Postingan

Menampilkan postingan dengan label nafs

Jangan Takut

Gambar
Berpeganglah pada tali-kekang sang Kekasih dan jangan lah kau takut. Berpeganglah pada yang haqq di seberang yang batil dan janganlah kau takut. Ketahuilah,      untuk temukan Kekasih yang kau cari       kau harus temukan terlebih dulu dirimu sendiri. Berpeganglah pada kebenaran ini, dan jangan lah kau takut. Sumber: Rumi: Rubaiyat  F#985  Suntingan ke Bahasa Inggris oleh Jonathan Star, dalam Rumi: In  the Arms of the Beloved, TCE,  Penguin Group (USA), 2008. Berdasarkan terjemahan literal dari Bahasa Persia ke Bahasa Inggris oleh Shahram Shiva. 

Rintihan Seruling Bambu

Gambar
Dengarkanlah suara seruling bambu Menyayat rintihannya, lantunkan perihnya perpisahan: "Sejak direnggut aku dari rumpunku dulu, ratapan pedihku telah membuat berlinang air-mata orang. Kuseru mereka yang tersayat hatinya karena perpisahan. Karena hanya mereka yang pahami sakitnya kerinduan ini. Mereka yang tercerabut dari tanah-airnya merindukan saat mereka kembali. Dalam setiap pertemuan, bersama mereka yang tengah gembira atau sedih, kudesahkan ratapan yang sama. Masing-masing orang hanya dapat mendengar sesuai pengetahuannya sendiri-sendiri. Tak ada yang mencari lebih dalam tentang rahasia didalam diriku. Rahasiaku tersembunyi didalam rintihanku, mata-telinga tak bercahaya takkan mampu memahaminya." Desah seruling bersumber dari api, bukannya angin. Apa gunanya hidup seseorang yang tak lagi ada apinya? Adalah api cinta yang menghidupkan nyanyian sang seruling. Adalah ragi cinta yang membuat anggur teras...

Bagai Seorang Penyelam

Gambar
Ragamu ada disini bersama orang-orang lain, tapi  qalb -mu mengembara ke padang-padang perburuan. Engkau menjelajah bersama para pemburu walau sesungguhnya dirimu: jiwamu itu lah, yang mereka buru.   Bagai sebatang seruling bambu, ragamu adalah sebuah selubung; dari dalam sana terdengar suaramu yang berdesir gelisah. Semestinya kau itu bagai seorang penyelam:  ragamu bagai pakaian; yang kadang dilepaskan dan ditinggal di tepi pantai. Pada laut itu terdapat banyak jalur bagai nadi pada tubuhmu, ada yang berwarna terang ada pula yang gelap. Qalb menerima cahanya  dari nadi yang terang. Bahkan jika kau angkat selubungmu dapat kutunjukkan padamu hal itu. Dirimu yang sebenarnya tersembunyi bagai darah di dalam nadi, dan engkau menghindar karena malu, bila kusentuh. Nadi-nadi itu bagai seruling yang perdengarkan nada manis nan pilu: musik dari lautan tak berpantai, yang gelombangnya menggemuruh ...

Dengarkanlah dalam Diam

Gambar
Jika kau miliki telinga, dengarkanlah, Terimalah pesanku dengan jernih; Dengan Dia memenuhi seluruh isi hatimu Berpisahlah kau dari dirimu sendiri. Tutup mulutmu, ketika terangnya penglihatanmu mencerap visi yang muncul: Tak perlu kau tambahkan pendapatmu Karena semua telah kau saksikan di sana. Sumber: Rumi: Rubaiyat Berdasarkan terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A.J. Arberry, 1949.

Cadar Raga

Janganlah kau bosan bersamaku, sungguh aku seorang saksi yang indah. Sang Maha Pencemburu telah sembunyikanku di balik sebuah cadar. Pada hari kutanggalkan cadar raga ini, akan kau saksikan bagaimana cemburunya rembulan dan bintang-bintang padaku. Basuhlah wajahmu dan murnikan dirimu sehingga kau bisa saksikan aku. Atau menjauhlah engkau dariku, karena aku adalah saksi bagi diriku sendiri. Aku bukanlah saksi yang esok akan pikun atau bungkuk karena tua. Aku kan selalu muda, menyegarkan, dan sedap dipandang. Jika cadar raga ini melapuk, sang saksi takkan beranjak menua; masa pakai cadar kan berakhir, tapi kami selamanya hidup. Ketika Iblis melihat cadar raga Adam, dia menolaknya. Adam berkata padanya, "Engkaulah yang tertolak, bukan aku." Sementara para malaikat bersujud dan berkata, "Kami telah temukan seorang saksi. Dibalik cadarnya terdapat sesosok pujaan yang sifat-sifatnya mempesona akal kami, maka kami bersujud padanya. Jika ke...

