Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sulaiman

Berpuasa: Menanti Perjamuan-Nya

Gambar
Ada yang terasa manis tersembunyi di balik laparnya lambung Insan itu tak ubahnya sebatang seruling. Ketika penuh isi lambung seruling, tak ada desah: rendah atau tinggi yang dihembuskannya. Jika lambung dan kepalamu terasa terbakar karena berpuasa, apinya akan menghembuskan rintihan dari dadamu. Melalui api itu akan terbakar seribu hijab dalam sekejap, kau akan melesat naik seribu derajat dalam Jalan dan cita-citamu. Jaga lah agar lambungmu kosong. Merintih lah bagai sebatang seruling dan sampaikan keperluanmu kepada Rabb. Jaga lah agar lambungmu kosong hingga dapat kau lantunkan bermacam rahasia layaknya sebatang seruling. Jika lambungmu selalu penuh Setan yang akan menanti di kebangkitanmu dan bukannya Akal Sejati-mu, di rumah berhala dan bukannya di Ka'bah. Ketika engkau berpuasa, akhlak yang baik berkumpul di sekitarmu, bagaikan pembantu, budak dan penjaga. Teruskan lah berpuasa, karena ia adalah segel Sulaiman. Jangan serahkan segel itu ...

Lari dari Izrail

Suatu pagi, ke majelis Nabi Sulaiman as, yang sedang berada di gedung pengadilan, masuklah seorang bangsawan, berlari, tergopoh-gopoh. Wajahnya pucat karena sedih, bibirnya membiru. “Sakitkah engkau, Khwajah? ” tanya Sang Raja. Ia menjawab, “Ketika Izrail melemparkan pandangan kepadaku, dia penuh amarah dan kebencian.” “Nah, sekarang katakan apa yang engkau inginkan?” “Wahai pelindung hidupku, kumohon padamu, perintahkanlah angin membawaku langsung ke India: semoga sesampainya disana, jiwa hambamu ini selamat dari kematian.” Wahai, betapa banyak orang berlomba-lomba, melarikan diri dari kemiskinan; malah terjatuh mereka kedalam rahang serakah dan panjang angan-angan. Ketakutanmu akan kemiskinan bagaikan kengerian orang itu: ketahuilah, keserakahan dan panjangnya angan-anganmu adalah India dari kisah ini. Nabi Sulaiman memerintahkan angin segera membawanya melintasi samudera, ke pedalaman India. Keesokan harinya, dalam sidang musyawarah, Sang Raja bertanya kepada Izrail as, “Ketika ...

Hanya Harapan yang Diperbolehkan Mengetuk Pintu

Gambar
Di dalam hati mereka, para Nabi bertanya: “Sampai kapan kami terus menyeru dan menasehati si fulan dan si fulanah? Sampai kapan kami harus membentuk sepotong besi dingin? Sampai kapan kami harus terus membisiki werangka yang kosong ini?” Setiap gerakan makhluk berlangsung karena ketetapan dan penunjukan Ilahiah: tajamnya gigitan berlangsung karena panasnya rasa-lapar di perut. Jiwa Pertama mendorong dan jiwa ke dua merespon: berubahnya bau ikan dimulai dari kepala, bukan dari ekornya. Kenalilah ini, dan tetaplah melesat bagai anak-panah, karena Allah telah bersabda: “Sampaikanlah;” tidaklah mungkin menghindar dari melakukannya. Dan tidaklah engkau mengetahui, engkau itu termasuk golongan yang mana: karenanya teruslah berjuang selama masih perlu bagimu memilah siapa sesungguhnya dirimu. Ketika engkau memunggah muatan ke atas sebuah kapal, engkau melakukannya atas dasar kepercayaan. Sebab engkau tidak tahu termasuk golongan yang ...