Postingan

Menampilkan postingan dengan label visi

Jangan Kau Sesali

Gambar
Jangan kau sesali lenyapnya kebahagianmu; ketahui lah ia akan kembali padamu dalam bentuk yang lain. Saat kanak-kanak kau berbahagia ketika kau menyusu. Ketika mulai tumbuh membesar kau bosan pada susu, dan kesenanganmu beralih pada minuman lain dan madu. Kesenangan adalah sesuatu yang esensial ia datang menyapamu melalui aneka bentuk. Ia bergerak dari satu sudut ke sudut lain pada unsur air dan tanah-lempung, yang membentuk dirimu. Ia bisa mendadak mempertontonkan keindahannya pada butir air hujan, lalu ia merasuki pokok mawar, dan keanggunan kecambahnya ketika bibitnya bangkit dari tanah. Ia bisa datang dari air, dari kelezatan roti dan daging, lalu melalui kecantikan, lalu melalui anggunnya kuda tunggangan. Sampai, mendadak suatu hari, dari balik hijab-hijab itu, ia menerobos dan menghancurkan berhala-berhala: Ia bukan lah bentuk yang ini bukan pula bentuk yang itu.              [1] Jiwa, saat kau te...

Pusatkan Perhatianmu ke Muka

Gambar
Sang penjelajah langit berlalu; Debu naik dan mengambang di udara; Dia melaju; tapi debu yang dia tinggalkan Masih mengambang di sini. Pusatkan penglihatanmu ke muka, Tak perlu menoleh ke kiri atau ke kanan; Debunya mengambang disini, tapi dia Berada di ketak-terbatasan. Sumber: Rumi: Rubaiyat Berdasarkan terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A.J. Arberry, 1949

Dengarkanlah dalam Diam

Gambar
Jika kau miliki telinga, dengarkanlah, Terimalah pesanku dengan jernih; Dengan Dia memenuhi seluruh isi hatimu Berpisahlah kau dari dirimu sendiri. Tutup mulutmu, ketika terangnya penglihatanmu mencerap visi yang muncul: Tak perlu kau tambahkan pendapatmu Karena semua telah kau saksikan di sana. Sumber: Rumi: Rubaiyat Berdasarkan terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A.J. Arberry, 1949.

Cinta itu Lautan Tak Bertepi

Gambar
Cinta itu lautan tak bertepi, di atasnya lelangit bagai serpihan buih belaka; yang gelisah, bagai Zulaikha dambakan seorang Yusuf. Ketahui lah, roda pemutar lelangit digerakkan oleh gelombang Cinta: bila bukan karena Cinta, semesta kan membeku. Bagaimana yang semula benda mati, berubah menjadi tumbuh-tumbuhan? Bagaimana tetumbuhan mengorbankan diri agar dilimpahi ruh? Bagaimana ruh mengorbankan diri demi sebuah Hembusan; yang kelembutan tiupannya pernah menghamili seorang Maryam? Semuanya akan kaku membeku bagai es, tak akan terbang menjelajah seperti belalang. Setiap  zarah  tengah jatuh cinta pada Kesempurnaan itu, dan bergegas tumbuh bagai berkecambahnya tunas. Bergegasnya mereka adalah sebuah  takbir   batiniah. Mereka memurnikan diri demi menyambut Sang Ruh. Sumber: Rumi:   Matsnavi  V: 3853 - 3859 Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh Nicholson.

Bernyala Tanpa Bayangan

Ketika melalui kefakiran ruhaniyah seseorang dirahmati dengan kematian dari dirinya sendiri, meneladan sang Nabi saw; dia kehilangan bayangannya. Menjadi  fana,  sesuai sabda sang Nabi, "kefakiran adalah kebanggaanku." Dia jadi tak memiliki bayangan, bagaikan nyala sebatang lilin. Ketika lilin telah seluruhnya menyala dari kepala sampai ke kaki, bayangan tak dapat menghampirinya. Sang lilin telah berpisah dari dirinya sendiri dan dari bayangannya menuju terang benderang, demi Yang Tunggal, yang telah menciptakannya. Ketika kepadanya Tuhan berkata, "Kubentuk engkau agar fana;" dia menjawab,  "Karenanya aku berlindung didalam fana." Catatan: Fana:  secara ringkas berarti sirnanya keakuan diri dalam Wajah Rabb, lihat QS [55]: 26 - 27. Sumber: Rumi:   Matsnavi   V: 672 - 676 Berdasarkan terjemahan Camille dan Kabir Helminski, dalam  Rumi: Jewels of Rememberance, Threshold Books, 1996; berdasarkan terjemahan ...

