Postingan

Menampilkan postingan dengan label khayal

Dalam Cengkeraman Sang Kekasih

Gambar
Sumber Kaligrafi: gramatologia: Leão Tengah tercengkeram engkau dalam cakar seekor singa: sahabatku, janganlah kau harapkan kebahagiaan. Hanya kekerasan yang dapat tundukkan musuh tersembunyi dalam dirimu. Tidaklah seorang pembersih yang sedang memukuli karpet, mengarahkan pukulan tongkatnya padamu melainkan kepada debu di dalamnya. Egomu tersembunyi di balik berlapis hijab debu tak bisa semuanya dibersihkan sekaligus. Bersama setiap pukulan sedikit demi sedikit tanggal hijab dari wajah qalb -mu. Janganlah kau coba mengelak dengan menyelinap ke dalam tidurmu, cakar tajam Sang Kekasih akan mengejarmu sampai ke dalam khayal -mu. Tidaklah seorang pengrajin mengukir sebatang kayu dengan keji, tapi dalam rangka membentuk sebuah karya yang indah. Keras tangan Sang Kekasih adalah sebuah rahmat, sahabatku: Ia akan menghaluskanmu, dan pada akhirnya, memurnikanmu. Catatan: Pada sebuah bagian Masnawi -nya,  Rumi menyampaikan: Takdir itu bagaikan Singa, yang menyeret diri kita,  yang se...

Suatu Fajar Bersama Sang Rembulan

Gambar
Rembulan muncul di langit fajar. Mengambang turun ia, seraya menatapku. Lalu, bagai seekor elang menyambar mangsanya,      ia mencengkeramku      dan menyeretku ke angkasa. Walau kucoba sekuat tenaga, tak mampu aku melihat diriku sendiri. Berkat keajaiban cahaya rembulan, telah lebur diriku kedalam jiwa murni. Dalam bentuk itu lah pengelanaanku berlangsung, bersatu dalam cahaya tak-terbatas. Lalu, rahasia dari pertunjukan abadi tergelar jelas di hadapanku. Ke sembilan sfera langit, terliputi oleh cahaya. Wahana-jiwaku, melayang di Samudera tanpa pantai. Tiba-tiba samudera wujud beralih bentuk menjadi gelombang demi gelombang. Fikiran timbul: imaji bentuk bagai gelombang memecah di pantai. Lalu semuanya kembali seperti semula: bersatu dalam jiwa yang murni. Keberuntungan berupa penglihatan ini berasal dari Syamsudin al-Haqq dari Tabriz. Tanpa kepemurahannya, tak ada yang dapat me...

Hanya Kisah Aneh dari Zaman Dahulu

Gambar
Khayalanmu yang menggunung,  bobotnya tak sampai se remah roti.  Hilir–mudikmu  tak lebih hanya sebuah dalih.  Sepanjang hayatmu, telah kau dengar beragam cerita tentang perjalanan hatiku.  Tapi semua itu bagimu tak lebih dari kisah–kisah aneh dari zaman dahulu.  Sumber: Rumi: Rubaiyat  F#704 Suntingan ke Bahasa Inggris oleh Jonathan Star, dalam Rumi: In  the Arms of the Beloved, TCE, Penguin Group (USA), 20008. Berdasarkan terjemahan literal dari Bahasa Persia ke Bahasa Inggris  oleh Shahram Shiva.

Jangan Kau Sesali

Gambar
Jangan kau sesali lenyapnya kebahagianmu; ketahui lah ia akan kembali padamu dalam bentuk yang lain. Saat kanak-kanak kau berbahagia ketika kau menyusu. Ketika mulai tumbuh membesar kau bosan pada susu, dan kesenanganmu beralih pada minuman lain dan madu. Kesenangan adalah sesuatu yang esensial ia datang menyapamu melalui aneka bentuk. Ia bergerak dari satu sudut ke sudut lain pada unsur air dan tanah-lempung, yang membentuk dirimu. Ia bisa mendadak mempertontonkan keindahannya pada butir air hujan, lalu ia merasuki pokok mawar, dan keanggunan kecambahnya ketika bibitnya bangkit dari tanah. Ia bisa datang dari air, dari kelezatan roti dan daging, lalu melalui kecantikan, lalu melalui anggunnya kuda tunggangan. Sampai, mendadak suatu hari, dari balik hijab-hijab itu, ia menerobos dan menghancurkan berhala-berhala: Ia bukan lah bentuk yang ini bukan pula bentuk yang itu.              [1] Jiwa, saat kau te...

