Postingan

Menampilkan postingan dengan label jihad

Kegaduhan Sebelum Waktu Sahur

Seorang lelaki memukul-mukulkan tongkat ke gerbang pagar, di depan sebuah rumah-gedung besar, sambil berseru,  "sahur, sahur..." Sedang dia asyik menabuh besi pagar, seorang tetangga berkata kepadanya: "Wahai peminta-minta, sekarang belum masuk waktu sahur, jadi jangan gaduh; Lagi pula, wahai fakir, perhatikan lah, tiada orang menghuni rumah itu, isinya cuma setan dan hantu, percuma saja kegaduhanmu. Tak ada disitu telinga, yang dapat mendengar tabuhanmu; tak ada disitu akal, yang dapat mengerti tujuanmu." Lelaki pembuat kegaduhan itu menjawab, "Kudengar perkataanmu, kini perkenankan kujawab, agar engkau tak heran atau bingung. Walaupun menurutmu kini masih tengah-malam, tapi kulihat fajar segera merekah. Kulihat segala kekalahan segera berubah menjadi kemenangan, di mataku, semua malam segera kan berubah menjadi siang. Bagimu air Sungai Nil memerah, bagiku itu bukan darah, tapi air segar. Menurutmu, pagar besi ini keras; tapi ...

Selamatkan Diri dengan Berniaga

Gambar
Wahai makhluk duniawi yang suka berniaga, dapatkah kau menjual sesuatu manakala tak ada pembelinya? Banyak pengunjung pasar yang hanya melihat-lihat, tapi tak mampu membeli. Mereka mondar-mandir, pura-pura menawar, hanya untuk habiskan waktu, atau sekedar iseng. Karena tengah bosan, mereka berpura-pura tertarik daganganmu, menanyakan padamu berapa harganya; tapi sebenarnya tak ada yang mereka cari. Barang dagangan diperiksanya berkali-kali, tapi selalu dikembalikan kepadamu; panjang-lebar kain dia ukur, tapi tak ubahnya dia mengukur angin. Sungguh jauh bedanya pendekatan dan tawar-menawar seorang pembeli, dengan keisengan seorang yang sedang bosan. Karena tak dimilikinya harta sedikitpun, ucapannya ingin membeli selembar baju hanya bualan saja. Dia tak punya modal untuk berjual-beli, lalu apa bedanya orang malang ini dengan sesosok bayangan? Modal berjual-beli di pasar alam-dunia ini adalah emas; sedangkan modal untuk alam-akhirat adalah cinta...

Rintihan Tawanan Dunia

Mesti berapa lama lagi, kudapati diriku terantai dalam penjara ini, terantai ke dunia ini. Telah tiba saatnya kuraih kesejatian hidup; dan aku bergerak, berderap, menuju ke kemurnian. Jika aku bisa tersucikan, dan terbersihkan dari kotoran, seterusnya tiada yang kucari kecuali Dia semata. Ketika aku diciptakan, telah disediakan untukku semesta dan istana;                      [1] sungguh aku ingkar jika kuterima jabatan hanya sebagai seorang penjaga pintu.                [2] Jika ku berhasil mengubah sikap seperti penjaga pintu ini, jika ku berhasil mengembalikan akalku kepada kesejatiaannya, bahagia kan datang menggantikan kesedihanku. Wahai  qalb: mengingat ini tentang kita berdua semata, tentang warta yang datang padamu di tengah malam: akan kuikuti pesan itu, sebagaimana yang kau pahami. Jika nanti sayapku telah kembali tumbuh menggantikan k...

Mengkaji Cahaya di atas Cahaya

Sang Musthafa bertutur tentang permohonan Neraka, ketika dengan berendah-hati dia bermohon kepada pemilik iman sejati: "berlalulah dengan cepat, wahai Sang Raja, karena cahayamu telah memadamkan apiku." Jadi, terang cahaya   al-Mukmin   berarti padamnya api, karena tanpa tanpa tampilnya yang berlawanan tak mungkin sesuatu sirna. Pada Hari Perhitungan, api akan menjadi lawan cahaya, karena api bersumber dari Murka-Nya, sementara cahaya dari Rahmat-Nya. Jika engkau ingin tanggalkan api kejahatan, tujukan air Rahmat Ilahiah ke jantung api. Mereka yang bertakwa dengan   haqq memancarkan aliran air rahmat itu: inti jiwa mereka yang bertakwa adalah Air Kehidupan. Tidak heran engkau yang berjiwa duniawi lari menjauh dari orang seperti mereka, karena engkau tersusun dari api, sementara mereka dari aliran air. Api melarikan diri dari air, karena takut nyala dan asapnya dipadamkan oleh air. Pikiran dan perasaanmu terbentuk dari api; pikiran dan perasaan orang suci t...

Jika Berhasil Kau Kuasai Dirimu

Sahabatku, janganlah engkau merasa getir segera engkau kan menyesalinya; jaga kesatuan dirimu jika tak ingin unsur dirimu bercerai-berai. Jangan gontai kakimu, melangkah dari taman ini; atau akhirmu seperti burung hantu, tinggal di reruntuhan tua. [1] Terjunlah dalam perang, jadilah ksatria bagaikan singa; atau akhirmu seperti binatang peliharaan, dikandangkan dalam gudang. [2] Jika berhasil kau kuasai jiwa-rendahmu yang egois itu, seluruh kegelapanmu akan berubah jadi cahaya. Catatan: [1] Tak ada pengetahuan baru tentang-Nya yang menyegarkan dirimu. [2] Terpenjara dalam alam ragawi semata. Sumber: Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, Ghazal no 3299 Diterjemahkan oleh Nader Khalili , dalam Rumi: Fountain of Fire, Cal-Earth Press, 1994

Kisah Pencari Harta Karun

Dia sedang tenggelam dalam permohonannya, ketika sebuah suara terdengar kepadanya, dan kesulitannya Tuhan selesaikan. (Suara itu berkata): "Engkau memang telah disuruh menaruh  anak panak ke busurnya, tetapi   kapankah engkau diminta menarik kuat-kuat busur itu? Petunjuk itu bukan untuk menarik busur itu kuat-kuat: engkau disuruh menaruh anak panah ke busurnya, bukannya melepaskannya sekuat tenagamu. Dengan kesombonganmu, telah kau rentangkan busurmu tinggi-tinggi, dan kau pamerkan ketrampilanmu dalam seni memanah. Lepaskanlah ketrampilanmu dalam merentang busur: taruhlah anak panah ke busur itu, namun janganlah engkau menariknya sekuat tenagamu. Di tempat panah jatuh, gali dan carilah: tanggalkanlah kekuatan, dan carilah emas itu dengan permohonan yang menghiba." Yang haqq itu lebih dekat daripada urat-lehermu, sedangkan anak panah pikiranmu engkau lesatkan menjauh. Wahai manusia yang telah melengkapi dirimu dengan busur dan anak panah: mangsa itu dekat;...