Postingan

Menampilkan postingan dengan label dada

Berpuasa: Menanti Perjamuan-Nya

Gambar
Ada yang terasa manis tersembunyi di balik laparnya lambung Insan itu tak ubahnya sebatang seruling. Ketika penuh isi lambung seruling, tak ada desah: rendah atau tinggi yang dihembuskannya. Jika lambung dan kepalamu terasa terbakar karena berpuasa, apinya akan menghembuskan rintihan dari dadamu. Melalui api itu akan terbakar seribu hijab dalam sekejap, kau akan melesat naik seribu derajat dalam Jalan dan cita-citamu. Jaga lah agar lambungmu kosong. Merintih lah bagai sebatang seruling dan sampaikan keperluanmu kepada Rabb. Jaga lah agar lambungmu kosong hingga dapat kau lantunkan bermacam rahasia layaknya sebatang seruling. Jika lambungmu selalu penuh Setan yang akan menanti di kebangkitanmu dan bukannya Akal Sejati-mu, di rumah berhala dan bukannya di Ka'bah. Ketika engkau berpuasa, akhlak yang baik berkumpul di sekitarmu, bagaikan pembantu, budak dan penjaga. Teruskan lah berpuasa, karena ia adalah segel Sulaiman. Jangan serahkan segel itu ...

Kebajikan Air

Gambar
Diturunkan air berbentuk hujan dari langit penuh bintang,           [1] agar ia membersihkan kotoran dan ketidak-murnian. Pandang lah bagaimana air membasuh ketidak-sucian; dan bagaimana Allah Maha Tinggi memurnikan air itu sendiri dan ketidak-murniannya. Tak diragukan lagi, Allah Maha Tinggi itu paling Murni dan Suci. Ketika air memerangi ketidak-murnian dan menjadi kotor - sedemikian rupa         [2] sehingga tak bisa lagi ia membersihkan - Allah Maha Penyayang membawanya ke Samudera Kebenaran: disana Hakikat Air memurnikannya kembali.       [3] Tahun berikutnya, dia akan datang kembali, memakai jubah yang bersih,         [4] panjang menjuntai. Bertanya Bumi kepadanya, "Kemana saja engkau pergi?" Dan dia menjawab, "Ke dalam Samudera Kebaikan yang manis. Kotor aku ketika bertolak dari tempat ini, Lalu aku dimurnikan. Dipakaikan padaku jubah kehormatan....

Dihantarkan Perumpamaan

Manfaat perumpaan itu untuk menengahi, untuk mengantarkan pengertian. Tanpa sesuatu yang menengahi takkan ada yang berani masuk ke dalam api begitu saja, kecuali seekor salamander. Air hangat yang dipakai mandi adalah sebuah pengantar yang menengahi sehingga badanmu segar oleh panasnya api. Karena kau tak bisa langsung terjun ke dalam api, --seperti Ibrahim sang Khalilullah -- maka tempat mandi air-panas bagaikan utusan bagimu, dan air berperan sebagai pemandumu. Rasa puas itu dari  al-Haqq, tapi agar mereka yang masih penuh dosa dapat mencicipi rasa puas, diperlukan pengantar berupa makanan. Keindahan itu dari  al-Haqq, tapi mereka yang daya inderanya hanya jasmaniah takkan merasakan pesona keindahan tanpa ditengahi penghantar berupa Taman Surga. Ketika penengah jasmaniah diangkat, maka ia yang diangkat itu memahami tanpa hijab, bagaikan Musa, cahaya seterang rembulan memancar dari dadanya. Penyaksian itu bagaikan kebajikan yang disanda...

Rumah Sangat Sesak

Alam dunia ini seperti kamar-mandi uap, sangat panas: engkau tertekan, dan jiwamu bagai meleleh rasanya. Walau engkau diberi kamar mandi yang luas, jiwamu tetap tertekan dan lelah karena panasnya. Hatimu takkan pernah lega, sampai engkau bisa keluar: ukuran ruang kamar mandi itu sama sekali tak memberimu manfaat. Atau, (dalam alam dunia ini) engkau seperti memakai sepatu yang terlalu sempit, lalu disuruh berjalan di gurun. Luasnya gurun malahan menjengkellkan, dan menyempitkan hatimu, gurun dan padang bagaikan penjara untukmu. Orang yang hanya sepintas memandangmu, akan berkata, "dia riang dan gembira, bagaikan bunga mekar, di tengah gurun." Tak diketahuinya tentang kondisi sebenarnya dirimu: alih-alih seperti tengah di taman mawar, jiwamu menderita. Tidur yang benar itu seperti  kau lepaskan sepatu sempitmu,  karena jiwamu bebas dari raga,  walau hanya sesaat. Sedangkan bagi pawa  awliya, tidur mereka mega...