Alunan Musik Tersembunyi

Jangan lah kau cemas jika seutas dawai harpamu putus, karena akan muncul ribuan pengganti. Dalam genggaman jemari Cinta semuanya menjadi musik indah. Wahai kawanku, jika semua harpa dan seruling dunia terbakar, masih ada sebuah harpa tersembunyi. Nada dan iramanya melayang sampai ke surga, tapi tak sedikit pun terdengar oleh telinga yang tuli. Jangan lah kau khawatir jika semua lampu dan lilin dunia padam, karena batu-api sumbernya tetap terjaga. Musik yang kita dengar itu ibarat buih yang mengapung di permukaan samudera wujud, sementara sang mutiara tetap tersembunyi di kedalaman. Tapi kelembutan dalam musik bersumber dari mutiara tersembunyi itu-- karena pendar cahayanya juga menyinari kita. Alunan musik hanyalah suatu ranting dari kerinduan akan penyatuan-- dan tidak lah ranting dan akar setara. Karenanya, katupkan mulutmu, hentikan lah aliran kata-katamu; buka lah jendela hatimu: dan bercakap lah dengan jiwa-jiwa suci. Sumber: Rum...

Bersama dengan-Mu

Gambar
Bersama dengan-Mu adalah satu-satunya sumber kebahagiaanku. Karena semua selain Engkau adalah bentuk, tapi hanya Engkau yang sungguh  Haqq . Jangan pernah pisahkan aku dari-Mu, karena tak mungkin sebuah kapal berlayar tanpa air. Aku sebuah kitab yang cacat, tapi ketika Engkau yang membaca, Kau pulihkan aku. Yusuf selamat                    [1] walau dikepung seratus serigala ketika Engkau yang menjadi gembala. Setiap kali Engkau bertanya, "Bagaimana kabarmu?" wajahku memucat dan air-mataku bercucuran. Ke dua hal itu hanya lah tanda bagi mereka yang kasar dan rendah; apa lah artinya tanda-tanda bagi-Mu, yang tak memerlukan satu pun tanda. Kau dengar bisikan tak terucapkan, Kau baca niat tak tertulis. Kau perlihatkan visi di luar tidur; tanpa air Kau perjalankan kapal. Wahai diriku: diam lah, karena dari ketiadaan telah ti...

Harapan telah Menyingsing

Wahai jiwaku, jangan berputus-asa, harapan mulai mengejawantah; apa yang dinanti setiap jiwa telah menyingsing dari semesta gaib. Jangan berputus-asa, walau Siti Maryam telah meninggalkanmu, tapi cahaya yang mengangkat Isa ke langit telah muncul. Jangan berputus-asa, wahai jiwaku, dalam kegelapan penjaramu ini, sang Raja yang membebaskan Jusuf-mu telah tiba. Ya'qub telah muncul dari balik hijab kebuntuan, Yusuf yang kan menyibak hijab Zulaikha telah tampil. Wahai engkau, yang sejak malam hingga fajar memohonkan,  "Yaa Rabb," Yang Maha Rahman mendengar rintihanmu, dan telah datang. Wahai sakit yang telah menua: sembuh lah, obatmu telah sampai; wahai gerbang kukuh: terbuka lah, karena kuncimu telah ditemukan. Wahai diri yang berpuasa, menahan-diri dari hidangan di Meja Terhormat, berbuka lah dengan gembira, karena hari raya pertama telah dimulai. Kini, hening lah, hening lah: karena kebajikan dari perintah  "kun,"  telah membuat hening...

Mereka yang Merendahkan Pandangannya

Pengalaman  ruhaniyah  itu bagaikan para bidadari yang merendahkan pandangannya, mereka tak menampakkan diri kecuali kepada pemiliknya.    [1] Anggur  yang membawa kepada pengalaman itu,    [2] bagaikan  para bidadari yang merendahkan pandangannya, sementara wahana-wahana yang menghijabnya dari penglihatan bagaikan  tenda-tenda     [1] Sungai-besar itu bagaikan tenda,    [3] di dalamnya terdapat kehidupan bagi unggas-air,  dan kematian bagi burung gagak. Racun itu bagai gula-gula bagi ular tapi penderitaan dan kematian bagi yang lain. Bentuk dari setiap keberuntungan dan bencana itu bagaikan surga bagi seseorang atau neraka bagi orang lain. Karena itu, sungguhpun kau tatap berbagai bentuk dan benda, dan terdapat hidangan atau racun di dalam semua ciptaan itu-- kau tidak melihatnya. Setiap orang itu bagaikan cangkir atau cawan, di dalamnya terdapat makanan bergizi dan hal yang membawa terbakarnya...

