Postingan

Menampilkan postingan dengan label anggur

Cinta yang Menghidupkan

Gambar
Cinta pada yang mati takkan abadi, karena yang mati takkan kembali. Tetapi cinta pada yang hidup di setiap saatnya lebih segar,  daripada sekuntum bunga: baik bagi mata batiniah maupun mata lahiriah. Pilihlah cinta dari Yang Maha Hidup, yang Abadi,  yang memberimu khamr: yang meningkatkan kehidupanmu. Pilihlah cinta dari-Nya; dari cinta-Nyalah, semua nabi memperoleh  kekuatan dan kemenangan. Jangan kau katakan, "Sang Raja tak mampu kita jangkau." Berurusan dengan yang Maha Pemurah sama sekali tidak sulit. Sumber: Rumi: Matnavi I:  217 - 221 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Lepaskanlah Beban

Gambar
foto oleh Pommelien da Costa Cosme dari Unsplash Lepaskanlah beban kehidupan ini, agar dapat kukunjungi taman kaum yang shaleh. Lalu, bagai  ashabul-kahfi, kutelusuri jalan penuh karunia ketika tak lagi kuterjaga, bukan pula kutertidur. Ku kan berbaring ke sebelah kanan, atau ke sebelah kiri; tak akan aku berguling bagai bola, kecuali tak sengaja. Seperti itulah, wahai  Al-Hakim, Engkau membolak-balikkan aku kadang ke kanan, kadang ke kiri.  [1] Ratusan ribu tahun aku melayang kesana-kemari, bak debu di udara.  [2] Telah kulupakan keadaan saat itu, tapi ketika jiwaku tengah lebur, dibawa aku kembali ke sana, dan perlahan ingatanku pulih. Setiap malam kudamba kemerdekaan dari salib bercabang empat ini,  [3] dan melesat dari wadah sementara yang sesak ini, menuju padang  ruhaniyah  nan lapang. Bersama sang juru-rawatku: tidur yang lebur, kuhirup kembali susu berupa pengetahuan masa-masaku yang telah berlalu, yaa  R...

Mereka yang Merendahkan Pandangannya

Pengalaman  ruhaniyah  itu bagaikan para bidadari yang merendahkan pandangannya, mereka tak menampakkan diri kecuali kepada pemiliknya.    [1] Anggur  yang membawa kepada pengalaman itu,    [2] bagaikan  para bidadari yang merendahkan pandangannya, sementara wahana-wahana yang menghijabnya dari penglihatan bagaikan  tenda-tenda     [1] Sungai-besar itu bagaikan tenda,    [3] di dalamnya terdapat kehidupan bagi unggas-air,  dan kematian bagi burung gagak. Racun itu bagai gula-gula bagi ular tapi penderitaan dan kematian bagi yang lain. Bentuk dari setiap keberuntungan dan bencana itu bagaikan surga bagi seseorang atau neraka bagi orang lain. Karena itu, sungguhpun kau tatap berbagai bentuk dan benda, dan terdapat hidangan atau racun di dalam semua ciptaan itu-- kau tidak melihatnya. Setiap orang itu bagaikan cangkir atau cawan, di dalamnya terdapat makanan bergizi dan hal yang membawa terbakarnya...

Dan Tetaplah Engkau Sadar

Wahai Sana'i,                             [1] Jika tak kau temukan satu pun sahabat, Jadilah sahabat bagi dirimu sendiri. Di alam dunia ini, tempat dari bermacam manusia dan beragam tugas, jadilah pelaksana dari tugasmu sendiri. Setiap pengikut dari karavan ini, mencuri perbekalannya sendiri-- waspadai dan jagalah bekalmu.   [2]   Sebagian besar orang berjual-beli keidahan dan cinta palsu-- lewati ke dua sungai kering ini, dan jadikan dirimu sungai yang deras mengalir. Jika ada kawan yang menarik tanganmu ke arah hal yang tak berarti, segera tarik tanganmu dan jadikan dirimu seorang penolong bagi dirimu sendiri.                     Ciptaan-ciptaan yang cantik ini, bagaikan lukisan indah pada kanvas, menghijab aneka keindahan qalb, sibakkan hijab dan masuklah, hadirlah bersama Sang Kekasih. Hadirlah bersama Sang Kekasih, jadilah ...

