Postingan

Menampilkan postingan dengan label tangga

Tangga ke Langit

Gambar
Indera ragawi adalah tangga  ke alam dunia ini, sementara indera ruhaniah adalah tangga ke langit. Carilah obat bagi sembuhnya indera ragawi  dari seorang tabib; dan mohonlah kesembuhan indera ruhaniah kepada Sang Kekasih. Kesehatan indera jenis pertama muncul dari kebugaran tubuh; sementara kesehatan indera jenis ke dua timbul dari runtuhnya tubuh. Jalan ruhaniah itu meruntuhkan tubuh, dan setelah itu mengembalikannya ke kemakmuran. Runtuhkanlah rumah agar khazanah keemasan tergali, dan dengan harta itu  bangunlah rumah baru, yang lebih baik daripada rumah sebelumnya.  [1] Bendunglah aliran sungai dan bersihkanlah dasarnya, kemudian alirkanlah air bersih  mengalir ke dalamnya. Torehlah kulit dan keluarkanlah duri, kemudian biarkan kulit segar tumbuh menutupi luka. Runtuhkan dan rebutlah benteng dari orang kafir, kemudian bangunlah di atasnya ratusan menara dan kubu pertahanan....

Rintihan Seruling Bambu

Gambar
Dengarkanlah suara seruling bambu Menyayat rintihannya, lantunkan perihnya perpisahan: "Sejak direnggut aku dari rumpunku dulu, ratapan pedihku telah membuat berlinang air-mata orang. Kuseru mereka yang tersayat hatinya karena perpisahan. Karena hanya mereka yang pahami sakitnya kerinduan ini. Mereka yang tercerabut dari tanah-airnya merindukan saat mereka kembali. Dalam setiap pertemuan, bersama mereka yang tengah gembira atau sedih, kudesahkan ratapan yang sama. Masing-masing orang hanya dapat mendengar sesuai pengetahuannya sendiri-sendiri. Tak ada yang mencari lebih dalam tentang rahasia didalam diriku. Rahasiaku tersembunyi didalam rintihanku, mata-telinga tak bercahaya takkan mampu memahaminya." Desah seruling bersumber dari api, bukannya angin. Apa gunanya hidup seseorang yang tak lagi ada apinya? Adalah api cinta yang menghidupkan nyanyian sang seruling. Adalah ragi cinta yang membuat anggur teras...

Terjerat Kerumitan

Kita kecanduan diskusi rumit, dan gemar mengatasi masalah. Bolak-balik kita membuat simpul lalu mengurainya kembali. Terus menerus kita membuat aturan tentang cara menampilkan kesulitan, dan untuk menjawab aneka pertanyaan yang diajukan. Kita seperti burung yang melonggarkan jerat lalu mengencangkannya kembali dalam rangka meningkatkan ketrampilan. Sehingga hilang kesempatan terbang jelajahi medan terbuka; sehingga hilang kesempatan kunjungi padang rumput, habis umur sibuk dengan simpul. Tetap saja buhul-jerat tak terkuasai, walau sayap burung berkali-kali patah. Simpul-jerat tak untuk dilawan, jaga agar sayapmu tak patah. Jangan rusak bulu pelindungmu hanya sekedar untuk tunjukkan pada dunia, betapa hebatnya usahamu. Sumber: Rumi:   Matsnavi   II: 3733 - 3738 versi  Camille  dan  Kabir Helminski dalam  Rumi: Daylight,  Threshold Books, 1994 Transliterasi dari Bahasa Persia oleh Yahya Monastra .

Jadikan Anak Tangga

Ketika kau temui wajah kemarahan, lihatlah ke baliknya, dan akan kau dapati wajah bangga-diri. Injaklah marah dan bangga-diri, jadikan mereka anak-tangga, dan panjatlah, naik. Takkan pernah kau temui kedamaian, sampai engkau menjadi tuan mereka. Tanggalkan kemarahan: rasanya manis, tapi mematikan. Jangan mau jadi korbannya, kau perlukan kerendahan-hati untuk memanjat ke arah kemerdekaan. Sumber: Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, Ghazal no 2197 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Azima Melita Kolin dan Maryam Mafi,  dalam Rumi: Hidden Music, HarperCollins Publishers Ltd, 2001.