Postingan

Menampilkan postingan dengan label pintu

Tangga ke Langit

Gambar
Indera ragawi adalah tangga  ke alam dunia ini, sementara indera ruhaniah adalah tangga ke langit. Carilah obat bagi sembuhnya indera ragawi  dari seorang tabib; dan mohonlah kesembuhan indera ruhaniah kepada Sang Kekasih. Kesehatan indera jenis pertama muncul dari kebugaran tubuh; sementara kesehatan indera jenis ke dua timbul dari runtuhnya tubuh. Jalan ruhaniah itu meruntuhkan tubuh, dan setelah itu mengembalikannya ke kemakmuran. Runtuhkanlah rumah agar khazanah keemasan tergali, dan dengan harta itu  bangunlah rumah baru, yang lebih baik daripada rumah sebelumnya.  [1] Bendunglah aliran sungai dan bersihkanlah dasarnya, kemudian alirkanlah air bersih  mengalir ke dalamnya. Torehlah kulit dan keluarkanlah duri, kemudian biarkan kulit segar tumbuh menutupi luka. Runtuhkan dan rebutlah benteng dari orang kafir, kemudian bangunlah di atasnya ratusan menara dan kubu pertahanan....

Pintu Itu

Gambar
Ketika teringat kembali pada pintu itu, kurasakan kembali luapan menyesakkan. Takkan mungkin kulupakan Rahmat itu, Ketika Kau kenalkanku kembali pada Khazanah Tersembunyi. Sumber: Rumi: Rubaiyat , F#1693 Berdasarkan terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Zara Houshmand

Sebuah Panggilan dari Semesta tak Kasat Mata

Seekor merpati, yang masih belajar terbang, mendadak membelah udara, melesat ke angkasa --ketika didengarnya sebuah siulan: sebuah panggilan dari semesta tak-kasat mata. Ketika Sang Kekasih, dambaan segenap semesta mengirimkan utusan yang berkata, "Kembali lah kepada-Ku," tak pelak lagi jiwa si murid langsung terbang. Tak mampu dia tahan lonjakan ke atas, ketika sayapnya diberi tarikan seperti itu; tak mampu dia cegah, ditembusnya hijab raga ketika datang pesan seperti itu. Sungguh mencengangkan, Rembulan yang menarik semua jiwa itu. Sungguh mencengangkan, Jalan rahasia, yang melaluinya, jiwa-jiwa itu dilintaskan. Kasih sayang Ilahiah berkirim pesan, "Kembali lah kemari, karena di dalam penjara sempit itu jiwamu berguncang gelisah. Tapi seperti di dalam rumah tanpa pintu, kau bagaikan burung tanpa sayap; kau yang seharusnya melayang di udara telah terjatuh begitu rendah. Akhirnya, kegelisahan membuka pintu welas-asih: terus kepakkan sayapm...

Dengarkan lah, ke Arah Mana Ia Berayun

Terpuji lah yang Maha Suci, sang Pencipta yang Gaib: dibangunnya istana Sabda. Ketahuilah, sabda itu bagaikan suara pintu yang terdengar dari istana rahasia; coba lah untuk mencermati, apakah itu suara pintu yang tengah membuka atau menutup. Suara pintunya dapat didengar tapi pintunya sendiri tak tampak: kau dengar suara pintu itu tapi pintunya sendiri tak terlihat. Ketika alunan nada dari harpa kebijaksanaan mulai terdengar berdenting, cermati baik-baik: ke arah mana Pintu Surga tengah berayun. Karena letakmu jauh dari pintu itu, dengarkan lah suaranya dengan penuh perhatian. Sumber: Rumi: Matsnavi  VI: 3481 - 3485 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Camille dan Kabir Helminski, dalam Rumi; Jewels of Rememberance Threshold Books, 1996 berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia oleh Yahya Monastra.

Wafatnya Seorang Suci

Jiwamu kan terbang, melesat tinggalkan penjara sempit, menembus langit demi langit, kau masuki suatu kehidupan baru, tinggalkan hidup yang ini; takkan pernah lagi kau merasa bosan. Jika sebelumnya kau kenakan raga yang bagaikan seragam seorang hamba-sahaya, kini kau tampil sangat bergaya. Bagimu kematian adalah kehidupan; --yang jika dibandingkan dengannya-- kehidupan ini bagaikan kematian; mereka yang terhijab takkan paham. Semua jiwa yang tinggalkan raga, tetaplah hidup, namun tersembunyi; jiwa yang tersucikan itu indah, bagaikan malaikat. Ketika raga menua dan ambruk, janganlah engkau meratap. Sadarilah, selama ini engkau terpenjara: ketika kau temukan jalan untuk lolos, dari sel di dasar sumur, engkau tegak, gagah dan ningrat, bagaikan seorang Jusuf. Sumber: Rumi:   Divan-i Syamsi Tabriz,   ghazal 3172 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Franklin D. Lewis, dalam  Rumi, Past and Present, East and West, Oneworld Publications, Oxford, 2000. ...

