Postingan

Menampilkan postingan dengan label do'a

Rayakanlah

Gambar
Ramadhan telah tiba: Rayakan lah! Perjalanan menyenangkan menuju Yang Esa,   Dia lah yang menemani mereka yang sedang berpuasa. Kupanjat atap, agar dapat kulihat Rembulan.   Karena kurindukan berpuasa dengan hati dan jiwa. Hilang akalku saat kutatap Rembulan.   Sang Sultan, rajanya puasa, membuatku mabuk. Wahai saudaraku kaum Muslim,   aku telah mabuk sejak hari aku kehilangan akal. Sungguh khasanah nan indah   tersimpan di dalam puasa.   Sungguh terdapat padanya  kemenangan yang mencengangkan. Ada Rembulan lain yang dirahasiakan   selain rembulan yang ini.   Ia tersembunyi di dalam tenda puasa  bagaikan seorang Turki. Siapa saja yang berkehendak   mendapatkan panen puasa bulan ini,   carilah jalan menuju Rembulan yang itu. Yang wajahnya sampai pucat, bagaikan satin,   memakai puasa sebagai pakaian sutranya. Bulan ini do'a dikabulkan.   Desah mere...

Dengarkanlah dalam Diam

Gambar
Jika kau miliki telinga, dengarkanlah, Terimalah pesanku dengan jernih; Dengan Dia memenuhi seluruh isi hatimu Berpisahlah kau dari dirimu sendiri. Tutup mulutmu, ketika terangnya penglihatanmu mencerap visi yang muncul: Tak perlu kau tambahkan pendapatmu Karena semua telah kau saksikan di sana. Sumber: Rumi: Rubaiyat Berdasarkan terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A.J. Arberry, 1949.

Siapakah Dia?

Gambar
di pantai Sancang, Garut Selatan, Juli 2024 Siapakah Dia? Yang memenuhi dada dengan kesedihan; lalu ketika engkau mengeluh-mengaduh pada-Nya, diubahnya kepahitanmu menjadi manis. Awalnya Dia tampil layaknya pengawas nan teliti; sampai akhirnya kau kan dapati Dia bagaikan sebuah Gudang Mutiara.                                 [1] Kekasih yang Maha Lembut: Engkau lah yang dalam sekejap mengubah keburukan menjadi kebaikan.    [2] Walau awalnya jiwa si hamba serendah setan, digubah-Nya jadi secantik bidadari.              [3] Sebuah pemakaman dibuat-Nya menjadi seindah pesta perkawinan.                [4] Dan Dia lah yang membuat orang yang mengetahui dan menguasai dunia terbutakan dari saat dia segumpal janin dalam rahim ibunya.               ...

Sebuah Do'a Pemberian-Mu

Gambar
Wahai  Rabb, sungguh Rahmat-Mu tercurah bukan karena amal kami, tapi karena limpahan-Mu yang penuh rahasia.         [1] Genggam lah ke dua tangan kami, selamatkan kami  dari apa-apa  yang ke dua tangan kami telah lakukan; angkat lah hijab kami kepada-Mu, dan jaga lah hijab kami  agar tak  robek, itu akan  mempermalukan kami.   [2] Selamatkan kami dari keakuan diri; tajamnya bagai ujung pisau yang menusuk ke tulang kami. Wahai Sang Raja, yang tak bermahkota, tak bertahta, siapa kah  yang  dapat lepaskan  rantai pengikat ini,                   [3] dari diri kami yang tak berdaya? Siapa kah yang se-Pemurah Engkau, wahai Maha Pengasih, yang dapat membebaskan kami dari penjara sekuat ini?            [4] Palingkan lah wajah kami dari menghadap ke diri sendiri menjadi menghadap  kepada-Mu; karena sesungguhnya Engka...

Do'a Berwujud Penghambaan

Tanggalkan permohonan yang kering dan hampa makna. Tegaknya sebatang pohon, mestilah karena bibit telah disebar. Tapi bahkan jika tak kau miliki benih, karena hampanya do'amu, Tuhan akan anugerahi engkau sebatang pohon kurma, seraya bersabda,  "Alangkah baiknya penghambaannya!" Lihatlah Maryam putri Imran --kerinduannya sampai ke dasar hati, tapi tak dimilikinya bibit: maka Sang Maha Indah membuat pokok kurma kering menghijau baginya.  [1] Karena wanita mulia itu setia pada-Nya, Tuhan berikan seratus kebaikan-Nya tanpa suatu hasrat berdesir di hatinya. Catatan: [1]  Merujuk pada saat jelang lahirnya Isa ibn Maryam, ketika dengan merendah Maryam berkata, "... Wahai betapa baiknya jika aku mati sebelum ini dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan."  (QS Maryam [19]: 23) Lalu: "Maka dia (Jibril) berseru dari tempat yang rendah, 'jangan lah engkau bersedih hati, sesungguhnya Rabb-mu telah jadikan anak sunga...

Merdeka Ketika Berserah Diri

Semula ingin kuceritakan padamu kisah hidupku, tetapi gelombang kepedihan tenggelamkan suaraku. Kucoba utarakan sesuatu, tetapi pikiranku rawan dan remuk, laksana kaca. Bahkan kapal paling megah bisa karam dalam gelombang-badai Laut Cinta apalagi biduk rapuhku, remuk berkeping-keping: tinggalkan ku sendiri, hanyut, hanya berpegangan ke sepotong papan. Kecil dan tak berdaya timbul tenggelam dalam terpaan ombak, sampai tak kuketahui apakah aku ada atau tiada. Ketika menurutku aku ada, kudapati diriku tak berharga. Saat ku tiada, kudapati nilai-nilai sejati diriku. Seturut pasang-surut akalku, tiap hari mati aku, dan dihidupkan lagi; karenanya tak kuragukan sedikit pun adanya Hari Kebangkitan. Ketika telah lelah, ku berburu cinta di alam dunia ini, akhirnya di Lembah Cinta ku berserah-diri: dan aku merdeka. Sumber: Rumi:   Divan-i Syamsi Tabriz,   ghazal 1419. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Azima Melita Kolin dan Maryam Mafi, da...

