Postingan

Menampilkan postingan dengan label mutiara

Heninglah di tengah Perdebatan

Gambar
Kiprah ke tujuh-puluh dua golongan akan tetap ada di alam dunia ini sampai Hari Kebangkitan Dunia ini alam yang berisikan kegelapan dan pemberhalaan: Bumi ini tempatnya bayang-bayang. Ke tujuh-puluh dua golongan itu akan tetap ada sampai Hari Kebangkitan: bantahan dan alasan orang  bid'ah akan tetap keras. Banyaknya kunci atas harta-simpanan menunjukkan ketinggian nilainya. Jalan yang berliku-liku, lintasan curam pendakian gunung, tebing-jurang di kanan-kiri, banyaknya penyamun menghadang, semuanya petunjuk agungnya tujuan sang pencari. Kebesaran  Ka'bah  dan tempat  thawaf, ditunjukkan oleh hadangan penyamun, dan luasnya gurun yang harus dilintasi ketika pergi berhaji. Setiap ajaran palsu itu bagaikan lintasan jalan di gunung: curam, bertebing, berpenyamun. Semua ajaran berhadapan, dan menjadi lawan yang keras, dari ajaran lainnya: setiap pengikut masing-masing ajaran menjadi bingung. Karena dilihatnya semua lawan bersikukuh pada doktrin ma...

Tuan Rumah

Para penempuh Jalan,  dimana kalian? Kekasih Tercinta ada disini!                   [1] Dambaanmu tinggal di ruang sebelah. Sejak awal bertetangga!                          [2] Mengapa engkau berkelana kesana kemari, menjelajah gurun? Jika tatapanmu menuju   ke Wajah Yang Tercinta,                         [3] dan tak hanya ke bentuk permukaan, maka dirimu lah yang menjadi rumah  bagi Rabb: engkau lah tuan rumah bagi-Nya. Berkali-kali kau tempuh jalan menuju rumah itu. Kali ini, masuklah ke dalam, panjatlah atapnya. Rumah indah yang suci yang ciri-cirinya telah kau paparkan dengan rinci. Kini tunjukkanlah padaku ciri-ciri rumah Rabb . Jika telah kau kunjungi Taman itu, mana oleh-oleh rangkaian bunga dari sana? Jika kau telah sampai Laut-nya Rabb, mana mutiara indah, ...

Pangeran Palsu

Tengoklah kesini, ada Pangeran Palsu. Naik kuda kecil, diatas sadel kecil, lagaknya menyebalkan, bergaya memakai mahkota emas. Karena tak percaya kematian, dia bertanya dengan angkuh, "Dimana, dimana, malaikat maut itu?" Sebenarnya, Sang Maut senantiasa menyapanya, dari ke enam arah, seraya berseru, "Aku disini, aku disini." (Pada saatnya) Sang Maut berkata kepadanya, "Wahai keledai, kemana sekarang derap penuh gayamu? Kemana paras angkuh, bangga-diri, dan kemarahanmu? Kemana berhala cantik sumber kebahagiaanmu? Kepada siapa kau berikan mahkotamu, kini bantalmu gumpalan tanah, kasurmu dari tanah." Kurangi makanmu, gulung kasurmu, carilah  ad-Diin al-Haqq, agar kau menjadi Pangeran Keabadian, yang bebas pernak-pernik kecil adat dan kebiasaanmu. Jangan kubur jiwamu, jangan ubah roti jadi kotoran, kemana akalmu: kau lemparkan mutiara ke dasar kotoran. Ketahuilah, kita melekat ke tanah kotor ini semata agar menemukan mutiar...

Mereka yang Telah Mati

Para pencinta, yang dengan ikhlas mati dari diri mereka sendiri: mereka bagaikan gula, di hadapan Sang Kekasih. Pada Hari Perjanjian,  [1] mereka minum Air Kehidupan, sehingga matinya jiwa mereka tak seperti kematian orang lain. Karena mereka telah dibangkitkan dalam Cinta, kematian mereka tak seperti orang kebanyakan. Dengan kelembutan-Nya, mereka telah melampaui tingkat para malaikat; sama sekali tak bisa kematian mereka dibandingkan dengan orang kebanyakan. Apakah kau sangka Singa mati bagai anjing, jauh dari hadirat-Nya? [2] Ketika para pencinta mati di tengah Jalan, Sang Raja Ruhaniah berlari menyambut. [3] Ketika mereka mati di kaki Sang Rembulan, [4] mereka menyala bagaikan Matahari. [5] Jiwa para pencinta sejati itu bersatu mereka mati dalam saling mencintai. [6] Derai embun Cinta membasuh jantung mereka, mereka sampai pada kematian dengan hati berdarah-darah. Setiap me...