Semua Tengah Bermohon

Kita semua bergantung sepenuhnya pada kemaha-kuasaan Sang Pencipta. Seluruh kuasa, seluruh kekayaan, semata milik-Nya; kita pengemis rudin. Lalu mengapa kita mendaku, lebih unggul satu sama lain? Bukankah kita semua sama, tengah bermohon di muka pintu istana-Nya? Sumber: A.J. Arberry, The Rubaiyat of Jalal Al-Din Rumi, 1949.

Rumah Sangat Sesak

Alam dunia ini seperti kamar-mandi uap, sangat panas: engkau tertekan, dan jiwamu bagai meleleh rasanya. Walau engkau diberi kamar mandi yang luas, jiwamu tetap tertekan dan lelah karena panasnya. Hatimu takkan pernah lega, sampai engkau bisa keluar: ukuran ruang kamar mandi itu sama sekali tak memberimu manfaat. Atau, (dalam alam dunia ini) engkau seperti memakai sepatu yang terlalu sempit, lalu disuruh berjalan di gurun. Luasnya gurun malahan menjengkellkan, dan menyempitkan hatimu, gurun dan padang bagaikan penjara untukmu. Orang yang hanya sepintas memandangmu, akan berkata, "dia riang dan gembira, bagaikan bunga mekar, di tengah gurun." Tak diketahuinya tentang kondisi sebenarnya dirimu: alih-alih seperti tengah di taman mawar, jiwamu menderita. Tidur yang benar itu seperti  kau lepaskan sepatu sempitmu,  karena jiwamu bebas dari raga,  walau hanya sesaat. Sedangkan bagi pawa  awliya, tidur mereka mega...

Pintu-pintu Dunia Ditutup, agar Gerbang Jalan Terbuka

Gambar
"Jika sungguh-sungguh engkau menempuh Jalan, Jalan akan tersingkap padamu; dan jika sungguh-sungguh engkau lebur-musnah, al-Haqq akan menghampir kepadamu." [1] "Dan jika sungguh-sungguh engkau berendah-hati, dunia ini tak akan bisa mengurungmu; lalu kepadamu akan diperlihatkan dirimu bersama dengan Dirimu yang Sejati , tanpa dirimu yang palsu." [2] Walaupun semua pintu keluar telah Zulaikha tutup, Yusuf tetap menemukan jalan,  ketika sungguh-sungguh berusaha. Ketika Yusuf bersandar kepada-Nya, kunci bergerak, pintu terbuka, dan dia lolos. Sungguhpun tampak tak ada pintu keluar dari alam dunia, mestilah seorang pencari sekuat-tenaga berlari kesana-kemari; bagaikan Yusuf. Agar terbuka kunci dan tampak jelas gerbang, dan alam tak-beruang menjadi kediamanmu. Wahai makhluk yang malang, engkau telah hadir di sini, di alam dunia ini, pernahkah kau lihat jalan darimana engkau dahulu datang? Engkau datang dari sebuah tempat, sebuah semesta, tahuk...

Hanya Harapan yang Diperbolehkan Mengetuk Pintu

Gambar
Di dalam hati mereka, para Nabi bertanya: “Sampai kapan kami terus menyeru dan menasehati si fulan dan si fulanah? Sampai kapan kami harus membentuk sepotong besi dingin? Sampai kapan kami harus terus membisiki werangka yang kosong ini?” Setiap gerakan makhluk berlangsung karena ketetapan dan penunjukan Ilahiah: tajamnya gigitan berlangsung karena panasnya rasa-lapar di perut. Jiwa Pertama mendorong dan jiwa ke dua merespon: berubahnya bau ikan dimulai dari kepala, bukan dari ekornya. Kenalilah ini, dan tetaplah melesat bagai anak-panah, karena Allah telah bersabda: “Sampaikanlah;” tidaklah mungkin menghindar dari melakukannya. Dan tidaklah engkau mengetahui, engkau itu termasuk golongan yang mana: karenanya teruslah berjuang selama masih perlu bagimu memilah siapa sesungguhnya dirimu. Ketika engkau memunggah muatan ke atas sebuah kapal, engkau melakukannya atas dasar kepercayaan. Sebab engkau tidak tahu termasuk golongan yang ...