Postingan

Menampilkan postingan dengan label kufur

Rintihan Tawanan Dunia

Mesti berapa lama lagi, kudapati diriku terantai dalam penjara ini, terantai ke dunia ini. Telah tiba saatnya kuraih kesejatian hidup; dan aku bergerak, berderap, menuju ke kemurnian. Jika aku bisa tersucikan, dan terbersihkan dari kotoran, seterusnya tiada yang kucari kecuali Dia semata. Ketika aku diciptakan, telah disediakan untukku semesta dan istana;                      [1] sungguh aku ingkar jika kuterima jabatan hanya sebagai seorang penjaga pintu.                [2] Jika ku berhasil mengubah sikap seperti penjaga pintu ini, jika ku berhasil mengembalikan akalku kepada kesejatiaannya, bahagia kan datang menggantikan kesedihanku. Wahai  qalb: mengingat ini tentang kita berdua semata, tentang warta yang datang padamu di tengah malam: akan kuikuti pesan itu, sebagaimana yang kau pahami. Jika nanti sayapku telah kembali tumbuh menggantikan k...

Mencermati Ketiadaan

Gambar
Semua yang mempesonamu,  pada wajah-wajah cantik, adalah Cahaya Sang Matahari  terpantul pada kaca prisma. Beragam corak kaca  membuat Cahaya tampil beraneka-warna. Ketika prisma kaca beraneka-warna tak lagi ada, barulah Cahaya tanpa-warna mempesonamu. Bangunlah kebiasaan  menatap Cahaya tanpa prisma kaca, sehingga ketika prisma kaca itu remuk, tak lagi engkau buta. Selama ini engkau puas dengan pengetahuan yang kau dapat dari orang lain: matamu dapat memandang karena adanya cahaya lampu orang itu. Dia mengambil lampu itu, agar kau ketahui bahwa engkau seorang peminjam bukan pemberi yang murah hati. Jika semua pemberian itu telah engkau syukuri dengan sungguh-sungguh beramal, tak perlu kau tangisi kehilangan itu; karena Dia akan menggantinya seratus kali lipat. Tetapi jika selama ini kau tak pandai bersyukur, kini saatnya meneteskan air mata darah, karena keunggulan jiwa dihapuskan dari mereka yang tak bersyukur. Dia menghapus ...

Datang Semata untuk Bersaksi

Kehadiran kita di ruang sidang Sang Hakim ini [1] untuk membuktikan kebenaran pernyataan kita, "kami bersaksi;" ketika dalam Perjanjian itu kita ditanyai, "bukankah Aku Tuhanmu?" [2] Karena kita telah membenarkan, maka dalam  persidangan ini ucapan dan tindakan kita menjadi  saksi dan bukti bagi kesepakatan itu. Ruang sidang Sang Hakim bukanlah tempat untuk membisu. Bukankah kita datang kesini untuk memberikan persaksian? Wahai saksi, berapa lama lagi engkau diperiksa di ruang  sidang Sang Hakim? Segera lah berikan pernyataanmu. Engkau telah dipanggil ke sini, dan telah datang engkau, [3] semata untuk bersaksi. Lalu mengapakah engkau bersikukuh diam? Di ruang tertutup ini engkau ikut menutup mulut maupun tanganmu. [4] Kecuali engkau berikan pernyataan itu, wahai saksi,  bagaimana caranya engkau akan keluar dari sidang ini? [5] Inilah urusanmu di alam ini. Kerjakan tugasmu dan segeralah berl...