Dihantarkan Perumpamaan

Manfaat perumpaan itu untuk menengahi, untuk mengantarkan pengertian. Tanpa sesuatu yang menengahi takkan ada yang berani masuk ke dalam api begitu saja, kecuali seekor salamander. Air hangat yang dipakai mandi adalah sebuah pengantar yang menengahi sehingga badanmu segar oleh panasnya api. Karena kau tak bisa langsung terjun ke dalam api, --seperti Ibrahim sang Khalilullah -- maka tempat mandi air-panas bagaikan utusan bagimu, dan air berperan sebagai pemandumu. Rasa puas itu dari  al-Haqq, tapi agar mereka yang masih penuh dosa dapat mencicipi rasa puas, diperlukan pengantar berupa makanan. Keindahan itu dari  al-Haqq, tapi mereka yang daya inderanya hanya jasmaniah takkan merasakan pesona keindahan tanpa ditengahi penghantar berupa Taman Surga. Ketika penengah jasmaniah diangkat, maka ia yang diangkat itu memahami tanpa hijab, bagaikan Musa, cahaya seterang rembulan memancar dari dadanya. Penyaksian itu bagaikan kebajikan yang disanda...

Rumah Sangat Sesak

Alam dunia ini seperti kamar-mandi uap, sangat panas: engkau tertekan, dan jiwamu bagai meleleh rasanya. Walau engkau diberi kamar mandi yang luas, jiwamu tetap tertekan dan lelah karena panasnya. Hatimu takkan pernah lega, sampai engkau bisa keluar: ukuran ruang kamar mandi itu sama sekali tak memberimu manfaat. Atau, (dalam alam dunia ini) engkau seperti memakai sepatu yang terlalu sempit, lalu disuruh berjalan di gurun. Luasnya gurun malahan menjengkellkan, dan menyempitkan hatimu, gurun dan padang bagaikan penjara untukmu. Orang yang hanya sepintas memandangmu, akan berkata, "dia riang dan gembira, bagaikan bunga mekar, di tengah gurun." Tak diketahuinya tentang kondisi sebenarnya dirimu: alih-alih seperti tengah di taman mawar, jiwamu menderita. Tidur yang benar itu seperti  kau lepaskan sepatu sempitmu,  karena jiwamu bebas dari raga,  walau hanya sesaat. Sedangkan bagi pawa  awliya, tidur mereka mega...

Kembalilah ke Langit

Setiap saat, sebuah seruan dari langit menyapa inti jiwa sang lelaki pencari: Sampai kapan engkau melekat ke bumi, seperti buih. Naiklah ke langit! Mereka yang jiwanya berat tetap lekat menempel bagai buih; hanya jika termurnikan ia dapat mengalir ke atas. Jika kau tak terus-menerus mengaduk tanah-liatmu, airmu akan perlahan menjernih, dan buihmu tercahayai, maka sakitmu terobati. Seperti obor, hanya lebih banyak asapnya daripada apinya, asapnya menyebar kesana kemari, sehingga ruang di dalam jasmani, tempat jiwa terpenjara, tak lagi bersinar. Jika kau hilangkan asapnya kau dapat nikmati kembali nyala api obor; tempatmu di semesta ini dan semesta-semesta mendatang akan terterangi oleh cahayamu itu. Jika kau menatap pada air keruh, tak kelihatan disitu rembulan atau langit; matahari dan rembulan menghilang ketika kegelapan menyelimuti udara. Dari utara angin bertiup menyibak udara hingga jernih; datangnya pada fajar hari, usapannya melapang...

Pintu-pintu Menuju Taman-Mu

Gambar
Wahai Kekasih, manakah yang lebih mempesona, Wajah-Mu atau al-Jannah -Mu ini,  yang begini luas. Bercahayalah, wahai rembulanku, Engkaulah inspirasi, bagi semua yang menatap langit malam. Yang asam akan berubah jadi manis. Prasangka diganti dengan Kebenaran. Gerumbul duri diubah jadi mekar bunga. Seratus tubuh akan bangkit hidup kembali, dengan satu hembusan-Mu. Kau taruh pintu demi pintu di langit Kau taruh harapan dalam hati insan. Kau cekam setiap kecerdasan, Kau buat ke dua alam terpesona pada-Mu. Wahai Kekasih, pipimu memerah, bagai mawar. Wahai Kekasih, Engkaulah pujaan alam ini, dan alam berikutnya, dan alam-alam berikutnya. Kelopak-kelopak jagung, berupaya keras, mencoba meniru satu warna-Mu. Semua jenis kebenaran lebur jadi satu dibawah injakan kaki-Mu. Seluruh nada laguku rindu menggemakan merdunya suara-Mu. Tanpa Engkau, pasar dan perniagaan sepi. Taman dan kebun longsor tersapu air bah. Kau ajari pohon menari seiring t...

