Postingan

Menampilkan postingan dengan label murid

Hembusan dari Sumber yang Tak Tampak

Gambar
  Foto oleh Sebastian Bill di Unsplash Angin apa ini, yang tengah membadai dari langit? sampai perahu-perahu di laut berguncang dan berayun dengan kerasnya. Karena anginlah perahu berlayar, dan karena angin pula perahu tenggelam. Tuhan mengendalikan angin, seperti kita mengendalikan nafas kita ketika memuji atau mencela. Berbeda-beda jenis angin, semuanya bertiup dari sumber yang tak tampak: ada yang membawa pertolongan, ada pula yang membawa kehancuran. Angin itu terasa, tapi sumbernya tersembunyi. Para pemilik hati yang murni memahami sumbernya dan terpandu oleh cahayanya. Keyakinan mereka tak goyah, mulut mereka tertutup, tetap menatap jalan, seraya tak jeda menghimpun kebijaksanaan. Mereka yang tak paham sumber angin menjadi pemuja bentuk-bentuk, mempertaruhkan hidup mereka. Duduk mereka di kaki para syaikh: membeo ucapan-ucapan bijak, sambil memperdebatkan keyakinan, mencari-cari asap sebagai bukti api. Tirulah sikap matahari, sang Raja tanpa dayang-dayang, diam membisu...

Rahasia Kebenaran

Gambar
Rahasia kebenaran takkan terbuka karena banyaknya mengajukan pertanyaan; tak pula karena menyerahkan seluruh harta dan kehormatan; tapi hanya ketika telah lewat usiamu lima-puluh tahun; saat hati dan matamu telah memerah-darah. Dari semua perbincangan ini, tak seorang pun menemukan jalan menuju peleburan. Sumber: Rumi: Rubaiyat F#1088 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Kabir Helminski.

Melesatlah dengan Sujud

Jika telah kau tapaki jalan kebenaran melesat cepat engkau menuju ke rumah; ingatlah, jiwamu itu cahaya langit: ke langit engkau seyogyanya menuju. Singgasana langit tempat istirahmu: jangan malu, berdo'alah. Bagaikan bayangan yang menempel, seringlah lekatkan wajahmu ke tanah. Sumber: Rumi: Rubaiyat dari terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A.J. Arberry dalam Rubaiyat of Jalal Al-Din Rumi, 1949.

Telah Disandingkan ash-Shabr dengan al-Haqq

Luqman mengunjungi Dawud,              [1] dan didapatinya sang pemilik qalb murni, sedang sibuk membuat cincin-cincin dari besi. Lalu dilihatnya Sang Raja yang Mulia itu menyatukan cincin-cincin itu satu sama lain. Tak pernah sebelumnya dia lihat karya sang penakluk besi, dia takjub menyaksikan itu semua, dan sangat ingin tahu. "Benda apakah itu? Akan kutanyakan kepadanya, apa yang akan dibuatnya dari cincin-cincin besi yang disatukan itu?" Tapi dia menahan diri, seraya berkata di dalam hati, "lebih baik aku bersabar: kesabaran adalah pemandu tercepat menuju sasaran pencarian." Jika engkau tak mengajukan pertanyaan, rahasia terungkap padamu lebih cepat, kesabaran itu bagaikan burung yang paling cepat terbangnya. Jika engkau memilih untuk bertanya, lebih lambat sasaran tercapai, apa yang semula mudah, jadi lebih sulit diraih, karena ketergesaanmu. Karena Luqman tetap berdiam-diri, sang penakluk besi yang piawai bekerja...

Terjerat Kerumitan

Kita kecanduan diskusi rumit, dan gemar mengatasi masalah. Bolak-balik kita membuat simpul lalu mengurainya kembali. Terus menerus kita membuat aturan tentang cara menampilkan kesulitan, dan untuk menjawab aneka pertanyaan yang diajukan. Kita seperti burung yang melonggarkan jerat lalu mengencangkannya kembali dalam rangka meningkatkan ketrampilan. Sehingga hilang kesempatan terbang jelajahi medan terbuka; sehingga hilang kesempatan kunjungi padang rumput, habis umur sibuk dengan simpul. Tetap saja buhul-jerat tak terkuasai, walau sayap burung berkali-kali patah. Simpul-jerat tak untuk dilawan, jaga agar sayapmu tak patah. Jangan rusak bulu pelindungmu hanya sekedar untuk tunjukkan pada dunia, betapa hebatnya usahamu. Sumber: Rumi:   Matsnavi   II: 3733 - 3738 versi  Camille  dan  Kabir Helminski dalam  Rumi: Daylight,  Threshold Books, 1994 Transliterasi dari Bahasa Persia oleh Yahya Monastra .

