Postingan

Menampilkan postingan dengan label guncangan

Prasangka Kemandirian Diri

Gambar
Seandainya kepandaian dan hikmah sungguh-sungguh milikku sendiri, tentu seluruh pertimbangan dan rencana dalam hidupku dapat kukendalikan sepenuhnya. Di malam hari, takkan kesadaranku menghilang diluar kemauanku; dan semua inderaku takkan lepas melayang karena seluruhnya dapat kuamankan didalam sangkar kemauanku. Akan kusadari semua tahap perjalanan yang ditempuh oleh jiwaku; baik saat ku tak sadar, dalam tidur, atau saat bala-bencana tiba. Tapi karena tanganku telah dikosongkan dari kemampuan melepas atau menggenggam, oleh kuasa-Nya yang Maha Berdaulat; maka aku terheran-heran,  darimana datangnya prasangka akan kemandirianku itu? Sumber: Rumi: Matsnavi   VI: 2324 - 2327 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Kabir Helminski dari The Rumi Collection ,  Threshold Books, 1998.

Seandainya Sempat Kau Kenali

Gambar
Seandainya sempat kau kenali dirimu sendiri, walau sekejap. Seandainya sempat kau tatap --walau sekilas-- keindahan wajah sejatimu sendiri. Maka takkan lagi kau tertidur didalam campuran lempung dan air ini, bagaikan seekor hewan; kau kan bertolak ke rumah kebahagiaan bersama jiwa-jiwa nan indah. Kau harus telusuri jalan sampai ke sudut-sudut terjauh dirimu sendiri, agar diri sejatimu terejawantahkan; karena Khazanah Tersembunyi masih tersimpan di dalam dirimu. Seandainya engkau hanya terdiri atas sesosok tubuh, maka takkan pernah kau dengar kabar mengenai jiwa seandainya engkau hanya jiwa saja maka engkau sudah dalam kebahagiaan bersama dirimu sendiri. Seperti orang lain kau berhadapan dengan kebaikan dan kejahatan; kau hadapi semua itu  dengan apa yang ada pada dirimu. Seandainya engkau itu suatu jenis sayuran, maka kau miliki suatu cita-rasa khas; seandainya engkau itu sebuah periuk maka ada panas yang pas  untuk membuatmu men...

Kegaduhan Sebelum Waktu Sahur

Seorang lelaki memukul-mukulkan tongkat ke gerbang pagar, di depan sebuah rumah-gedung besar, sambil berseru,  "sahur, sahur..." Sedang dia asyik menabuh besi pagar, seorang tetangga berkata kepadanya: "Wahai peminta-minta, sekarang belum masuk waktu sahur, jadi jangan gaduh; Lagi pula, wahai fakir, perhatikan lah, tiada orang menghuni rumah itu, isinya cuma setan dan hantu, percuma saja kegaduhanmu. Tak ada disitu telinga, yang dapat mendengar tabuhanmu; tak ada disitu akal, yang dapat mengerti tujuanmu." Lelaki pembuat kegaduhan itu menjawab, "Kudengar perkataanmu, kini perkenankan kujawab, agar engkau tak heran atau bingung. Walaupun menurutmu kini masih tengah-malam, tapi kulihat fajar segera merekah. Kulihat segala kekalahan segera berubah menjadi kemenangan, di mataku, semua malam segera kan berubah menjadi siang. Bagimu air Sungai Nil memerah, bagiku itu bukan darah, tapi air segar. Menurutmu, pagar besi ini keras; tapi ...

Bantuan Berupa Penundaan

Gambar
Bicarung, Pasir Angling, 2024 Tak terhitung banyaknya hamba yang taat, menjerit dalam do'a, sehingga kabut ketulusan membubung ke langit. Dan dari rintihan penyesalan dosa, naik wewangian melampaui atap langit. Sehingga para malaikat yang patuh memohon kepada Rabb, seraya berkata, "Wahai Engkau yang menjawab semua do'a wahai Engkau yang perlindungannya didambakan, Seorang hamba-Mu yang taat tengah memohon dengan berendah hati, tak digantungkannya harapan kecuali kepada-Mu. Engkau Sang Penganugerah limpahan bahkan kepada mereka yang asing pada-Mu, setiap pendamba memperoleh dambaannya dari-Mu." Rabb  bersabda, "Bukanlah karena dia tercela, sehingga anugerah-Ku baginya ditunda: penundaan itu adalah sebuah bantuan. Kebutuhannya membawa dia dari kelalaiannya kepada-Ku, terseok-seok merayap dia ke jalan-Ku. Seandainya langsung Ku-penuhi keperluannya, segera dia berbalik: tenggelam kembali dalam permainan hidupnya. Walaupun dia merintih, dar...

