Postingan

Menampilkan postingan dengan label matahari

Hembusan dari Sumber yang Tak Tampak

Gambar
  Foto oleh Sebastian Bill di Unsplash Angin apa ini, yang tengah membadai dari langit? sampai perahu-perahu di laut berguncang dan berayun dengan kerasnya. Karena anginlah perahu berlayar, dan karena angin pula perahu tenggelam. Tuhan mengendalikan angin, seperti kita mengendalikan nafas kita ketika memuji atau mencela. Berbeda-beda jenis angin, semuanya bertiup dari sumber yang tak tampak: ada yang membawa pertolongan, ada pula yang membawa kehancuran. Angin itu terasa, tapi sumbernya tersembunyi. Para pemilik hati yang murni memahami sumbernya dan terpandu oleh cahayanya. Keyakinan mereka tak goyah, mulut mereka tertutup, tetap menatap jalan, seraya tak jeda menghimpun kebijaksanaan. Mereka yang tak paham sumber angin menjadi pemuja bentuk-bentuk, mempertaruhkan hidup mereka. Duduk mereka di kaki para syaikh: membeo ucapan-ucapan bijak, sambil memperdebatkan keyakinan, mencari-cari asap sebagai bukti api. Tirulah sikap matahari, sang Raja tanpa dayang-dayang, diam membisu...

Mengapa Berbangga Diri dan Angkuh?

Gambar
  Mengapa berbangga-diri dan angkuh? Takan bisa engkau memikat matahari dengan berselingkuh. Berhentilah berjalan dalam bayanganmu sendiri, berkubang dalam pikiranmu yang dungu. Angkat kepalamu, tataplah ke arah matahari, menjelajahlah diantara bebungaan, jadilah insan sejati. Jangan tinggal dalam kegelapan, seperti burung malam; bisa disantap engkau oleh raksasa, yaitu khayalanmu sendiri. Bangkitlah, carilah cahaya, tataplah ke arah matahari. Catatan: [1]  Berselingkuh,  istilah yang dipakai para Syaikh untuk menyebut mereka yang menyatakan dirinya pencari Tuhan tapi sebenarnya hanya mencari ciptaan-Nya. [2] Matahari,  al-Haqq. Sumber: Rumi:  Divan-i Syamsi Tabriz,  no 1378. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Maryam Mafi dan Azima Melita Kolin. Tercantum dalam buku Rumi’s Little Book of Life: The Garden of Soul, the Heart and the Spirit, Hampton Road Publishing, Inc, 2012.

Bagai Purnama

Gambar
foto dari wallpaperaccess.com Wahai jiwa yang berharga, jangan tunda lagi: tempuhlah perjalanan yang mencengangkan, menuju Lautan Makna. Ingatlah telah kau lalui banyak tahapan. Jangan kau lawan, berserahlah pada pencarian. Basuhlah sayapmu dari lumpur duniawi dan ikuti jejak para pendahulumu. Jangan tinggal di bengkel perajin tanah liat pecahkanlah kendimu, dan mengalirlah bersama arus kehidupan. Meluncurlah dari pegunungan ke laut, karena tak ada jaminan keamanan di gunung. Jangan berpaling ke timur atau ke barat mengarahlah langung ke matahari. Dari cahayanya, kau kan seperti rembulan: mulai bagai bulan mati, lalu bagai purnama. Sumber: Rumi: Diwan  #2873 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Maryam Mafi dan Azima Melita Kolin. Tercantum dalam buku Rumi's Little Book of Life: The Garden of Soul. the Heart and the Spirit, Hampton Road Publishing, Inc, 2012. Terjemahan ke Bahsa Indonesia oleh ngRumi.