Seandainya Sempat Kau Kenali

Gambar
Seandainya sempat kau kenali dirimu sendiri, walau sekejap. Seandainya sempat kau tatap --walau sekilas-- keindahan wajah sejatimu sendiri. Maka takkan lagi kau tertidur didalam campuran lempung dan air ini, bagaikan seekor hewan; kau kan bertolak ke rumah kebahagiaan bersama jiwa-jiwa nan indah. Kau harus telusuri jalan sampai ke sudut-sudut terjauh dirimu sendiri, agar diri sejatimu terejawantahkan; karena Khazanah Tersembunyi masih tersimpan di dalam dirimu. Seandainya engkau hanya terdiri atas sesosok tubuh, maka takkan pernah kau dengar kabar mengenai jiwa seandainya engkau hanya jiwa saja maka engkau sudah dalam kebahagiaan bersama dirimu sendiri. Seperti orang lain kau berhadapan dengan kebaikan dan kejahatan; kau hadapi semua itu  dengan apa yang ada pada dirimu. Seandainya engkau itu suatu jenis sayuran, maka kau miliki suatu cita-rasa khas; seandainya engkau itu sebuah periuk maka ada panas yang pas  untuk membuatmu men...

Istimewanya Al-Fatihah

Gambar
Al-Fatihah itu istimewa didalam  menarik kebaikan dan menghindarkan kejahatan. Jika apa saja selain Tuhan tampil padamu, itu dampak dari  khayal -Nya; dan jika apa saja yang selain Tuhan lenyap dari pandanganmu, itu karena dibangunkan-Nya engkau kepada apa yang  haqq . Sumber: Rumi:   Matsnavi   VI: 3355 - 3356 Terjemahan Camille dan Kabir Helminski dalam  Rumi: Jewels of Rememberance" Threshold Books, 1996 Berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia oleh Yahya Monastra.

Ketika Malam Tiba

Telah kau dapatkan di dunia ini pakaian indah dan kekayaan, tapi ketika kau bertolak tinggalkan dunia ini, bagaimana kiranya keadaanmu? Pelajari lah suatu perniagaan yang akan memberimu ampunan. Di semesta dibalik semesta ini, terdapat pula jual-beli dan perniagaan. Keuntungannya sedemikian rupa: dunia ini bagaikan mainan  dibandingkan dengannya. Bagaikan kanak-kanak yang sedang berkhayal berjual-beli di toko kembang-gula, dunia ini sebuah permainan. Ketika malam tiba, si anak pulang ke rumah: lapar, sendirian. Catatan: "Lelaki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tak pula oleh jual-beli, dari mengingat Allah, dan dari menegakkan shalat, dan dari membayar zakat. Mereka takut kepada hari dimana berbolak-balik hati dan penglihatan." (QS An Nuur [24]: 37) Sumber: Rumi: Matsnavi  II: 2593 - 2599 Versi terjemahan Bahasa Inggris oleh Camille dan Kabir Helminski. Transliterasi dari Bahasa Persia oleh Yahya Monastra.

Kegaduhan Sebelum Waktu Sahur

Seorang lelaki memukul-mukulkan tongkat ke gerbang pagar, di depan sebuah rumah-gedung besar, sambil berseru,  "sahur, sahur..." Sedang dia asyik menabuh besi pagar, seorang tetangga berkata kepadanya: "Wahai peminta-minta, sekarang belum masuk waktu sahur, jadi jangan gaduh; Lagi pula, wahai fakir, perhatikan lah, tiada orang menghuni rumah itu, isinya cuma setan dan hantu, percuma saja kegaduhanmu. Tak ada disitu telinga, yang dapat mendengar tabuhanmu; tak ada disitu akal, yang dapat mengerti tujuanmu." Lelaki pembuat kegaduhan itu menjawab, "Kudengar perkataanmu, kini perkenankan kujawab, agar engkau tak heran atau bingung. Walaupun menurutmu kini masih tengah-malam, tapi kulihat fajar segera merekah. Kulihat segala kekalahan segera berubah menjadi kemenangan, di mataku, semua malam segera kan berubah menjadi siang. Bagimu air Sungai Nil memerah, bagiku itu bukan darah, tapi air segar. Menurutmu, pagar besi ini keras; tapi ...