Merdeka Ketika Berserah Diri

Semula ingin kuceritakan padamu kisah hidupku, tetapi gelombang kepedihan tenggelamkan suaraku. Kucoba utarakan sesuatu, tetapi pikiranku rawan dan remuk, laksana kaca. Bahkan kapal paling megah bisa karam dalam gelombang-badai Laut Cinta apalagi biduk rapuhku, remuk berkeping-keping: tinggalkan ku sendiri, hanyut, hanya berpegangan ke sepotong papan. Kecil dan tak berdaya timbul tenggelam dalam terpaan ombak, sampai tak kuketahui apakah aku ada atau tiada. Ketika menurutku aku ada, kudapati diriku tak berharga. Saat ku tiada, kudapati nilai-nilai sejati diriku. Seturut pasang-surut akalku, tiap hari mati aku, dan dihidupkan lagi; karenanya tak kuragukan sedikit pun adanya Hari Kebangkitan. Ketika telah lelah, ku berburu cinta di alam dunia ini, akhirnya di Lembah Cinta ku berserah-diri: dan aku merdeka. Sumber: Rumi:   Divan-i Syamsi Tabriz,   ghazal 1419. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Azima Melita Kolin dan Maryam Mafi, da...

Obat bagi Sang Pencinta

Obat bagi segala kegalauan intelektual hanya lah sekilas Wajah Sang Kekasih, semua wajah yang mempesonamu tak lain adalah hijab-Nya. Wahai pengabdi Sang Kekasih, hadapkan lah wajah pada wajahmu sendiri: ketahuilah pencari yang bingung, tak ada engkau berkerabat selain dengan dirimu sendiri. Sang pencari sejati menghadap kiblat pada masjid di dalam  qalb -nya sendiri: tak ada sesuatu pun bagi insan kecuali apa-apa yang teruntuk baginya. Sebelum didengarnya jawaban atas do'anya, telah bertahun dia berdo'a. Dia biasa berdo'a dengan khusyu, tanpa didapatinya suatu hasil; tapi secara rahasia, dari sisi Rahmat-Nya yang penuh kasih, didengarnya jawaban: Labbayka, Aku disini . Sejak itu hidupnya bagaikan sebuah tarian selaras iringin musik tak terdengar: dia fakir yang menggantungkan diri pada pencukupan dari Sang Pencipta nan Agung. Walau tak terdengar didekatnya suara dari langit atau hadir sesosok pun utusan Ilahiah, tapi telinga dari harapannya dipenu...

Wafatnya Seorang Suci

Jiwamu kan terbang, melesat tinggalkan penjara sempit, menembus langit demi langit, kau masuki suatu kehidupan baru, tinggalkan hidup yang ini; takkan pernah lagi kau merasa bosan. Jika sebelumnya kau kenakan raga yang bagaikan seragam seorang hamba-sahaya, kini kau tampil sangat bergaya. Bagimu kematian adalah kehidupan; --yang jika dibandingkan dengannya-- kehidupan ini bagaikan kematian; mereka yang terhijab takkan paham. Semua jiwa yang tinggalkan raga, tetaplah hidup, namun tersembunyi; jiwa yang tersucikan itu indah, bagaikan malaikat. Ketika raga menua dan ambruk, janganlah engkau meratap. Sadarilah, selama ini engkau terpenjara: ketika kau temukan jalan untuk lolos, dari sel di dasar sumur, engkau tegak, gagah dan ningrat, bagaikan seorang Jusuf. Sumber: Rumi:   Divan-i Syamsi Tabriz,   ghazal 3172 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Franklin D. Lewis, dalam  Rumi, Past and Present, East and West, Oneworld Publications, Oxford, 2000. ...

Siapakah yang Tuli?

Yang berpanjang angan itu seperti orang tuli: sering didengarnya tentang kematian, tapi itu tak membuatnya sadar tentang kematiannya sendiri, atau bersiap menghadapi ajalnya. Tamak membuat orang buta: kelemahan orang lain dicermati dengan teliti, lalu disiarkan kemana-mana; seraya sedikit pun tak menyadari kelemahan dirinya sendiri. Alangkah anehnya, jika ada orang telanjang tapi takut bajunya robek. Pencinta dunia itu orang rudin dan ketakutan, sejatinya tak sesuatu pun dimilikinya, tapi dia takut hartanya disasar pencuri. Orang lahir dengan polos dan pergi dengan telanjang; diantara dua kejadian itu, kehidupan dunia dilaluinya dengan cemas, takut hartanya hilang. Saat saat ajal tiba, ketika ratusan orang meratap, jiwanya sendiri mentertawakan ketakutannya. Ketika itu, pecinta dunia baru sadar: tak sedikit pun dia miliki emas-permata; demikian pula, seorang yang cerdik sekali pun, tahu dia tak bisa menyiasati. Amatilah anak kecil yang bermai...