Kesenangan yang Melenakan dan Menipu

Gambar
Semua kesenangan yang egois itu melenakan dan menipu. Bagaikan secercah cahaya kilat yang lalu diikuti kegelapan. Cahaya kilat itu tak memadai  untukmu membaca, apalagi membantumu mencapai tujuanmu. Jalanmu akan panjang, dan tanpa seorangpun pemandu. Tipuan di tengah malam akan membuatmu semakin jauh tersesat ke tengah gurun. Terkadang kau terhalang sebuah gunung; kali lain, kau terjatuh ke dalam sungai. Wahai pencari kesenangan duniawi, takkan kau temukan seorang pemandu; bahkan, jika kau bertemu dengannya,  akan kau palingkan wajahmu. Seraya engkau berkata, "Telah jauh kutempuh jalan ini, sang pemandu ini malah memberitahuku, bahwa aku telah tersesat. Jika kudengar perkataan yang menakjubkan itu, aku harus memulai ulang perjalananku,  dibawah arahannya. Aku telah habiskan umurku di jalanku ini: kukan lanjutkan, apapun resikonya. Enyahlah, para pengkritik!" Betul, telah jauh kau berjalan, tetapi hanya dalam prasangka seremeh kilat; kemarilah, dirikanlah tenda sebagai...

Berlindung pada Kesucian

Gambar
Jangan bawa pedang kayu ke medan perang. Berupayalah mencari pedang baja; lalu majulah dengan gembira. Perlindungan seorang suci bagaikan pedang  al-Haqq: waktu yang kau curahkan bersamanya setara nilainya dengan secangkir air kehidupan. Semua orang bijak sepakat: seorang yang  'arif billah adalah rahmat Tuhan bagi makhluk-makhluk-Nya. Kebersamaan dengan seorang suci membuatmu bagaikan seperti dirinya. Walau kau sebelumnya bagaikan batu atau granit, kau akan menjadi bagai sebutir permata, saat kau menemukan seorang pemilik  qalb. Tanamkanlah kecintaaan kepada orang suci dalam-dalam di dalam jiwamu; jangan kau curahkan hatimu pada sesuatupun, tetapi cintailah mereka, yang  qalb -nya membawa berita gembira. Janganlah kau hampiri keputus-asaan, dekaplah harapan. Janganlah kau bertolak ke arah kegelapan, matahari ruhaniah itu sungguh ada. Aspirasi hatimu akan memandumu ke arah seorang pemilik  qalb, sementara  syahwat mu menghelamu ke arah penjara; ya...

Seandainya Sempat Kau Kenali

Gambar
Seandainya sempat kau kenali dirimu sendiri, walau sekejap. Seandainya sempat kau tatap --walau sekilas-- keindahan wajah sejatimu sendiri. Maka takkan lagi kau tertidur didalam campuran lempung dan air ini, bagaikan seekor hewan; kau kan bertolak ke rumah kebahagiaan bersama jiwa-jiwa nan indah. Kau harus telusuri jalan sampai ke sudut-sudut terjauh dirimu sendiri, agar diri sejatimu terejawantahkan; karena Khazanah Tersembunyi masih tersimpan di dalam dirimu. Seandainya engkau hanya terdiri atas sesosok tubuh, maka takkan pernah kau dengar kabar mengenai jiwa seandainya engkau hanya jiwa saja maka engkau sudah dalam kebahagiaan bersama dirimu sendiri. Seperti orang lain kau berhadapan dengan kebaikan dan kejahatan; kau hadapi semua itu  dengan apa yang ada pada dirimu. Seandainya engkau itu suatu jenis sayuran, maka kau miliki suatu cita-rasa khas; seandainya engkau itu sebuah periuk maka ada panas yang pas  untuk membuatmu men...

Rahmat-Nya yang Tersembunyi

Gambar
"Pelana" G. Gede, Juli 2023 Engkau bagai Langit dan aku seperti Bumi, yang terpesona pada apa-apa yang Kau tumbuhkan dalam hatiku. Haus aku, kering bibirku, hanya rahmat-Mu berupa hujan yang dapat mengubah bumi  menjadi sebuah taman mawar. Karena-Mu ia mengandung sesuatu dan Engkau lah yang tahu bebannya. Ia bergetar, ia berputar, ia merintih, ia melahirkan suatu dambaan Ilahiah. Sang Kekasih merawat pecinta-Nya dan melimpahi mereka bermacam hidangan. Terkadang diikat-Nya mereka dengan tali nalar fikiran; kali lain dibebaskannya mereka agar menari. Pandang lah taman penuh aneka bunga, tak mampu mereka menahan luapan kegembiraan. Pandang lah kuasa Ilahiah Sang Tunggal mengubah tanah lempung hina  menjadi bentuk yang anggun. Semua yang kita tatap ini adalah hijab dari Matahari yang tak pernah tenggelam itu; Matahari yang sudah ada sejak awal, dan dengan diam-diam --pada saatnya--akan Dia ungkapkan apa-apa yang telah ditanam. Sumber: Rumi:   Divan-i Syamsi Tabriz, ...

