Postingan

Menampilkan postingan dengan label Jibril

Cinta itu Lautan Tak Bertepi

Gambar
Cinta itu lautan tak bertepi, di atasnya lelangit bagai serpihan buih belaka; yang gelisah, bagai Zulaikha dambakan seorang Yusuf. Ketahui lah, roda pemutar lelangit digerakkan oleh gelombang Cinta: bila bukan karena Cinta, semesta kan membeku. Bagaimana yang semula benda mati, berubah menjadi tumbuh-tumbuhan? Bagaimana tetumbuhan mengorbankan diri agar dilimpahi ruh? Bagaimana ruh mengorbankan diri demi sebuah Hembusan; yang kelembutan tiupannya pernah menghamili seorang Maryam? Semuanya akan kaku membeku bagai es, tak akan terbang menjelajah seperti belalang. Setiap  zarah  tengah jatuh cinta pada Kesempurnaan itu, dan bergegas tumbuh bagai berkecambahnya tunas. Bergegasnya mereka adalah sebuah  takbir   batiniah. Mereka memurnikan diri demi menyambut Sang Ruh. Sumber: Rumi:   Matsnavi  V: 3853 - 3859 Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh Nicholson.

Do'a Berwujud Penghambaan

Tanggalkan permohonan yang kering dan hampa makna. Tegaknya sebatang pohon, mestilah karena bibit telah disebar. Tapi bahkan jika tak kau miliki benih, karena hampanya do'amu, Tuhan akan anugerahi engkau sebatang pohon kurma, seraya bersabda,  "Alangkah baiknya penghambaannya!" Lihatlah Maryam putri Imran --kerinduannya sampai ke dasar hati, tapi tak dimilikinya bibit: maka Sang Maha Indah membuat pokok kurma kering menghijau baginya.  [1] Karena wanita mulia itu setia pada-Nya, Tuhan berikan seratus kebaikan-Nya tanpa suatu hasrat berdesir di hatinya. Catatan: [1]  Merujuk pada saat jelang lahirnya Isa ibn Maryam, ketika dengan merendah Maryam berkata, "... Wahai betapa baiknya jika aku mati sebelum ini dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan."  (QS Maryam [19]: 23) Lalu: "Maka dia (Jibril) berseru dari tempat yang rendah, 'jangan lah engkau bersedih hati, sesungguhnya Rabb-mu telah jadikan anak sunga...

Tanpa Kematianmu, ...

Dengan cara berjalan seperti itu, takkan sampai engkau kemana pun. Dengan kebiasan hidup seperti itu, takkan mungkin kau capai tujuan. Jiwamu berat, dan hatimu bagai hati unta; [1] kapan engkau bisa bergabung bersama mereka yang jiwanya gesit dan lincah? Dengan keangkuhan seperti itu, bagaimana mungkin engkau akan berendah-hati? Dengan kemelekatan pada dunia seperti itu, bagaimana mungkin engkau bergabung bersama mereka yang memahami tawhid? Dengan sempitnya dadamu, bagaimana mungkin engkau bergabung bersama para pengemban rahasia-rahasia besar? Engkau bagaikan air-kotor bercampur lumpur, bagaimana mungkin engkau akan mencapai kemurnian tanah dan air? Abaikan rembulan dan matahari, layaknya Ibrahim, [2] tak ada cara lain untuk menggapai Matahari Sejati. Karena engkau lemah, segeralah melesat kedalam rahmat-Nya; sebab tanpa itu, tak-mungkin engkau dapatkan penyempurnaan. Tanpa belaian sayang dari Lautan ...