Mereka yang Merendahkan Pandangannya

Pengalaman  ruhaniyah  itu bagaikan para bidadari yang merendahkan pandangannya, mereka tak menampakkan diri kecuali kepada pemiliknya.    [1] Anggur  yang membawa kepada pengalaman itu,    [2] bagaikan  para bidadari yang merendahkan pandangannya, sementara wahana-wahana yang menghijabnya dari penglihatan bagaikan  tenda-tenda     [1] Sungai-besar itu bagaikan tenda,    [3] di dalamnya terdapat kehidupan bagi unggas-air,  dan kematian bagi burung gagak. Racun itu bagai gula-gula bagi ular tapi penderitaan dan kematian bagi yang lain. Bentuk dari setiap keberuntungan dan bencana itu bagaikan surga bagi seseorang atau neraka bagi orang lain. Karena itu, sungguhpun kau tatap berbagai bentuk dan benda, dan terdapat hidangan atau racun di dalam semua ciptaan itu-- kau tidak melihatnya. Setiap orang itu bagaikan cangkir atau cawan, di dalamnya terdapat makanan bergizi dan hal yang membawa terbakarnya...

Jelas Jalan Kembali

Engkau yang cerahkan hatiku, telah pergi; tapi tak pernah berpisah: Citramu selalu dalam penglihatanku. Cintamu selalu dalam hatiku. Ku telusur pelosok bumi, siapa tahu kau berkunjung ke sana. Senantiasa kuberharap, kan jelas akhirnya, jalanku kembali ke rumah. Sumber: A. J. Arberry, Rubaiyat of Jalal Al-Din Rumi, 1949.

Dihantarkan Perumpamaan

Manfaat perumpaan itu untuk menengahi, untuk mengantarkan pengertian. Tanpa sesuatu yang menengahi takkan ada yang berani masuk ke dalam api begitu saja, kecuali seekor salamander. Air hangat yang dipakai mandi adalah sebuah pengantar yang menengahi sehingga badanmu segar oleh panasnya api. Karena kau tak bisa langsung terjun ke dalam api, --seperti Ibrahim sang Khalilullah -- maka tempat mandi air-panas bagaikan utusan bagimu, dan air berperan sebagai pemandumu. Rasa puas itu dari  al-Haqq, tapi agar mereka yang masih penuh dosa dapat mencicipi rasa puas, diperlukan pengantar berupa makanan. Keindahan itu dari  al-Haqq, tapi mereka yang daya inderanya hanya jasmaniah takkan merasakan pesona keindahan tanpa ditengahi penghantar berupa Taman Surga. Ketika penengah jasmaniah diangkat, maka ia yang diangkat itu memahami tanpa hijab, bagaikan Musa, cahaya seterang rembulan memancar dari dadanya. Penyaksian itu bagaikan kebajikan yang disanda...

Di Lembah Cinta

Tengah malam, aku bertanya,  siapa ini yang ada di dalam rumah qalb-ku? Dia menjawab,  Inilah Aku, yang cemerlangnya membuat matahari dan rembulan jadi tertunduk malu. Dia bertanya,  Mengapa rumah ini penuh dengan aneka macam lukisan? Aku menjawab, Ini semua adalah bayangan dari-Mu, wahai Engkau yang wajah-Mu membuat iri warga Chigil.                               [1] Dia bertanya,  Dan apa ini: qalb yang berdarah-darah? Aku menjawab, Ini adalah gambaran diriku: hati terluka, dan kaki dalam lumpur. Kuikat leher dari jiwaku, dan menyeretnya kehadapan-Nya sebagai persembahan: Inilah dia yang telah berkali-kali memunggungi Cinta, kali ini jangalah Kau lepaskan. Dia serahkan satu ujung tali, ujung yang penuh kecurangan dan pengkhianatan, Peganglah ujung yang ini, Aku kan menghela dari ujung yang lain, mari berharap tali ini tidak putus. Kuraih tangan-Nya, Dia men...

