Postingan

Menampilkan postingan dengan label waktu

Siapakah yang Tuli?

Yang berpanjang angan itu seperti orang tuli: sering didengarnya tentang kematian, tapi itu tak membuatnya sadar tentang kematiannya sendiri, atau bersiap menghadapi ajalnya. Tamak membuat orang buta: kelemahan orang lain dicermati dengan teliti, lalu disiarkan kemana-mana; seraya sedikit pun tak menyadari kelemahan dirinya sendiri. Alangkah anehnya, jika ada orang telanjang tapi takut bajunya robek. Pencinta dunia itu orang rudin dan ketakutan, sejatinya tak sesuatu pun dimilikinya, tapi dia takut hartanya disasar pencuri. Orang lahir dengan polos dan pergi dengan telanjang; diantara dua kejadian itu, kehidupan dunia dilaluinya dengan cemas, takut hartanya hilang. Saat saat ajal tiba, ketika ratusan orang meratap, jiwanya sendiri mentertawakan ketakutannya. Ketika itu, pecinta dunia baru sadar: tak sedikit pun dia miliki emas-permata; demikian pula, seorang yang cerdik sekali pun, tahu dia tak bisa menyiasati. Amatilah anak kecil yang bermai...

Akhirnya Ia Menetap

Gambar
di Pantai Sancang, Garut Selatan, Juli 2024 Dan singgahlah ke hatiku cinta kepada-Mu, lalu ia beranjak pergi, dengan riang. Sekali lagi ia datang, tinggal sejenak, lalu bertolak pergi lagi. Dengan sopan aku mengundangnya tinggal: "sebentar, barang dua, tiga hari." Akhirnya ia menetap, tak pernah lagi ia ingin tinggalkan hatiku. Sumber: Rumi: Rubaiyat,  F#223 Penerjemah ke Bahasa Inggris oleh Zara Houshmand

Tiga Hari

Masa kecil sudah lama lewat Masa muda telah berlalu Usia senja tengah menjelang Dunia ini, segera lah lewati. Izin tinggal tiga hari, tak lebih itulah masa berkunjung; Wahai tamu, waktumu telah habis, silakan lanjutkan perjalanan . Sumber: A.J. Arberry, Rubaiyat of Jalal Al-Din Rumi, 1949.

Dan Tetaplah Engkau Sadar

Wahai Sana'i,                             [1] Jika tak kau temukan satu pun sahabat, Jadilah sahabat bagi dirimu sendiri. Di alam dunia ini, tempat dari bermacam manusia dan beragam tugas, jadilah pelaksana dari tugasmu sendiri. Setiap pengikut dari karavan ini, mencuri perbekalannya sendiri-- waspadai dan jagalah bekalmu.   [2]   Sebagian besar orang berjual-beli keidahan dan cinta palsu-- lewati ke dua sungai kering ini, dan jadikan dirimu sungai yang deras mengalir. Jika ada kawan yang menarik tanganmu ke arah hal yang tak berarti, segera tarik tanganmu dan jadikan dirimu seorang penolong bagi dirimu sendiri.                     Ciptaan-ciptaan yang cantik ini, bagaikan lukisan indah pada kanvas, menghijab aneka keindahan qalb, sibakkan hijab dan masuklah, hadirlah bersama Sang Kekasih. Hadirlah bersama Sang Kekasih, jadilah ...

Sang Khalilullah Menyembelih Gagak, Unggas ke Tiga Pengganggu Perjalanan

Wahai pejalan, mengapa gagak dalam dirimu perlu disembelih? Karena Perintah Ilahiah! Ada hikmah apakah dibalik Perintah itu? Mari kuperlihatkan sedikit. Gaduhnya suara gagak hitam berkaok itu permintaa terus menerus agar diberi umur panjang di alam dunia ini. Bagaikan iblis, gagak meminta-minta kepada Tuhan Yang Maha Suci  dan tak-Terbandingkan, agar umurnya sampai mencapai Hari Kebangkitan. Alih-alih menyatakan, "Aku bertaubat, wahai Tuhanku," iblis malah meminta,  "berilah aku tangguh sampai Hari Pembalasan."                          [1] Hidup tanpa pertaubatan itu seluruhnya penderitaan: terpisah dari Tuhan sama saja dengan mati mendadak. Baik hidup maupun mati, keduanya manis bersama hadirnya Tuhan: tanpa Tuhan, air kehidupan berubah jadi api. Kutukan Ilahiah menimpa iblis, ketika pada Hadirat-Nya dia meminta umur panjang. Bergantung pada  ilah  selain daripada Allah tak...

