Postingan

Menampilkan postingan dengan label elang

Terbanglah Wahai Jiwa

Gambar
Foto oleh Rejaul Karim dari Unsplash Mengapakah jiwa tak terbang mengangkasa, ketika dari Hadirat yang Agung,    sebuah ajakan nan ramah: 'Naiklah!'    tertuju padanya?    Mengapa seekor ikan    tak melompat dengan gesit,    dari tanah yang kerontang ke dalam air,    ketika sampai ke telinganya,    suara debur ombak    dari lautan yang dingin ? Mengapakah seekor elang tak melesat    dari sarangnya, menuju lengan Sang Raja;    ketika didengarnya suara genderang,    memberi perintah, 'kembalilah' ? Mengapakah tak setiap pejalan menari, bagaikan pendaran zarah, di hadapan Matahari Keabadian; yang menyelamatkannya dari kelapukan? Di hadapan yang Maha Agung dan Maha Indah, yang Maha Cantik,   Sang Penganugerah kehidupan. Sungguh kejahilan dan kemalangan, jika terlepas dari-Nya. Terbang, terbanglah wahai burung, menuju ke rumah sejatimu. Karena telah terlep...

Wafatnya Seorang Suci

Jiwamu kan terbang, melesat tinggalkan penjara sempit, menembus langit demi langit, kau masuki suatu kehidupan baru, tinggalkan hidup yang ini; takkan pernah lagi kau merasa bosan. Jika sebelumnya kau kenakan raga yang bagaikan seragam seorang hamba-sahaya, kini kau tampil sangat bergaya. Bagimu kematian adalah kehidupan; --yang jika dibandingkan dengannya-- kehidupan ini bagaikan kematian; mereka yang terhijab takkan paham. Semua jiwa yang tinggalkan raga, tetaplah hidup, namun tersembunyi; jiwa yang tersucikan itu indah, bagaikan malaikat. Ketika raga menua dan ambruk, janganlah engkau meratap. Sadarilah, selama ini engkau terpenjara: ketika kau temukan jalan untuk lolos, dari sel di dasar sumur, engkau tegak, gagah dan ningrat, bagaikan seorang Jusuf. Sumber: Rumi:   Divan-i Syamsi Tabriz,   ghazal 3172 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Franklin D. Lewis, dalam  Rumi, Past and Present, East and West, Oneworld Publications, Oxford, 2000. ...

Kisah Elang Sang Raja

Gambar
Alkisah, terbanglah seekor elang, meninggalkan istana Raja, sampai dia tersesat ke rumah seorang nenek tua; yang sedang mengaduk tepung, di lantai rumahnya. Si nenek sedang menyiapkan makanan bagi anak-anaknya, ketika dilihatnya elang ningrat yang anggun itu. Segera kaki elang itu diikatnya, dipangkasnya sayapnya, dipotongya cakarnya, dan diberinya jerami untuk makanan. “Pastilah orang salah merawatmu,” katanya, “sayapmu terlalu lebar, dan cakarmu panjang.” “Itulah sebabnya engkau sakit, dan kini aku akan merawatmu.” Ketahuilah sahabat, demikianlah cara orang bodoh memperlakukanmu: orang bodoh sesat jalan. Sang Raja mencari elangnya kesana kemari, sampai akhirnya dia sampai ke gubuk si nenek. Dilihatnya elangnya disitu, dibalik asap dan debu, keadaannya sangat menyedihkan. Sang Raja berkata, “ini adalah ganjaran dari perbuatanmu, engkau tidak teguh dalam bersetia kepadaku.” “Mengapakah engkau tinggalkan Tama...