Jebakan dengan Umpan Hasratmu Sendiri

Mengikuti hasratmu sendiri artinya melarikan diri dari Tuhan, dan menumpahkan darah ruhaniyah di hadirat Keadilan-Nya. Dunia ini sebuah jebakan dan hasratmu itu umpannya; hindari jebakan, hadapkan lah wajahmu kepada-Nya. Jika kau ikuti Jalan, ratusan keberkahan bersamamu; sedangkah jika kau menuju arah sebaliknya, buruk nasibmu. Karenanya, sang Nabi berkata, "dengarkan nuranimu walaupun para ahli agama menasehatimu untuk urusan duniamu." Tanggalkan hasratmu, agar terungkap Rahmat-Nya. Dari pengalamanmu sendiri jelas lah bahwa semua kebaikan menuntut pengorbanan. Karena kau tak mungkin menghindar dari dunia, jadi lah hamba-Nya; dan keluarlah dari penjara-Nya menuju taman-Nya. Ketika terus kau awasi pikiran dan tindakanmu, akan selalu kau saksikan Keadilan dan Sang Hakim; Walaupun kelalaian masih menutup pandanganmu tidaklah itu mencegah Sang Matahari bersinar. Sumber: Rumi:   Matsnavi   VI: 3777 - 3784. Terjemahan ke Bahasa Inggris ole...

Yang Bangkit dari Abu Penyatuan

Wahai jiwa, engkau lah burung Phoenix, yang bangkit dari abu penyatuan. Mengapa tak terbang mengangkasa? -- di bumi engkau tak dikenal. Kau cicipkan rasa-manis ke dalam hati; seraya kau remukkan ribuan hati dengan pesonamu. Saat ini kau tinggal di dalam raga, tapi ada saat ketika kau lewati lelangit, kau tembus batas-batas semesta. Apa sulitnya ruh menemuimu? --bukankah engkau sayap dan bulunya. Mengapa pandangan tak melihatmu? --bukankah engkau sumber penglihatan. Apa yang akan terjadi pada jiwa tembagamu, ketika sang Ahli Kimia tiba? --bukankah akan diubah jiwamu menjadi emas. Apa yang akan terjadi pada bibitmu yang kecil ketika tiba musim semi? --bukankah dari sana kan tumbuh pohon menjulang. Apa yang akan terjadi pada kayu bakar, ketika dimasukkan ke dalam api? --bukankah nyalanya kan menjilat ke langit. Jangkauan cahaya nalar bagai pendar redup bintang-bintang di kejauhan. Sementara engkau bagai terang matahari yang menembus, lewati semua hijab. ...

Engkaulah ...

Gambar
Sejak kumulai berjalan, Engkau lah tujuan, Engkau lah pemandu. Ketika kucari hatiku, Engkau lah yang meremukkannya. Ketika kucari kedamaian, Engkau lah yang mengayomi. Ketika kupergi berjihad, Engkau lah pedangku. Ketika kubelajar lebur, Engkau lah anggur dan manisan. Ketika kudatangi taman itu, Engkau lah sang narsisus memekar. Ketika kusampai ke tambang itu, Engkau lah sang merah delima. Ketika kuselami samudera, Engkau lah mutiara di dasar. Ketika kulintasi gurun, Engkau lah oase. Ketika aku mengangkasa, Engkau lah bintang paling terang. Ketika kutegak dengan berani, Engkau lah perisaiku. Ketika kupingsan kebingungan, Engkau lah wewangian yang menyadarkan. Ketika kuterjun dalam pertempuran, Engkau lah sang panglima pasukan. Ketika kutiba di perjamuan, Engkau lah tuan-rumah, penghibur, sekaligus cangkir. Ketika kumenulis, Engkau lah kertas, pena, sekaligus tinta. Ketika kuterjaga, Engkau lah kesadaranku. Ketika kutertidur, Kau masuki mimpik...

