Postingan

Menampilkan postingan dengan label Musthafa

Santapan Cahaya

Gambar
Walaupun cahaya adalah santapan  bagi jiwa dan bagi penglihatan- qalb, ragamu pun membutuhkannya.  Jika ragamu, yang semula kebiasaannya bagaikan setan,   tak dapat berubah menjadi gemar akan cahaya, tidaklah sang Nabi akan bersabda,   "bahkan setanku telah menjadi Muslim."  Ketika perutmu tengah rakus, engkau perlu berjarak dengan dunia; ubahlah asupan makananmu. Jika qalb -mu yang sedang sakit, segera cari obatnya: ubahlah sikapmu. Jika engkau diperbudak makanan, bebaskan dirimu, dengan melemahkan ragamu. Di dalam lapar terdapat banyak nutrisi: carilah dengan tekun dan lambungkan harapan menemui-Nya. Santaplah cahaya,  jadilah seperti mata. Wahai insan, akrabilah para malaikat. Seperti malaikat, jadikan berpuji pada-Nya sebagai santapanmu. Sumber: Rumi: Matsnavi  V: 288, 293 – 298. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Camille dan Kabir Helminski,  dalam "Rumi...

Saksi Terkasih

Gambar
Muhammad (saw) itu pemberi  syafa'at atas segala jenis aib, karena tatapannya tak pernah teralihkan  pada hal lain: senantiasa tertuju pada wajah  Rabb. Di tengah kegelapan malam alam dunia ini, dimana matahari  al-Haqq  terhijab, dia menatap  Rabb, dan meletakkan harapannya kepada-Nya. Pandangannya senantiasa disegarkan oleh makna sejati  "bukankah telah Kami lapangkan dadamu?"   [1] dilihatnya hal-hal yang tak mampu Jibril tatap. Sang yatim, yang kepadanya  Rabb  limpahkan kesegaran pandangan, menjadi mutiara yatim  tunggal, yang dianugerahi panduan Ilahiah. Cemerlang cahayanya mengatasi mutiara lain, karena yang dikehendakinya adalah kehendak yang paling mulia. Seluruh kedudukan  ruhaniah  para abdi Allah jelas belaka bagi sang Nabi, karenanya  Rabb  menggelarinya: sang Saksi .   [2] Senjata sang Saksi adalah lisan yang tulus dan pandangan yang tajam-- yang dari penjagaan...

Kegaduhan Sebelum Waktu Sahur

Seorang lelaki memukul-mukulkan tongkat ke gerbang pagar, di depan sebuah rumah-gedung besar, sambil berseru,  "sahur, sahur..." Sedang dia asyik menabuh besi pagar, seorang tetangga berkata kepadanya: "Wahai peminta-minta, sekarang belum masuk waktu sahur, jadi jangan gaduh; Lagi pula, wahai fakir, perhatikan lah, tiada orang menghuni rumah itu, isinya cuma setan dan hantu, percuma saja kegaduhanmu. Tak ada disitu telinga, yang dapat mendengar tabuhanmu; tak ada disitu akal, yang dapat mengerti tujuanmu." Lelaki pembuat kegaduhan itu menjawab, "Kudengar perkataanmu, kini perkenankan kujawab, agar engkau tak heran atau bingung. Walaupun menurutmu kini masih tengah-malam, tapi kulihat fajar segera merekah. Kulihat segala kekalahan segera berubah menjadi kemenangan, di mataku, semua malam segera kan berubah menjadi siang. Bagimu air Sungai Nil memerah, bagiku itu bukan darah, tapi air segar. Menurutmu, pagar besi ini keras; tapi ...

Yang Tampak dan Yang Tersembunyi

Gambar
Dia telah menjadikan yang nisbi eksistensinya tampil berwujud dan agung; Dia telah menjadikan yang lebih nyata eksistensinya tersembunyi bentuknya. Dia telah menghijab Laut, dan membuat ombak tampak; Dia telah menyembunyikan Angin, dan memperlihatkan padamu debu. Debu membubung setinggi menara: tak mungkin ia melayang sendiri. Wahai yang berpandangan tajam, kau lihat debu melayang tinggi; sedangkan anginnya tak kau lihat, tapi kau ketahui adanya dengan akalmu. Kau lihat ombak menggelora kesana-kemari, tanpa Laut, ombak itu takkan bergerak. Kau lihat ombak itu dengan inderamu, dan Laut melalui kesimpulanmu: pemikiran tersembunyi, sedangkan perkataan berwujud. Kita melihat akibat sebagai pengukuhan: mata kita hanya melihat hal yang tak memiliki eksistensi sendiri. Mata lahiriah ini hanya melihat secara terbatas, bagaikan dalam keadaan tidur, tak dilihatnya apa pun kecuali fatamorgana dan yang lemah eksistensinya. Jadilah kita berkubang dalam kesalahan, ...