Tanpa Kematianmu, ...

Dengan cara berjalan seperti itu, takkan sampai engkau kemana pun. Dengan kebiasan hidup seperti itu, takkan mungkin kau capai tujuan. Jiwamu berat, dan hatimu bagai hati unta; [1] kapan engkau bisa bergabung bersama mereka yang jiwanya gesit dan lincah? Dengan keangkuhan seperti itu, bagaimana mungkin engkau akan berendah-hati? Dengan kemelekatan pada dunia seperti itu, bagaimana mungkin engkau bergabung bersama mereka yang memahami tawhid? Dengan sempitnya dadamu, bagaimana mungkin engkau bergabung bersama para pengemban rahasia-rahasia besar? Engkau bagaikan air-kotor bercampur lumpur, bagaimana mungkin engkau akan mencapai kemurnian tanah dan air? Abaikan rembulan dan matahari, layaknya Ibrahim, [2] tak ada cara lain untuk menggapai Matahari Sejati. Karena engkau lemah, segeralah melesat kedalam rahmat-Nya; sebab tanpa itu, tak-mungkin engkau dapatkan penyempurnaan. Tanpa belaian sayang dari Lautan ...

Tanggalkan Jubah Takabur

Tanggalkan takabur dari tubuhmu: tiada yang pantas dipakai seorang pencari kecuali pakaian rendah-hati. Ilmu umum bisa didapat dari menghafal, untuk ketrampilan tangan bisa dilatih. Jika engkau idamkan kefakiran spiritual, engkau harus berguru: bukanlah itu soal ketrampilam lidah atau tanganmu. Jiwa belajar rendah-hati dari jiwa yang lain; bukan dari buku atau ucapan. Rahasia-rahasia kefakiran spiritual  memang tersimpan dalam qalb sang pencari; tapi pengetahuan akan rahasia-rahasia itu belum lagi dimilikinya. Hal itu masih harus menunggu, sampai dadanya lapang dan terisi Cahaya:  Allah bersabda, "Bukankah Kami  yang melapangkan dadamu?"; [1] Karena jika Kami menaruh Cahaya di situ, tentu Kami pula yang telah lapangkan dadanya. Ketika engkau telah menjadi pancuran-susu, tak perlu engkau memerah sumber-susu lain. Pancuran-susu abadi ada dalam dirimu, mengapa kesana-kemari engkau membawa pasu, sibuk mencari...

Terbelenggu Rantai tak-Terlihat

Gambar
Tuhan membuat kemasyhuran begitu berat, bagaikan seratus kilogram besi, begitu banyak orang terikat rantai tak-terlihat. Bangga-diri dan suka-khianat menutup Jalan pertaubatan, sedemikian rupa, sehingga pengidapnya bahkan tak mampu mengutarakan penyesalan. "Sungguh Kami telah memasang pada leher-leher mereka  belenggu sampai ke dagu, maka mereka tengadah:"                                     [1] rantai itu tidak diikatkan kepada jasmani kita. "Dan Kami jadikan dari hadapan mereka dinding, dan dari belakang mereka dinding, lalu Kami tutupi mereka, maka mereka tidak dapat  melihat," dinding di hadapan dan di belakang mereka.                     [2] Dinding tegak itu tampil bagaikan padang terbuka, sang pendosa tak tahu itu adalah dinding ketetapan Ilahiah. Cinta duniawimu bagaikan dinding  yang ...

Tempatnya di dalam Kehangatan Dada

Puisi-puisiku bagaikan roti dari Mesir: boleh jadi seseorang jadi melewatkannya begitu saja, dan engkau tidak dapat mengunyahnya lebih banyak lagi. Karenanya, telanlah sekarang, manakala dia masih segar, sebelum debu dunia ini hinggap diatasnya. Tempat yang tepat bagi puisi adalah di sini:  di dalam kehangatan dada, di dunia luar sana, dia mati kedinginan. Perhatikanlah seekor ikan, taruhlah di atas tanah yang kering,  dia menggelepar beberapa menit,  setelah itu dia terdiam. Bahkan jika engkau menelan puisi-puisiku sewaktu mereka masih segar, engkau masih harus menghadirkan sendiri berbagai khayal . Sesungguhnya, sahabatku, yang engkau telan adalah khayal -mu sendiri. Ini bukanlah sekumpulan peribahasa usang.