Postingan

Menampilkan postingan dengan label api

Hembusan dari Sumber yang Tak Tampak

Gambar
  Foto oleh Sebastian Bill di Unsplash Angin apa ini, yang tengah membadai dari langit? sampai perahu-perahu di laut berguncang dan berayun dengan kerasnya. Karena anginlah perahu berlayar, dan karena angin pula perahu tenggelam. Tuhan mengendalikan angin, seperti kita mengendalikan nafas kita ketika memuji atau mencela. Berbeda-beda jenis angin, semuanya bertiup dari sumber yang tak tampak: ada yang membawa pertolongan, ada pula yang membawa kehancuran. Angin itu terasa, tapi sumbernya tersembunyi. Para pemilik hati yang murni memahami sumbernya dan terpandu oleh cahayanya. Keyakinan mereka tak goyah, mulut mereka tertutup, tetap menatap jalan, seraya tak jeda menghimpun kebijaksanaan. Mereka yang tak paham sumber angin menjadi pemuja bentuk-bentuk, mempertaruhkan hidup mereka. Duduk mereka di kaki para syaikh: membeo ucapan-ucapan bijak, sambil memperdebatkan keyakinan, mencari-cari asap sebagai bukti api. Tirulah sikap matahari, sang Raja tanpa dayang-dayang, diam membisu...

Cahaya yang Memadamkan Api

Gambar
Pada pertemuan Pengadilan Akhir,  orang-orang mukmin akan berkata: "Wahai malaikat, bukankah neraka itu suatu jalan umum, yang dilalui orang-orang mukmin dan kafir; namun mengapa kami tak melihat api dan asap dalam perjalanan kami?      Kami dapati taman dan kebun yang aman; lalu dimanakah lintasan penuh bahaya  yang dulu kami dengar?" Maka malaikat menjawab: "Kebun yang terlihat ketika kalian lalui, sebenarnya itulah neraka, namun bagi kalian tampaknya bagai taman yang indah. Karena kalian berjuang melawan hawa-nafsu dan memadamkan kobaran syahwat, demi Tuhan. Maka ia menjadi hijau dengan kesucian dan cahaya tuntunan ke arah keyakinan yang haqq. Karena kalian mengubah bara kemarahan menjadi kelembutan, dan mengubah kebodohan yang kelam  menjadi pengetahuan yang terang. Karena api kerakusan dalam diri kalian telah diubah menjadi kemurahan-hati, dan iri-dengki yang bagaikan duri telah di...

Rintihan Seruling Bambu

Gambar
Dengarkanlah suara seruling bambu Menyayat rintihannya, lantunkan perihnya perpisahan: "Sejak direnggut aku dari rumpunku dulu, ratapan pedihku telah membuat berlinang air-mata orang. Kuseru mereka yang tersayat hatinya karena perpisahan. Karena hanya mereka yang pahami sakitnya kerinduan ini. Mereka yang tercerabut dari tanah-airnya merindukan saat mereka kembali. Dalam setiap pertemuan, bersama mereka yang tengah gembira atau sedih, kudesahkan ratapan yang sama. Masing-masing orang hanya dapat mendengar sesuai pengetahuannya sendiri-sendiri. Tak ada yang mencari lebih dalam tentang rahasia didalam diriku. Rahasiaku tersembunyi didalam rintihanku, mata-telinga tak bercahaya takkan mampu memahaminya." Desah seruling bersumber dari api, bukannya angin. Apa gunanya hidup seseorang yang tak lagi ada apinya? Adalah api cinta yang menghidupkan nyanyian sang seruling. Adalah ragi cinta yang membuat anggur teras...

