Postingan

Menampilkan postingan dengan label Muhammad

Santapan Cahaya

Gambar
Walaupun cahaya adalah santapan  bagi jiwa dan bagi penglihatan- qalb, ragamu pun membutuhkannya.  Jika ragamu, yang semula kebiasaannya bagaikan setan,   tak dapat berubah menjadi gemar akan cahaya, tidaklah sang Nabi akan bersabda,   "bahkan setanku telah menjadi Muslim."  Ketika perutmu tengah rakus, engkau perlu berjarak dengan dunia; ubahlah asupan makananmu. Jika qalb -mu yang sedang sakit, segera cari obatnya: ubahlah sikapmu. Jika engkau diperbudak makanan, bebaskan dirimu, dengan melemahkan ragamu. Di dalam lapar terdapat banyak nutrisi: carilah dengan tekun dan lambungkan harapan menemui-Nya. Santaplah cahaya,  jadilah seperti mata. Wahai insan, akrabilah para malaikat. Seperti malaikat, jadikan berpuji pada-Nya sebagai santapanmu. Sumber: Rumi: Matsnavi  V: 288, 293 – 298. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Camille dan Kabir Helminski,  dalam "Rumi...

Bernyala Tanpa Bayangan

Ketika melalui kefakiran ruhaniyah seseorang dirahmati dengan kematian dari dirinya sendiri, meneladan sang Nabi saw; dia kehilangan bayangannya. Menjadi  fana,  sesuai sabda sang Nabi, "kefakiran adalah kebanggaanku." Dia jadi tak memiliki bayangan, bagaikan nyala sebatang lilin. Ketika lilin telah seluruhnya menyala dari kepala sampai ke kaki, bayangan tak dapat menghampirinya. Sang lilin telah berpisah dari dirinya sendiri dan dari bayangannya menuju terang benderang, demi Yang Tunggal, yang telah menciptakannya. Ketika kepadanya Tuhan berkata, "Kubentuk engkau agar fana;" dia menjawab,  "Karenanya aku berlindung didalam fana." Catatan: Fana:  secara ringkas berarti sirnanya keakuan diri dalam Wajah Rabb, lihat QS [55]: 26 - 27. Sumber: Rumi:   Matsnavi   V: 672 - 676 Berdasarkan terjemahan Camille dan Kabir Helminski, dalam  Rumi: Jewels of Rememberance, Threshold Books, 1996; berdasarkan terjemahan ...

Jebakan dengan Umpan Hasratmu Sendiri

Mengikuti hasratmu sendiri artinya melarikan diri dari Tuhan, dan menumpahkan darah ruhaniyah di hadirat Keadilan-Nya. Dunia ini sebuah jebakan dan hasratmu itu umpannya; hindari jebakan, hadapkan lah wajahmu kepada-Nya. Jika kau ikuti Jalan, ratusan keberkahan bersamamu; sedangkah jika kau menuju arah sebaliknya, buruk nasibmu. Karenanya, sang Nabi berkata, "dengarkan nuranimu walaupun para ahli agama menasehatimu untuk urusan duniamu." Tanggalkan hasratmu, agar terungkap Rahmat-Nya. Dari pengalamanmu sendiri jelas lah bahwa semua kebaikan menuntut pengorbanan. Karena kau tak mungkin menghindar dari dunia, jadi lah hamba-Nya; dan keluarlah dari penjara-Nya menuju taman-Nya. Ketika terus kau awasi pikiran dan tindakanmu, akan selalu kau saksikan Keadilan dan Sang Hakim; Walaupun kelalaian masih menutup pandanganmu tidaklah itu mencegah Sang Matahari bersinar. Sumber: Rumi:   Matsnavi   VI: 3777 - 3784. Terjemahan ke Bahasa Inggris ole...

Cadar Raga

Janganlah kau bosan bersamaku, sungguh aku seorang saksi yang indah. Sang Maha Pencemburu telah sembunyikanku di balik sebuah cadar. Pada hari kutanggalkan cadar raga ini, akan kau saksikan bagaimana cemburunya rembulan dan bintang-bintang padaku. Basuhlah wajahmu dan murnikan dirimu sehingga kau bisa saksikan aku. Atau menjauhlah engkau dariku, karena aku adalah saksi bagi diriku sendiri. Aku bukanlah saksi yang esok akan pikun atau bungkuk karena tua. Aku kan selalu muda, menyegarkan, dan sedap dipandang. Jika cadar raga ini melapuk, sang saksi takkan beranjak menua; masa pakai cadar kan berakhir, tapi kami selamanya hidup. Ketika Iblis melihat cadar raga Adam, dia menolaknya. Adam berkata padanya, "Engkaulah yang tertolak, bukan aku." Sementara para malaikat bersujud dan berkata, "Kami telah temukan seorang saksi. Dibalik cadarnya terdapat sesosok pujaan yang sifat-sifatnya mempesona akal kami, maka kami bersujud padanya. Jika ke...

Saksi Terkasih

Gambar
Muhammad (saw) itu pemberi  syafa'at atas segala jenis aib, karena tatapannya tak pernah teralihkan  pada hal lain: senantiasa tertuju pada wajah  Rabb. Di tengah kegelapan malam alam dunia ini, dimana matahari  al-Haqq  terhijab, dia menatap  Rabb, dan meletakkan harapannya kepada-Nya. Pandangannya senantiasa disegarkan oleh makna sejati  "bukankah telah Kami lapangkan dadamu?"   [1] dilihatnya hal-hal yang tak mampu Jibril tatap. Sang yatim, yang kepadanya  Rabb  limpahkan kesegaran pandangan, menjadi mutiara yatim  tunggal, yang dianugerahi panduan Ilahiah. Cemerlang cahayanya mengatasi mutiara lain, karena yang dikehendakinya adalah kehendak yang paling mulia. Seluruh kedudukan  ruhaniah  para abdi Allah jelas belaka bagi sang Nabi, karenanya  Rabb  menggelarinya: sang Saksi .   [2] Senjata sang Saksi adalah lisan yang tulus dan pandangan yang tajam-- yang dari penjagaan...

