Postingan

Menampilkan postingan dengan label marah

Heninglah di tengah Perdebatan

Gambar
Kiprah ke tujuh-puluh dua golongan akan tetap ada di alam dunia ini sampai Hari Kebangkitan Dunia ini alam yang berisikan kegelapan dan pemberhalaan: Bumi ini tempatnya bayang-bayang. Ke tujuh-puluh dua golongan itu akan tetap ada sampai Hari Kebangkitan: bantahan dan alasan orang  bid'ah akan tetap keras. Banyaknya kunci atas harta-simpanan menunjukkan ketinggian nilainya. Jalan yang berliku-liku, lintasan curam pendakian gunung, tebing-jurang di kanan-kiri, banyaknya penyamun menghadang, semuanya petunjuk agungnya tujuan sang pencari. Kebesaran  Ka'bah  dan tempat  thawaf, ditunjukkan oleh hadangan penyamun, dan luasnya gurun yang harus dilintasi ketika pergi berhaji. Setiap ajaran palsu itu bagaikan lintasan jalan di gunung: curam, bertebing, berpenyamun. Semua ajaran berhadapan, dan menjadi lawan yang keras, dari ajaran lainnya: setiap pengikut masing-masing ajaran menjadi bingung. Karena dilihatnya semua lawan bersikukuh pada doktrin ma...

Mengkaji Mukhlish dan Mukhlash

Gambar
Persepsi inderawi menarik seseorang ke arah dunia, Cahaya-Nya melambungkan dia ke langit. Karena benda-benda terinderai itu letaknya di alam bawah. Cahaya Tuhan itu bagaikan laut, sedangkan yang kita inderai itu bagai setitik uapnya. Apa yang mengendarai indera tidaklah nampak, yang kita tangkap hanyalah akibat dan kata-kata. Cahaya inderawi, yang kasar dan berat, tersembunyi pada hitamnya mata. Penglihatanmu tak dapat menangkap cahaya inderawi, bagaimana mungkin ia dapat melihat cahaya kewalian? Cahaya inderawi yang kasar saja sudah tersembunyi, apalagi apa yang ada dibaliknya, yang lebih murni dan halus? Alam-dunia ini bagaikan jerami, dalam genggaman angin--yakni alam tak-nampak; ia hanya dapat menyerahkan diri, tunduk sepenuhnya pada alam yang tak-nampak. Kadang ia dibuat merunduk, kadang menengadah; kadang bersuara, kadang utuh, kadang terpecah. Kadang ia digerakkan ke kiri, kadang ke kanan; kadang darinya tumbuh duri, kadang menyembul mawar. Per...

Lari dari Izrail

Suatu pagi, ke majelis Nabi Sulaiman as, yang sedang berada di gedung pengadilan, masuklah seorang bangsawan, berlari, tergopoh-gopoh. Wajahnya pucat karena sedih, bibirnya membiru. “Sakitkah engkau, Khwajah? ” tanya Sang Raja. Ia menjawab, “Ketika Izrail melemparkan pandangan kepadaku, dia penuh amarah dan kebencian.” “Nah, sekarang katakan apa yang engkau inginkan?” “Wahai pelindung hidupku, kumohon padamu, perintahkanlah angin membawaku langsung ke India: semoga sesampainya disana, jiwa hambamu ini selamat dari kematian.” Wahai, betapa banyak orang berlomba-lomba, melarikan diri dari kemiskinan; malah terjatuh mereka kedalam rahang serakah dan panjang angan-angan. Ketakutanmu akan kemiskinan bagaikan kengerian orang itu: ketahuilah, keserakahan dan panjangnya angan-anganmu adalah India dari kisah ini. Nabi Sulaiman memerintahkan angin segera membawanya melintasi samudera, ke pedalaman India. Keesokan harinya, dalam sidang musyawarah, Sang Raja bertanya kepada Izrail as, “Ketika ...

Jadikan Anak Tangga

Ketika kau temui wajah kemarahan, lihatlah ke baliknya, dan akan kau dapati wajah bangga-diri. Injaklah marah dan bangga-diri, jadikan mereka anak-tangga, dan panjatlah, naik. Takkan pernah kau temui kedamaian, sampai engkau menjadi tuan mereka. Tanggalkan kemarahan: rasanya manis, tapi mematikan. Jangan mau jadi korbannya, kau perlukan kerendahan-hati untuk memanjat ke arah kemerdekaan. Sumber: Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, Ghazal no 2197 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Azima Melita Kolin dan Maryam Mafi,  dalam Rumi: Hidden Music, HarperCollins Publishers Ltd, 2001.

Tinggalkanlah Kemarahanmu

Seorang lelaki menghampiri Isa ibn Maryam, dan bertanya, "Diantara semua yang tercipta, apa yang paling berat dipikul?" Beliau a.s menjawab, "yang paling berat adalah murka Allah; yang kepada hal itu: bukan saja kita, tapi bahkan neraka pun gemetar." "Dan apakah perlindungan kepada murka Allah itu?" Isa ibn Maryam menjawab, "tinggalkanlah segera kemarahanmu." Sumber: Rumi , Matsnavi IV: 113-115. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson .

Melekat pada Kepahitan

Jangan pandang, aneka kepahitan hidup, yang diungkap Sang Waktu. Jangan hiraukan sederhananya makananmu  dan terbatasnya nafkahmu. Jangan pedulikan wabah, ketakutan dan goncangan. Renungkanlah: dengan semua kepahitannya, tetap saja engkau erat-melekat tanpa malu, pada dunia. Pahamilah,  perihnya ujian adalah sebuah Rahmat. Ketahuilah,  Kerajaan Marv dan Balkh adalah sebuah hukuman. Kejamnya Sang Waktu  dan semua derita yang  mewujud itu lebih ringan daripada jarak  kepada Rabb dan pengingkaran. Karena derita itu akan berlalu, tetapi  tidak demikian dengan jarak kepada Rabb. Ibrahim tidak menghindar dari  api dan diselamatkan; Ibrahim yang lain menghindar dari  kehormatan dunia dan menemukan  jalan penyelamatan. Yang pertama tidak terbakar, [1] yang satunya lagi terbakar habis. [2] Betapa indahnya:  didalam Jalan pencarian Dia, semua jadi terbolak-balik! Catatan: [1] Ibrahim Khalilullah a.s; d...

Salah Mengeluh

Seorang hamba, yang tengah dirundung kesulitan, mengeluh, dengan berbagai cara,  kepada Rabb -nya. Dan Rabb berkata, "bukankah dengan semua derita dan sakitmu engkau menjadi taat dan berdo'a dengan berendah-hati kepada-Ku; Seharusnya yang engkau keluhkan adalah semua  kelimpahan yang engkau terima,  yang menyebabkan engkau menjauh dari pintu-Ku." Sejatinya, musuhmu adalah obat bagimu: dia ramuan-penyembuhmu,  dia hadiah untukmu,  dia yang menguasai hatimu; karena dia,  engkau bergegas ber- khalwat bersama Rabb -mu dan sepenuh-diri berusaha mencari Rahmat-Nya. Sumber: Rumi, Matsnavi IV: 91 - 95 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.