Berpuasa: Menanti Perjamuan-Nya

Gambar
Ada yang terasa manis tersembunyi di balik laparnya lambung Insan itu tak ubahnya sebatang seruling. Ketika penuh isi lambung seruling, tak ada desah: rendah atau tinggi yang dihembuskannya. Jika lambung dan kepalamu terasa terbakar karena berpuasa, apinya akan menghembuskan rintihan dari dadamu. Melalui api itu akan terbakar seribu hijab dalam sekejap, kau akan melesat naik seribu derajat dalam Jalan dan cita-citamu. Jaga lah agar lambungmu kosong. Merintih lah bagai sebatang seruling dan sampaikan keperluanmu kepada Rabb. Jaga lah agar lambungmu kosong hingga dapat kau lantunkan bermacam rahasia layaknya sebatang seruling. Jika lambungmu selalu penuh Setan yang akan menanti di kebangkitanmu dan bukannya Akal Sejati-mu, di rumah berhala dan bukannya di Ka'bah. Ketika engkau berpuasa, akhlak yang baik berkumpul di sekitarmu, bagaikan pembantu, budak dan penjaga. Teruskan lah berpuasa, karena ia adalah segel Sulaiman. Jangan serahkan segel itu ...

Siapakah Dia?

Gambar
di pantai Sancang, Garut Selatan, Juli 2024 Siapakah Dia? Yang memenuhi dada dengan kesedihan; lalu ketika engkau mengeluh-mengaduh pada-Nya, diubahnya kepahitanmu menjadi manis. Awalnya Dia tampil layaknya pengawas nan teliti; sampai akhirnya kau kan dapati Dia bagaikan sebuah Gudang Mutiara.                                 [1] Kekasih yang Maha Lembut: Engkau lah yang dalam sekejap mengubah keburukan menjadi kebaikan.    [2] Walau awalnya jiwa si hamba serendah setan, digubah-Nya jadi secantik bidadari.              [3] Sebuah pemakaman dibuat-Nya menjadi seindah pesta perkawinan.                [4] Dan Dia lah yang membuat orang yang mengetahui dan menguasai dunia terbutakan dari saat dia segumpal janin dalam rahim ibunya.               ...

Bernyala Tanpa Bayangan

Ketika melalui kefakiran ruhaniyah seseorang dirahmati dengan kematian dari dirinya sendiri, meneladan sang Nabi saw; dia kehilangan bayangannya. Menjadi  fana,  sesuai sabda sang Nabi, "kefakiran adalah kebanggaanku." Dia jadi tak memiliki bayangan, bagaikan nyala sebatang lilin. Ketika lilin telah seluruhnya menyala dari kepala sampai ke kaki, bayangan tak dapat menghampirinya. Sang lilin telah berpisah dari dirinya sendiri dan dari bayangannya menuju terang benderang, demi Yang Tunggal, yang telah menciptakannya. Ketika kepadanya Tuhan berkata, "Kubentuk engkau agar fana;" dia menjawab,  "Karenanya aku berlindung didalam fana." Catatan: Fana:  secara ringkas berarti sirnanya keakuan diri dalam Wajah Rabb, lihat QS [55]: 26 - 27. Sumber: Rumi:   Matsnavi   V: 672 - 676 Berdasarkan terjemahan Camille dan Kabir Helminski, dalam  Rumi: Jewels of Rememberance, Threshold Books, 1996; berdasarkan terjemahan ...

Kebajikan Air

Gambar
Diturunkan air berbentuk hujan dari langit penuh bintang,           [1] agar ia membersihkan kotoran dan ketidak-murnian. Pandang lah bagaimana air membasuh ketidak-sucian; dan bagaimana Allah Maha Tinggi memurnikan air itu sendiri dan ketidak-murniannya. Tak diragukan lagi, Allah Maha Tinggi itu paling Murni dan Suci. Ketika air memerangi ketidak-murnian dan menjadi kotor - sedemikian rupa         [2] sehingga tak bisa lagi ia membersihkan - Allah Maha Penyayang membawanya ke Samudera Kebenaran: disana Hakikat Air memurnikannya kembali.       [3] Tahun berikutnya, dia akan datang kembali, memakai jubah yang bersih,         [4] panjang menjuntai. Bertanya Bumi kepadanya, "Kemana saja engkau pergi?" Dan dia menjawab, "Ke dalam Samudera Kebaikan yang manis. Kotor aku ketika bertolak dari tempat ini, Lalu aku dimurnikan. Dipakaikan padaku jubah kehormatan....

