Postingan

Menampilkan postingan dengan label laut

Terbanglah Wahai Jiwa

Gambar
Foto oleh Rejaul Karim dari Unsplash Mengapakah jiwa tak terbang mengangkasa, ketika dari Hadirat yang Agung,    sebuah ajakan nan ramah: 'Naiklah!'    tertuju padanya?    Mengapa seekor ikan    tak melompat dengan gesit,    dari tanah yang kerontang ke dalam air,    ketika sampai ke telinganya,    suara debur ombak    dari lautan yang dingin ? Mengapakah seekor elang tak melesat    dari sarangnya, menuju lengan Sang Raja;    ketika didengarnya suara genderang,    memberi perintah, 'kembalilah' ? Mengapakah tak setiap pejalan menari, bagaikan pendaran zarah, di hadapan Matahari Keabadian; yang menyelamatkannya dari kelapukan? Di hadapan yang Maha Agung dan Maha Indah, yang Maha Cantik,   Sang Penganugerah kehidupan. Sungguh kejahilan dan kemalangan, jika terlepas dari-Nya. Terbang, terbanglah wahai burung, menuju ke rumah sejatimu. Karena telah terlep...

Hembusan dari Sumber yang Tak Tampak

Gambar
  Foto oleh Sebastian Bill di Unsplash Angin apa ini, yang tengah membadai dari langit? sampai perahu-perahu di laut berguncang dan berayun dengan kerasnya. Karena anginlah perahu berlayar, dan karena angin pula perahu tenggelam. Tuhan mengendalikan angin, seperti kita mengendalikan nafas kita ketika memuji atau mencela. Berbeda-beda jenis angin, semuanya bertiup dari sumber yang tak tampak: ada yang membawa pertolongan, ada pula yang membawa kehancuran. Angin itu terasa, tapi sumbernya tersembunyi. Para pemilik hati yang murni memahami sumbernya dan terpandu oleh cahayanya. Keyakinan mereka tak goyah, mulut mereka tertutup, tetap menatap jalan, seraya tak jeda menghimpun kebijaksanaan. Mereka yang tak paham sumber angin menjadi pemuja bentuk-bentuk, mempertaruhkan hidup mereka. Duduk mereka di kaki para syaikh: membeo ucapan-ucapan bijak, sambil memperdebatkan keyakinan, mencari-cari asap sebagai bukti api. Tirulah sikap matahari, sang Raja tanpa dayang-dayang, diam membisu...

Bagai Purnama

Gambar
foto dari wallpaperaccess.com Wahai jiwa yang berharga, jangan tunda lagi: tempuhlah perjalanan yang mencengangkan, menuju Lautan Makna. Ingatlah telah kau lalui banyak tahapan. Jangan kau lawan, berserahlah pada pencarian. Basuhlah sayapmu dari lumpur duniawi dan ikuti jejak para pendahulumu. Jangan tinggal di bengkel perajin tanah liat pecahkanlah kendimu, dan mengalirlah bersama arus kehidupan. Meluncurlah dari pegunungan ke laut, karena tak ada jaminan keamanan di gunung. Jangan berpaling ke timur atau ke barat mengarahlah langung ke matahari. Dari cahayanya, kau kan seperti rembulan: mulai bagai bulan mati, lalu bagai purnama. Sumber: Rumi: Diwan  #2873 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Maryam Mafi dan Azima Melita Kolin. Tercantum dalam buku Rumi's Little Book of Life: The Garden of Soul. the Heart and the Spirit, Hampton Road Publishing, Inc, 2012. Terjemahan ke Bahsa Indonesia oleh ngRumi.

Suatu Fajar Bersama Sang Rembulan

Gambar
Rembulan muncul di langit fajar. Mengambang turun ia, seraya menatapku. Lalu, bagai seekor elang menyambar mangsanya,      ia mencengkeramku      dan menyeretku ke angkasa. Walau kucoba sekuat tenaga, tak mampu aku melihat diriku sendiri. Berkat keajaiban cahaya rembulan, telah lebur diriku kedalam jiwa murni. Dalam bentuk itu lah pengelanaanku berlangsung, bersatu dalam cahaya tak-terbatas. Lalu, rahasia dari pertunjukan abadi tergelar jelas di hadapanku. Ke sembilan sfera langit, terliputi oleh cahaya. Wahana-jiwaku, melayang di Samudera tanpa pantai. Tiba-tiba samudera wujud beralih bentuk menjadi gelombang demi gelombang. Fikiran timbul: imaji bentuk bagai gelombang memecah di pantai. Lalu semuanya kembali seperti semula: bersatu dalam jiwa yang murni. Keberuntungan berupa penglihatan ini berasal dari Syamsudin al-Haqq dari Tabriz. Tanpa kepemurahannya, tak ada yang dapat me...