Di Lembah Cinta

Tengah malam, aku bertanya,  siapa ini yang ada di dalam rumah qalb-ku? Dia menjawab,  Inilah Aku, yang cemerlangnya membuat matahari dan rembulan jadi tertunduk malu. Dia bertanya,  Mengapa rumah ini penuh dengan aneka macam lukisan? Aku menjawab, Ini semua adalah bayangan dari-Mu, wahai Engkau yang wajah-Mu membuat iri warga Chigil.                               [1] Dia bertanya,  Dan apa ini: qalb yang berdarah-darah? Aku menjawab, Ini adalah gambaran diriku: hati terluka, dan kaki dalam lumpur. Kuikat leher dari jiwaku, dan menyeretnya kehadapan-Nya sebagai persembahan: Inilah dia yang telah berkali-kali memunggungi Cinta, kali ini jangalah Kau lepaskan. Dia serahkan satu ujung tali, ujung yang penuh kecurangan dan pengkhianatan, Peganglah ujung yang ini, Aku kan menghela dari ujung yang lain, mari berharap tali ini tidak putus. Kuraih tangan-Nya, Dia men...

Pintu-pintu Menuju Taman-Mu

Gambar
Wahai Kekasih, manakah yang lebih mempesona, Wajah-Mu atau al-Jannah -Mu ini,  yang begini luas. Bercahayalah, wahai rembulanku, Engkaulah inspirasi, bagi semua yang menatap langit malam. Yang asam akan berubah jadi manis. Prasangka diganti dengan Kebenaran. Gerumbul duri diubah jadi mekar bunga. Seratus tubuh akan bangkit hidup kembali, dengan satu hembusan-Mu. Kau taruh pintu demi pintu di langit Kau taruh harapan dalam hati insan. Kau cekam setiap kecerdasan, Kau buat ke dua alam terpesona pada-Mu. Wahai Kekasih, pipimu memerah, bagai mawar. Wahai Kekasih, Engkaulah pujaan alam ini, dan alam berikutnya, dan alam-alam berikutnya. Kelopak-kelopak jagung, berupaya keras, mencoba meniru satu warna-Mu. Semua jenis kebenaran lebur jadi satu dibawah injakan kaki-Mu. Seluruh nada laguku rindu menggemakan merdunya suara-Mu. Tanpa Engkau, pasar dan perniagaan sepi. Taman dan kebun longsor tersapu air bah. Kau ajari pohon menari seiring t...

Engkaulah ...

Gambar
Sejak kumulai berjalan, Engkau lah tujuan, Engkau lah pemandu. Ketika kucari hatiku, Engkau lah yang meremukkannya. Ketika kucari kedamaian, Engkau lah yang mengayomi. Ketika kupergi berjihad, Engkau lah pedangku. Ketika kubelajar lebur, Engkau lah anggur dan manisan. Ketika kudatangi taman itu, Engkau lah sang narsisus memekar. Ketika kusampai ke tambang itu, Engkau lah sang merah delima. Ketika kuselami samudera, Engkau lah mutiara di dasar. Ketika kulintasi gurun, Engkau lah oase. Ketika aku mengangkasa, Engkau lah bintang paling terang. Ketika kutegak dengan berani, Engkau lah perisaiku. Ketika kupingsan kebingungan, Engkau lah wewangian yang menyadarkan. Ketika kuterjun dalam pertempuran, Engkau lah sang panglima pasukan. Ketika kutiba di perjamuan, Engkau lah tuan-rumah, penghibur, sekaligus cangkir. Ketika kumenulis, Engkau lah kertas, pena, sekaligus tinta. Ketika kuterjaga, Engkau lah kesadaranku. Ketika kutertidur, Kau masuki mimpik...