Di Lembah Cinta

Tengah malam, aku bertanya,  siapa ini yang ada di dalam rumah qalb-ku? Dia menjawab,  Inilah Aku, yang cemerlangnya membuat matahari dan rembulan jadi tertunduk malu. Dia bertanya,  Mengapa rumah ini penuh dengan aneka macam lukisan? Aku menjawab, Ini semua adalah bayangan dari-Mu, wahai Engkau yang wajah-Mu membuat iri warga Chigil.                               [1] Dia bertanya,  Dan apa ini: qalb yang berdarah-darah? Aku menjawab, Ini adalah gambaran diriku: hati terluka, dan kaki dalam lumpur. Kuikat leher dari jiwaku, dan menyeretnya kehadapan-Nya sebagai persembahan: Inilah dia yang telah berkali-kali memunggungi Cinta, kali ini jangalah Kau lepaskan. Dia serahkan satu ujung tali, ujung yang penuh kecurangan dan pengkhianatan, Peganglah ujung yang ini, Aku kan menghela dari ujung yang lain, mari berharap tali ini tidak putus. Kuraih tangan-Nya, Dia men...

Pangeran Palsu

Tengoklah kesini, ada Pangeran Palsu. Naik kuda kecil, diatas sadel kecil, lagaknya menyebalkan, bergaya memakai mahkota emas. Karena tak percaya kematian, dia bertanya dengan angkuh, "Dimana, dimana, malaikat maut itu?" Sebenarnya, Sang Maut senantiasa menyapanya, dari ke enam arah, seraya berseru, "Aku disini, aku disini." (Pada saatnya) Sang Maut berkata kepadanya, "Wahai keledai, kemana sekarang derap penuh gayamu? Kemana paras angkuh, bangga-diri, dan kemarahanmu? Kemana berhala cantik sumber kebahagiaanmu? Kepada siapa kau berikan mahkotamu, kini bantalmu gumpalan tanah, kasurmu dari tanah." Kurangi makanmu, gulung kasurmu, carilah  ad-Diin al-Haqq, agar kau menjadi Pangeran Keabadian, yang bebas pernak-pernik kecil adat dan kebiasaanmu. Jangan kubur jiwamu, jangan ubah roti jadi kotoran, kemana akalmu: kau lemparkan mutiara ke dasar kotoran. Ketahuilah, kita melekat ke tanah kotor ini semata agar menemukan mutiar...

Rasa Sakit: Menyiapkan Hati

Ketika rasa-sakit memasuki hati, dan menyergap rasa senangmu, ketahuilah, ia sedang menyiapkan jalan bagi datangnya kebahagiaan. Cepat sekali rasa sakit menyapu bersih semua rasa lainnya, mengusir mereka keluar dari ruang hati; hingga tiba saat bahagia mendatangimu dari Sumber Kebaikan. Ia merontokkan semua daun layu dari cabang-ranting hati, agar daun segar dapat tumbuh. Ia mencabut akar tua kesenangan, sehingga keriangan yang  baru dapat berkunjung dari ke-Tiada-an. Rasa sakit di hati membongkar akar kesenangan yang lapuk dan busuk, sehingga tiada kepalsuan tersembunyi. Rasa sakit mencuci bersih hatimu, agar hal yang lebih baik dapat hadir menggantikannya. Sumber: Rumi :  Matsnavi  V  3678 - 3683. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh William C. Chittick Dalam  The Sufi Path of Love - The Spiritual Teachings of Rumi,  SUNY, Albany, 1983.

Sadarlah, Wahai Pejalan...