Bagai Seorang Penyelam

Gambar
Ragamu ada disini bersama orang-orang lain, tapi  qalb -mu mengembara ke padang-padang perburuan. Engkau menjelajah bersama para pemburu walau sesungguhnya dirimu: jiwamu itu lah, yang mereka buru.   Bagai sebatang seruling bambu, ragamu adalah sebuah selubung; dari dalam sana terdengar suaramu yang berdesir gelisah. Semestinya kau itu bagai seorang penyelam:  ragamu bagai pakaian; yang kadang dilepaskan dan ditinggal di tepi pantai. Pada laut itu terdapat banyak jalur bagai nadi pada tubuhmu, ada yang berwarna terang ada pula yang gelap. Qalb menerima cahanya  dari nadi yang terang. Bahkan jika kau angkat selubungmu dapat kutunjukkan padamu hal itu. Dirimu yang sebenarnya tersembunyi bagai darah di dalam nadi, dan engkau menghindar karena malu, bila kusentuh. Nadi-nadi itu bagai seruling yang perdengarkan nada manis nan pilu: musik dari lautan tak berpantai, yang gelombangnya menggemuruh ...

Alunan Musik Tersembunyi

Jangan lah kau cemas jika seutas dawai harpamu putus, karena akan muncul ribuan pengganti. Dalam genggaman jemari Cinta semuanya menjadi musik indah. Wahai kawanku, jika semua harpa dan seruling dunia terbakar, masih ada sebuah harpa tersembunyi. Nada dan iramanya melayang sampai ke surga, tapi tak sedikit pun terdengar oleh telinga yang tuli. Jangan lah kau khawatir jika semua lampu dan lilin dunia padam, karena batu-api sumbernya tetap terjaga. Musik yang kita dengar itu ibarat buih yang mengapung di permukaan samudera wujud, sementara sang mutiara tetap tersembunyi di kedalaman. Tapi kelembutan dalam musik bersumber dari mutiara tersembunyi itu-- karena pendar cahayanya juga menyinari kita. Alunan musik hanyalah suatu ranting dari kerinduan akan penyatuan-- dan tidak lah ranting dan akar setara. Karenanya, katupkan mulutmu, hentikan lah aliran kata-katamu; buka lah jendela hatimu: dan bercakap lah dengan jiwa-jiwa suci. Sumber: Rum...

Mengapa Bangkit Hasadmu

Gambar
di Pantai Sancang, Garut Selatan, Juli 2024 Mengapa bangkit hasadmu di tengah lautan kepemurahan ini? Mengapa kau tolak datangnya kebahagiaan yang menggelombang? Tak ada seekor ikan pun, pertahankan  secangkir air, bagaikan harta karun; ketika dia tahu, samudera luas tak pernah tolak kehadirannya. Catatan: "Iri-dengki (hasad) membakar hasanah lebih cepat daripada api membakar kayu kering." Sedangkan hasanah itu sendiri sulit didapat karena merupakan buah takwa . Sumber: Rumi: Rubaiyat. Dari terjemahan A.J. Arberry ke Bahasa Inggris, Dalam  Rubaiyat of Jalal Al-Din Rumi, 1949.

Jalan Kemerdekaan

Ketika engkau berlindung kepada al-Qur'an milik Allah, engkau bergabung bersama jiwa para nabi. Al Qur'an itu adalah penjelasan berbagai keadaan para nabi: mereka bagaikan ikan-ikan di dalam Laut Suci, Keagungan Ilahiah. Tapi jika engkau membaca al-Qur'an sedangkan hatimu tak menerimanya, maka apa manfaatnya bagimu; seandainya pun engkau bertemu para wali dan nabi? Jika hatimu menerimanya, ketika engkau membaca kisah para nabi, maka jiwamu bagaikan burung yang gelisah dalam sangkarnya. Burung itu terpenjara dalam sangkar, jika ia tak mencari jalan keluar, itu semata-mata karena kebodohannya. Jiwa-jiwa yang telah merdeka dari sangkar adalah milik para nabi, mereka lah yang pantas menjadi pembimbing. Dari luar sangkar kita dengar suara mereka menyeru kepada  ad-Diin, "Inilah Jalan kemerdekaanmu. Melalui Jalan ini lah, telah merdeka kami dari sangkar sempit itu: tiada kemerdekaan kecuali melalui Jalan ini.         ...