Mengkaji Cahaya di atas Cahaya

Sang Musthafa bertutur tentang permohonan Neraka, ketika dengan berendah-hati dia bermohon kepada pemilik iman sejati: "berlalulah dengan cepat, wahai Sang Raja, karena cahayamu telah memadamkan apiku." Jadi, terang cahaya   al-Mukmin   berarti padamnya api, karena tanpa tanpa tampilnya yang berlawanan tak mungkin sesuatu sirna. Pada Hari Perhitungan, api akan menjadi lawan cahaya, karena api bersumber dari Murka-Nya, sementara cahaya dari Rahmat-Nya. Jika engkau ingin tanggalkan api kejahatan, tujukan air Rahmat Ilahiah ke jantung api. Mereka yang bertakwa dengan   haqq memancarkan aliran air rahmat itu: inti jiwa mereka yang bertakwa adalah Air Kehidupan. Tidak heran engkau yang berjiwa duniawi lari menjauh dari orang seperti mereka, karena engkau tersusun dari api, sementara mereka dari aliran air. Api melarikan diri dari air, karena takut nyala dan asapnya dipadamkan oleh air. Pikiran dan perasaanmu terbentuk dari api; pikiran dan perasaan orang suci t...

Di Ambang Batas Kedua Alam

Gambar
Wahai para pencinta, genderang langit telah memanggilku, dan berseru: sudah saatnya kau tinggalkan dunia ini. Lihatlah! Sang penunggang unta telah bangkit, kafilah ini segera bertolak. Dia berkata, “maafkan aku membangunkanmu, tapi, wahai peziarah, mengapa kau tertidur? Karena di depan maupun di belakangmu bel unta nyaring berbunyi. Saatnya untuk berangkat.” Setiap saat berangkat satu jiwa mencari dirinya sendiri. Dari arah gemintang, yang menggantung bagaikan rangkaian lilin, dari lengkung biru langit: turunlah jiwa-jiwa nan cantik; dan Yang Tersembunyi menyingkapkan Diri. Selama ini, semesta dunia yang melengkung, berputar-berayun, telah menina-bobokkanmu. Waspadailah hidup yang menggantung ini, waspadailah dengkurmu yang berat. Wahai qalb, carilah Sang Raja Qalb Wahai awliya, carilah Sang Wali Abadi. Wahai Sang Penjaga, selalulah waspada seluruh negeri ini bisa terkalahkan, jika engkau tertidur. Malam ini, ditingkahi hiruk-pikuk kota, di tengah cahaya lilin dan obor; Malam ini, al...

Rabb dan Dunia

Gambar
Seorang pencari berkata kepada Sang Hakim: "Dia, yang pertolongan-Nya kita mohonkan, tentu mampu membuat perdagangan kita tak pernah rugi. Dia yang yang mengubah api Namrud menjadi mawar dan pepohonan, tentu juga bisa membuat dunia kita ini jadi tanpa-api. [1] Dia yang memekarkan mawar dari tengah kumpulan duri, tentu mampu mengubah musim dingin ini menjadi musim semi. Dia yang membuat setiap cemara lurus dan bebas tentu kuasa mengubah sedih menjadi gembira. Dia yang membuat ketiadaan menjadi keberadaan: takkan Dia direndahkan, jika ciptaan dibuat-Nya abadi. Dia yang memberi raga suatu ruh, sehingga hiduplah ia; apa ruginya Dia jika dibuatnya kita tak perlu mati? Mengapa Sang Maha Pemurah, tak menganugerahkan saja, semua yang diinginkan setiap hamba; tanpa mereka perlu susah-payah berusaha? Dan mengapa tak dijauhkan-Nya, sang hamba yang lemah, dari kelicikan syahwatnya, dan dari godaan syaithan; yang sela...

Melekat pada Kepahitan

Jangan pandang, aneka kepahitan hidup, yang diungkap Sang Waktu. Jangan hiraukan sederhananya makananmu  dan terbatasnya nafkahmu. Jangan pedulikan wabah, ketakutan dan goncangan. Renungkanlah: dengan semua kepahitannya, tetap saja engkau erat-melekat tanpa malu, pada dunia. Pahamilah,  perihnya ujian adalah sebuah Rahmat. Ketahuilah,  Kerajaan Marv dan Balkh adalah sebuah hukuman. Kejamnya Sang Waktu  dan semua derita yang  mewujud itu lebih ringan daripada jarak  kepada Rabb dan pengingkaran. Karena derita itu akan berlalu, tetapi  tidak demikian dengan jarak kepada Rabb. Ibrahim tidak menghindar dari  api dan diselamatkan; Ibrahim yang lain menghindar dari  kehormatan dunia dan menemukan  jalan penyelamatan. Yang pertama tidak terbakar, [1] yang satunya lagi terbakar habis. [2] Betapa indahnya:  didalam Jalan pencarian Dia, semua jadi terbolak-balik! Catatan: [1] Ibrahim Khalilullah a.s; d...