Postingan

Menampilkan postingan dengan label cahaya

Mengapa Berbangga Diri dan Angkuh?

Gambar
  Mengapa berbangga-diri dan angkuh? Takan bisa engkau memikat matahari dengan berselingkuh. Berhentilah berjalan dalam bayanganmu sendiri, berkubang dalam pikiranmu yang dungu. Angkat kepalamu, tataplah ke arah matahari, menjelajahlah diantara bebungaan, jadilah insan sejati. Jangan tinggal dalam kegelapan, seperti burung malam; bisa disantap engkau oleh raksasa, yaitu khayalanmu sendiri. Bangkitlah, carilah cahaya, tataplah ke arah matahari. Catatan: [1]  Berselingkuh,  istilah yang dipakai para Syaikh untuk menyebut mereka yang menyatakan dirinya pencari Tuhan tapi sebenarnya hanya mencari ciptaan-Nya. [2] Matahari,  al-Haqq. Sumber: Rumi:  Divan-i Syamsi Tabriz,  no 1378. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Maryam Mafi dan Azima Melita Kolin. Tercantum dalam buku Rumi’s Little Book of Life: The Garden of Soul, the Heart and the Spirit, Hampton Road Publishing, Inc, 2012.

Cinta pada Pantulan Keindahan

Gambar
  foto oleh  Peace,love,happiness  dari  Pixabay Kepada Tuhan, mintalah cinta, bukan sekedar kehidupan; mintalah nutrisi bagi jiwa, bukan sekedar nasi. Semesta ciptaan berwujud bagaikan air murni, bening; memendarkan bayangan sifat-sifat Sang Pencipta. Pengetahuan, keadilan, dan kasih-sayang itu bagaikan bayangan bintang-bintang di langit pada permukaan air bening yang tenang. Generasi demi generasi manusia berlalu, tapi rembulannya tetap yang itu juga. Waktu dan orang yang menghuni Bumi berubah, tapi hakekat kebijaksanaan dan keadilan, tetaplah sama. Insan berakhlak-mulia memantulkan keindahan asma-asma Sang Pencipta. Dan cinta pada keindahan akhlak itu karena cinta kepada Sang Pelimpah Keindahan. Sumber: Rumi: Matsnavi   VI: 3171 - 3183 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Maryam Mafi dan Azima Melita Kolin. Tercantum dalam buku Rumi's Little Book of Life: The Garden of Soul. the Heart and the Spirit, Hampton Road Publishing, Inc, 2012. Terjemahan ke Bahasa Indon...

Bagai Purnama

Gambar
foto dari wallpaperaccess.com Wahai jiwa yang berharga, jangan tunda lagi: tempuhlah perjalanan yang mencengangkan, menuju Lautan Makna. Ingatlah telah kau lalui banyak tahapan. Jangan kau lawan, berserahlah pada pencarian. Basuhlah sayapmu dari lumpur duniawi dan ikuti jejak para pendahulumu. Jangan tinggal di bengkel perajin tanah liat pecahkanlah kendimu, dan mengalirlah bersama arus kehidupan. Meluncurlah dari pegunungan ke laut, karena tak ada jaminan keamanan di gunung. Jangan berpaling ke timur atau ke barat mengarahlah langung ke matahari. Dari cahayanya, kau kan seperti rembulan: mulai bagai bulan mati, lalu bagai purnama. Sumber: Rumi: Diwan  #2873 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Maryam Mafi dan Azima Melita Kolin. Tercantum dalam buku Rumi's Little Book of Life: The Garden of Soul. the Heart and the Spirit, Hampton Road Publishing, Inc, 2012. Terjemahan ke Bahsa Indonesia oleh ngRumi.

Cahaya yang Memadamkan Api

Gambar
Pada pertemuan Pengadilan Akhir,  orang-orang mukmin akan berkata: "Wahai malaikat, bukankah neraka itu suatu jalan umum, yang dilalui orang-orang mukmin dan kafir; namun mengapa kami tak melihat api dan asap dalam perjalanan kami?      Kami dapati taman dan kebun yang aman; lalu dimanakah lintasan penuh bahaya  yang dulu kami dengar?" Maka malaikat menjawab: "Kebun yang terlihat ketika kalian lalui, sebenarnya itulah neraka, namun bagi kalian tampaknya bagai taman yang indah. Karena kalian berjuang melawan hawa-nafsu dan memadamkan kobaran syahwat, demi Tuhan. Maka ia menjadi hijau dengan kesucian dan cahaya tuntunan ke arah keyakinan yang haqq. Karena kalian mengubah bara kemarahan menjadi kelembutan, dan mengubah kebodohan yang kelam  menjadi pengetahuan yang terang. Karena api kerakusan dalam diri kalian telah diubah menjadi kemurahan-hati, dan iri-dengki yang bagaikan duri telah di...

