Postingan

Menampilkan postingan dengan label Iblis

Pagelaran Hal-hal yang Berlawanan

Sudah menjadi Kehendak dan Keputusan Dia, sang Maha Pengampun, untuk memperkenalkan dan menyingkapkan Diri-Nya. Tetapi takkan sesuatu dikenali kecuali jika ada lawannya, dan Raja tak-Tertandingi itu tak terbandingkan. Maka diangkatnya seorang khalifah, seorang insan pemilik  qalb, agar menjadi cermin yang menampikan kedaulatan-Nya. Lalu dilimpahkan padanya kemurnian tak-terhingga, dan dari kebalikannya ditampilkan lawannya, yang berasal dari kegelapan. Berkibar dua panji berlawanan, putih dan hitam: yang pertama Adam; dan lainya  Syaithan,  sang penghalang jalan menuju kepada-Nya.                        [1] Diantara ke dua kubu ini, berlangsung pertentangan dan perang; dan melalui hal-hal itu terjadilah apa-apa yang harus terjadi. Demikianlah, pada generasi berikutnya tampillah Habil; sedangkan saudaranya, Khabil, menentang cahaya murninya.         ...

Sang Khalilullah Menyembelih Gagak, Unggas ke Tiga Pengganggu Perjalanan

Wahai pejalan, mengapa gagak dalam dirimu perlu disembelih? Karena Perintah Ilahiah! Ada hikmah apakah dibalik Perintah itu? Mari kuperlihatkan sedikit. Gaduhnya suara gagak hitam berkaok itu permintaa terus menerus agar diberi umur panjang di alam dunia ini. Bagaikan iblis, gagak meminta-minta kepada Tuhan Yang Maha Suci  dan tak-Terbandingkan, agar umurnya sampai mencapai Hari Kebangkitan. Alih-alih menyatakan, "Aku bertaubat, wahai Tuhanku," iblis malah meminta,  "berilah aku tangguh sampai Hari Pembalasan."                          [1] Hidup tanpa pertaubatan itu seluruhnya penderitaan: terpisah dari Tuhan sama saja dengan mati mendadak. Baik hidup maupun mati, keduanya manis bersama hadirnya Tuhan: tanpa Tuhan, air kehidupan berubah jadi api. Kutukan Ilahiah menimpa iblis, ketika pada Hadirat-Nya dia meminta umur panjang. Bergantung pada  ilah  selain daripada Allah tak...

Hanya Sebongkah Tanah Liat

Harta tak langgeng: datang di pagi hari, terserak ke berbagai penjuru ketika malam tiba. Kecantikan ragawi tak abadi: pipi memerah-mawar langsung pucat ketika tergores duri. Keturunan ningrat hampa nilainya, banyak yang jadi dungu karena kemewahan. Tak terhitung anak kaum ningrat mempermalukan penghulu mereka karena akhlak buruk. Mereka yang berbakat juga tak selalu dapat diandalkan, walau tampak gemilang dan mengagumkan: ambilah contoh dari kisah iblis. Iblis sangat pandai, tapi karena cintanya tak murni, tak dilihatnya pada diri Adam, kecuali sebongkah tanah-liat. Sumber: Rumi : Matsnavi VI 255 - 260 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson .

Aku di Sini (labbayka)

Gambar
Suatu malam, seorang lelaki merintihkan,  "Yaa Allah" sampai bibirnya manis dengan pujian kepada-Nya. Iblis mengejeknya, "Kasihan engkau, wahai lelaki malang, mana jawaban,  'Aku di sini,'  untuk semua rintihan,  'Yaa Allah- mu?' Tiada satupun jawaban datang dari  'Arsy: sampai kapan engkau merintihkan  'Yaa Allah' dengan wajah suram?" Si lelaki patah-hati, berbaring, tertidur dan bermimpi: di situ dilihatnya Nabi Khidir as, di tengah dedaunan menghijau. Nabi Khidir bertanya: "Wahai lelaki, engkau berhenti memuji Allah, mengapa engkau sesali  dzikir- mu kepada-Nya?" Lelaki itu menjawab, "karena tiada jawaban  'labbayka'  (Aku disini), kutakut diriku telah terusir dari gerbang-Nya." Nabi Khidir menjawab, "Allah bersabda: rintihan  'Allah'- mu itu adalah  'labbayka' -Ku, dan permohonan, duka serta semangatmu adalah utusan-Ku kepadamu. Gerakan dan upayamu untuk meng...