Tanpa Engkau

Kutanam mawar, tapi tanpa Engkau, pohon kaktus yang tumbuh. Kuperam telur merak, ular yang menetas. Kumainkan harpa, derau sumbang yang terdengar. Kumelesat ke surga tertinggi, neraka bernyala yang kutemui. Sumber: Rumi: Quatrain no 90-a. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Jonathan Star dan Shahram Shiva .

Engkaulah ...

Gambar
Sejak kumulai berjalan, Engkau lah tujuan, Engkau lah pemandu. Ketika kucari hatiku, Engkau lah yang meremukkannya. Ketika kucari kedamaian, Engkau lah yang mengayomi. Ketika kupergi berjihad, Engkau lah pedangku. Ketika kubelajar lebur, Engkau lah anggur dan manisan. Ketika kudatangi taman itu, Engkau lah sang narsisus memekar. Ketika kusampai ke tambang itu, Engkau lah sang merah delima. Ketika kuselami samudera, Engkau lah mutiara di dasar. Ketika kulintasi gurun, Engkau lah oase. Ketika aku mengangkasa, Engkau lah bintang paling terang. Ketika kutegak dengan berani, Engkau lah perisaiku. Ketika kupingsan kebingungan, Engkau lah wewangian yang menyadarkan. Ketika kuterjun dalam pertempuran, Engkau lah sang panglima pasukan. Ketika kutiba di perjamuan, Engkau lah tuan-rumah, penghibur, sekaligus cangkir. Ketika kumenulis, Engkau lah kertas, pena, sekaligus tinta. Ketika kuterjaga, Engkau lah kesadaranku. Ketika kutertidur, Kau masuki mimpik...

Yang Tampak dan Yang Tersembunyi

Gambar
Dia telah menjadikan yang nisbi eksistensinya tampil berwujud dan agung; Dia telah menjadikan yang lebih nyata eksistensinya tersembunyi bentuknya. Dia telah menghijab Laut, dan membuat ombak tampak; Dia telah menyembunyikan Angin, dan memperlihatkan padamu debu. Debu membubung setinggi menara: tak mungkin ia melayang sendiri. Wahai yang berpandangan tajam, kau lihat debu melayang tinggi; sedangkan anginnya tak kau lihat, tapi kau ketahui adanya dengan akalmu. Kau lihat ombak menggelora kesana-kemari, tanpa Laut, ombak itu takkan bergerak. Kau lihat ombak itu dengan inderamu, dan Laut melalui kesimpulanmu: pemikiran tersembunyi, sedangkan perkataan berwujud. Kita melihat akibat sebagai pengukuhan: mata kita hanya melihat hal yang tak memiliki eksistensi sendiri. Mata lahiriah ini hanya melihat secara terbatas, bagaikan dalam keadaan tidur, tak dilihatnya apa pun kecuali fatamorgana dan yang lemah eksistensinya. Jadilah kita berkubang dalam kesalahan, ...

Sang Khalilullah Menyembelih Merak, Unggas ke Dua Pengganggu Perjalanan

Sekarang saatnya kita bahas merak, unggas yang dua warna bulunya, karena dia berwajah-ganda, senang pamer, haus nama-besar dan kemasyhuran. Hasratnya adalah untuk mendapat pengikut, tak peduli benar atau salah, tak peduli akibat dan nasib pengikutnya. Ia menangkap sembarang pengikut, seperti jebakan, yang tak mengerti apa tujuan tindakannya. Asal tangkap saja, tak berpengetahuan soal manfaat atau mudharat menangkap pengikut. Ia bisa habis-habisan memuji kawan-kawannya, lalu meninggalkan mereka. Seperti itu kebiasaannya sejak dulu, menjebak orang dengan cinta palsu. Wahai, apa yang kau harapkan dari kebiasanmu mencari pengikut dan bergerombol, lalu saling   membanggakan dan mementingkan diri? L ihat dan buktikanlah sendiri! Umurmu nyaris habis, hari telah senja, masih saja engkau sibuk mengejar manusia. Terus menerus mengejar seseorang sambil melepaskan orang lain. Seperti permainan anak kecil saja. Sampai malam datang, dan tiada buruan berharga...