Kembalilah ke Langit

Setiap saat, sebuah seruan dari langit menyapa inti jiwa sang lelaki pencari: Sampai kapan engkau melekat ke bumi, seperti buih. Naiklah ke langit! Mereka yang jiwanya berat tetap lekat menempel bagai buih; hanya jika termurnikan ia dapat mengalir ke atas. Jika kau tak terus-menerus mengaduk tanah-liatmu, airmu akan perlahan menjernih, dan buihmu tercahayai, maka sakitmu terobati. Seperti obor, hanya lebih banyak asapnya daripada apinya, asapnya menyebar kesana kemari, sehingga ruang di dalam jasmani, tempat jiwa terpenjara, tak lagi bersinar. Jika kau hilangkan asapnya kau dapat nikmati kembali nyala api obor; tempatmu di semesta ini dan semesta-semesta mendatang akan terterangi oleh cahayamu itu. Jika kau menatap pada air keruh, tak kelihatan disitu rembulan atau langit; matahari dan rembulan menghilang ketika kegelapan menyelimuti udara. Dari utara angin bertiup menyibak udara hingga jernih; datangnya pada fajar hari, usapannya melapang...

Pintu-pintu Menuju Taman-Mu

Gambar
Wahai Kekasih, manakah yang lebih mempesona, Wajah-Mu atau al-Jannah -Mu ini,  yang begini luas. Bercahayalah, wahai rembulanku, Engkaulah inspirasi, bagi semua yang menatap langit malam. Yang asam akan berubah jadi manis. Prasangka diganti dengan Kebenaran. Gerumbul duri diubah jadi mekar bunga. Seratus tubuh akan bangkit hidup kembali, dengan satu hembusan-Mu. Kau taruh pintu demi pintu di langit Kau taruh harapan dalam hati insan. Kau cekam setiap kecerdasan, Kau buat ke dua alam terpesona pada-Mu. Wahai Kekasih, pipimu memerah, bagai mawar. Wahai Kekasih, Engkaulah pujaan alam ini, dan alam berikutnya, dan alam-alam berikutnya. Kelopak-kelopak jagung, berupaya keras, mencoba meniru satu warna-Mu. Semua jenis kebenaran lebur jadi satu dibawah injakan kaki-Mu. Seluruh nada laguku rindu menggemakan merdunya suara-Mu. Tanpa Engkau, pasar dan perniagaan sepi. Taman dan kebun longsor tersapu air bah. Kau ajari pohon menari seiring t...

Tertidur dan Tengah Bermimpi

Gambar
Seseorang yang lama tinggal di sebuah kota, tertidur; dan di dalam tidurnya melihat kota lain, yang penuh kebaikan dan keburukan; hingga kotanya semula hilang dari ingatannya. Seharusnya, dia berkata pada dirinya sendiri, seperti ini: "Ini adalah kota yang baru, aku adalah seorang asing disini;" Sebaliknya, dia membayangkan selalu tinggal di kota baru itu, dilahirkan dan dibesarkan disitu. Apakah mengherankan, jika kemudian jiwa tak ingat lagi akan kampung-halamannya dan tanah kelahirannya? Karena alam-dunia ini, bagaikan tidur, menyelimuti jiwa kita, bagaikan awan menyelimuti bintang. Apalagi saat ia melangkahkan kaki ke berbagai kota dan debu yang menutupi matanya belum dibersihkan. Lagipula dia belum berupaya keras, memurnikan hatinya; sampai hatinya itu dapat menatap masa lalu. Bagaimana dia memasuki tataran alam material, dan dari situ melangkah memasuki tataran alam nabatiah Lama dia tinggal di tataran alam nabatiah, disitu tak...