Musuh Terbesarmu

Jika bukan karena perkasanya keakuanmu sendiri, yang telah menyergapmu dari dalam, takkan penghadang dari luar diri mampu mencelakaimu. Karena tuntutan syahwat mu, hatimu telah tersandera oleh kerakusan,  cinta-dunia dan niat-buruk. Sekian lama terpenjara didalam dirimu sendiri, engkau berubah menjadi pencuri rakus, yang semakin lemah dihadapan kuasanya. Simaklah nasehat Sang Nabi nan bijak-bestari: "Musuh terbesarmu berada diantara ke dua sisimu." Sumber: Rumi: Matsnavi  III: 4063 - 4066 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson .

Kuasa Pikiran

Gambar
Wahai pencari, pikiran memiliki kuasa atas dirimu: mendadak engkau sedih, mendadak engkau gembira. Engkau terbakar dalam api. Tapi Aku takkan mengeluarkanmu, sampai engkau matang, sampai engkau bijak, sampai Sang Pribadi Sejatimu tampil. Sumber: Rumi: Rubaiyat, F#1923 Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Jonathan Star Berdasarkan terjemahan literal oleh Shahram Shiva. Dari Rumi: In the Arms of the Beloved, hal 89.

Tujuan Tunggal

Gambar
Pantai Selatan Garut, Juli 2024 Kecuali seseorang memerangi dirinya sendiri, jiwanya takkan sungguh-sungguh mati, maka takkan pernah dia kuasai rahasia penyatuan. Maksudnya bukan Tuhan mengejawantah, tapi diri yang mati dari keakuannya. Tujuan pencarian lainnya sangat tidak penting dan jelas seluruhnya tidak benar. Sumber: Rumi: Rubaiyat. Diambil dari terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A.J. Arberry,   The Rubaiyat of Jalal Al-Din Rumi,   1949.

Lari dari Izrail

Suatu pagi, ke majelis Nabi Sulaiman as, yang sedang berada di gedung pengadilan, masuklah seorang bangsawan, berlari, tergopoh-gopoh. Wajahnya pucat karena sedih, bibirnya membiru. “Sakitkah engkau, Khwajah? ” tanya Sang Raja. Ia menjawab, “Ketika Izrail melemparkan pandangan kepadaku, dia penuh amarah dan kebencian.” “Nah, sekarang katakan apa yang engkau inginkan?” “Wahai pelindung hidupku, kumohon padamu, perintahkanlah angin membawaku langsung ke India: semoga sesampainya disana, jiwa hambamu ini selamat dari kematian.” Wahai, betapa banyak orang berlomba-lomba, melarikan diri dari kemiskinan; malah terjatuh mereka kedalam rahang serakah dan panjang angan-angan. Ketakutanmu akan kemiskinan bagaikan kengerian orang itu: ketahuilah, keserakahan dan panjangnya angan-anganmu adalah India dari kisah ini. Nabi Sulaiman memerintahkan angin segera membawanya melintasi samudera, ke pedalaman India. Keesokan harinya, dalam sidang musyawarah, Sang Raja bertanya kepada Izrail as, “Ketika ...

Aku di Sini (labbayka)

Gambar
Suatu malam, seorang lelaki merintihkan,  "Yaa Allah" sampai bibirnya manis dengan pujian kepada-Nya. Iblis mengejeknya, "Kasihan engkau, wahai lelaki malang, mana jawaban,  'Aku di sini,'  untuk semua rintihan,  'Yaa Allah- mu?' Tiada satupun jawaban datang dari  'Arsy: sampai kapan engkau merintihkan  'Yaa Allah' dengan wajah suram?" Si lelaki patah-hati, berbaring, tertidur dan bermimpi: di situ dilihatnya Nabi Khidir as, di tengah dedaunan menghijau. Nabi Khidir bertanya: "Wahai lelaki, engkau berhenti memuji Allah, mengapa engkau sesali  dzikir- mu kepada-Nya?" Lelaki itu menjawab, "karena tiada jawaban  'labbayka'  (Aku disini), kutakut diriku telah terusir dari gerbang-Nya." Nabi Khidir menjawab, "Allah bersabda: rintihan  'Allah'- mu itu adalah  'labbayka' -Ku, dan permohonan, duka serta semangatmu adalah utusan-Ku kepadamu. Gerakan dan upayamu untuk meng...