Postingan

Menampilkan postingan dengan label Yunus

Kesenangan yang Melenakan dan Menipu

Gambar
Semua kesenangan yang egois itu melenakan dan menipu. Bagaikan secercah cahaya kilat yang lalu diikuti kegelapan. Cahaya kilat itu tak memadai  untukmu membaca, apalagi membantumu mencapai tujuanmu. Jalanmu akan panjang, dan tanpa seorangpun pemandu. Tipuan di tengah malam akan membuatmu semakin jauh tersesat ke tengah gurun. Terkadang kau terhalang sebuah gunung; kali lain, kau terjatuh ke dalam sungai. Wahai pencari kesenangan duniawi, takkan kau temukan seorang pemandu; bahkan, jika kau bertemu dengannya,  akan kau palingkan wajahmu. Seraya engkau berkata, "Telah jauh kutempuh jalan ini, sang pemandu ini malah memberitahuku, bahwa aku telah tersesat. Jika kudengar perkataan yang menakjubkan itu, aku harus memulai ulang perjalananku,  dibawah arahannya. Aku telah habiskan umurku di jalanku ini: kukan lanjutkan, apapun resikonya. Enyahlah, para pengkritik!" Betul, telah jauh kau berjalan, tetapi hanya dalam prasangka seremeh kilat; kemarilah, dirikanlah tenda sebagai...

Mi'raj ke dalam Perut Paus

Ketika Sang Kekasih menjadi sahabat, tempat manapun menjadi "bagaikan di langit;" dan bukan "terbenam ke bumi." Sang Nabi saw, berkata, "Jangan menyangka  mi'raj -ku lebih unggul daripada apa yang terjadi pada Yunus;        [1] aku diangkat ke langit; dia ditenggelamkan ke dalam perut paus;    [2] kedekatan pada  al-Haqq  itu di luar perhitungan." Kedekatan itu bukan soal naik atau turun: kedekatan pada  al-Haqq  itu artinya  kemerdekaan dari penjara keberadaan. Tiada tempat bagi gerak  "ke atas" atau  "ke bawah"  dalam ketiadaan. Ketiadaan tak mengenal  "nanti," "jauh,"  atau  "terlambat." Sumber ilmu dan khazanah  al-Haqq berada di ketiadaan. Karena keberadaan ini saja telah menipumu, bagaimana mungkin kau pahami apa itu ketiadaan?                        [3] Kekurangan adalah bagian dunia yang telah ditentukan bagi...