Yang Tampak dan Yang Tersembunyi

Gambar
Dia telah menjadikan yang nisbi eksistensinya tampil berwujud dan agung; Dia telah menjadikan yang lebih nyata eksistensinya tersembunyi bentuknya. Dia telah menghijab Laut, dan membuat ombak tampak; Dia telah menyembunyikan Angin, dan memperlihatkan padamu debu. Debu membubung setinggi menara: tak mungkin ia melayang sendiri. Wahai yang berpandangan tajam, kau lihat debu melayang tinggi; sedangkan anginnya tak kau lihat, tapi kau ketahui adanya dengan akalmu. Kau lihat ombak menggelora kesana-kemari, tanpa Laut, ombak itu takkan bergerak. Kau lihat ombak itu dengan inderamu, dan Laut melalui kesimpulanmu: pemikiran tersembunyi, sedangkan perkataan berwujud. Kita melihat akibat sebagai pengukuhan: mata kita hanya melihat hal yang tak memiliki eksistensi sendiri. Mata lahiriah ini hanya melihat secara terbatas, bagaikan dalam keadaan tidur, tak dilihatnya apa pun kecuali fatamorgana dan yang lemah eksistensinya. Jadilah kita berkubang dalam kesalahan, ...

Lintasilah ke Dua Alam

Setiap saat, dari berbagai arah, himbauan Sang Kekasih menyerumu. Ke al-Jannah seyogyanya kita menuju: tak elok jika ke alam-dunia ini hanya untuk berjalan-jalan. Pernah kita disana, bersobat dengan para malaikat. Karenanya, wahai pejalan, mari kita kembali kesana, itulah tempat kita yang sebenarnya. Bahkan semestinya, lebih tinggi daripada Taman itu; hakikinya, insan sejati itu lebih tinggi daripada malaikat. Mengapa ke dua alam ini                                       1) tak segera kita lintasi saja? Tujuan kita adalah keagungan puncak. Sungguh berbeda sumbernya: alam tanah-liat ini, dengan inti cahaya insan. Memang dulu kita telah diperintahkan turun,     2) kini mari kita bergegas naik, mengapa berlama-lama disini. Segarnya keberuntungan adalah sahabat kita: berserah-diri adalah keahlian kita. Pemandu kafilah kita adalah Mushthafa: kecintaan alam semesta. Manis-harumnya hemb...

Untuk Dicicipi

Wahai pencari, jangan bersedih jika Yang Tercinta mengusirmu; jika hari ini engkau diusir,  itu hanya agar esok Dia memanggilmu. Jika dia menutup pintu untukmu, jangan pergi,  bersabarlah sebentar; karena sabarmu itu akan ditaruh-Nya engkau pada tempat terhormat, disisi-Nya.  Jika Dia menutup bagimu semua jalan dan lintasan, janganlah berputus-asa, akan diperlihatkan-Nya untukmu suatu jalan rahasia, yang tak diketahui orang lain. Perhatikanlah tukang jagal, yang memotong kepala domba dengan pisaunya, tidaklah lalu dia meninggalkan sembelihannya. Ketika tiada lagi nafas pada domba yang disembelih, keahlian selanjutnya dari sang penjagal bagaikan nafas baru, yang menghidupkan kembali binatang itu. Bayangkan, kehidupan seperti apa yang diberikan hembusan-Nya. Itu tadi hanya suatu perbandingan: kemurahan-Nya takkan membunuh satu orang pun, sebaliknya, itu akan mencegah orang membunuh. Diberikan-Nya seluruh kerajaan Sulaiman  kepad...

Tiada Sedikit pun Mencukupi tanpa Kehendak Allah

Telah panjang-lebar kita berbicara, tetapi sungguh penyiapan diri kita untuk menempuh jalan yang membentang di depan tidaklah cukup: tiada sedikit pun mencukupi tanpa kehendak Allah! Tanpa kehendak Allah dan mereka yang dipilih-Nya, siapa pun diri kita, lembaran kita tetaplah hitam. Yaa Allah, kelimpahan-Mu memenuhi setiap kebutuhan, tidaklah diizinkan untuk menyebutkan sesuatu pun di sisi-Mu. Alangkah berlimpahnya petunjuk yang telah Kau anugerahkan; selama ini telah Engkau tutupi begitu banyak aib dan cacat-cela kami. Karena setitik pengetahuan yang telah Engkau berikan sebelum kami disini— sampai kini rindu kami bersatu dengan lautan-Mu. Setitik pengetahuan yang berada di dalam jiwa kami ini: bebaskan dia dari syahwat dan kungkungan tanah-liat ini. Sebelum tanah-liat ini menghirupnya-habis, sebelum angin ini menyapunya. Sungguhpun, ketika dia tertiup j...