan membentangkan cabang-cabangnya ke angkasa—seperti yang dilakukan pohon kurma: malahan—bagaikan tikus—dia menggali lubang ke dalam tanah. Manusia semacam ini mempunyai empat penyakit yang menjajah hati: ke empat hal ini telah membentuk tiang-gantungan bagi Akal. Wahai engkau —yang akal qalb -nya menyala bagai Matahari— engkaulah Sang Khalil zaman ini: bunuhlah ke empat unggas  yang menggan...