Postingan

Menampilkan postingan dengan label belenggu

Prasangka Kemandirian Diri

Gambar
Seandainya kepandaian dan hikmah sungguh-sungguh milikku sendiri, tentu seluruh pertimbangan dan rencana dalam hidupku dapat kukendalikan sepenuhnya. Di malam hari, takkan kesadaranku menghilang diluar kemauanku; dan semua inderaku takkan lepas melayang karena seluruhnya dapat kuamankan didalam sangkar kemauanku. Akan kusadari semua tahap perjalanan yang ditempuh oleh jiwaku; baik saat ku tak sadar, dalam tidur, atau saat bala-bencana tiba. Tapi karena tanganku telah dikosongkan dari kemampuan melepas atau menggenggam, oleh kuasa-Nya yang Maha Berdaulat; maka aku terheran-heran,  darimana datangnya prasangka akan kemandirianku itu? Sumber: Rumi: Matsnavi   VI: 2324 - 2327 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Kabir Helminski dari The Rumi Collection ,  Threshold Books, 1998.

Sebuah Do'a Pemberian-Mu

Gambar
Wahai  Rabb, sungguh Rahmat-Mu tercurah bukan karena amal kami, tapi karena limpahan-Mu yang penuh rahasia.         [1] Genggam lah ke dua tangan kami, selamatkan kami  dari apa-apa  yang ke dua tangan kami telah lakukan; angkat lah hijab kami kepada-Mu, dan jaga lah hijab kami  agar tak  robek, itu akan  mempermalukan kami.   [2] Selamatkan kami dari keakuan diri; tajamnya bagai ujung pisau yang menusuk ke tulang kami. Wahai Sang Raja, yang tak bermahkota, tak bertahta, siapa kah  yang  dapat lepaskan  rantai pengikat ini,                   [3] dari diri kami yang tak berdaya? Siapa kah yang se-Pemurah Engkau, wahai Maha Pengasih, yang dapat membebaskan kami dari penjara sekuat ini?            [4] Palingkan lah wajah kami dari menghadap ke diri sendiri menjadi menghadap  kepada-Mu; karena sesungguhnya Engka...

Kisah Elang Sang Raja

Gambar
Alkisah, terbanglah seekor elang, meninggalkan istana Raja, sampai dia tersesat ke rumah seorang nenek tua; yang sedang mengaduk tepung, di lantai rumahnya. Si nenek sedang menyiapkan makanan bagi anak-anaknya, ketika dilihatnya elang ningrat yang anggun itu. Segera kaki elang itu diikatnya, dipangkasnya sayapnya, dipotongya cakarnya, dan diberinya jerami untuk makanan. “Pastilah orang salah merawatmu,” katanya, “sayapmu terlalu lebar, dan cakarmu panjang.” “Itulah sebabnya engkau sakit, dan kini aku akan merawatmu.” Ketahuilah sahabat, demikianlah cara orang bodoh memperlakukanmu: orang bodoh sesat jalan. Sang Raja mencari elangnya kesana kemari, sampai akhirnya dia sampai ke gubuk si nenek. Dilihatnya elangnya disitu, dibalik asap dan debu, keadaannya sangat menyedihkan. Sang Raja berkata, “ini adalah ganjaran dari perbuatanmu, engkau tidak teguh dalam bersetia kepadaku.” “Mengapakah engkau tinggalkan Tama...

Cara Sang Kekasih Mengajarkan Isyarat

Gambar
Engkau niatkan menempuh seratus perjalanan: Dia menarikmu ke tempat lain. Ditariknya tali-kekang kuda ke berbagai arah a gar kuda yang belum terlatih menyadari  kehadiran penunggang. Kuda yang terlatih pesat larinya,  karena dia tahu ada penunggang di atas punggungnya . Dia paterikan kepada hatimu seratus niat bulat; lalu Dia mengecewakanmu;  lalu Dia  meremukkan hatimu. Jika hanya sekali sayapmu dihancurkan,  kehadiran Sang Penghancur sayap hanya sayup-sayup engkau tengarai. Tetapi karena Dia secara teratur memutuskan  jaring-jaring rencanamu, maka tata-aturan  Rabb bagimu akan jelas terbukti. Dalam berbagai peristiwa,  terkadang keinginan  dan tujuanmu tercapai. Agar melalui harapan tercapainya tujuanmu, hatimu dapat membangun sebuah niat; sehingga lalu Dia dapat menghancurkan  niatmu. Sebab, jika engkau selalu gagal, hatimu akan berputus-asa: lalu hatimu itu tidak mampu ditanami benih penghar...

Buncis Rebus

Lihatlah buncis dalam periuk, betapa ia meloncat-loncat ketika dipanaskan api. Sewaktu direbus, selalu ia timbul ke permukaan, seraya merintih tiada henti. Sambil mengeluh, "Mengapa kau letakkan  api di bawahku? Engkau telah membeliku, mengapa kini engkau malah menyiksaku?" Sang istri memukulnya dengan penyendok, [1] "Nah, sekarang," katanya, "sungguh-sungguh matang lah engkau, dan jangan meloncat lari dari yang menyalakan api. Tidaklah aku merebusmu karena membencimu; sebaliknya, ini lah yang akan membuatmu lezat dan harum. Dan menjadi nutrisi dan bercampur dengan jiwa yang hidup: kesengsaraanmu ini bukanlah penghinaan. Ketika masih hijau dan segar, engkau hirup air di kebun: air yang engkau serap itu demi api ini. Rahmat-Nya terlebih dahulu daripada murka-Nya, [2] tujuannya agar dengan Rahmat-Nya engkau menderita kesengsaraan. Rahmat-Nya telah mendahului murka-Nya, agar  yang-diperdagangk...