Tertidur dan Tengah Bermimpi

Gambar
Seseorang yang lama tinggal di sebuah kota, tertidur; dan di dalam tidurnya melihat kota lain, yang penuh kebaikan dan keburukan; hingga kotanya semula hilang dari ingatannya. Seharusnya, dia berkata pada dirinya sendiri, seperti ini: "Ini adalah kota yang baru, aku adalah seorang asing disini;" Sebaliknya, dia membayangkan selalu tinggal di kota baru itu, dilahirkan dan dibesarkan disitu. Apakah mengherankan, jika kemudian jiwa tak ingat lagi akan kampung-halamannya dan tanah kelahirannya? Karena alam-dunia ini, bagaikan tidur, menyelimuti jiwa kita, bagaikan awan menyelimuti bintang. Apalagi saat ia melangkahkan kaki ke berbagai kota dan debu yang menutupi matanya belum dibersihkan. Lagipula dia belum berupaya keras, memurnikan hatinya; sampai hatinya itu dapat menatap masa lalu. Bagaimana dia memasuki tataran alam material, dan dari situ melangkah memasuki tataran alam nabatiah Lama dia tinggal di tataran alam nabatiah, disitu tak...

Nama Sejati

Gambar
Saat matahari terbit di Pemakaman Baqi, Maret 2024 Penghulu umat manusia, Adam: kepadanya Allah mengajarkan nama-nama seluruhnya; dia memiliki ribuan ilmu di setiap pembuluh darahnya. Pada jiwanya terhimpun pengetahuan mengenai nama dari segala sesuatu ciptaan sampai akhir zaman: dari yang telah, sampai yang akan, mewujud. Tidak ada panggilan yang telah diberikannya kepada sesuatu kemudian berubah, apa yang disebutnya  cepat tidak akan lalu menjadi lambat . Siapa yang pada akhirnya menjadi seorang beriman, telah diketahuinya sejak awal;  siapa saja yang akhirnya menjadi seorang yang kufur, sejak awal jelas belaka baginya. Apakah telah kau dengar nama dari segala sesuatu dari dia yang telah diberi ilmu mengenai hal itu; dengarlah makna terdalam dari rahasia Dan telah diajarkan kepada Adam, al-asma 'akullaha... . [1] Bersama kita, nama dari sesuatu adalah tampilan lahiriahnya; bersama Sang Pencipta nama dari sesua...

Kisah Pencari Harta Karun

Dia sedang tenggelam dalam permohonannya, ketika sebuah suara terdengar kepadanya, dan kesulitannya Tuhan selesaikan. (Suara itu berkata): "Engkau memang telah disuruh menaruh  anak panak ke busurnya, tetapi   kapankah engkau diminta menarik kuat-kuat busur itu? Petunjuk itu bukan untuk menarik busur itu kuat-kuat: engkau disuruh menaruh anak panah ke busurnya, bukannya melepaskannya sekuat tenagamu. Dengan kesombonganmu, telah kau rentangkan busurmu tinggi-tinggi, dan kau pamerkan ketrampilanmu dalam seni memanah. Lepaskanlah ketrampilanmu dalam merentang busur: taruhlah anak panah ke busur itu, namun janganlah engkau menariknya sekuat tenagamu. Di tempat panah jatuh, gali dan carilah: tanggalkanlah kekuatan, dan carilah emas itu dengan permohonan yang menghiba." Yang haqq itu lebih dekat daripada urat-lehermu, sedangkan anak panah pikiranmu engkau lesatkan menjauh. Wahai manusia yang telah melengkapi dirimu dengan busur dan anak panah: mangsa itu dekat;...

Semuanya Beringsut dengan Enggan di Sepanjang Jalan ini, Kecuali ...

Sang Nabi SAW berkata bahwa para ahli surga itu lemah dalam berdebat karena keagungan pencapaian mereka; Karena sempurnanya kehati-hatian mereka  dan menganggap  rendah diri sendiri,  bukan karena lemah-akal, pengecut  atau lemah-iman. Dengan memberikan keuntungan kepada lawan mereka, diam-diam mereka mendengar hikmah ayat "... dan kalau tidaklah terdapat disana para lelaki beriman ..." [1] Maka, tidak menyentuh kaum kafir yang tercela itu menjadi suatu tugas, demi membebaskan kaum beriman. Bacalah kisah perjanjian Hudaibiya: "... adalah Dia yang menahan tanganmu dari mereka..." ; dari sabda itu pahamilah keseluruhan kisah. [2] Bahkan dalam kemenangan, sang Nabi SAW memandang dirinya sendiri dikendalikan oleh buhul-tali Keagungan Ilahiah. (Beliau SAW bersabda,) "Bukanlah aku tertawa karena aku menyergapmu di waktu fajar sehingga berhasil menangkap dan mengikatmu; Aku tertawa karena aku menyeretmu dengan rantai dan belengu men...