Periksalah dengan Teliti

Gambar
Mengenai lelangit yang sedemikian indah dan agung, Tuhan bersabda: "... maka pandanglah berulang-kali..." . Tentang atap cahaya itu, janganlah puas hanya dengan sekali pandang, periksalah dengan teliti,  "... adakah cacatnya?" Karena Dia telah memerintahkanmu agar memeriksa dengan teliti atap yang sempurna itu --bagaikan kau mencari kesalahan orang lain-- maka akan kau sadari, betapa banyak pemeriksaan dan penyelidikan yang diperlukan oleh bumi yang gelap, agar memenuhi syarat. Catatan: "... maka lihatlah berulang-kali, adakah kau lihat sesuatu yang cacat? " (QS al-Mulk [67]: 3). Para pemuka ilmu hikmah menyatakan bahwa,  "alam itu bagaikan insan yang besar, sementara insan itu bagaikan alam yang kecil."   "Memeriksa bumi yang gelap," artinya meneliti aspek jasmaniah diri seseorang, apakah sudah memenuhi aturan (syariah).  Sumber: Rumi: Matsnavi vol II: 2946 - 49 Terjemahan...

Yang Satu Itu

Gambar
Yang Satu Itu … Dan seseorang berkata, “Aku telah melupakan sesuatu.”    Sesungguhya,   hanya satu hal saja di dunia ini yang tidak boleh engkau lupakan! Boleh saja engkau melupakan semua hal lain, kecuali yang satu itu, tanpa engkau harus menjadi risau karenanya. Jika engkau mengingat semua yang lain, tapi   melupakan yang satu itu—maka tiada sesuatu pun telah engkau capai. Dirimu itu bagaikan seorang utusan yang dikirim sang raja ke sebuah desa dengan suatu tujuan khusus. Jika engkau berangkat dan kemudian mengerjakan seratus tugas lainnya, tapi lalai menyelesaikan satu tugas yang dikhususkan untukmu tersebut, itu sama saja artinya dengan engkau tidak mengerjakan apa-apa. Demikianlah, manusia diutus ke dunia ini untuk suatu tujuan dan sasaran khusus. Jika seseorang tidak mencapai tujuan itu, berarti ia tidak menyelesaikan apa pun…. “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah itu kepada lelangit dan bumi dan gunung-gunung: dan mereka m...

Santapan Cahaya

Gambar
Walaupun cahaya adalah santapan  bagi jiwa dan bagi penglihatan- qalb, ragamu pun membutuhkannya.  Jika ragamu, yang semula kebiasaannya bagaikan setan,   tak dapat berubah menjadi gemar akan cahaya, tidaklah sang Nabi akan bersabda,   "bahkan setanku telah menjadi Muslim."  Ketika perutmu tengah rakus, engkau perlu berjarak dengan dunia; ubahlah asupan makananmu. Jika qalb -mu yang sedang sakit, segera cari obatnya: ubahlah sikapmu. Jika engkau diperbudak makanan, bebaskan dirimu, dengan melemahkan ragamu. Di dalam lapar terdapat banyak nutrisi: carilah dengan tekun dan lambungkan harapan menemui-Nya. Santaplah cahaya,  jadilah seperti mata. Wahai insan, akrabilah para malaikat. Seperti malaikat, jadikan berpuji pada-Nya sebagai santapanmu. Sumber: Rumi: Matsnavi  V: 288, 293 – 298. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Camille dan Kabir Helminski,  dalam "Rumi...

Rintihan Seruling Bambu

Gambar
Dengarkanlah suara seruling bambu Menyayat rintihannya, lantunkan perihnya perpisahan: "Sejak direnggut aku dari rumpunku dulu, ratapan pedihku telah membuat berlinang air-mata orang. Kuseru mereka yang tersayat hatinya karena perpisahan. Karena hanya mereka yang pahami sakitnya kerinduan ini. Mereka yang tercerabut dari tanah-airnya merindukan saat mereka kembali. Dalam setiap pertemuan, bersama mereka yang tengah gembira atau sedih, kudesahkan ratapan yang sama. Masing-masing orang hanya dapat mendengar sesuai pengetahuannya sendiri-sendiri. Tak ada yang mencari lebih dalam tentang rahasia didalam diriku. Rahasiaku tersembunyi didalam rintihanku, mata-telinga tak bercahaya takkan mampu memahaminya." Desah seruling bersumber dari api, bukannya angin. Apa gunanya hidup seseorang yang tak lagi ada apinya? Adalah api cinta yang menghidupkan nyanyian sang seruling. Adalah ragi cinta yang membuat anggur teras...