Tuan Rumah

Para penempuh Jalan,  dimana kalian? Kekasih Tercinta ada disini!                   [1] Dambaanmu tinggal di ruang sebelah. Sejak awal bertetangga!                          [2] Mengapa engkau berkelana kesana kemari, menjelajah gurun? Jika tatapanmu menuju   ke Wajah Yang Tercinta,                         [3] dan tak hanya ke bentuk permukaan, maka dirimu lah yang menjadi rumah  bagi Rabb: engkau lah tuan rumah bagi-Nya. Berkali-kali kau tempuh jalan menuju rumah itu. Kali ini, masuklah ke dalam, panjatlah atapnya. Rumah indah yang suci yang ciri-cirinya telah kau paparkan dengan rinci. Kini tunjukkanlah padaku ciri-ciri rumah Rabb . Jika telah kau kunjungi Taman itu, mana oleh-oleh rangkaian bunga dari sana? Jika kau telah sampai Laut-nya Rabb, mana mutiara indah, ...

Perhatikanlah

Perhatikanlah, bagaimana setiap bagian alam berlalu, dan bagaimana setiap orang tiba  melalui suatu perjalanan. [1] Perhatikanlah, bagaimana setiap orang, dalam hasrat akan nafkah hariannya, tunduk menghormat kepada penguasanya. Perhatikanlah, bagaimana setiap orang, jatuh bersujud di kaki matahari, bagaikan redupnya bintang-bintang, tunduk pada terangnya sang surya. Perhatikanlah, bagaimana setiap orang bergegas, bagaikan arus mencari air, berlomba-lomba mengalir menuju laut. Perhatikanlah, bagaimana sebuah jamuan kehormatan, disiapkan dari dapur Sang Raja, untuk setiap orang, sesuai dengan kebutuhannya. [2] Perhatikanlah, bagaimana kecilnya lautan alam-dunia,  bagi para pencari sejati, sehingga termuat di cangkir-minum mereka. [3] Perhatikanlah, mereka yang nafkah hariannya wajah Sang Raja, tersenyum mereka setiap saat, merefleksikan keindahan Sang Raja. [4] Perhatikanlah, dengan pandangan seorang Syamsi Tabriz: lihatla...

Mari Kita Berangkat

Wahai para pencinta, bangkitlah! [1] Saatnya kita terbang ke langit, cukup sudah kita tinggal di alam ini, saatnya bertolak ke sana. Sungguhpun indah sangat ke dua taman ini, [2] kita lewati saja, bergerak menuju ke Sang Tukang Kebun. Mari teguhkan ruku kita ke arah Laut, [3] layaknya arus deras, mari kita tunggang gelombang, melaju di permukaan sang Laut. Mari kita berangkat, dari pemukiman penuh kesedihan ini, [4] menuju pesta pernikahan; mari ubah wajah kita, dari pucat-pasi, menjadi segar merona. Hati kita keras berdegup, gemetar bagai daun dan ranting kecil yang takut jatuh tercampak; [5] mari mencari suaka di Wilayah Terlindung. Tak mungkin mengelak dari kesakitan, selama kita dalam pengungsian, [6] tak mungkin mengelak dari debu, selama kita tinggal di padang pasir. Bagai burung surgawi bersayap hijau, dan berparuh tajam, [7] mari kita jadi pengumpul gula, bercengkerama di kebun tebu. Terkurung kita oleh bentuk-bentuk, ci...

Perbedaan Pendapat tentang Bentuk Gajah

Disebutnya nama Musa,  telah menjadi sebuah rantai yang membelenggu  pikiran para pembacaku,  mereka pikir ini adalah  cerita-cerita  yang terjadi dahulu kala. Disebutkannya Musa hanya berfungsi sebagai topeng,  tetapi cahaya Musa adalah persoalan mutakhir,  wahai sahabatku. Musa dan Fir’aun itu di dalam dirimu: engkau mesti mencari pihak-pihak yang berlawanan ini di dalam dirimu-sendiri. Pembangkitan Musa akan terus berlangsung sampai  Hari Kebangkitan: Cahaya itu tidak berbeda,  walaupun lampunya berlain-lainan. Lampu dari tanah ini berbeda dengan sumbu itu, tetapi cahaya mereka tidak berbeda: ia dari Alam Sana. Jika engkau terus memandang kaca lampu,  engkau akan bingung, karena dari kaca munculah sejumlah  keragaman. Tetapi jika pandanganmu tetap kepada Cahaya, engkau akan terbebas dari keragaman dan bermacam-macamnya bentuk yang terbatas. Dari tempat yang menjadi obyek pandangan,...