Pangeran Palsu

Tengoklah kesini, ada Pangeran Palsu. Naik kuda kecil, diatas sadel kecil, lagaknya menyebalkan, bergaya memakai mahkota emas. Karena tak percaya kematian, dia bertanya dengan angkuh, "Dimana, dimana, malaikat maut itu?" Sebenarnya, Sang Maut senantiasa menyapanya, dari ke enam arah, seraya berseru, "Aku disini, aku disini." (Pada saatnya) Sang Maut berkata kepadanya, "Wahai keledai, kemana sekarang derap penuh gayamu? Kemana paras angkuh, bangga-diri, dan kemarahanmu? Kemana berhala cantik sumber kebahagiaanmu? Kepada siapa kau berikan mahkotamu, kini bantalmu gumpalan tanah, kasurmu dari tanah." Kurangi makanmu, gulung kasurmu, carilah  ad-Diin al-Haqq, agar kau menjadi Pangeran Keabadian, yang bebas pernak-pernik kecil adat dan kebiasaanmu. Jangan kubur jiwamu, jangan ubah roti jadi kotoran, kemana akalmu: kau lemparkan mutiara ke dasar kotoran. Ketahuilah, kita melekat ke tanah kotor ini semata agar menemukan mutiar...

Lemparkanlah Tongkatmu

Sang Raja nan Maha Indah dan Penyayang telah berkenan menerimaku. Dia Sang Saksi cahaya hati, Sang Penyejuk dan Sahabat jiwa, Ruh bagi segenap semesta. Kujumpai Dia yang telah menganugerahkan hikmah kepada para bijak-bestari, kemurnian kepada orang-orang suci. Dia yang dipuja rembulan dan bintang-bintang. Dia yang kepadanya menghormat sekalian wali. Seluruh sel pada diriku berseru: Alhamdulillah, Allahu Akbar. Ketika Musa melihat pohon yang menyala, [1] dia berkata: "setelah menemukan anugerah ini, tak lagi kubutuhkan sesuatu yang lain." Tuhan berkata, "Wahai Musa, penjelajahanmu telah selesai. Lemparkanlah tongkatmu." [2] Pada saat itu Musa mengenyahkan dari hatinya semua teman, saudara, dan kerabat. Inilah makna dari tanggalkan ke dua terompahmu: [3] Hilangkan dari hatimu hasrat akan sesuatu pun di kedua alam. Sejatinya, ruang qalb itu diperuntukkan bagi-Nya semata. Hanya akan kauketahui hal ini melalui pertolongan para nabi. Tuhan berka...

Tongkat Musa

Gambar
Pernah kuberada di taman-Mu, di bawah pohon, yang kabulkan semua keinginan. Sepenuh diriku terbakar, sehingga ku menari tanpa musik. Kini aku sesosok bayangan, kumenari seiring cahaya Matahari: kadang kuberbaring di tanah, kadang kuberdiri-terbalik, di atas kepalaku; kadang aku memanjang, kadang aku memendek. Bagai gerakan cahaya dan bayangan, melintas permukaan bumi, kujelajahi zaman. Aku lah pangeran Mesir, dan pemandu Bangsa Israil. Bagi para ulama, aku lah sang Pembawa Sabda. Terkadang aku jadi Kalam. Terkadang aku jadi tongkat di tangan Musa. Terkadang aku jadi naga, membelah jalanku menerobos gurun. Jangan pernah cari Cinta, dengan bersandar pada tongkat-kayu fikiran; guna tongkat-kayu itu, hanya untuk memandu jalan orang buta. Yang kudamba hanyalah isyarat-Mu: satu anggukan dari-Mu, maka jiwaku kan bebas. Tidaklah dari sini kuberasal, aku pengelana yang singgah sejenak. Tersaruk berjalan, buta, tak tentu arah. Mendamba uluran tangan-Mu, membimbingku, melangkah. Sumbe...

