Postingan

Menampilkan postingan dengan label anak panah

Suatu Fajar Bersama Sang Rembulan

Gambar
Rembulan muncul di langit fajar. Mengambang turun ia, seraya menatapku. Lalu, bagai seekor elang menyambar mangsanya,      ia mencengkeramku      dan menyeretku ke angkasa. Walau kucoba sekuat tenaga, tak mampu aku melihat diriku sendiri. Berkat keajaiban cahaya rembulan, telah lebur diriku kedalam jiwa murni. Dalam bentuk itu lah pengelanaanku berlangsung, bersatu dalam cahaya tak-terbatas. Lalu, rahasia dari pertunjukan abadi tergelar jelas di hadapanku. Ke sembilan sfera langit, terliputi oleh cahaya. Wahana-jiwaku, melayang di Samudera tanpa pantai. Tiba-tiba samudera wujud beralih bentuk menjadi gelombang demi gelombang. Fikiran timbul: imaji bentuk bagai gelombang memecah di pantai. Lalu semuanya kembali seperti semula: bersatu dalam jiwa yang murni. Keberuntungan berupa penglihatan ini berasal dari Syamsudin al-Haqq dari Tabriz. Tanpa kepemurahannya, tak ada yang dapat me...

Lukanya tak Tampak

Sang Kekasih adalah seorang Raja tapi singgasananya tersembunyi. Al-Qur'an sampaikan Kebenaran tapi keajaibannya terbungkus rapi. Anak-panah Cinta menembus hati setiap pencinta, Darahnya menetes, senantiasa, tapi lukanya tak tampak. Sumber: Rumi: Rubaiyat #210 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Azima Melita Kolin dan Maryam Mafi, dalam Rumi: Whispers of the Beloved, HarperCollins Publisher Ltd, 1999.

Mengkaji Mukhlish dan Mukhlash

Gambar
Persepsi inderawi menarik seseorang ke arah dunia, Cahaya-Nya melambungkan dia ke langit. Karena benda-benda terinderai itu letaknya di alam bawah. Cahaya Tuhan itu bagaikan laut, sedangkan yang kita inderai itu bagai setitik uapnya. Apa yang mengendarai indera tidaklah nampak, yang kita tangkap hanyalah akibat dan kata-kata. Cahaya inderawi, yang kasar dan berat, tersembunyi pada hitamnya mata. Penglihatanmu tak dapat menangkap cahaya inderawi, bagaimana mungkin ia dapat melihat cahaya kewalian? Cahaya inderawi yang kasar saja sudah tersembunyi, apalagi apa yang ada dibaliknya, yang lebih murni dan halus? Alam-dunia ini bagaikan jerami, dalam genggaman angin--yakni alam tak-nampak; ia hanya dapat menyerahkan diri, tunduk sepenuhnya pada alam yang tak-nampak. Kadang ia dibuat merunduk, kadang menengadah; kadang bersuara, kadang utuh, kadang terpecah. Kadang ia digerakkan ke kiri, kadang ke kanan; kadang darinya tumbuh duri, kadang menyembul mawar. Per...

Dalam Dekapan Sang Kekasih

Akhirnya, berangkat engkau, bertolak ke alam tak-kasat mata. Sungguh mengagumkan, caramu tinggalkan alam-dunia. Kau kibaskan sayap dan bulumu, kau lepaskan diri dari sangkarmu. Mengangkasa engkau ke langit, kau capai alam jiwa. Pernah engkau bagai elang ningrat, dikurung seorang wanita tua.         [1] Lalu kau dengar genderang penyeru, [2] dan melesatlah engkau lintasi ruang dan waktu. Sebagai burung bulbul yang merindu, pernah kau terbang bersama para burung hantu. [3] Ketika harum semerbak berhembus dari taman mawar, segera engkau bertolak, menjemput Sang Mawar. Anggur dari alam fana ini, [4] terkadang membuat pening kepalamu. Akhirnya, kau masuki Kedai Keabadian. Bagaikan sebatang panah [5] melesat engkau dari busur, tepat menghunjam ke inti kebahagiaan. Alam bayangan ini memberimu bermacam isyarat palsu. Tapi telah berpaling engkau dari maya, dan melangkah ke hadirat kesejatia...

Mari Kita Berangkat

Wahai para pencinta, bangkitlah! [1] Saatnya kita terbang ke langit, cukup sudah kita tinggal di alam ini, saatnya bertolak ke sana. Sungguhpun indah sangat ke dua taman ini, [2] kita lewati saja, bergerak menuju ke Sang Tukang Kebun. Mari teguhkan ruku kita ke arah Laut, [3] layaknya arus deras, mari kita tunggang gelombang, melaju di permukaan sang Laut. Mari kita berangkat, dari pemukiman penuh kesedihan ini, [4] menuju pesta pernikahan; mari ubah wajah kita, dari pucat-pasi, menjadi segar merona. Hati kita keras berdegup, gemetar bagai daun dan ranting kecil yang takut jatuh tercampak; [5] mari mencari suaka di Wilayah Terlindung. Tak mungkin mengelak dari kesakitan, selama kita dalam pengungsian, [6] tak mungkin mengelak dari debu, selama kita tinggal di padang pasir. Bagai burung surgawi bersayap hijau, dan berparuh tajam, [7] mari kita jadi pengumpul gula, bercengkerama di kebun tebu. Terkurung kita oleh bentuk-bentuk, ci...

Anak Panah dari Busur yang Lebih Besar

Gambar
Aku seorang pencinta, dan dari cinta-Nya, aku tak menghindar. Aku seorang ksatria, dan dari medan perang, aku tak menghindar. Layaknya seekor singa, kuserang para singa lain. Tapi bagai seekor rubah, dari jepitan kepungan, aku tak menghindar. Walaupun lengkung lelangit tujuanku, dari jebakan alam-dunia, aku tak menghindar. Walaupun aku ini obat bagi bermacam penyakit, tapi dari rasa-sakit orang lain, aku tak menghindar. Kuikuti para nabi dengan seluruh jiwaku, tapi dari rekan yang jahat, aku tak menghindar. Aku hidup dalam wadah kecil, bernama kehidupanku ini; aku masih tinggal disini,  karena jiwaku tak menghindar. Satu-satunya sebab diterpanya aku oleh anak-panah lirikan-Nya,  adalah karena dari anak-panah yang berasal dari busur yang lebih-besar itu, aku tak menghindar. Luka-luka akibat perang, berubah menjadi kemenangan, karena dari rasa sakit, aku tak menghindar. Aku mengapung dalam lautan madu, berisikan segala jeni...