Obat bagi Sang Pencinta

Obat bagi segala kegalauan intelektual hanya lah sekilas Wajah Sang Kekasih, semua wajah yang mempesonamu tak lain adalah hijab-Nya. Wahai pengabdi Sang Kekasih, hadapkan lah wajah pada wajahmu sendiri: ketahuilah pencari yang bingung, tak ada engkau berkerabat selain dengan dirimu sendiri. Sang pencari sejati menghadap kiblat pada masjid di dalam  qalb -nya sendiri: tak ada sesuatu pun bagi insan kecuali apa-apa yang teruntuk baginya. Sebelum didengarnya jawaban atas do'anya, telah bertahun dia berdo'a. Dia biasa berdo'a dengan khusyu, tanpa didapatinya suatu hasil; tapi secara rahasia, dari sisi Rahmat-Nya yang penuh kasih, didengarnya jawaban: Labbayka, Aku disini . Sejak itu hidupnya bagaikan sebuah tarian selaras iringin musik tak terdengar: dia fakir yang menggantungkan diri pada pencukupan dari Sang Pencipta nan Agung. Walau tak terdengar didekatnya suara dari langit atau hadir sesosok pun utusan Ilahiah, tapi telinga dari harapannya dipenu...

Melesatlah dengan Sujud

Jika telah kau tapaki jalan kebenaran melesat cepat engkau menuju ke rumah; ingatlah, jiwamu itu cahaya langit: ke langit engkau seyogyanya menuju. Singgasana langit tempat istirahmu: jangan malu, berdo'alah. Bagaikan bayangan yang menempel, seringlah lekatkan wajahmu ke tanah. Sumber: Rumi: Rubaiyat dari terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A.J. Arberry dalam Rubaiyat of Jalal Al-Din Rumi, 1949.

Bantuan Berupa Penundaan

Gambar
Bicarung, Pasir Angling, 2024 Tak terhitung banyaknya hamba yang taat, menjerit dalam do'a, sehingga kabut ketulusan membubung ke langit. Dan dari rintihan penyesalan dosa, naik wewangian melampaui atap langit. Sehingga para malaikat yang patuh memohon kepada Rabb, seraya berkata, "Wahai Engkau yang menjawab semua do'a wahai Engkau yang perlindungannya didambakan, Seorang hamba-Mu yang taat tengah memohon dengan berendah hati, tak digantungkannya harapan kecuali kepada-Mu. Engkau Sang Penganugerah limpahan bahkan kepada mereka yang asing pada-Mu, setiap pendamba memperoleh dambaannya dari-Mu." Rabb  bersabda, "Bukanlah karena dia tercela, sehingga anugerah-Ku baginya ditunda: penundaan itu adalah sebuah bantuan. Kebutuhannya membawa dia dari kelalaiannya kepada-Ku, terseok-seok merayap dia ke jalan-Ku. Seandainya langsung Ku-penuhi keperluannya, segera dia berbalik: tenggelam kembali dalam permainan hidupnya. Walaupun dia merintih, dar...

Ketika Engkau Tak Memintal

Jangan tiru kelakuan laba-laba,           [1] memintal jaring dari liur kesedihan. Dengking dan lenguh di dalamnya segera melapuk. Mengaduhlah hanya pada-Nya, Sang Maha Pemberi. Dan jangan bahas hal itu lagi. Ketika engkau sungguh diam, kau lantunkan sabda-Nya. Ketika engkau tak memintal, Dia lah yang akan memintal untukmu. [2] Catatan: [1]   "Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba..."   (QS [29]: 41). [2]   "... barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus..." (QS [2]: 256) Sumber: Rumi: Matsnavi, buku dan nomor belum ditemukan. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh  Annemarie Schimmel, dalam  Look! This is Love - Poems of Rumi, Shambhala, 1996.

Kisah Elang Sang Raja

Gambar
Alkisah, terbanglah seekor elang, meninggalkan istana Raja, sampai dia tersesat ke rumah seorang nenek tua; yang sedang mengaduk tepung, di lantai rumahnya. Si nenek sedang menyiapkan makanan bagi anak-anaknya, ketika dilihatnya elang ningrat yang anggun itu. Segera kaki elang itu diikatnya, dipangkasnya sayapnya, dipotongya cakarnya, dan diberinya jerami untuk makanan. “Pastilah orang salah merawatmu,” katanya, “sayapmu terlalu lebar, dan cakarmu panjang.” “Itulah sebabnya engkau sakit, dan kini aku akan merawatmu.” Ketahuilah sahabat, demikianlah cara orang bodoh memperlakukanmu: orang bodoh sesat jalan. Sang Raja mencari elangnya kesana kemari, sampai akhirnya dia sampai ke gubuk si nenek. Dilihatnya elangnya disitu, dibalik asap dan debu, keadaannya sangat menyedihkan. Sang Raja berkata, “ini adalah ganjaran dari perbuatanmu, engkau tidak teguh dalam bersetia kepadaku.” “Mengapakah engkau tinggalkan Tama...