Cahaya dan Bayangan

Gambar
Foto oleh Emir Bozkurt: https://www.pexels.com/photo/men-praying-in-mosque-15860613/  Tak mungkin suatu semesta terpisah dari semesta-semesta lainnya. Tidak mungkin basah terpisah dari air, suatu langkah dari gerakan lainnya. Takkan padam nyala api dengan api lainnya; wahai anakku, hatiku berdarah karena cinta, jangan bersihkan darahku dengan darah yang lain. Hanya matahari yang mampu enyahkan bayangan. Matahari memanjangkan dan memendekkan bayangan; [1] carilah kuasa ini dari Sang Matahari. Kalaupun ribuan tahun kau coba hindari, pada akhirnya, kan kau dapati bayangan senantiasa bersamamu. Yang melayanimu adalah dosa-dosamu, yang menolongmu adalah sakitmu, nyala lilinmu adalah kegelapanmu, pencarian dan jelajahmu dari jerat rantaimu. Hal ini kan kujelaskan, hanya jika telah kuat hatimu; sebab jika remuk kristal-gelas hatimu, takkan pernah ia pulih. Mestilah engkau miliki, dan sandingkan keduanya: cahaya dan kegelapan; dengarkanlah anakku, bersujudlah...

Mereka yang Telah Mati

Para pencinta, yang dengan ikhlas mati dari diri mereka sendiri: mereka bagaikan gula, di hadapan Sang Kekasih. Pada Hari Perjanjian,  [1] mereka minum Air Kehidupan, sehingga matinya jiwa mereka tak seperti kematian orang lain. Karena mereka telah dibangkitkan dalam Cinta, kematian mereka tak seperti orang kebanyakan. Dengan kelembutan-Nya, mereka telah melampaui tingkat para malaikat; sama sekali tak bisa kematian mereka dibandingkan dengan orang kebanyakan. Apakah kau sangka Singa mati bagai anjing, jauh dari hadirat-Nya? [2] Ketika para pencinta mati di tengah Jalan, Sang Raja Ruhaniah berlari menyambut. [3] Ketika mereka mati di kaki Sang Rembulan, [4] mereka menyala bagaikan Matahari. [5] Jiwa para pencinta sejati itu bersatu mereka mati dalam saling mencintai. [6] Derai embun Cinta membasuh jantung mereka, mereka sampai pada kematian dengan hati berdarah-darah. Setiap me...

Bahkan Isa putra Maryam pun Menyingkir

Gambar
Inilah kisah tentang Isa putra Maryam, ketika dia menghindar dari orang-orang dungu, menjauh, hendak mengungsi, ke puncak sebuah gunung. Isa putra Maryam bergegas-cepat mendaki sebuah gunung. Sedemikian bergegas, bagaikan dikejar seekor singa. Seseorang mengejarnya, dan menyapanya, “Salam untukmu. Tak kulihat sesuatu pun mengejarmu, mengapa engkau begitu terburu-buru?” Tetapi Beliau tetap berlari, sedemikian terburu-buru, tak mau berhenti untuk menjawab. Sang penanya bersikeras, terus dikejarnya Sang Nabi itu. Lalu, dia bertanya lagi, kali ini sampai harus berteriak: “Demi Tuhan,” serunya, “berhentilah sebentar!” “Sungguh aku bingung, apa yang membuatmu melarikan diri?” “Wahai Nabi nan mulia dan pemurah, Apa yang membuatmu bergegas-lari? Tak ada singa mengejarmu. Tiada pula ancaman atau wabah?” Sang Nabi menjawab, “Aku melarikan diri dari seorang yang tolol. Pergilah! Sedang kukhawatirkan keselamatanku, janganlah kau tahan aku lagi!” Orang itu bertanya lagi, “Tapi, bukankah engkau al-...