Postingan

Menampilkan postingan dengan label puisi

Rintihan Seruling Bambu

Gambar
Dengarkanlah suara seruling bambu Menyayat rintihannya, lantunkan perihnya perpisahan: "Sejak direnggut aku dari rumpunku dulu, ratapan pedihku telah membuat berlinang air-mata orang. Kuseru mereka yang tersayat hatinya karena perpisahan. Karena hanya mereka yang pahami sakitnya kerinduan ini. Mereka yang tercerabut dari tanah-airnya merindukan saat mereka kembali. Dalam setiap pertemuan, bersama mereka yang tengah gembira atau sedih, kudesahkan ratapan yang sama. Masing-masing orang hanya dapat mendengar sesuai pengetahuannya sendiri-sendiri. Tak ada yang mencari lebih dalam tentang rahasia didalam diriku. Rahasiaku tersembunyi didalam rintihanku, mata-telinga tak bercahaya takkan mampu memahaminya." Desah seruling bersumber dari api, bukannya angin. Apa gunanya hidup seseorang yang tak lagi ada apinya? Adalah api cinta yang menghidupkan nyanyian sang seruling. Adalah ragi cinta yang membuat anggur teras...

Engkaulah ...

Gambar
Sejak kumulai berjalan, Engkau lah tujuan, Engkau lah pemandu. Ketika kucari hatiku, Engkau lah yang meremukkannya. Ketika kucari kedamaian, Engkau lah yang mengayomi. Ketika kupergi berjihad, Engkau lah pedangku. Ketika kubelajar lebur, Engkau lah anggur dan manisan. Ketika kudatangi taman itu, Engkau lah sang narsisus memekar. Ketika kusampai ke tambang itu, Engkau lah sang merah delima. Ketika kuselami samudera, Engkau lah mutiara di dasar. Ketika kulintasi gurun, Engkau lah oase. Ketika aku mengangkasa, Engkau lah bintang paling terang. Ketika kutegak dengan berani, Engkau lah perisaiku. Ketika kupingsan kebingungan, Engkau lah wewangian yang menyadarkan. Ketika kuterjun dalam pertempuran, Engkau lah sang panglima pasukan. Ketika kutiba di perjamuan, Engkau lah tuan-rumah, penghibur, sekaligus cangkir. Ketika kumenulis, Engkau lah kertas, pena, sekaligus tinta. Ketika kuterjaga, Engkau lah kesadaranku. Ketika kutertidur, Kau masuki mimpik...

Tempatnya di dalam Kehangatan Dada

Puisi-puisiku bagaikan roti dari Mesir: boleh jadi seseorang jadi melewatkannya begitu saja, dan engkau tidak dapat mengunyahnya lebih banyak lagi. Karenanya, telanlah sekarang, manakala dia masih segar, sebelum debu dunia ini hinggap diatasnya. Tempat yang tepat bagi puisi adalah di sini:  di dalam kehangatan dada, di dunia luar sana, dia mati kedinginan. Perhatikanlah seekor ikan, taruhlah di atas tanah yang kering,  dia menggelepar beberapa menit,  setelah itu dia terdiam. Bahkan jika engkau menelan puisi-puisiku sewaktu mereka masih segar, engkau masih harus menghadirkan sendiri berbagai khayal . Sesungguhnya, sahabatku, yang engkau telan adalah khayal -mu sendiri. Ini bukanlah sekumpulan peribahasa usang.