Postingan

Menampilkan postingan dengan label makanan

Santapan Cahaya

Gambar
Walaupun cahaya adalah santapan  bagi jiwa dan bagi penglihatan- qalb, ragamu pun membutuhkannya.  Jika ragamu, yang semula kebiasaannya bagaikan setan,   tak dapat berubah menjadi gemar akan cahaya, tidaklah sang Nabi akan bersabda,   "bahkan setanku telah menjadi Muslim."  Ketika perutmu tengah rakus, engkau perlu berjarak dengan dunia; ubahlah asupan makananmu. Jika qalb -mu yang sedang sakit, segera cari obatnya: ubahlah sikapmu. Jika engkau diperbudak makanan, bebaskan dirimu, dengan melemahkan ragamu. Di dalam lapar terdapat banyak nutrisi: carilah dengan tekun dan lambungkan harapan menemui-Nya. Santaplah cahaya,  jadilah seperti mata. Wahai insan, akrabilah para malaikat. Seperti malaikat, jadikan berpuji pada-Nya sebagai santapanmu. Sumber: Rumi: Matsnavi  V: 288, 293 – 298. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Camille dan Kabir Helminski,  dalam "Rumi...

Selamatkan Diri dengan Berniaga

Gambar
Wahai makhluk duniawi yang suka berniaga, dapatkah kau menjual sesuatu manakala tak ada pembelinya? Banyak pengunjung pasar yang hanya melihat-lihat, tapi tak mampu membeli. Mereka mondar-mandir, pura-pura menawar, hanya untuk habiskan waktu, atau sekedar iseng. Karena tengah bosan, mereka berpura-pura tertarik daganganmu, menanyakan padamu berapa harganya; tapi sebenarnya tak ada yang mereka cari. Barang dagangan diperiksanya berkali-kali, tapi selalu dikembalikan kepadamu; panjang-lebar kain dia ukur, tapi tak ubahnya dia mengukur angin. Sungguh jauh bedanya pendekatan dan tawar-menawar seorang pembeli, dengan keisengan seorang yang sedang bosan. Karena tak dimilikinya harta sedikitpun, ucapannya ingin membeli selembar baju hanya bualan saja. Dia tak punya modal untuk berjual-beli, lalu apa bedanya orang malang ini dengan sesosok bayangan? Modal berjual-beli di pasar alam-dunia ini adalah emas; sedangkan modal untuk alam-akhirat adalah cinta...

Adab Bersantap

Gambar
Sang  Quthb  itu bagaikan singa, berburu merupakan urusannya; yang lainnya--para pejalan-- memakan sisa-sisanya. Sejauh kemampuanmu, upayakanlah memuaskan sang  Quthb, sehingga dia mendapat kekuatan dan memburu binatang-binatang buas. Ketika dia sakit, mereka jadi tak ternafkahi, karena semua makanan yang disediakan bagi kerongkongan datang dari tangan sang Akal. Mengingat pengalaman  ruhaniyah yang terjadi pada orang-orang lain hanyalah sisa-sisanya, maka camkanlah hal ini; jika hatimu juga mengidamkan hidangan ruhaniyah. Dia bagaikan sang Akal, sedangkan para pejalan itu bagaikan anggota-anggota tubuh: pengaturan tubuh itu bergantung kepada sang Akal. Kelemahan sang  Quthb terletak pada tubuhnya, dan bukan bersifat  ruhaniyah; kelemahan itu pada bahtera, bukannya pada Nuh. Sang  Quthb  berputar mengedari dirinya sendiri, sementara di sekitarnya berputar benda-benda angkasa. Ulurkanlah bantuan untuk memperbaik...

Selalulah Engkau Berharap

Gambar
Berbagi minuman hangat di waktu fajar di halaman Masjid Nabawi, 5 Maret 2024 Terkait makanan jasmaniah: jika terlalu sedikit engkau makan, engkau tetap lapar seperti gagak, mudah marah dan kurang darah; tapi jika kau terlalu banyak makan, pencernaanmu terganggu. Santaplah hidangan dari Rabb yang paling mudah engkau cerna, layarkanlah dirimu bagaikan bahtera yang mengarungi samudera jiwa. Bersabarlah dan teguhlah berpuasa: selalulah kau berharap  akan hidangan dari  Rabb . Karena  Rabb  yang Maha Rahman  dan Maha Pengharap memberikan anugerah  kepada mereka yang penuh-harap. Mereka yang lambungnya penuh tak pernah berharap-harap cemas menanti datangnya makanan; sebaliknya mereka yang lapar, selalu bertanya,  "kapankah datangnya..?" berharap sambil lapar, membuat waspada. Tanpa engkau selalu penuh harap, limpahan anugerah takkan pernah menyapamu. Sumber: Rumi:   Matsnavi  V: 1746 - 1753. Terjemahan ke Bahasa Inggris ole...