Mengkaji Cahaya di atas Cahaya

Sang Musthafa bertutur tentang permohonan Neraka, ketika dengan berendah-hati dia bermohon kepada pemilik iman sejati: "berlalulah dengan cepat, wahai Sang Raja, karena cahayamu telah memadamkan apiku." Jadi, terang cahaya   al-Mukmin   berarti padamnya api, karena tanpa tanpa tampilnya yang berlawanan tak mungkin sesuatu sirna. Pada Hari Perhitungan, api akan menjadi lawan cahaya, karena api bersumber dari Murka-Nya, sementara cahaya dari Rahmat-Nya. Jika engkau ingin tanggalkan api kejahatan, tujukan air Rahmat Ilahiah ke jantung api. Mereka yang bertakwa dengan   haqq memancarkan aliran air rahmat itu: inti jiwa mereka yang bertakwa adalah Air Kehidupan. Tidak heran engkau yang berjiwa duniawi lari menjauh dari orang seperti mereka, karena engkau tersusun dari api, sementara mereka dari aliran air. Api melarikan diri dari air, karena takut nyala dan asapnya dipadamkan oleh air. Pikiran dan perasaanmu terbentuk dari api; pikiran dan perasaan orang suci t...

Mereka yang Telah Mati

Para pencinta, yang dengan ikhlas mati dari diri mereka sendiri: mereka bagaikan gula, di hadapan Sang Kekasih. Pada Hari Perjanjian,  [1] mereka minum Air Kehidupan, sehingga matinya jiwa mereka tak seperti kematian orang lain. Karena mereka telah dibangkitkan dalam Cinta, kematian mereka tak seperti orang kebanyakan. Dengan kelembutan-Nya, mereka telah melampaui tingkat para malaikat; sama sekali tak bisa kematian mereka dibandingkan dengan orang kebanyakan. Apakah kau sangka Singa mati bagai anjing, jauh dari hadirat-Nya? [2] Ketika para pencinta mati di tengah Jalan, Sang Raja Ruhaniah berlari menyambut. [3] Ketika mereka mati di kaki Sang Rembulan, [4] mereka menyala bagaikan Matahari. [5] Jiwa para pencinta sejati itu bersatu mereka mati dalam saling mencintai. [6] Derai embun Cinta membasuh jantung mereka, mereka sampai pada kematian dengan hati berdarah-darah. Setiap me...

Wahai Pencari, Berhijrahlah

Gambar
Jika pohon punya sayap atau kaki, tentulah ia bisa bergerak, sehingga tak diterimanya sakit dari mata gergaji atau dari pukulan kampak. Dan jika matahari tak bergegas ketika malam tiba, bagaimanakah bumi akan diterangi ketika fajar merekah. Dan jika air tidak menguap dari laut ke langit, kapankah taman akan dialiri sungai dan dibasahi hujan. Ketika setitik benih bergerak dari sumbernya ke tujuan, ditemukannya rumahnya, dan lalu menjadi sebutir mutiara. Bukankah Yusuf, walau sambil berlinang air-mata, mengembara meninggalkan ayahnya. Bukankah dalam pengembaraan itu, dia menemukan kerajaan, ketenaran dan kemenangan? Bukankah Musthafa berhijrah, dan di Madinah memperoleh kedaulatan, dan menjadi tuan dari berbagai negeri? Kalaupun kaki tak engkau miliki, tempuhlah hijrah di dalam dirimu sendiri, (Itu) bagaikan tambang merah-delima mulai tersingkap oleh secercah cahaya matahari. Wahai pencari, berhijrahlah, keluar dari kampung halamanmu, menuju ke kedalaman dirimu sendiri. Karena de...