Lenyapnya Bayangan

Gambar
Demikian lah keadaan sang pencari yang mendambakan Hadirat   Rabb -nya. Ketika   Rabb   tampil, sang hamba sirna. Walaupun penyatuaan dengan   Rabb itu keabadiaan di atas keabadian, tapi pertama-tama itu berarti matinya sang hamba dari dirinya sendiri. Bayangan yang mencari Cahaya lenyap, ketika Cahaya-Nya tampil. Bagaimana akal akan bertahan ketika Dia memerintahkannya pergi? Semuanya sirna kecuali wajah-Nya.   [1] Dihadapan wajah-Nya, musnah semua wujud dan ketiadaan: sungguh mencengangkan wujud di dalam ketiadaan. Pada hadirat ini, semua akal lenyap: ketika pena mencapai titik ini, patahlah ia. Catatan: [1]  Lihat QS al-Qashash [28]: 88. Sumber: Rumi: Matsnavi III: 4658 - 4663 Dari terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Camille dan Kabir Helminski; berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia oleh Yahya Monastra.

Bagai Seorang Penyelam

Gambar
Ragamu ada disini bersama orang-orang lain, tapi  qalb -mu mengembara ke padang-padang perburuan. Engkau menjelajah bersama para pemburu walau sesungguhnya dirimu: jiwamu itu lah, yang mereka buru.   Bagai sebatang seruling bambu, ragamu adalah sebuah selubung; dari dalam sana terdengar suaramu yang berdesir gelisah. Semestinya kau itu bagai seorang penyelam:  ragamu bagai pakaian; yang kadang dilepaskan dan ditinggal di tepi pantai. Pada laut itu terdapat banyak jalur bagai nadi pada tubuhmu, ada yang berwarna terang ada pula yang gelap. Qalb menerima cahanya  dari nadi yang terang. Bahkan jika kau angkat selubungmu dapat kutunjukkan padamu hal itu. Dirimu yang sebenarnya tersembunyi bagai darah di dalam nadi, dan engkau menghindar karena malu, bila kusentuh. Nadi-nadi itu bagai seruling yang perdengarkan nada manis nan pilu: musik dari lautan tak berpantai, yang gelombangnya menggemuruh ...

Siapakah Dia?

Gambar
di pantai Sancang, Garut Selatan, Juli 2024 Siapakah Dia? Yang memenuhi dada dengan kesedihan; lalu ketika engkau mengeluh-mengaduh pada-Nya, diubahnya kepahitanmu menjadi manis. Awalnya Dia tampil layaknya pengawas nan teliti; sampai akhirnya kau kan dapati Dia bagaikan sebuah Gudang Mutiara.                                 [1] Kekasih yang Maha Lembut: Engkau lah yang dalam sekejap mengubah keburukan menjadi kebaikan.    [2] Walau awalnya jiwa si hamba serendah setan, digubah-Nya jadi secantik bidadari.              [3] Sebuah pemakaman dibuat-Nya menjadi seindah pesta perkawinan.                [4] Dan Dia lah yang membuat orang yang mengetahui dan menguasai dunia terbutakan dari saat dia segumpal janin dalam rahim ibunya.               ...

Cinta itu Lautan Tak Bertepi

Gambar
Cinta itu lautan tak bertepi, di atasnya lelangit bagai serpihan buih belaka; yang gelisah, bagai Zulaikha dambakan seorang Yusuf. Ketahui lah, roda pemutar lelangit digerakkan oleh gelombang Cinta: bila bukan karena Cinta, semesta kan membeku. Bagaimana yang semula benda mati, berubah menjadi tumbuh-tumbuhan? Bagaimana tetumbuhan mengorbankan diri agar dilimpahi ruh? Bagaimana ruh mengorbankan diri demi sebuah Hembusan; yang kelembutan tiupannya pernah menghamili seorang Maryam? Semuanya akan kaku membeku bagai es, tak akan terbang menjelajah seperti belalang. Setiap  zarah  tengah jatuh cinta pada Kesempurnaan itu, dan bergegas tumbuh bagai berkecambahnya tunas. Bergegasnya mereka adalah sebuah  takbir   batiniah. Mereka memurnikan diri demi menyambut Sang Ruh. Sumber: Rumi:   Matsnavi  V: 3853 - 3859 Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh Nicholson.

Sebuah Do'a Pemberian-Mu

Gambar
Wahai  Rabb, sungguh Rahmat-Mu tercurah bukan karena amal kami, tapi karena limpahan-Mu yang penuh rahasia.         [1] Genggam lah ke dua tangan kami, selamatkan kami  dari apa-apa  yang ke dua tangan kami telah lakukan; angkat lah hijab kami kepada-Mu, dan jaga lah hijab kami  agar tak  robek, itu akan  mempermalukan kami.   [2] Selamatkan kami dari keakuan diri; tajamnya bagai ujung pisau yang menusuk ke tulang kami. Wahai Sang Raja, yang tak bermahkota, tak bertahta, siapa kah  yang  dapat lepaskan  rantai pengikat ini,                   [3] dari diri kami yang tak berdaya? Siapa kah yang se-Pemurah Engkau, wahai Maha Pengasih, yang dapat membebaskan kami dari penjara sekuat ini?            [4] Palingkan lah wajah kami dari menghadap ke diri sendiri menjadi menghadap  kepada-Mu; karena sesungguhnya Engka...