Do'a Berwujud Penghambaan

Tanggalkan permohonan yang kering dan hampa makna. Tegaknya sebatang pohon, mestilah karena bibit telah disebar. Tapi bahkan jika tak kau miliki benih, karena hampanya do'amu, Tuhan akan anugerahi engkau sebatang pohon kurma, seraya bersabda,  "Alangkah baiknya penghambaannya!" Lihatlah Maryam putri Imran --kerinduannya sampai ke dasar hati, tapi tak dimilikinya bibit: maka Sang Maha Indah membuat pokok kurma kering menghijau baginya.  [1] Karena wanita mulia itu setia pada-Nya, Tuhan berikan seratus kebaikan-Nya tanpa suatu hasrat berdesir di hatinya. Catatan: [1]  Merujuk pada saat jelang lahirnya Isa ibn Maryam, ketika dengan merendah Maryam berkata, "... Wahai betapa baiknya jika aku mati sebelum ini dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan."  (QS Maryam [19]: 23) Lalu: "Maka dia (Jibril) berseru dari tempat yang rendah, 'jangan lah engkau bersedih hati, sesungguhnya Rabb-mu telah jadikan anak sunga...

Apa yang Kan Terjadi?

Jika bercerai engkau, dengan keruwetan pikiranmu, walau hanya satu jam saja; menurutmu, apa yang kan terjadi? Jika kau biarkan dirimu tenggelam, bagaikan seekor ikan kedalam lautan cinta Kami; menurutmu, apa yang kan terjadi? Engkau hanyalah sepotong jerami; dan Kami Nyala Abadi. Jika  melompat  engkau  keluar, dari gubugmu yang hina untuk bersatu dengan nyala; menurutmu, apa yang kan terjadi? Telah ratusan kali kau nyatakan janji untuk berhenti membesar-besarkan diri, untuk merendah bagaikan Bumi. Jika sekali saja, engkau patuhi janjimu sendiri; menurutmu, apa yang kan terjadi? Engkau bagaikan permata berharga, terkubur, tersembunyi di dalam kubangan lumpur. Jika engkau basuh semua ketidak-murnian dari wajahmu, yang sejatinya sangat elok; menurutmu, apa yang kan terjadi? Jika sebentar saja engkau tinggalkan keakuan dan kerakusanmu, kau pecahkan tamengmu sendiri, bangkit dalam sebuah pencarian untuk menyatu dengan yang ...

Pagelaran Hal-hal yang Berlawanan

Sudah menjadi Kehendak dan Keputusan Dia, sang Maha Pengampun, untuk memperkenalkan dan menyingkapkan Diri-Nya. Tetapi takkan sesuatu dikenali kecuali jika ada lawannya, dan Raja tak-Tertandingi itu tak terbandingkan. Maka diangkatnya seorang khalifah, seorang insan pemilik  qalb, agar menjadi cermin yang menampikan kedaulatan-Nya. Lalu dilimpahkan padanya kemurnian tak-terhingga, dan dari kebalikannya ditampilkan lawannya, yang berasal dari kegelapan. Berkibar dua panji berlawanan, putih dan hitam: yang pertama Adam; dan lainya  Syaithan,  sang penghalang jalan menuju kepada-Nya.                        [1] Diantara ke dua kubu ini, berlangsung pertentangan dan perang; dan melalui hal-hal itu terjadilah apa-apa yang harus terjadi. Demikianlah, pada generasi berikutnya tampillah Habil; sedangkan saudaranya, Khabil, menentang cahaya murninya.         ...