Siapakah yang Tuli?

Yang berpanjang angan itu seperti orang tuli: sering didengarnya tentang kematian, tapi itu tak membuatnya sadar tentang kematiannya sendiri, atau bersiap menghadapi ajalnya. Tamak membuat orang buta: kelemahan orang lain dicermati dengan teliti, lalu disiarkan kemana-mana; seraya sedikit pun tak menyadari kelemahan dirinya sendiri. Alangkah anehnya, jika ada orang telanjang tapi takut bajunya robek. Pencinta dunia itu orang rudin dan ketakutan, sejatinya tak sesuatu pun dimilikinya, tapi dia takut hartanya disasar pencuri. Orang lahir dengan polos dan pergi dengan telanjang; diantara dua kejadian itu, kehidupan dunia dilaluinya dengan cemas, takut hartanya hilang. Saat saat ajal tiba, ketika ratusan orang meratap, jiwanya sendiri mentertawakan ketakutannya. Ketika itu, pecinta dunia baru sadar: tak sedikit pun dia miliki emas-permata; demikian pula, seorang yang cerdik sekali pun, tahu dia tak bisa menyiasati. Amatilah anak kecil yang bermai...

Tak Akan Berbantah

Gambar
Selama ku bernyawa, Al Qur'an keyakinanku; Muhammad, pilihan Allah,   satu-satunya junjunganku. Jika ada yang menuduh: tak pernah kususun sepotong syair, kecuali hal ini; sedikit pun ku takkan bantah dirinya, ataupun perkataannya. Sumber: Terjemahan Rubaiyat Rumi ke Bahasa Inggris, A.J. Arberry ,  The Rubaiyat of Jalal Al-Din Rumi, 1949

Harta Karun Dibawah Rumah

Gambar
Hancurkan rumahmu,    [1] karena seratus-ribu rumah bisa dibangun dari bebatuan murah ini. Harta-karun terletak di bawah rumah, [2] tiada jalan lain mencapainya: jangan ragu, hancurkan rumah, jangan berpangku-tangan saja. Sekali kau raih harta-karun itu,   mudah saja membangun ribuan rumah tanpa susah-payah. Ketika sakaratul-maut tiba, rumah ini akan hancur dengan sendirinya, dan harta-karun dibawahnya pastilah takkan terungkap, maka harta-karun itu tak pernah kau dapat; karena jiwamu mendapat anugerah Ilahiah  sebagai upah dari upayamu menghancurkan rumah. Tanpa amal itu, tiada ganjaran: Tiada sesuatu pun dijumpai manusia di akhirat kecuali balasan dari amalnya.   [3] Catatan: [1]  Di alam-dunia ini jiwa ditempatkan dalam raga, itulah rumahnya. Sehingga "menghancurkan rumah" itu  dapat dibaca: "menundukkan karsa raga dalam cahaya sunnah  Muhammad SAW." [2]  Mengingatkan salah satu kisah sangat terkenal, yang ...

Lintasilah ke Dua Alam

Setiap saat, dari berbagai arah, himbauan Sang Kekasih menyerumu. Ke al-Jannah seyogyanya kita menuju: tak elok jika ke alam-dunia ini hanya untuk berjalan-jalan. Pernah kita disana, bersobat dengan para malaikat. Karenanya, wahai pejalan, mari kita kembali kesana, itulah tempat kita yang sebenarnya. Bahkan semestinya, lebih tinggi daripada Taman itu; hakikinya, insan sejati itu lebih tinggi daripada malaikat. Mengapa ke dua alam ini                                       1) tak segera kita lintasi saja? Tujuan kita adalah keagungan puncak. Sungguh berbeda sumbernya: alam tanah-liat ini, dengan inti cahaya insan. Memang dulu kita telah diperintahkan turun,     2) kini mari kita bergegas naik, mengapa berlama-lama disini. Segarnya keberuntungan adalah sahabat kita: berserah-diri adalah keahlian kita. Pemandu kafilah kita adalah Mushthafa: kecintaan alam semesta. Manis-harumnya hemb...

Mereka yang Diseret ke al-Jannah

Sang Nabi mendapati serombongan tawanan; merintih-mengerang ketika mereka dibariskan. Sang Panglima melihat mereka terikat rantai; mereka pun memandang kepada beliau, penuh tanda tanya. Setiap tawanan menggeratakkan giginya, menggigit bibirnya, penuh kekesalan kepada Sang Pemenang. Sungguhpun penuh kemarahan, mereka tak berani mengucapkan sepatah kata pun: mereka diikat rantai yang berat. Para pengawal membariskan mereka masuk kota: para tawanan ini adalah kaum kafir. Mereka saling mengguman satu sama lain: "Dia tidak akan menerima emas atau tebusan apa pun, tidak akan ada pangeran yang akan membebaskan kita. Dia menyeru dunia agar bersikap pemaaf, tapi dia akan memotong leher kita semua." Dengan aneka perasaan berkecamuk, mereka digelandang; penuh kecemasan, menunggu keputusan Sang Pemimpin. Mereka berkata: "Sungguhpun sebelum ini kita berhasil lolos dari aneka kesulitan, kali ini tiada jalan keluar bagi kita: hati orang ini seteguh karang. Jumlah kita...