Postingan

Menampilkan postingan dengan label naga

Tongkat Musa

Gambar
Pernah kuberada di taman-Mu, di bawah pohon, yang kabulkan semua keinginan. Sepenuh diriku terbakar, sehingga ku menari tanpa musik. Kini aku sesosok bayangan, kumenari seiring cahaya Matahari: kadang kuberbaring di tanah, kadang kuberdiri-terbalik, di atas kepalaku; kadang aku memanjang, kadang aku memendek. Bagai gerakan cahaya dan bayangan, melintas permukaan bumi, kujelajahi zaman. Aku lah pangeran Mesir, dan pemandu Bangsa Israil. Bagi para ulama, aku lah sang Pembawa Sabda. Terkadang aku jadi Kalam. Terkadang aku jadi tongkat di tangan Musa. Terkadang aku jadi naga, membelah jalanku menerobos gurun. Jangan pernah cari Cinta, dengan bersandar pada tongkat-kayu fikiran; guna tongkat-kayu itu, hanya untuk memandu jalan orang buta. Yang kudamba hanyalah isyarat-Mu: satu anggukan dari-Mu, maka jiwaku kan bebas. Tidaklah dari sini kuberasal, aku pengelana yang singgah sejenak. Tersaruk berjalan, buta, tak tentu arah. Mendamba uluran tangan-Mu, membimbingku, melangkah. Sumbe...

Yang Tersembunyi Dibalik Lisan

Sejatinya insan itu tersembunyi di balik lisannya; lisannya adalah hijab yang menutupi pintu jiwanya. Ketika angin datang berhembus dan meniup hijab, tersingkaplah rahasia y ang tersembunyi  di dalam rumah. Kita lihat apakah dalam rumah itu terdapat butiran mutiara atau biji gandum, atau sekumpulan kala jengking dan ular; Atau apakah disitu ada harta karun, dan seekor naga yang waspada, karena harta karun berharga selalu ada penjaganya. Sumber: Rumi : Matsnavi II: 845 - 848 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson. Juga diterjemahkan Camille dan Kabir Helminski, dalam  Rumi: Daylight,   Threshold Books, 1994; berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia oleh Yahya Monastra .