Ketika Seekor Domba Melompat

Ketika seekor dari kawanan domba melompat melintasi kali, domba-domba lain segera menyusulnya. Gembalakanlah kawanan dombamu: indera-inderamu, ke padang rumput yang tepat. Beri mereka makanan dari padang rumput yang ditunjukkan oleh ayat,  "dan yang telah menumbuhkan rerumputan;"                                    [1] Sehingga mereka menikmati hijauan dan bunga dari padang rumput itu, lalu dipandu ke padang gembalaan ke-Sejati-an. Sehingga setiap inderamu menjadi nabi bagi indera-indera lainnya; dan memandu semua inderamu ke  al-Jannah . Catatan: [1]  QS Al A'Laa [87]: 4. Sumber: Rumi: Matsnavi   II: 3242 - 3245 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Camille dan Kabir Helminski , dalam  Rumi: Daylight, Threshold Books, 1994. Berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia oleh Yahya Monastra .

Tentang Ketertarikan

Musa kalimullah a.s. menegur seseorang; yang sedang mabuk kepayang menyembah anak-sapi emas: “Kemana perginya keraguanmu? Biasanya engkau sangat kritis padaku. Laut Merah membelah. Manna dan salwa turun setiap hari, di gurun liar, selama 40 tahun. Sebuah mata-air memancar dari batu. Kau telah saksikan sendiri semua itu, tapi tetap kau tolak adanya kenabian. Lalu Samiri, si tukang sihir, melakukan satu tipuan yang membuat anak-sapi emas menguak, dan segera engkau membungkuk! Apa yang patung hampa itu perdengarkan? Apakah kau tangkap gema dari kehampaanmu sendiri?” Begitulah ketertarikan berlangsung: orang yang tak-kenal nilai terpesona pada hal yang tak-berharga. Orang yang tak-kenal makna atau tak tahu tujuan terpesona pada khayalan hampa. Setiap gerakan itu menuju kepada kaumnya sendiri. Tak akan seekor sapi menghampiri seekor singa. Seekor serigala takkan tertarik kepada Yusuf, kecuali untuk mencabiknya....

Dia Sama Sekali Tak Mencari Untung

Apa yang menyita waktumu? Untuk keperluan apa engkau berjual-beli? Ibarat burung,  dari jenis apakah engkau? Apa makananmu? Lintasi saja kedai para pembual, dan carilah Kedai Kelimpahan, dimana Allah sendiri yang menjadi Pembeli.  [1] Disana, Sang Pengasih membeli barang usang,  yang orang tak sudi lirik. Bersama Sang Pembeli itu,  tak dikenal dagangan yang terlalu buruk,  karena dalam jual-beli ini, Dia sama sekali tak mencari untung. Catatan: [1]  QS At-Taubah [9]: 111 Sumber: Matsnavi VI: 1264 - 1267 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson . Juga diterjemahkan Camille dan Kabir Helminski , dalam Rumi: Jewels of Remembrance, Threshold Books, 1996 Berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia oleh Yahya Monastra . 

Melekat pada Kepahitan

Jangan pandang, aneka kepahitan hidup, yang diungkap Sang Waktu. Jangan hiraukan sederhananya makananmu  dan terbatasnya nafkahmu. Jangan pedulikan wabah, ketakutan dan goncangan. Renungkanlah: dengan semua kepahitannya, tetap saja engkau erat-melekat tanpa malu, pada dunia. Pahamilah,  perihnya ujian adalah sebuah Rahmat. Ketahuilah,  Kerajaan Marv dan Balkh adalah sebuah hukuman. Kejamnya Sang Waktu  dan semua derita yang  mewujud itu lebih ringan daripada jarak  kepada Rabb dan pengingkaran. Karena derita itu akan berlalu, tetapi  tidak demikian dengan jarak kepada Rabb. Ibrahim tidak menghindar dari  api dan diselamatkan; Ibrahim yang lain menghindar dari  kehormatan dunia dan menemukan  jalan penyelamatan. Yang pertama tidak terbakar, [1] yang satunya lagi terbakar habis. [2] Betapa indahnya:  didalam Jalan pencarian Dia, semua jadi terbolak-balik! Catatan: [1] Ibrahim Khalilullah a.s; d...

Hanya Harapan yang Diperbolehkan Mengetuk Pintu

Gambar
Di dalam hati mereka, para Nabi bertanya: “Sampai kapan kami terus menyeru dan menasehati si fulan dan si fulanah? Sampai kapan kami harus membentuk sepotong besi dingin? Sampai kapan kami harus terus membisiki werangka yang kosong ini?” Setiap gerakan makhluk berlangsung karena ketetapan dan penunjukan Ilahiah: tajamnya gigitan berlangsung karena panasnya rasa-lapar di perut. Jiwa Pertama mendorong dan jiwa ke dua merespon: berubahnya bau ikan dimulai dari kepala, bukan dari ekornya. Kenalilah ini, dan tetaplah melesat bagai anak-panah, karena Allah telah bersabda: “Sampaikanlah;” tidaklah mungkin menghindar dari melakukannya. Dan tidaklah engkau mengetahui, engkau itu termasuk golongan yang mana: karenanya teruslah berjuang selama masih perlu bagimu memilah siapa sesungguhnya dirimu. Ketika engkau memunggah muatan ke atas sebuah kapal, engkau melakukannya atas dasar kepercayaan. Sebab engkau tidak tahu termasuk golongan yang ...