Jika engkau seorang pejalan yang sadar, berjalanlah di jalan ini layaknya lelaki; atau berhenti saja: jangan tinggalkan rumahmu, karena engkau belum siap berperang. [1] Para lelaki sejati meminum seribu lautan, dan masih merasa haus; [2] baru seteguk engkau diberi minum, tapi lagakmu bagaikan telah penuh. Engkau mendaku telah sampai tujuan, tebaran debu ocehanmu mengangkasa; [3] tapi tak bergerak engkau walau sejengkal, tiada sedikitpun engkau tinggalkan tanda. Berendah-hatilah layaknya debu, dibawah derap langkah para lelaki sejati; barulah akan bangkit engkau dan jadi bagian perjalanan mereka. Jika bertahun engkau merangkak, di jalan pencarianmu; jangan menyerah engkau pada kesedihan, jangan tunduk engkau pada guncangan. Catatan: [1] Bandingkan misalnya dengan “... keluarlah dari kampung halamanmu ...” (QS [4]: 66). [2] “Meminum,” diberi “pengalaman spiritual.” Para pencari sejati tak pernah hilang rasa hausnya walaupun mereka menerima bany...

Pukulan dari Langit

Gambar
Ketika sebuah pukulan dari Langit menghantam dirimu, bersiap-siaplah, karena setelah itu akan kau terima hadiah penghormatan. Karena tak mungkin Sang Raja menamparmu, tanpa memberimu sebuah mahkota dan sebuah tahta untuk diduduki. Seluruh alam-dunia hanya senilai  sebelah sayap kutu, tapi satu tamparan dapat memberimu ganjaran tak terperi. Cepatlah lepaskan lehermu dari rantai emas, yaitu dunia ini, dan terimalah tamparan dari Rabb. Para nabi telah menerima pukulan seperti itu di leher mereka, karenanya, kepala mereka tegak. Karenanya, wahai pencari, siapkan dirimu, selalu penuh perhatian: hadirkan dirimu, agar Dia temukan engkau di tempatmu. Jika tidak, Dia akan ambil kembali hadiah penghormatan itu, seraya berkata,  "tak Ku-temukan seorangpun disini." Sumber: Rumi , Matsnavi VI: 1638 - 1643 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson . Juga diterjemahkan Camille dan Kabir Helminski , dalam Rumi: Jewels of Remembrance, Threshold Boo...

Melekat pada Kepahitan

Jangan pandang, aneka kepahitan hidup, yang diungkap Sang Waktu. Jangan hiraukan sederhananya makananmu  dan terbatasnya nafkahmu. Jangan pedulikan wabah, ketakutan dan goncangan. Renungkanlah: dengan semua kepahitannya, tetap saja engkau erat-melekat tanpa malu, pada dunia. Pahamilah,  perihnya ujian adalah sebuah Rahmat. Ketahuilah,  Kerajaan Marv dan Balkh adalah sebuah hukuman. Kejamnya Sang Waktu  dan semua derita yang  mewujud itu lebih ringan daripada jarak  kepada Rabb dan pengingkaran. Karena derita itu akan berlalu, tetapi  tidak demikian dengan jarak kepada Rabb. Ibrahim tidak menghindar dari  api dan diselamatkan; Ibrahim yang lain menghindar dari  kehormatan dunia dan menemukan  jalan penyelamatan. Yang pertama tidak terbakar, [1] yang satunya lagi terbakar habis. [2] Betapa indahnya:  didalam Jalan pencarian Dia, semua jadi terbolak-balik! Catatan: [1] Ibrahim Khalilullah a.s; d...

Salah Mengeluh

Seorang hamba, yang tengah dirundung kesulitan, mengeluh, dengan berbagai cara,  kepada Rabb -nya. Dan Rabb berkata, "bukankah dengan semua derita dan sakitmu engkau menjadi taat dan berdo'a dengan berendah-hati kepada-Ku; Seharusnya yang engkau keluhkan adalah semua  kelimpahan yang engkau terima,  yang menyebabkan engkau menjauh dari pintu-Ku." Sejatinya, musuhmu adalah obat bagimu: dia ramuan-penyembuhmu,  dia hadiah untukmu,  dia yang menguasai hatimu; karena dia,  engkau bergegas ber- khalwat bersama Rabb -mu dan sepenuh-diri berusaha mencari Rahmat-Nya. Sumber: Rumi, Matsnavi IV: 91 - 95 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.