Postingan

Menampilkan postingan dengan label saksi

Dengarkanlah dalam Diam

Gambar
Jika kau miliki telinga, dengarkanlah, Terimalah pesanku dengan jernih; Dengan Dia memenuhi seluruh isi hatimu Berpisahlah kau dari dirimu sendiri. Tutup mulutmu, ketika terangnya penglihatanmu mencerap visi yang muncul: Tak perlu kau tambahkan pendapatmu Karena semua telah kau saksikan di sana. Sumber: Rumi: Rubaiyat Berdasarkan terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A.J. Arberry, 1949.

Dengarkan lah, ke Arah Mana Ia Berayun

Terpuji lah yang Maha Suci, sang Pencipta yang Gaib: dibangunnya istana Sabda. Ketahuilah, sabda itu bagaikan suara pintu yang terdengar dari istana rahasia; coba lah untuk mencermati, apakah itu suara pintu yang tengah membuka atau menutup. Suara pintunya dapat didengar tapi pintunya sendiri tak tampak: kau dengar suara pintu itu tapi pintunya sendiri tak terlihat. Ketika alunan nada dari harpa kebijaksanaan mulai terdengar berdenting, cermati baik-baik: ke arah mana Pintu Surga tengah berayun. Karena letakmu jauh dari pintu itu, dengarkan lah suaranya dengan penuh perhatian. Sumber: Rumi: Matsnavi  VI: 3481 - 3485 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Camille dan Kabir Helminski, dalam Rumi; Jewels of Rememberance Threshold Books, 1996 berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia oleh Yahya Monastra.

Kebajikan Air

Gambar
Diturunkan air berbentuk hujan dari langit penuh bintang,           [1] agar ia membersihkan kotoran dan ketidak-murnian. Pandang lah bagaimana air membasuh ketidak-sucian; dan bagaimana Allah Maha Tinggi memurnikan air itu sendiri dan ketidak-murniannya. Tak diragukan lagi, Allah Maha Tinggi itu paling Murni dan Suci. Ketika air memerangi ketidak-murnian dan menjadi kotor - sedemikian rupa         [2] sehingga tak bisa lagi ia membersihkan - Allah Maha Penyayang membawanya ke Samudera Kebenaran: disana Hakikat Air memurnikannya kembali.       [3] Tahun berikutnya, dia akan datang kembali, memakai jubah yang bersih,         [4] panjang menjuntai. Bertanya Bumi kepadanya, "Kemana saja engkau pergi?" Dan dia menjawab, "Ke dalam Samudera Kebaikan yang manis. Kotor aku ketika bertolak dari tempat ini, Lalu aku dimurnikan. Dipakaikan padaku jubah kehormatan....

Cadar Raga

Janganlah kau bosan bersamaku, sungguh aku seorang saksi yang indah. Sang Maha Pencemburu telah sembunyikanku di balik sebuah cadar. Pada hari kutanggalkan cadar raga ini, akan kau saksikan bagaimana cemburunya rembulan dan bintang-bintang padaku. Basuhlah wajahmu dan murnikan dirimu sehingga kau bisa saksikan aku. Atau menjauhlah engkau dariku, karena aku adalah saksi bagi diriku sendiri. Aku bukanlah saksi yang esok akan pikun atau bungkuk karena tua. Aku kan selalu muda, menyegarkan, dan sedap dipandang. Jika cadar raga ini melapuk, sang saksi takkan beranjak menua; masa pakai cadar kan berakhir, tapi kami selamanya hidup. Ketika Iblis melihat cadar raga Adam, dia menolaknya. Adam berkata padanya, "Engkaulah yang tertolak, bukan aku." Sementara para malaikat bersujud dan berkata, "Kami telah temukan seorang saksi. Dibalik cadarnya terdapat sesosok pujaan yang sifat-sifatnya mempesona akal kami, maka kami bersujud padanya. Jika ke...

Saksi Terkasih

Gambar
Muhammad (saw) itu pemberi  syafa'at atas segala jenis aib, karena tatapannya tak pernah teralihkan  pada hal lain: senantiasa tertuju pada wajah  Rabb. Di tengah kegelapan malam alam dunia ini, dimana matahari  al-Haqq  terhijab, dia menatap  Rabb, dan meletakkan harapannya kepada-Nya. Pandangannya senantiasa disegarkan oleh makna sejati  "bukankah telah Kami lapangkan dadamu?"   [1] dilihatnya hal-hal yang tak mampu Jibril tatap. Sang yatim, yang kepadanya  Rabb  limpahkan kesegaran pandangan, menjadi mutiara yatim  tunggal, yang dianugerahi panduan Ilahiah. Cemerlang cahayanya mengatasi mutiara lain, karena yang dikehendakinya adalah kehendak yang paling mulia. Seluruh kedudukan  ruhaniah  para abdi Allah jelas belaka bagi sang Nabi, karenanya  Rabb  menggelarinya: sang Saksi .   [2] Senjata sang Saksi adalah lisan yang tulus dan pandangan yang tajam-- yang dari penjagaan...

Datang Semata untuk Bersaksi

Kehadiran kita di ruang sidang Sang Hakim ini [1] untuk membuktikan kebenaran pernyataan kita, "kami bersaksi;" ketika dalam Perjanjian itu kita ditanyai, "bukankah Aku Tuhanmu?" [2] Karena kita telah membenarkan, maka dalam  persidangan ini ucapan dan tindakan kita menjadi  saksi dan bukti bagi kesepakatan itu. Ruang sidang Sang Hakim bukanlah tempat untuk membisu. Bukankah kita datang kesini untuk memberikan persaksian? Wahai saksi, berapa lama lagi engkau diperiksa di ruang  sidang Sang Hakim? Segera lah berikan pernyataanmu. Engkau telah dipanggil ke sini, dan telah datang engkau, [3] semata untuk bersaksi. Lalu mengapakah engkau bersikukuh diam? Di ruang tertutup ini engkau ikut menutup mulut maupun tanganmu. [4] Kecuali engkau berikan pernyataan itu, wahai saksi,  bagaimana caranya engkau akan keluar dari sidang ini? [5] Inilah urusanmu di alam ini. Kerjakan tugasmu dan segeralah berl...