Kuasa Pikiran

Gambar
Wahai pencari, pikiran memiliki kuasa atas dirimu: mendadak engkau sedih, mendadak engkau gembira. Engkau terbakar dalam api. Tapi Aku takkan mengeluarkanmu, sampai engkau matang, sampai engkau bijak, sampai Sang Pribadi Sejatimu tampil. Sumber: Rumi: Rubaiyat, F#1923 Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Jonathan Star Berdasarkan terjemahan literal oleh Shahram Shiva. Dari Rumi: In the Arms of the Beloved, hal 89.

Dihantarkan Perumpamaan

Manfaat perumpaan itu untuk menengahi, untuk mengantarkan pengertian. Tanpa sesuatu yang menengahi takkan ada yang berani masuk ke dalam api begitu saja, kecuali seekor salamander. Air hangat yang dipakai mandi adalah sebuah pengantar yang menengahi sehingga badanmu segar oleh panasnya api. Karena kau tak bisa langsung terjun ke dalam api, --seperti Ibrahim sang Khalilullah -- maka tempat mandi air-panas bagaikan utusan bagimu, dan air berperan sebagai pemandumu. Rasa puas itu dari  al-Haqq, tapi agar mereka yang masih penuh dosa dapat mencicipi rasa puas, diperlukan pengantar berupa makanan. Keindahan itu dari  al-Haqq, tapi mereka yang daya inderanya hanya jasmaniah takkan merasakan pesona keindahan tanpa ditengahi penghantar berupa Taman Surga. Ketika penengah jasmaniah diangkat, maka ia yang diangkat itu memahami tanpa hijab, bagaikan Musa, cahaya seterang rembulan memancar dari dadanya. Penyaksian itu bagaikan kebajikan yang disanda...

Musuhku Diriku Sendiri

Gambar
Bukanlah aku, seperti seekor singa perkasa, mampu tundukkan musuh-musuhku. Jika kudapat tundukkan diriku sendiri, cukuplah itu bagiku. Sungguhpun aku, serendah-hitam tanah, karena yang kurawat adalah sebutir bibit bernama Cinta, kan kutumbuh-kembangkan bunga lily putih di padang rumput. Ketika aku dalam gelap gulita merintihkan perpisahan, selalu kuyakin aku akan menembus, menebarkan cahaya, di tengah gelapnya malam. Ada api bernyala dalam diriku, walau ragaku pucat dan lusuh. Karena aku akan membubung naik, bagai asap, keluar menembus penjaraku. Aku seorang anak kecil, guruku adalah Cinta, tentu guruku takkan biarkan kutumbuh jadi seorang bodoh. Sumber: Rum i: Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal 1523. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nader Khalili , dalam Rumi: Fountain of Fire, Burning Gate Press, 1994.  

Mengkaji Mukhlish dan Mukhlash

Gambar
Persepsi inderawi menarik seseorang ke arah dunia, Cahaya-Nya melambungkan dia ke langit. Karena benda-benda terinderai itu letaknya di alam bawah. Cahaya Tuhan itu bagaikan laut, sedangkan yang kita inderai itu bagai setitik uapnya. Apa yang mengendarai indera tidaklah nampak, yang kita tangkap hanyalah akibat dan kata-kata. Cahaya inderawi, yang kasar dan berat, tersembunyi pada hitamnya mata. Penglihatanmu tak dapat menangkap cahaya inderawi, bagaimana mungkin ia dapat melihat cahaya kewalian? Cahaya inderawi yang kasar saja sudah tersembunyi, apalagi apa yang ada dibaliknya, yang lebih murni dan halus? Alam-dunia ini bagaikan jerami, dalam genggaman angin--yakni alam tak-nampak; ia hanya dapat menyerahkan diri, tunduk sepenuhnya pada alam yang tak-nampak. Kadang ia dibuat merunduk, kadang menengadah; kadang bersuara, kadang utuh, kadang terpecah. Kadang ia digerakkan ke kiri, kadang ke kanan; kadang darinya tumbuh duri, kadang menyembul mawar. Per...