Postingan

Menampilkan postingan dengan label Engkau

Bersama dengan-Mu

Gambar
Bersama dengan-Mu adalah satu-satunya sumber kebahagiaanku. Karena semua selain Engkau adalah bentuk, tapi hanya Engkau yang sungguh  Haqq . Jangan pernah pisahkan aku dari-Mu, karena tak mungkin sebuah kapal berlayar tanpa air. Aku sebuah kitab yang cacat, tapi ketika Engkau yang membaca, Kau pulihkan aku. Yusuf selamat                    [1] walau dikepung seratus serigala ketika Engkau yang menjadi gembala. Setiap kali Engkau bertanya, "Bagaimana kabarmu?" wajahku memucat dan air-mataku bercucuran. Ke dua hal itu hanya lah tanda bagi mereka yang kasar dan rendah; apa lah artinya tanda-tanda bagi-Mu, yang tak memerlukan satu pun tanda. Kau dengar bisikan tak terucapkan, Kau baca niat tak tertulis. Kau perlihatkan visi di luar tidur; tanpa air Kau perjalankan kapal. Wahai diriku: diam lah, karena dari ketiadaan telah ti...

Merdeka Ketika Berserah Diri

Semula ingin kuceritakan padamu kisah hidupku, tetapi gelombang kepedihan tenggelamkan suaraku. Kucoba utarakan sesuatu, tetapi pikiranku rawan dan remuk, laksana kaca. Bahkan kapal paling megah bisa karam dalam gelombang-badai Laut Cinta apalagi biduk rapuhku, remuk berkeping-keping: tinggalkan ku sendiri, hanyut, hanya berpegangan ke sepotong papan. Kecil dan tak berdaya timbul tenggelam dalam terpaan ombak, sampai tak kuketahui apakah aku ada atau tiada. Ketika menurutku aku ada, kudapati diriku tak berharga. Saat ku tiada, kudapati nilai-nilai sejati diriku. Seturut pasang-surut akalku, tiap hari mati aku, dan dihidupkan lagi; karenanya tak kuragukan sedikit pun adanya Hari Kebangkitan. Ketika telah lelah, ku berburu cinta di alam dunia ini, akhirnya di Lembah Cinta ku berserah-diri: dan aku merdeka. Sumber: Rumi:   Divan-i Syamsi Tabriz,   ghazal 1419. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Azima Melita Kolin dan Maryam Mafi, da...

Jelas Jalan Kembali

Engkau yang cerahkan hatiku, telah pergi; tapi tak pernah berpisah: Citramu selalu dalam penglihatanku. Cintamu selalu dalam hatiku. Ku telusur pelosok bumi, siapa tahu kau berkunjung ke sana. Senantiasa kuberharap, kan jelas akhirnya, jalanku kembali ke rumah. Sumber: A. J. Arberry, Rubaiyat of Jalal Al-Din Rumi, 1949.

Di Lembah Cinta

Tengah malam, aku bertanya,  siapa ini yang ada di dalam rumah qalb-ku? Dia menjawab,  Inilah Aku, yang cemerlangnya membuat matahari dan rembulan jadi tertunduk malu. Dia bertanya,  Mengapa rumah ini penuh dengan aneka macam lukisan? Aku menjawab, Ini semua adalah bayangan dari-Mu, wahai Engkau yang wajah-Mu membuat iri warga Chigil.                               [1] Dia bertanya,  Dan apa ini: qalb yang berdarah-darah? Aku menjawab, Ini adalah gambaran diriku: hati terluka, dan kaki dalam lumpur. Kuikat leher dari jiwaku, dan menyeretnya kehadapan-Nya sebagai persembahan: Inilah dia yang telah berkali-kali memunggungi Cinta, kali ini jangalah Kau lepaskan. Dia serahkan satu ujung tali, ujung yang penuh kecurangan dan pengkhianatan, Peganglah ujung yang ini, Aku kan menghela dari ujung yang lain, mari berharap tali ini tidak putus. Kuraih tangan-Nya, Dia men...

Tanpa Engkau

Kutanam mawar, tapi tanpa Engkau, pohon kaktus yang tumbuh. Kuperam telur merak, ular yang menetas. Kumainkan harpa, derau sumbang yang terdengar. Kumelesat ke surga tertinggi, neraka bernyala yang kutemui. Sumber: Rumi: Quatrain no 90-a. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Jonathan Star dan Shahram Shiva .

Engkaulah ...

Gambar
Sejak kumulai berjalan, Engkau lah tujuan, Engkau lah pemandu. Ketika kucari hatiku, Engkau lah yang meremukkannya. Ketika kucari kedamaian, Engkau lah yang mengayomi. Ketika kupergi berjihad, Engkau lah pedangku. Ketika kubelajar lebur, Engkau lah anggur dan manisan. Ketika kudatangi taman itu, Engkau lah sang narsisus memekar. Ketika kusampai ke tambang itu, Engkau lah sang merah delima. Ketika kuselami samudera, Engkau lah mutiara di dasar. Ketika kulintasi gurun, Engkau lah oase. Ketika aku mengangkasa, Engkau lah bintang paling terang. Ketika kutegak dengan berani, Engkau lah perisaiku. Ketika kupingsan kebingungan, Engkau lah wewangian yang menyadarkan. Ketika kuterjun dalam pertempuran, Engkau lah sang panglima pasukan. Ketika kutiba di perjamuan, Engkau lah tuan-rumah, penghibur, sekaligus cangkir. Ketika kumenulis, Engkau lah kertas, pena, sekaligus tinta. Ketika kuterjaga, Engkau lah kesadaranku. Ketika kutertidur, Kau masuki mimpik...

Hanya Engkau

Dari seluruh semesta, hanya Engkau saja yang kupilih, Apakah Engkau akan membiarkanku duduk bersedih? Hatiku bagaikan pena, dalam genggaman tanganmu. Engkaulah sebab gembiraku, atau sedihku. Kecuali yang Engkau kehendaki, apakah yang kumiliki? Kecuali yang Engkau perlihatkan, apakah yang kulihat? Engkaulah yang menumbuhkanku: ketika aku sebatang duri, ketika aku sekuntum mawar; ketika aku seharum mawar, ketika duri-duriku dicabut. Jika Engkau tetapkan aku demikian, maka demikianlah aku. Jika Engkau kehendaki aku seperti ini, maka seperti inilah aku. Di dalam wahana, tempat Engkau mewarnai jiwaku, siapakah aku? apakah yang kusukai? apakah yang kubenci? Engkaulah yang Awal,  dan kiranya, Engkau akan menjadi yang Akhir; jadikanlah akhirku lebih baik, daripada awalku. Ketika Engkau tersembunyi, aku seorang yang kufur; Ketika Engkau tampak, aku seorang yang beriman. Tak ada sesuatupun yang kumiliki, kecuali yang Engkau anugerahkan; ...