Lintasilah ke Dua Alam

Setiap saat, dari berbagai arah, himbauan Sang Kekasih menyerumu. Ke al-Jannah seyogyanya kita menuju: tak elok jika ke alam-dunia ini hanya untuk berjalan-jalan. Pernah kita disana, bersobat dengan para malaikat. Karenanya, wahai pejalan, mari kita kembali kesana, itulah tempat kita yang sebenarnya. Bahkan semestinya, lebih tinggi daripada Taman itu; hakikinya, insan sejati itu lebih tinggi daripada malaikat. Mengapa ke dua alam ini                                       1) tak segera kita lintasi saja? Tujuan kita adalah keagungan puncak. Sungguh berbeda sumbernya: alam tanah-liat ini, dengan inti cahaya insan. Memang dulu kita telah diperintahkan turun,     2) kini mari kita bergegas naik, mengapa berlama-lama disini. Segarnya keberuntungan adalah sahabat kita: berserah-diri adalah keahlian kita. Pemandu kafilah kita adalah Mushthafa: kecintaan alam semesta. Manis-harumnya hemb...

Bersandarlah kepada Rencana-Nya

Gambar
Madinah al-Munawarrah, fajar 5 Maret, 2024 Wahai sahabat yang berpagi-pagi bangkit, siapakah yang ketika menanti fajar, [1] bertemu kami sedang menari berputar bagaikan atom? Siapakah yang beruntung: yang ketika mencari air ke bibir sungai, malah mendapati bayangan Sang Rembulan di permukaannya? [2] Apakah ada yang bagaikan Ya’qub: ketika rindu harumnya Yusuf, mencium baju gamisnya; [3] malahan menemukan cahaya matanya itu. Atau bagaikan seorang Arab Badui yang haus, menurunkan timba ke dalam sumur, lalu ketika diangkatnya, mendapatkan sosok yang sedemikian indahnya. [4] Atau seperti Musa, ketika melihat api, lalu menembus semak-belukar untuk mendapatkan manfaat api itu, tiba-tiba menemukan ratusan fajar dan matahari terbit. [5] Isa masuk kedalam rumah untuk menghindari kejaran musuh; tiba-tiba dari rumah itu didapatinya sebuah lorong menuju ke langit. [6] Atau seperti Sulaiman yang membelah seekor ikan, dan dalam peru...

Rabb dan Dunia

Gambar
Seorang pencari berkata kepada Sang Hakim: "Dia, yang pertolongan-Nya kita mohonkan, tentu mampu membuat perdagangan kita tak pernah rugi. Dia yang yang mengubah api Namrud menjadi mawar dan pepohonan, tentu juga bisa membuat dunia kita ini jadi tanpa-api. [1] Dia yang memekarkan mawar dari tengah kumpulan duri, tentu mampu mengubah musim dingin ini menjadi musim semi. Dia yang membuat setiap cemara lurus dan bebas tentu kuasa mengubah sedih menjadi gembira. Dia yang membuat ketiadaan menjadi keberadaan: takkan Dia direndahkan, jika ciptaan dibuat-Nya abadi. Dia yang memberi raga suatu ruh, sehingga hiduplah ia; apa ruginya Dia jika dibuatnya kita tak perlu mati? Mengapa Sang Maha Pemurah, tak menganugerahkan saja, semua yang diinginkan setiap hamba; tanpa mereka perlu susah-payah berusaha? Dan mengapa tak dijauhkan-Nya, sang hamba yang lemah, dari kelicikan syahwatnya, dan dari godaan syaithan; yang sela...

Perhatikanlah

Perhatikanlah, bagaimana setiap bagian alam berlalu, dan bagaimana setiap orang tiba  melalui suatu perjalanan. [1] Perhatikanlah, bagaimana setiap orang, dalam hasrat akan nafkah hariannya, tunduk menghormat kepada penguasanya. Perhatikanlah, bagaimana setiap orang, jatuh bersujud di kaki matahari, bagaikan redupnya bintang-bintang, tunduk pada terangnya sang surya. Perhatikanlah, bagaimana setiap orang bergegas, bagaikan arus mencari air, berlomba-lomba mengalir menuju laut. Perhatikanlah, bagaimana sebuah jamuan kehormatan, disiapkan dari dapur Sang Raja, untuk setiap orang, sesuai dengan kebutuhannya. [2] Perhatikanlah, bagaimana kecilnya lautan alam-dunia,  bagi para pencari sejati, sehingga termuat di cangkir-minum mereka. [3] Perhatikanlah, mereka yang nafkah hariannya wajah Sang Raja, tersenyum mereka setiap saat, merefleksikan keindahan Sang Raja. [4] Perhatikanlah, dengan pandangan seorang Syamsi Tabriz: lihatla...